
Brian dan Aliyah akhirnya makan bersama dengan makanan yang di bawakan Aliyah sebelumnya.
"Aku pikir kamu tidak akan mau makanan yang aku bawa," ucap Aliyah dengan wajah senduhnya.
"Kenapa mengatakan seperti itu?" tanya Brian heran sembari mengunyah makanan itu.
"Karena kamu pergi keluar dan aku pikir kamu pasti sudah makan," ucap Aliyah.
"Aku tidak makan. Dan makanannya aku makan. Karena aku lapar. Makasih ya sudah memberikan ku makanan ini. Ini sangat enak," ucap Brian yang membuat Aliyah tersenyum.
"Hmmm, tadi aku bertemu dengan mama kamu," ucap Aliyah tiba-tiba yang membuat Brian terkejut.
"Bertemu dengan mama!" pekik Brian. Aliyah menganggukkan kepalanya.
"Lalu bagaimana?" tanya Brian yang sepertinya mengkhawatirkan sesuatu.
"Kamu bertemu dengan mama. Apa mama mengatakan sesuatu?" tanya Brian dengan paniknya.
"Banyak yang di katakan mama kamu," jawab Aliyah.
"Apa yang di katakannya?" tanya Brian yang benar-benar ingin tau.
"Segalanya!" jawab Aliyah.
"Salah satunya?" Brian tampak begitu sangat penasaran.
"Sudahlah tidak ada yang terlalu serius. Hal itu biasa," sahut Aliyah yang benar-benar tidak mendengar omongan dari Kayra dan menganggap biasa saja.
"Aliyah untuk lain kali. Kalau kamu melihat mama, menghindar lah," ucap Brian memberikan saran yang tidak mau ada masalah apa-apa.
"Kenapa seperti itu?" tanya Aliyah.
"Tidak apa-apa. Aku hanya tidak mau mama banyak bicara," sahut Brian dengan alasan yang singkat.
"Lalu kamu apa tidak akan pernah memperkenalkan aku dengan mama kamu?" tanya Aliyah sudah mulai ingin ada status yang jelas dari Brian.
"Kamu sudah mengenalnya. Jadi tidak perlu lagi," jawab Brian dengan singkat dan kembali melanjutkan makannya.
"Tapi kan aku ingin kamu memperkenalkan aku secara langsung," ucap Aliyah.
"Itu tidak perlu Aliyah," sahut Brian dengan santai yang membuat wajah Aliyah datar dan menjadi sedih.
__ADS_1
"Hmmm, bagaimana kalau besok malam. Kita makan malam bersama," ucap Brian yang tiba-tiba mengajak Aliyah untuk makan
"Dinner maksudnya?" tanya Aliyah memastikan. Brian mengangguk dan Aliyah langsung senyum merekah dengan ajakan Brian.
"Kamu mau?" tanya Brian memastikan.
"Iya jelas aku mau," sahut Aliyah yang tersenyum kegirangan. Tadi dia sempat bete. Sekarang Brian mengajaknya dinner membuatnya bahagia.
"Kita akan makan malam," sahut Brian dan Aliya mengangguk dengan senangnya dengan ajakan dari Brian.
*********
Malam ini Anju siap-siap di depan cermin dengan memakai gaun panjang lurus membentuk tubuhnya. Dia terlihat sangat cantik dengan gaun merah tersebut dan tanpa lengan. Anju memakai anting untuk memperlengkap penampilannya agar semakin cantik. Padahal memang dia sudah sangat cantik.
"Aku rasa sudah cukup!" gumamnya menyemprotkan parfum pada tubuhnya. Anju memang pulang cepat supaya bisa makan malam dengan keluarga suaminya. Dia merasa tidak enak harus menolak. Jadi dia menyempatkan untuk makan malam.
Setelah selesai dengan penampilannya. Anju pun keluar dari kamar. Sementara Danesh menunggu Anju di ruang tamu. Dia juga siap dan pastinya sangat tampan.
"Ayo berangkat!" ajak Anju yang sudah berdiri aja di samping Danesh. Mata Danesh langsung menoleh dan melihat dari bawah sampai ke atas dengan perlahan
Danesh mendadak bengong melihat Anju. Cantik kata itu ternyata tidak bisa keluar dari mulutnya. Namun dengan Danesh yang menelan salivanya sudah menandakan jika dia sangat takjub melihat istrinya itu. Dia harus mengakui jika istrinya itu memang begitu cantik selama ini.
Mendapat tatapan seperti itu dari Danesh membuat Anju heran. Dengan mengusap belakang lehernya yang merasa seperti ada yang salah dengannya.
"Iya kenapa?" tanya Danesh yang mendadak gugup.
