
Aliyah dan Naomi pun duduk di salah satu bangku yang di rumah sakit. Mereka duduk bersebelahan dengan menatap lurus kedepan dan keduanya yang duduk bersebelahan.
"Hmmmmm, hari ini tampak cerah sekali ya Dokter," ucap Aliyah yang menghirup udara di pagi hari yang indah.
"Iya. Pagi ini benar-benar sangat cerah," sahut Naomi yang juga menghirup udara di pagi ini.
"Tuhan sangat baik ya Dokter, memberikan kenikmatan udara seperti ini dan dia juga memberikan begitu banyak kesempatan kepadaku untuk selalu menikmati udara segar dan bahkan rasa sakit di dadaku tidak terlalu sering aku rasakan. Tuhan memberikan kebahagiaan yang luar biasa kepadaku. Seolah mengatakan kepadaku untuk kamu menikmati kenikmatan ini sebelum aku mengambilnya dan kamu tidak bisa merasakan apa-apa," ucap Aliyah dengan tersenyum yang matanya terus menatap kedepan yang membuat Naomi heran dengan apa yang di katakan Aliyah.
"Kenapa bicara horor Tiba-tiba Aliyah?" tanya Naomi heran.
"Berbicara kenikmatan kok horor. Dokter Naomi bisa saja," sahut Aliyah dengan tersenyum.
"Aku hanya mengagumi penciptaku Dokter. Aku ingin berterima kasih padanya telah memberiku kehidupan ini. Kesempatan panjang sehingga aku bisa bertemu dengan Dokter Naomi yang begitu baik padaku dan juga sangat lembut berbicara kepadaku," ucap Aliyah dengan tersenyum.
Namun Naomi hanya memperhatikan saja wajah Aliyah yang berbicara yang mengenai Tuhan. Tidak ada yang salah sebenarnya dari bapa yang di katakannya. Namu cukup aneh bagi Naomi yang tiba-tiba Aliyah harus membahas hal itu.
"Dokter kenapa melihatku seperti itu?" tanya Aliyah.
"Kamu berbicara terlalu panjang dan pembicaraan kamu aneh," jawab Naomi.
"Tidak ada yang aneh Dokter itu hal normal untuk seseorang yang akan....." Aliyah tidak melanjutkan kalimatnya. Sementara Naomi sangat menunggu apa lanjutan dari kalimat itu.
"Yang apa Aliyah?" tanya Naomi ingin tau kelanjutannya.
"Yang bahagia karena mendapatkan Anugrah ini," jawab Aliyah dengan tersenyum. Naomi juga tersenyum tipis yang hanya menghela napas kedepan dan kembali menatap lurus kedepan.
"Kamu sudah sarapan Aliyah?" tanya Naomi mengalihkan pembicaraan tersebut.
"Dokter mengingatkan sarapan," sahut Aliya yang membuka paper bag yang masih ada beberapa di bawanya dan mengeluarkan kotak makanan dari dalam paper bag tersebut.
"Ini Dokter!" Aliyah memberikan pada Naomi.
__ADS_1
"Dokter past belum sarapan!" ucap Aliyah menduga.
"Kamu tau saja. Kalau saya belum sarapan," sahut Naomi dengan tersenyum yang memang belum sarapan.
"Saya memang tau dan sengaja membawa sarapan pagi ini untuk Dokter," jawab Aliyah dengan tersenyum dan Naomi hanya tersenyum menunggu Aliyah memberikan salah satu apa yang di bawanya pada Naomi.
"Apa Brian tidak memberi Dokter sarapan?" tanya Aliyah.
"Tidak," jawab Naomi.
"Hmmmm, Brian payah masa iya tidak memberi Dokter sarapan padahal semalaman dia menjaga Dokter rumah sakit. Tapi sarapan saja tidak di berikannya," ucap Aliyah geleng-geleng kepala.
"Tapi mungkin belum membelikan sarapan Aliyah dan mungkin nanti Brian akan membelikannya," sahut Naomi dengan tersenyum tipis yang membela Brian. Karena memang pasti membelikannya. Karena mana mungkin membiarkan Naomi tidak sarapan dan Brian orang yang paling rewel dan cerewet masalah makan pada Naomi.
"Dokter benar. Karena Brian tidak mungkin membiarkan Dokter kesayangannya kelaparan," ucap Aliyah yang membuat Naomi sempat datar dengan kata-kata Aliyah yang menjurus sesuatu.
"Maksudnya sahabat tersayangnya," Aliyah langsung melarat kata-katanya setelah melihat wajah Naomi datar.
"Iya kan Dokter," sahut Aliyah. Naomi hanya tersenyum tipis dengan menganggukkan kepalanya.
"Makan Dokter!" titah Aliyah.
