Brian Sang Pemain " Doctors"

Brian Sang Pemain " Doctors"
Episode 47 Istri bikin repot.


__ADS_3

Malam hari Danesh pulang ke Apartemennya. Saat memasuki Apartemen Danesh berhenti di ruang tamu saat melihat Anju yang berbaring di sofa yang sedang tertidur.


"Apa dia tidak bisa untuk tidur di kamar, kenapa harus tidur di sini," gumam Danesh melihat Anju yang sembarangan tertidur. Anju bahkan masih memakai pakaian formal. Pakaian setelah pulang dari rumah sakit.


Sepertinya Anju memang sangat kelelahan makanya sampai tertidur di sofa. Danesh hanya geleng-geleng dan meninggalkan Anju dia memilih untuk kekamarnya dan tidak membangunkan Anju. Danesh berpikiran jika Anju nanti juga pasti akan bangun sendiri dan tidak perlu dia membangunkan Anju.


**********


Andi yang memasuki kamarnya yang terlihat letih. Meletakkan tasnya di pada tempatnya dan Daniah langsung menuju kamar mandi untuk bersih-bersih


Setelah mandi dan sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian santai. Danesh keluar dari kamar ingin menuju dapur untuk membuat kopi. Karena dia akan lembut hari ini dengan pekerjaan yang sangat banyak. Saat menuruni anak tangga Danesh masih melihat Anju yang tetep pada posisinya dan belum bangun sama sekali.


Danesh hanya melihat sebentar. Lalu melanjutkan langkahnya menuju dapur untuk membuat kopi. Dapur yang saling berdekatan dengan ruang tamu membuat Danesh bisa sekali-kali melihat Anju yang masih tetap pada posisinya yang sedang istirahat.


Tangannya bekerja mengaduk kopi. Namun matanya tetap memantau Anju yang tidak bangun sama sekali. Tidak tau Anju kecapean atau bagaimana sampai begitu lelap tertidur.


Selesai membuat kopi Danesh meninggalkan dapur dan kembali kekamarnya tanpa membangunkan Anju. Dia juga merasa tidak ada kepentingan untuk membangunkan Anju. Jadi Danesh memilih kembali kekamar dan duduk di ruang kerjanya yang langsung membuka laptop untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Angka jarum jam bergerak menunjukkan waktu yang semakin tinggi dengan malam yang semakin malam. Danesh masih tetap lembur meski matanya sudah mulai mengantuk yang sebentar-sebentar menguap dengan menahan kantuk. Sebentar-sebentar meneguk kopinya agar kantuknya hilang.


Danesh menggoyang-goyangkan kepalanya dan melihat jam yang menggantung di dingding yang ternyata sudah pukul 1 pagi. Tidak terasa lemburnya ternyata sangat lama.


"Sudah larut ternyata," gumamnya yang mulai merasa letih.


Danesh menghela napasnya dan langsung menutup laptopnya. Dia menghentikan pekerjaannya. Karena harus beristirahat. Jika dia bekerja terus tidak akan ada hentinya yang ada tubuhnya bisa drop dan ujung-ujungnya bekerja tidak akan tenang.


Danesh berdiri dari tempat duduknya menuju tempat tidur. Namun saat dia ingin menaiki ranjang. Tiba-tiba saja tidak jadi dan terlihat Danesh yang seperti memikirkan sesuatu yang membuat Danesh keluar dari kamar.


Ternyata Danesh melihat ke ruang tamu untuk melihat Anju masih ada atau tidak di sana dan ternyata Anju masih ada dan masih tertidur yang membuat Danesh menghela napasnya.


"Kenapa dia tidak bangun-bangun sejak tadi," gumam Danesh geleng-geleng kepala dan Danesh langsung menuruni anak tangga menghampiri Anju yang masih tertidur dengan posisi awalnya.

__ADS_1


Danesh berdiri di samping Anju dan melihat Anju sangat lelap tertidur.


"Anju bangunlah. Pindahlah kekamar!" ucap Danesh yang membangunkan Anju. Namun tidak ada respon dari Anju.


"Anju!"


"Anju!"


Lelah membangunkan dengan suara dan tidak ada respon sama sekali membuat Danesh berjongkok dan sangat ragu untuk memegang tangan Anju untuk membangunkan Anju.


"Anju! Anju bangunlah!" ucap Danesh yang akhirnya memegang dengan ujung jarinya untuk membangunkan Anju dan tidak ada respon sama sekali dari Anju membuat Danesh menghela napas.