"Aku yang tanya kamu kenapa?" tanya Anju.
"Aku, aku, ya aku tidak apa-apa," jawab Danesh yang mendadak gugup.
"Ya sudah ayo pergi kenapa masih di sini!" ajak Anju dengan dahinya yang mengkerut.
"Oh iya ayo!" ajak Danesh sampai mengusap wajahnya saking gugupnya. Danesh menghela napas dan langsung berdiri. Saat keluar dari area sofa. Kakinya terbentur dingding meja.
"Arhggg!" keluhnya yang lumayan kesakitan.
"Kamu baik-baik aja?" tanya Anju panik melihat Danesh.
"Oh, iya aku baik-baik aja kok. Ayo!" ajak Danesh yang pura-pura. Jika dia tidak apa-apa. Anju mengangguk dan berjalan terlebih dahulu.
Danesh merapatkan giginya yang malu sendiri dengan ulahnya.
__ADS_1
"Kau benar-benar Danesh!" lirihnya dengan kesal yang dan mengenal napas yang kemudian menyusul Anju yang sudah keluar dari apartemen. Danesh tidak konsentrasi karena melihat istrinya yang sangat cantik.
Kemarin Anju yang malu. Gara-gara salah masuk kamar Danesh dan Anju juga salah tingkah dan sekarang Danesh begitu gugup melihat Anju. Bengong saking cantiknya istrinya itu sampai dia kelihatan sangat bodoh di depan Anju dan pakai terluka lagi.
************.
Sama dengan Aliyah yang sejak tadi berada di dalam kamar. Yang duduk di depan cermin. Sejak tadi dia terus berhias untuk Dinner bersama dengan Brian. Raut wajahnya begitu bahagia dengan pancaran seperti orang jatuh cinta. Ya kalau tidak jatuh cinta apa lagi namanya.
"Aku yakin Brian malam ini dia akan menyatakan perasaannya. Dia sudah menyukaiku. Hanya saja mencari waktu yang tepat untuk menyatakan perasaannya dan pasti malam ini adalah waktu yang tepat," gumam Aliyah yang begitu percaya diri dengan senyumnya yang merekah.
"Makeup ku ketebalan tidak ya. Nanti aku seperti badut lagi. Jika ketebalan. Aku harus cantik untuk makan malam pertama ku dengannya," ucapnya dengan kembali Aliyah kembali melihat dengan teliti make-upnya. Dia benar-benar sangat excited untuk dinner bersama Brian. Jadi ingin tampil sempurna di depan Brian. Ya dia memang sangat bahagia dengan ajakan Brian.
********
Anju, Danesh, Melody dan Ardian makan malam bersama di salah satu Restaurant jepang yang terkenal. Makanan mereka sudah di tata di atas meja dan mereka juga sudah menikmati makanan itu.
"Makasih ya Anju. Kamu bisa ikut makan malam bersama kami," ucap Melody yang bahagia dengan menantunya itu ikut makan bersamanya.
"Sama-sama Tante," sahut Anju dengan tersenyum.
"Anju kamu sama Danesh sudah menikah. Kenapa masih panggil Tante!" sahut Ardian.
"Benar Anju saya mama Danesh yang artinya kamu juga anak saya. Jadi panggil mama," ucap Melody. Anju tampak ragu.
"Kamu jangan panggil Tante lagi ya. Kamu panggil mama sama seperti Danesh!" ucap Melody dengan lembut.
"Iya Tan.... Maksudnya mah," sahut Anju dengan gugup sampai bersalahan mengucapkan kata panggilannya. Namanya juga masih baru.
"Dan saya panggil papa," sahut Ardian yang tidak mau ketinggalan.
"Iya pa," sahut Anju.
"Danesh kamu jangan-jangan juga panggil mama Anju Tante ya!" tebak Melody.
"Semenjak menikah aku belum bertemu mereka. Jadi belum memanggil apa-apa," jawab Danesh.
"Kalau begitu kamu harus memanggil mama. Kalian ini sudah menikah dan masa iya panggilan seperti itu masih harus di kasih tau," sahut Melody geleng-geleng kepala. Danesh hanya diam dan tidak merespon apa-apa.
"Oh iya Anju bagaimana pekerjaan kamu. Pasti kamu belakangan ini sangat repot ya dengan pekerjaan kamu di rumah sakit," sahut Ardian yang membahas topik baru.
"Lumayan pah. Apa lagi kemarin sempat cuti panjang. Jadi selalu menggantikan shif teman-teman yang kemarin cutinya saya pinjam," jawab Anju dengan sedikit mengeluh atas pekerjaannya
__ADS_1
Bersambung