
Anju dan Danesh akhirnya sampai rumah mereka yaitu Apartemen mereka berdua. Mereka saling melihat satu sama lain dan tanpa ada pembicaraan.
"Baiklah aku akan langsung istirahat," ucap Anju yang sudah tidak tau lagi apa yang harus di ucapkannya pembicaraanya dengan Danesh 1 hari ini sangat banyak dan itu sudah cukup.
"Ya sudah kalau begitu," sahut Danesh. Anju menganggukkan kepalanya dan langsung menaiki anak tangga untuk beristirahat. Danesh mengehela napasnya dan dia juga langsung memasuki kamarnya untuk beristirahat.
Hari ini sangat melelahkan untuk keduanya banyak insiden yang terjadi. Banyak hal yang tidak terduga, banyak drama. Ya tapi membuat komunikasi Danesh dan anju berkembang dengan baik.
**************
Anju langsung memasuki kamarnya dan menghela napas beratnya yang duduk di pinggir ranjang. Hembusan napas itu juga seperti menggambarkan hatinya yang sebenarnya tidak baik-baik saja. Ya mungkin karena permasalahan hatinya.
Anju mengusap wajahnya dengan kedua tangannya sampai kerambutnya dengan Anju yang sedikit menunduk dan kembali mengeluarkan hembusan nafas yang berat.
"Bagaimana keadaan Aliyah!" gumamnya yang tiba-tiba kepikiran dengan Aliyah. Apa lagi yang di pikirkannya jika bukan Aliyah.
"Melihat Brian dan Naomi seperti tadi. Pasti Aliyah mengalami hal yang sulit. Dan mungkin saja berpengaruh pada kesehatannya," ucap Anju.
"Brian, aku pernah mengingatkan mu dan kau tidak pernah mendengarkanku dan sekarang Aliyah akan menjadi korban dari mu dan seharusnya kau tau Brian posisi Aliyah sekarang ini sangat berbeda. Aliyah tidak sama dengan orang-orang yang sebelumnya,"
"Seharusnya. Jika kamu tidak bisa bertanggung jawab. Jangan seperti ini Brian," Anju yang bergerutu sendiri. Jika Aliyah orang lain dan tidak sakit mungkin Aliyah bisa menerima apa yang di lakukan Brian. Namun konteksnya berbeda. Aliyah pasti sulit menerima semuanya. Tadi saja Anju sudah bisa menebak bagaimana perasaan Aliyah.
"Aku hanya berharap. Kali ini kamu benar-benar tegas Brian dan kamu tidak melibatkan Aliyah dalam petualangan kamu," Anju hanya bisa berharap saja.
*************
Danesh yang berada di depan cermin yang membuka kemejanya. Dia juga terlihat tampak lelah. Namun saat melihat dirinya di depan cermin tiba-tiba saja Danesh menyunggingkan senyumnya dan entah apa yang lucu rasanya.
"Aneh sekali ucapannya. Apa sekarang dia ingin komitmen bersama ku. Bukannya dia tidak bisa melupakan Pria yang memberikan harapan kepada-nya," decak Danesh. Danesh masih merasa lucu dengan kata-kata Anju di mobil sebelumnya.
"Anju mungkin hanya asal bicara saja. Tetapi ternyata diserap oleh Danesh.
"Dasar wanita keras kepala dan selalu merasa benar. Aku tidak tau. Jika ada wanita di dunia ini seperti itu," gumamnya geleng-geleng kepala.
Tiba-tiba saja dia harus memikirkan Anju. Sedikit aneh juga bagi Danesh. Biasanya Danesh orang yang cuek dan terlebih lagi masa bodo. Tetapi perkataan Anju membuat Danesh bisa-bisanya kepikiran.
************
__ADS_1
Naomi masih belum sadar dan Brian masih menjaganya di ruangan Naomi. Dengan terus berada di samping Naomi dan melihat nanar wajah Naomi.
"Aku bisa-bisanya punya pikiran. Jika aku tidak akan pernah membantumu dan ini yang terjadi karena ke egoisan ku. Kamu mengalami semua ini. Aku tidak berada di sisimu dan seharusnya aku tidak melakukan hal itu. Maafkan aku Naomi. Aku tidak bejus menjaga mu," ucap Brian dengan rasa bersalahnya kepada Naomi.
"Brian!" tiba-tiba Kayra memasuki ruangan itu dan menghampiri Brian.
"Mah!" sahut Brian.
"Mama dan papa mau pulang. Kamu jaga Naomi ya. Mama dan papa tidak bisa menemani Naomi di rumah sakit. Jadi mama titip Naomi," ucap Kayra yang ingin pamit pulang.