"Jangan menyalahkanku," gumam Danesh yang langsung bertindak untuk menggendong Anju ala bridal style. Mau tidak mau dia harus melakukan hal itu. Dari pada istrinya tertidur di sofa.


Danesh membawa Anju menuju kamar Anju. Sesampai di kamar Danesh langsung membaringkan dengan perlahan dan yang benar saja. Anju sama sekali tidak terbangun walau tubuhnya sudah di angkat.


Danesh membaringkan Anju di atas tempat tidur dan tangan Anju tiba-tiba menarik leher Danesh yang mengalung di lehernya yang membuat Danesh kesulitan untuk bangkit dengan wajahnya yang berdekatan dengan Anju bahkan hampir mencium Anju.


"Aku baru tau. Jika ada orang yang bisa tidur seperti ini. Bisa-bisanya tidak terbangun," oceh Danesh sembari menyelimuti Anju. Dia geleng-geleng melihat kelakuan Anju yang di luar pemikirannya.


Anju memang bangkong dan tidak bangun sama sekali dan bahkan sampai menyulitkan Danesh. Setelah mengurus istrinya akhirnya Danesh meninggalkan Anju di dalam kamar itu. Danesh ternyata masih bisa perhatian juga.


Sampai tidak jadi tidur dan mengecek istrinya. Lalu membawa istrinya ke dalam kamar untuk mendapatkan tempat istirahat yang lebih nyaman lagi.


**********


Mentari pagi kembali tiba. Sinar matahari masuk dari sela-sela jendela di kamar Anju. Sinar matahari membuat Anju menyerngitkan dahinya dengan matanya yang mengkerut dan akhirnya terbangun dengan membuka matanya yang sangat berat di buka.


"Ahhhhhh!" Anju menguap dengan panjang dan duduk dengan kedua tangannya yang di majukan kedepan dan memiring-miringkan tubuhnya yang terasa begitu pegal.


"Jama berapa sekarang," gumamnya melihat jam yang menggantung di dinding.

__ADS_1


"Jam 7. Aku harus kerumah sakit,"gumamnya yang tampak letih dan tidak bersemangat untuk kerumah sakit.


"Kerja, kerja dan kerja lagi," Anju mengelukan keadaannya yang terus bekerja.


"Di mana ponselku!" Anju melihat di sekelilingnya dan melihat di sekitarnya yang mencari-cari ponselnya yang tidak dapat di temukannya. Dia juga melihat dia atas nakas.


"Apa di ruang tamu!" gumamnya yang mengingat hal tersebut.


"Astaga iya benar. Di ruang tamu, tadi malam kan aku tertidur di sana dan pasti masih berada di ruang tamu," gumamnya yang menghela napas dan mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya.


"Lalu?" Anju tiba-tiba kaget dengan wajahnya yang mengingat-ingat sesuatu.


"Siapa yang membawaku kekamar," gumamnya yang baru kepikiran.


"Arghhh tidak mungkin!" Anju sampai memikirkan sesuatu yang sepertinya tau siapa yang membawanya kedalam kamar


Anju langsung menyibak selimut dan turun dari ranjang dengan Anju yang langsung keluar dari kamar. Masih belum mandi dan cucu muka. Masih dengan wajah bantalnya Anju buru-buru menuruni anak tangga dan belum lagi dia mendengar ponselnya yang berbunyi yang memang ada di ruang tamu.


Sementara ada Danesh yang di ruang tamu yang berdiri di sana dengan memegang secangkir kopi dan mendengar ponsel itu berdering membuat Danesh langsung ingin mengangkatnya. Namun ke duluan oleh Anju yang langsung mengambil ponsel itu.


"Biar aku saja," sahut Anju yang mengangkat panggilan tersebut yang ternyata dari Anna sang mama.


Anju mengangkat telpon itu sementara Danesh memilih duduk dan tidak kepo sama sekali dengan pembicara Anju dan Anna dan bahkan Danesh tidak melihat Anju sama sekali.


"Baiklah mah nanti Anju akan ke sana," sahut Anju dengan yang menutup telpon itu dan Anju melihat ke arah Danesh


Danesh terlihat santai saja. Namun Anju seperti ingin menanyakan sesuatu kepada Danesh. Tetapi dari wajahnya terlihat ada keraguan. Mungkin saja Anju bingung harus bertanya seperti apa kepada Danesh. Dia bingung untuk memulai pembicaraan itu.


"Ehmmm!" Anju berdehem membuat Danesh menoleh arahnya.


"Kau ingin mengatakan sesuatu?" tanya Danesh dengan menaikkan alisnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2