"Iya kamu juga," sahut Naomi.
"Pasti. Senang sekali bisa makan seperti ini bersama Dokter Naomi. Huhhhh andai saja aku bisa merasakan hal ini terus menerus. Pasti aku sangat bahagia," ucap Aliyah.
"Kenapa yah! Tuhan memberiku sakit ini. Jika tidak aku pasti bisa bersama-sama dengan orang-orang yang baik kepadaku," ucap Aliyah sembari makannya.
"Bukannya barusan kamu tadi mengatakan. Jika kamu mendapatkan kenikmatan dan bersyukur atas nikmat Tuhan dan sakit itu juga nikmat. Lalu kenapa mengeluh," ucap Naomi.
"Iya Dokter benar. Namanya juga manusia. Kadang mengeluh kadang tidak dan aku sangat bahagia kok Dokter dengan nikmat ini. Nikmat yang bisa membuatku bahagia dan jika tidak ada nikmat ini aku tidak akan pernah mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan Dokter Naomi, Dokter Rachel dan Dokter Anju dan terutama Brian," ucap Aliyah yang tersenyum.
__ADS_1
"Jadi bagaimana. Kamu masih mengeluh?" tanya Aliyah.
"Tidak mengeluh dan sangat bahagia dan semua ini adalah kenikmatan dan akan menjadi kenangan terindah di dalam hati saya dan akan saya bawa sampai dunia keabadian," ucap Aliyah dengan mata berkaca-kaca membuat Naomi dengan tersenyum.
"Dokter Naomi Brian itu, begitu khawatir pada Dokter. Dokter tau tidak saat Dokter berada di dalam ruang penyimpanan obat-obatan. Brian berlari dan memaksa masuk untuk ke rumah itu. Dia sangat takut kehilangan Dokter," ucap Aliyah.
Pembicara Aliyah tidak menentu, terkadang bicara ini dan kadang bicara itu dan tidak pernah nyambung dan Naomi hanya menjadi pendengar untuk Naomi.
"Aku jadi pengen punya sahabat seperti Brian yang begitu khawatir pada Dokter dan sangat takut terjadi apa-apa pada Dokter," lanjutnya.
"Aliyah kenapa kamu jadi membahas Brian?" tanya Naomi heran.
"Tidak apa-apa Dokter mamanya juga Brian menjadi topik dan ada di antara kita," sahut Aliyah.
"Maksud kamu apa?" tanya Naomi heran. Aliyah tersenyum dan melihat kearah makannya dan makan kembali tanpa menjawab pertanyaan Naomi.
"Oh iya Aliyah, Kamu kerumah sakit untuk menemui Brian?" tanya Naomi yang mengalihkan pembicaraan itu.
"Aku juga tidak tau Dokter. Brian meneleponku dan kayanya ingin mengatakan sesuatu padaku," jawab Aliyah.
"Kamu ke rumah sakit karena Brian yang menelponmu?" tanya Naomi.
"Iya dia meneleponku dan ingin mengatakan sesuatu kepadaku?" jawab Aliyah.
"Mengatakan sesuatu? Apa itu?" tanya Naomi yang tiba-tiba kepikiran dan tiba-tiba penasaran. Saat Aliyah membicarakan hal itu jantungnya juga berdetak tidak karuan dan merasa ada yang tidak aman dan membuatnya tidak nyaman.
"Aku juga tidak tau dan sepertinya memang ingin bicara serius kepadaku. Pagi-pagi sekali dia sudah menelponku dan mengatakan ingin berbicara. Dia mengatakan tidak bisa kerumah sakit. Jadi aku yang sarang," ucap Aliyah dengan tersenyum yang juga kembali makan.
Naomi tiba-tiba kembali datar dengan wajahnya yang penuh dengan berpikir yang merasa perasannya tiba-tiba entah seperti apa.
"Brian menelpon Aliyah dan mengajaknya bertemu di rumah sakit dan Apa yang ingin di bicarakan Brian pada Aliyah. Kenapa tiba-tiba ingin berbicara pada Aliyah. Kenapa perasaan ku tiba-tiba tidak enak. Apa ini sesuai dengan apa yang di katakan Brian tadi malam. Jika dia akan menyelesaikan masalah ini dan Apa kira-kira keputusan yang di ambil Brian," batin Naomi yang tiba-tiba menakutkan sesuatu.
__ADS_1
"Kenapa justru aku yang khawatir, kenapa justru aku yang penasaran. Bukannya Sanga biasa jika ada wanita yang tiba-tiba meminta kepastian pada Brian dan aku tidak pernah sepemikiran seperti ini. Lalu kenapa tiba-tiba aku memikirkan hal ini. Dan seperti ada yang aku takutkan," batin Naomi yang tidak mengerti dengan perasaannya.
Bersambung