"Iya mah, aku akan menjaga Naomi," jawab Brian yang memang tidak mungkin meninggalkan Naomi.
Kayra mendekati Naomi dan mengusap pucuk kepala Naomi dan juga menciumnya dengan begitu tulus.
"Tante pulang ya," ucap Kayra yang begitu prihatin dengan kondisi Naomi,"
"Ya sudah kalau begitu mama pulang dulu. Papa kamu sudah menunggu di mobil," ucap Kayra pamit.
"Iya mama hati-hati," ucap Brian. Kayra menganggukkan kepalanya dan langsung pergi.
Brian akan menjaga Naomi sampai Naomi siuman. Dia tidak akan meninggalkan Naomi.
**********
Naomi membuka matanya perlahan yang akhirnya Naomi sadar dan melihat ke arah Brian dan wajah Brian tampak senduh melihat Naomi yang masih sangat lemas.
"Kamu sudah bangun?" tanya Brian.
Naomi hanyalah menjawab dengan anggukan kepalanya dengan pelan.
"Maafkan aku. Aku datang terlambat," ucap Brian. Naomi menggelengkan kepalanya.
"Bukan salah kamu," sahut Naomi dengan suaranya yang pelan.
"Itu semua salahku yang sudah membuat kamu menjadi terluka. Aku benar-benar minta maaf Naomi. Aku juga bertengkar denganmu, sampai aku tidak bisa mengawasimu," ucap Brian yang merasa bersalah.
"Jangan merasa bersalah Brian. Aku hanya ceroboh dan apa yang terjadi bukan kesalahan kamu dan keributan kita berdua. Mungkin aku juga terlalu berlebihan. Aku terlalu ikut campur. Itu karena aku mengkhawatirkan mu," ucap Naomi yang juga mengakui jika dia juga bersalah pada Brian.
__ADS_1
"Tidak Naomi kamu tidak salah. Aku saja yang terlalu berlebihan. Aku tidak bisa berpikir dengan baik," ucap Brian yang justru mengakui jika dia salah.
"Maafkan aku ya!" ucap Brian. Naomi menganggukkan kepalanya.
"Aliyah di mana?" tanya Naomi yang tiba-tiba kepikiran dengan Aliyah
"Kenapa mencarinya Naomi?" tanya Brian.
"Bukannya tadi dia ada di rumah sakit. Apa dia baik-baik saja?" tanya Naomi yang memang sangat khawatir pada Aliyah.
"Iya. Dia baik-baik saja. Dia memang tadi ada di rumah sakit dan dia juga tadi ada di sini untuk melihatmu dan dia baik-baik saja. Dan mungkin juga sudah pulang," ucap Brian.
"Syukurlah kalau begitu," sahut Naomi yang merasa lega.
"Lalu apa ada korban dalam kecelakaan ini?" tanya Naomi
"Tidak ada korban serius dan hanya kamu korbannya," jawab Brian yang memang apa Adanya.
"Aku juga tidak tau apa yang terjadi. Tiba-tiba tempat penyimpanan meledak dan aku tidak bisa keluar dari sana. Karena penuh dengan api," ucap Naomi dengan memejamkan matanya saat terbayang. Bagaimana dia histerisnya di dalam ruangan. Berteriak minta tolong dengan penuh ketakutan. Namun tidak ada yang memanggil yang membuat Naomi pasrah pada saat itu.
"Sudah Naomi jangan mengingat hal itu. Kamu lupakan saja. Kamu harus istirahat yang terpenting kamu tidak terluka bakar dan sekarang kamu sudah siuman. Jadi jangan mengingat hal itu," ucap Brian. Naomi menganggukkan kepalanya.
"Iya," sahut Naomi.
"Ya sudah kamu istirahat ya!" ucap Brian. Naomi menganggukkan kepalanya.
"Kamu butuh sesuatu?" tanya Brian.
"Tidak! Aku tidak butuh apa-apa," jawab Naomi.
"Ya sudah. Jika nanti kamu butuh sesuatu. Kamu beritahu aku ya," ucap Brian. Naomi menganggukkan kepalanya.
"Ya kamu istirahat!" titah Brian yang berdiri dari tempat duduknya menyelimuti Naomi.
"Aku tinggal ya!" ucap Brian. Naomi menganggukkan kepalanya. Dan Brian langsung keluar dari ruangan tersebut.
"Syukurlah jika tidak ada korban dan Aliyah juga tidak apa-apa," gumam Naomi dengan menghela napasnya yang merasa lega. Dia juga sangat bersyukur yang di beri kesempatan untuk hidup. Dia sudah sempat pasrah. Namun ternyata Brian datang menyelamatkannya.
__ADS_1
Bersambung