
"Hello!" Anju melambai-lambaikan tangan di depan Naomi yang sedang melamun membuat Naomi buru-buru tersadar.
"Oh iya kenapa?" sahut Naomi yang terlihat gugup.
"Kamu melamun terus seperti memikirkan sesuatu," ucap Anju.
"Tidak kok. Aku tidak memikirkan apa-apa," jawab Naomi.
"Hmmm, begitu rupanya. Oh iya aku ingin memberikan sesuatu pada kamu," ucap Anju.
"Apa itu?" tanya Naomi.
Anju mengeluarkan sesuatu dari tasnya yang berupa undangan pernikahan dan langsung di berikannya pada Naomi yang membuat Naomi bingung.
"Undangan siapa ini?" tanya Naomi mengambil dari tangan Anju.
Wajah bingung Naomi berubah menjadi kaget ketika melihat nama Anju dan Danesh yang ada di dalam undangan itu dan Naomi langsung melihat dengan serius ke arah Anju dan Anju membalas dengan senyuman.
"Kamu jangan lupa datang ya di hari pernikahan ku," ucap Anju dengan santainya bahkan mengeluarkan senyum. Seolah dia begitu bahagia dengan pernikahannya dan Danesh.
"Kamu menikah!" pekik Naomi dengan wajah kagetnya yang tidak percaya dengan ucapan Anju.
"Iya kamu benar. Aku menikah dengan Danesh," jawab Anju.
"Anju! Bukannya kamu sama Brian...."
"Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Brian. Seperti kamu lihat, kepada semua wanita dia seperti itu dan Brian juga tidak mengungkapkan perasaannya kepadaku atau memintaku untuk berada di sisinya. Jadi tidak ada yang spesial antara aku dan Brian. Jadi aku tidak mungkin menyia-nyiakan hidupku untuk hal yang tidak pasti. Usiaku sudah menyuruhku untuk menikah sementara Brian masih berpetualang dan aku tidak bisa menunggunya," jelas Anju dengan tenang berbicara pada Naomi.
"Aku dan Danesh sudah bertemu lama. Kita memutuskan untuk menikah. Karena memang punya satu tujuan. Jadi kamu jangan lupa datang ya ke pernikahanku," ucap Anju dengan tersenyum yang memegang bahu Naomi.
"Brian sudah tau hal ini?" tanya Naomi dengan wajah sedihnya.
"Dia orang pertama yang aku undang. Jika tidak mau datang. Aku berharap kamu bisa membujuknya. Karena aku ingin di hari pernikahanku semua orang-orang terdekatku mendampingiku," sahut Anju yang tersenyum. Namun senyum itu menyimpan kesedihan yang terlihat dari matanya.
"Ya sudah ya Naomi aku hanya ingin memberitahu itu saja. Jangan lupa datang. Aku masuk dulu ya, bye," ucap Anju yang langsung pergi dari hadapan Naomi.
"Aku bisa pastikan bukan aku yang sebenarnya menjadi topik di dalam kehidupan kamu Brian. Tetapi Naomi. Aku tidak tau kalian menyadari hal itu apa tidak. Tetapi pasti akan ada luka yang lebih besar dari yang aku rasakan. Aku hanya berharap Brian kamu bisa berubah dengan kebiasaan dan bukan menyesal karena aku. Tapi jangan sampai kamu menyesal karena hal besar," batin Anju dengan menghela napasnya. Dia berusaha tegar untuk menerima takdirnya.
__ADS_1
Sementara Naomi melihat undangan itu dengan wajahnya yang tampak senduh. Naomi masih melihat ke arah Anju yang berjalan semakin jauh.
"Apa ini yang membuat Brian tadi malam pulang seperti itu. Anju yang ternyata akan menikah dengan orang lain," batin Naomi yang menyimpulkan semuanya.
"Apapun pilihan kamu Anju. Aku berharap kamu bahagia dan begitu juga dengan Brian dia juga bisa menemukan pasangan yang tepat untuknya," batin Naomi.
"Naomi!" Rachel memanggil Naomi dan berlari menghadap Naomi.
Suara napas Rachel yang naik turun yang seperti orang di kejar-kejar. Terlihat sangat ngos-ngosan yang membuatnya sangat lelah.
"Ada berita besar," ucap Rachel yang berbicara seperti orang lelah.
"Rachel kamu bicara pelan-pelan. Kamu seperti orang bengek," ucap Naomi.
"Ini hal yang besar yang sangat mengejutkan," ucap Rachel .
"Apa yang membuat kamu terkejut?" tanya Naomi.
"Ini berita besar Naomi aku tidak percaya jika Anju...."
