
"Kamu bahagia karena berada di rumah sakit?" tanya Brian.
"Bukan karena aku berada di rumah sakit. Tetapi karena aku bertemu denganmu," jawab Aliyah.
"Makasih ya Brian sudah hadir di dalam hidupku, makasih sudah menjadi Dokter yang baik untukku," ucap Aliyah dengan serius bicara pada Brian.
"Tidak perlu berterima kasih. Itu tugasku menjadi seorang Dokter," sahut Brian.
Aliyah tersenyum dan duduk menghadap Brian. Aliyah tampak dekat dengan Brian dengan menatap Brian sangat intens dan memegang ke-2 tangan Brian. Brian heran melihat Aliyah yang kelihatan sangat serius.
"Aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu," ucap Aliyah dengan menatap Brian begitu dalam.
"Mengatakan apa?" tanya Brian
"Brian aku menyukaimu," ucap Aliyah.
Lama menunggu pengakuan dari Brian membuat Aliyah yang langsung mengatakan dengan jujur perasaannya kepada Brian. Brian pasti kaget mendengarnya. Dia pasti tau Aliyah menyukainya. Namun sangat kaget dengan Aliyah yang berani menyatakan perasaan itu kepadanya.
"Aku tidak tau kapan. Namun apa yang kamu berikan kepadaku membuatku sangat bahagia. Hari-hari ku yang awalnya tidak penuh semangat dan selalu pasrah. Karena aku lelah dengan keadaanku yang bolak-balik masuk rumah sakit, bolak-balik sakit, drop dan koma. Terkadang aku ingin untuk tidak bangun lagi. Karena aku benar-benar lelah dengan keadaanku yang terus seperti itu,"
"Brian, aku adalah wanita yang punya kelainan jantung dan tidak punya harapan untuk kehidupan ku. Namun saat aku bertemu denganmu, bertemu dengan Dokter yang sangat humbel membuatmu sedikit demi sedikit ada tujuan hidup,"
"Perhatian dan kenyamanan yang kamu berikan kepadaku benar-benar membuatku sangat ingin hidup dan semangat untuk sembuh. Aku menjatuhkan kehidupanku kepadamu,"
Aliyah benar-benar mengungkapkan semua isi hatinya kepada Brian. Sepenjang Aliyah bicara. Brian hanya diam mendengar semua ungkapan hati dari Aliyah yang pasti tidak pernah di duganya.
"Aku benar-benar jatuh cinta padamu Brian," ucap Aliyah lagi yang mengatakan perasaannya.
"Apa yang kamu bicarakan Aliyah?" tanya Brian yang mendadak cemas dengan perasaan cinta Aliyah.
"Aku baru saja mengungkapkan isi hati ku kepadamu. Jika aku jatuh cinta padamu dan aku bertahan hidup hanya karena ada kamu. Bagiku kamu adalah tujuan hidupku. Aku semangat dan bertahan sampai detik ini. Itu karena kamu. Karena kamu Brian," jelas Aliyah yang benar-benar serius.
__ADS_1
"Sudahlah Aliyah jangan membahas masalah ini," sahut Brian yang kelihatan ingin menghindari hal itu.
"Kenapa Brian?" tanya Aliyah.
"Dan bagaimana perasaan kamu kepadaku? Kamu juga mempunyai perasaan yang sama bukan. Pasti, pasti kamu mempunyai perasaan yang sama kepadaku?" sahut Aliyah yang menuntut hal yang pasti pada Brian.
Biasanya Brian sangat mudah menjawab. Jika ada wanita yang menuntut kepastian padanyanya dan pasti bukan Aliyah orang yang pertama melakukan hal itu. Sebelum-sebelumnya juga masih banyak. Namun untuk mengatakan jujur dan tegas pada Aliyah sepertinya Brian tidak punya keberanian.
Seketika kata-kata Naomi teringat di benaknya. Jika apa yang di katakan Naomi adalah benar. Aliyah akan menjadikannya harapan dan Brian harus paham sebagai Dokter untuk kondisi Aliyah hal ini sangat bahaya.
Apalagi melihat ekspresi Aliyah saat ini. Ada kecemasan di wajah Aliyah yang sangat terlihat akan takut. Bahkan tangannya yang memegang Brian sudah mulai dingin.
"Brian! Kenapa kamu diam. Jawablah pertanyaan ku. Bagaimana perasaan kamu kepadaku. Kamu juga pasti punya perasaan itu kan?" tanya Aliyah kembali.
"Aliyah! Sebaiknya!...." Brian tidak tau harus menjawab apa. Dia takut untuk menjawab. Takut kondisi Aliyah dan takut jika nanti akan semakin panjang.
