
1 Minggu kemudian.
1 Minggu sangat cepat berlalu. Setelah pernikahan Anju dan Danesh mereka berdua tinggal di Apartemen. Mereka tidur di kamar yang terpisah dan memang sudah sepakat untuk tidak saling mengurus masing-masing dan punya kebebasan ingin melakukan apa yang mereka ingin lakukan tanpa mengganggu satu dengan yang lain.
Sama seperti sekarang ini. Anju yang keluar dari kamar yang juga sudah siap-siap untuk kerumah sakit. Dia cuti selama seminggu karena pernikahannya. Katanya berbulan madu. Tetapi sepertinya bukan bulan madu. Karena memang tidak mungkin Anju berbulan madu dengan Danesh.
Anju keluar dari kamar bersamaan dengan Danesh yang juga keluar dari kamar yang juga ingin kekantor. Namun keduanya tampak cuek. Tidak saling melihat apalagi untuk saling menegur.
Jalan keduanya satu arah bahkan langkahnya serentak. Sama-sama menuruni anak tangga. Namun tidak ada saling menyapa bahkan mengeluarkan senyum sedikitpun. Keduanya sama-sama menuju meja makan untuk melakukan sarapan yang sudah di siapkan asisten rumah tangga.
Dengan serentak ke-2nya menarik kursi dan duduk saling berhadapan. Mengambil sarapan masing-masing. Karena sarapan yang mereka makan berbeda.
Jika Danesh dengan roti dan selai Nutella. Maka Anju sarapan dengan sereal. Keduanya sama-sama sarapan. Jika Anju sembari melihat ponselnya. Maka Danesh melihat IPad nya dan ke-2 tetap saling cuek.
Hal seperti itu sampai mereka selesai sarapan dan sama-sama berdiri. Mengambil tas masing-masing dan mereka sama-sama pergi keluar dari Apartemen.
Di jalan, di dalam lift sampai ke parkiran tetap saling diam dan seperti orang tidak kenal dan sama-sama masuk kedalam mobil. Mereka pergi dengan tujuan masing-masing tetap dalam keadaan diam seperti orang asing. Bisa ya ada manusia seperti itu. Jelas bisa Anju dan Danesh contohnya.
Entah sampai kapan keduanya akan seperti itu. Hanya mereka yang tau kapan mereka akan betah dengan keadaan yang seperti itu.
*******
Rumah sakit.
Naomi dan Rachel sama-sama berjalan memasuki rumah sakit. Mereka ber-2 memang baru sampai rumah sakit dan berjalan sembari mengobrol.
"Naomi, Rachel!" panggil Anju yang membuat Naomi dan Rachel sama-sama membalikkan tubuh mereka dan melihat ke belakang menoleh ke arah Anju.
"Anju," sapa keduanya dengan serentak.
"Hay! Kalian baru sampai?" tanya Anju.
"Iya benar kita baru sampai," jawab Naomi.
"Kamu sudah pulang dari Jepang?" tanya Rachel. Mereka tau jika Anju dan Danesh bulan madu Jepang.
"Oh iya sudah," jawab Anju dengan tersenyum.
"Hmmm semoga ada hasilnya ya," goda Rachel dengan matanya yang mengarah pada perut Anju membuat Anju mengkerutkan dahinya.
"Apa sih kamu," sahut Anju dengan kesal.
"Issss malu-malu lagi," sahut Rachel membuat wajah Anju memerah. Naomi hanya senyum-senyum saja melihat Anju dengan wajahnya yang memerah.
__ADS_1
"Sudah-sudah sekarang sebaiknya kita masuk," sahut Naomi yang menyelamatkan Anju dari godaan Rachel yang memang di luar nalar.
Mereka mengangguk dan baru melangkah. Namun langkah Anju terhenti ketika melihat Brian yang di gandeng oleh Aliyah saat berjalan.
"Aliyah kembali masuk rumah sakit?" tanya Anju.
"Nggak dia hanya berkunjung ya paling mengantar catering untuk Brian," jawab Rachel.
"Maksudnya?" tanya Rachel bingung.
"Maksud Rachel mengantarkan sarapan untuk Brian," jawab Naomi memperjelas omongan itu.
"Setiap hari?" tanya Anju.
"Selama kamu tidak masuk. Sepertinya hanya 2 kali absen," jawab Naomi.
"Dan mereka sedekat itu?" tanya Anju dengan dahinya mengkerut.
"Ya namanya juga Brian. Biasalah ada saja mangsanya dan aku lihat-lihat sepertinya hubungan mereka bukan antara Dokter dan pasien lagi. Tetapi sudah lebih," sahut Rachel menurut pengamatannya. Anju langsung menoleh kearah Naomi.