Omongan Rachel terputus ketika matanya melihat undangan di tangan Naomi.
"Anju menikah maksud kamu?" tebak Naomi yang tau jika itu yang ingin di sampaikan Rachel.
"Iya benar," jawab Rachel.
"Dia baru saja memberitahuku dan mengundangku," ucap Naomi.
"Astaga!" ucap Rachel dengan memijat kepalanya.
"Aku tidak tau kenapa bisa Anju menikah dan selama ini kita tau dia tidak punya kekasih dan dia hanya dekat dengan Brian. Anju tiba-tiba menikah dan itu sangat mengejutkan. Apa dia selama ini pacaran diam-diam dan Brian hanya cadangannya saja," ucap Rachel yang menduga-duga dengan semua yang di pikirkannya yang di keluarkannya.
"Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu?" tanya Naomi.
"Ya kamu lihat aja sendiri. Anju tiba-tiba menikah dan kita tidak pernah melihat laki-laki itu. Ini hal yang aneh. Dia juga mengatakan kepadaku selama ini tidak ada hubungan apa-apa dengan pria lain," ucap Rachel yang malah pusing perkara masalah orang lain.
"Sudahlah Rachel. Anju punya pilihannya sendiri dan itu adalah keputusannya. Dan pernikahan itu bukan hal yang kecil. Anju juga pasti memikirkan masalah itu sebelumnya. Jadi kita harus menghargai keputusannya," ucap Naomi dengan bijak.
__ADS_1
"Lalu Brian bagaimana?" tanya Rachel.
"Aku tidak tau. Aku belum bertemu dengannya dan dia juga tidak mengatakan apa-apa. Jadi aku tidak tau," jawab Naomi dengan apa adanya.
"Huhhhhh ternyata plot twist nya seperti ini. 1 rumah sakit tau Anju dan Brian punya hubungan special dan sekarang 1 rumah sakit akan heboh dengan pernikahan Anju dan kita berdua akan menjadi korban untuk menjawab pertanyaan orang -orang yang kepo itu," ucap Rachel dengan kesal yang sudah malas dengan apa yang terjadi selanjutnya.
"Untuk apa kamu memikirkan sejauh itu. Kamu bisa tidak menanggapinya mereka," sahut Anju
"Iya juga sih," sahut Anju.
"Ya sudahkah aku masuk dulu. Aku mau menyiapkan operasi," ucap Naomi. Rachel mengangguk saja dan Naomi langsung pergi.
"Sungguh di luar dugaan jika Anju yang menikah dengan orang lain dan bukan dengan Brian," ucap Rachel menghela napas dengan kasar atas apa yang terjadi.
*********
Sebelum melakukan operasi Naomi seperti biasa akan ketempat peristirahatan dulu. Disana sudah ada Brian yang dengan memakai almamater dokternya.
"Kamu kapan sampai?" tanya Naomi.
"Barusan," jawab Brian dengan dingin.
"Ohh," sahut Naomi. Naomi memegang undangan pernikahan itu yang di lihat oleh Brian.
"Jika ingin bertanya maka bertanyalah!" sahut Brian.
"Aku tadinya ingin bertanya. Tetapi aku sudah tau jawabannya," jawab Naomi.
"Jadi di sini bukan aku yang mempermainkannya. Tetapi justru dia yang pura-pura merasa di sakiti. Lalu ujung-ujungnya apa dia melakukan semuanya. Menikah tiba-tiba," ucap Brian.
"Aku sudah mengingatkan mu Brian sebelumnya. Dan jangan sampai kamu menyesal. Wanita tidak bisa hanya di ikat dengan perbuatan. Tetapi juga dengan kata kepastian. Anju melakukan semua ini juga pasti sudah memikirkannya dan kamu tidak bisa marah. Karena kamu juga tidak mengikatnya dan tidak memperjelas hubungan kalian," sahut Naomi yang berusaha membuat Brian mengerti. Karena dia tidak berpihak pada siapapun.
"Bisa-bisanya kamu membelanya. Sementara dia saja melibatkan mu," desis Brian dengan pelan.
"Kamu mengatakan apa?" tanya Naomi yang mendengar Brian bicara. Namun tidak terlalu jelas.
"Tidak ada. Aku cukup tau saja seperti apa dirinya. Ternyata ada dua orang," sahut Brian.
__ADS_1
"Apa yang kamu bicarakan Brian. Jangan hanya karena keputusan Anju. Kamu menjauh dan persahabatan menjadi korbannya. Kita sama-sama orang dewasa. Begitu juga dengan kamu," sahut Naomi mengingatkan.
Bersambung