Aliyah sudah mulai tidak tenang. Apa lagi dengan Brian yang menggantungnya seperti ini. Dia sudah menyatakan perasaannya terlebih dahulu dan tidak perlu untuk menunggu Brian. Namun Brian tidak menjawab apa-apa.
"Aliyah aku harus kembali ke rumah sakit. Aku ada pasien operasi hari ini," ucap Brian melepas tangannya dari Aliyah.
"Tapi Brian!" sahut Aliyah.
"Aku pergi. Sampai ketemu," ucap Brian yang langsung pergi tanpa membalas perasaan Aliyah.
Wajah Aliyah menjadi senduh dengan penuh kesedihan di saat apa mendengar respon Brian.
"Kenapa seperti itu Brian. Kenapa kamu tidak mengatakan saja bagaimana perasaan mu. Kenapa menggantung ku Brian," batin Aliyah yang tampak kecewa. Ternyata semuanya tidak sesuai dengan harapannya dan hal itu membuat begitu sedih dengan keadaan yang hadapinya.
***********
Sudah banyak yang mengingatkan Brian. Tetapi Brian keras kepala dan tetap santai. Sekarang dia panik sendiri saat Aliyah mengungkapkan perasaannya kepada dirinya. Brian yang berada di depan gedung apartemen di dalam mobilnya.
__ADS_1
Apartemen siapa lagi jika bukan apartemen Naomi. Tidak tau kenapa dia tiba-tiba datang ke sana dengan wajah frustasinya. Membuang nafasnya berkali-kali dengan hembusan napas yang tidak stabil.
"Ada apa ini," gumamnya memijat dahinya yang mendadak pusing. Brian kembali menghela napasnya dan membuka sabuk pengamannya. Lalu Brian turun dari mobilnya.
Bisa-bisanya Brian langsung menuju Apartemen Naomi. Masuk tanpa memencet bel. Karena dia tau kata sandinya. Padahal dia sedang bertengkar dengan Naomi. Namun dia malah dengan entengnya masuk kedalam Apartemen yang terlihat sepi dan lampu yang sudah mati.
"Apa dia sudah tidur," gumam Brian yang menghela napasnya. Brian menuju kamar Naomi. Brian membuka pintu kamar itu dan melihat Naomi memang tertidur. Namun posisinya yang bersandar di kepala ranjang.
Membuat Brian menghela napasnya dan langsung memasuki kamar tersebut. Brian geleng-geleng melihat posisi tidur Naomi yang sembarangan. Naomi yang tertidur dengan memeluk album foto mereka berdua.
Brian langsung mengambil album itu dan melihat sebentar.
"Seharusnya kita tidak berdebat untuk hal ini. Aku tau Naomi kau hanya takut, jika aku seperti mu. Namun aku sangat benci. Jika kau menganggapku sama seperti orang lain menganggapku dan walau apa yang kau katakan adalah benar. Tetapi aku tidak ingin kau harus memikirkanku dan membawaku masuk dalam dunia ketakutanmu," ucap Brian.
"Aku tau ini akan sulit untuk mu," batin Brian menghela napasnya dan langsung memperbaiki posisi tidur Naomi. Menyelimuti Naomi sampai dada Aliyah.
Brian mengusap pucuk kepala Naomi dan Brian langsung meninggalkan kamar Naomi. Ternyata tidak banyak yang di lakukannya. Ya tiba-tiba saja dia ingin menemui Naomi setelah mengalami sesuatu saat bersama dengan Aliyah.
Brian juga kelihatan tidak bisa lama-lama harus bertengkar dengan Naomi. Brian ada takutnya juga ternyata jika harus ribut dengan Naomi.
**********
Mentari pagi kembali tiba. Naomi baru bangun dari tidurnya dengan membuka matanya perlahan yang melihat langit-langit kamarnya.
"Apa aku kesiangan," gumamnya yang melihat jam yang berada di atas nakas. Jam Beker yang masih menunjukkan pukul 6 pagi.
"Huhhhh, bukan ternyata," gummanya yang langsung duduk dan mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya. Katanya kembali melihat ke arah nakas dan melihat album foto tersebut.
Wajah Naomi kelihatan bingung. Mungkin saja dia merasa tidak menyimpan album itu dan mengingat tertidur dengan membawa album itu di dalam pelukannya.
Huhhhhhhhh
__ADS_1
Naomi hanya menghela napasnya dan tidak ingin berpikir apa-apa. Dia melihat untuk turun dari ranjang dan menuju kamar mandi. Naomi harus melakukan aktivitasnya seperti biasa siap-siap untuk menuju rumah sakit.
Bersambung