Dia ingin melihat reaksi Naomi. Namun tetap sama Naomi tidak menunjukkan ekspresi apa-apa saat melihat Brian dekat dengan wanita lain. Ekspresi Naomi memang tidak bisa di tebak dan terkadang Anju yang bisa gila sendiri dengan Naomi yang tidak bisa di tebak.
"Ya sudah ayo kita masuk. Membicarakan Brian tidak akan ada habisnya," ucap Naomi dengan tersenyum. Rachel menganggukkan kepalanya begitu juga Anju yang menghentikan lamunannya dan mereka langsung masuk.
Brian dan Aliyah terlihat duduk bersama dengan Aliyah yang membawakan makanan untuk Brian dan menemani Brian makan.
"Bagaimana Dokter, enak apa tidak?" tanya Aliyah yang butuh jawaban.
"Kamu mau jawaban jujur apa tidak?" tanya Brian balik.
"Jawaban ya' jujur pastinya," jawab Aliyah.
"Kalau jawaban jujur. Makanannya sangat enak," jawab Brian.
"Lalu jawaban bohongnya apa?" tanya Aliyah yang juga penasaran.
"Tidak ada jawaban yang bohong. Karena memang makannya sangat enak," jawab Brian dengan tersenyum membuat Aliyah tersenyum lebar.
"Benarkah?" tanya Aliyah yang tidak percaya.
"Iya Aliyah," sahut Brian yang tersenyum.
"Oh iya Dokter, Hmmmm boleh tidak kalau saya memanggil Dokter dengan panggilan nama. Karena saya mau saya ini bukan pasien Dokter," ucap Aliyah yang bicara kelihatan takut-takut pada Brian mengatakan keinginannya.
__ADS_1
"Memang kamu ingin memanggilku dengan sebutan apa?" tanya Brian dengan menaikkan 1 alisnya pada Aliyah.
"Mau panggil sayang?" tanya Brian yang membuat Aliyah canggung dan debaran jantungnya berdetak tidak beraturan, sangat gugup sembari meremas dressnya dengan apa yang di katakan Brian. Belum lagi dengan tatapan mata Brian yang di luar nalar yang membuat dia begitu gugup.
Aliyah sampai menunduk membuat Brian memegang dagu Aliyah dan mengangkatnya sehingga wajah Aliyah sejajar dengan Brian.
"Saya tidak berani memanggil kata seperti itu. Jika Dokter tidak....."
"Tidak apa?" tanya Brian.
"Arghhh, sudahlah Dokter lupakan saja keinginan saya tadi," ucap Aliya yang menjadi gugup dan malu dengan Brian. Hal itu membuat Brian menyunggingkan senyumnya.
"Kamu boleh memanggilku apa saja dan tidak perlu sungkan," sahut Brian.
Aliyah tersenyum mendengarnya, "memanggil nama boleh?" tanya Aliyah.
"Kenapa tidak. Kamu itu usianya hanya berbeda 4 tahun dari saya. Jadi tidak masalah. Jika ingin memanggil nama," jawab Brian membuat Aliyah tersenyum.
"Kalau begitu makan lagi Brian," sahut Aliyah dengan tersenyum. Brian mendengus dengan tersenyum dan kembali melanjutkan makannya.
*********
Brian memasuki ruang istirahat dan di sana ada Anju yang sedang menyelesaikan berkas-berkas yang duduk di mejanya.
"Anju kamu sudah pulang dari Jepang?" tanya Brian sembari menuangkan air dari despenser kedalam cangkir.
"Iya kemarin baru pulang," jawab Anju.
"Bagaimana semuanya lancar?"
"Menyenangkan?" tanya Brian.
"Menyenangkan," jawab Anju tersenyum tipis.
"Ya namanya juga pengantin baru pasti menyenangkan bukan," sahut Brian dengan mengangkat alisnya. Setelah menuang air kedalam cangkirnya. Dia langsung duduk di mejanya.
"Kamu seperti tidak ada apa-apa Brian. Aku masih mengingat kemarahan mu, saat aku ingin menikah dan sekarang kamu begitu lempang. Seolah kita tidak pernah ada apa-apa. Ya memang kita tidak pernah ada apa-apa. Jika ada kau tidak akan langsung melupakanku," batin Anju yang melihat ekspresi Brian tampak tenang dan santai. Tidak ada canggung- canggung nya sama sekali.
Melihat sikap Brian yang seperti itu malah membuat Anju sedih. Tetapi tidak tau juga apa yang di sediakan Anju. dia yang sudah memilih menikah dengan Danesh.
Brian pun membuka laptopnya dan mulai fokus pada pekerjaannya. Dia tidak banyak bicara dengan Anju. Karena memang tidak ada hal yang harus di bicarakan dengan Anju
Bersambung
__ADS_1