
"Jangan iya-iya saja dengarkan apa kata papa kamu!" tegas Kayra pada Brian.
"Iya mama sayang. Brian tidak akan bertengkar dengan Naomi. Brian janji," ucap Brian yang menyakinkan ke-2 orang tuanya itu.
"Maaf ya Tante. Jika Brian dan Naomi yang ribut membuat Om dan Tante ikut pusing," sahut Naomi yang merasa tidak enak pada orang tua Brian.
"Kalau begitu jangan buat Om dan Tante pusing lagi Naomi dengan kamu yang harus akur dengan Brian. Om tau pasti kamu kesal menghadapi Brian sama seperti Tante kamu menghadapinya. Tetapi itu menguji kesabaran kamu dan jika Brian yang berbuat jahat pada kamu. Bilang pada Om dan Tante," ucao Davin.
"Ya ampun pah. Bicara seperti itu sudah seperti Brian itu bukan anak mama dan papa lagi," sahut Brian dengan menghela napas membuat Naomi tersenyum.
"Makanya jangan suka mencari masalah Brian!" sahut Kayra.
"Iya-iya," sahut Brian dengan menghela napasnya.
"Kamu harus banyak mengalah pada Naomi!" ucap Davin.
"Iya pah!" sahut Brian yang menurut saja.
"Sudah Om Tante jangan memojokkan Brian. Kami berdua akan belajar dari kesalahan masing-masing dan kami berdua akan saling menjaga emosi masing-masing agar tidak terjadi keributan lagi," ucap Naomi.
"Tante setuju itu," sahut Kayra.
"Iya benar. Oh iya Naomi, keadaan kamu bagaimana Naomi? Om sampai lupa bertanya Apa sudah membaik?" tanya Davin yang terlalu banyak membahas pertengkaran Brian dan Naomi sampai lupa untuk bertanya keadaan Naomi.
"Sudah Om. Sudah mendingan om. Nafas Naomi memang terasa sesak. Tetapi sekarang Naomi sudah jauh baik-baik saja dan tidak terasa sesak lagi,"sahut Naomi yang memang dia sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.
"Alhamdulillah kalau begitu. Semoga kejadian ini tidak terulang lagi," ucao Davin.
"Amin," sahut Naomi dan semua yang ada di ruangan itu pasti mengharapkan hal yang sama seperti Davin.
"Hmmmm kamu apa lagi Naomi, mau makan sesuatu?" tanya Kayra.
"Atau mau buah?" tanya Kayra. Naomi mengangguk kepalanya.
"Ya sudah aku potongin buah untuk kamu," sahut yang mengambil alih untuk memotong buah apel.
"Makasih Brian," sahut Naomi dengan tersenyum.
Brian mengangguk dan memotongkan buah untuk Naomi. Setelah memotong dia juga langsung memberikan pada Naomi buah tersebut. Mereka kembali mengobrol di dalam ruangan itu. Obrolan yang panjang lebar dan ada saja topik dari pembicaraan mereka.
Tidak lama. Anju dan Aliyah sampai di depan ruang perawatan Naomi. Yang kebetulan pintu ruang perawatan itu tidak tertutup. Jadi Aliyah dan Anju bisa melihat ke dalam, Di mana mereka menghentikan langkah mereka di depan pintu saat melihat ada Davin, Kayra dan Brian di dalam ruang perawatan Naomi.
Brian sedang menyuapi Naomi buah yang duduk di samping Naomi dan sementara Kayra juga berada di samping Naomi di dekat kepala Naomi yang mengelus-elus pucuk kepala Naomi mereka berempat sembari tertawa-tawa dan bercanda-canda yang tidak tau apa yang mereka bicarakan.
__ADS_1
Hal itu tiba-tiba membuat Aliyah terdiam dengan wajah murungnya melihat kedekatan keluarga Brian dengan Naomi. Bukan hal yang asing lagi sebenarnya pandangan itu. Karena sebelumnya Aliyah juga sering melihat kedekatan Naomi dengan kedua orang tua Brian.
Lagi-lagi Aliyah harus di tunjukkan dengan kenyataan. Entah sudah peringatan yang keberapa kali. Aliyah mungkin tidak bisa menghitung bagaimana sedihnya dirinya saat melihat kedekatan keluarga Brian Naomi. Apa cembur ya pasti cemburu. Karena dia tidak mendapatkan apa yang di dapatkan Naomi.
"Mereka begitu sangat menyayangi Dokter Naomi. Keluarganya Brian yang begitu tulus lada Dokter Naomi. Aku tidak melihat ada kebencian atau ketidaksukaan dari Dokter Kayra kepada Dokter Naomi," batin Aliyah yang terlihat sedih.
Anju menoleh kearah Aliyah. Ya Anju sudah tau dari ekspresi Aliyah apa yang di pikirkan Aliyah tentang kedekatan Naomi dengan keluarga Brian.
"Aliyah. Ayo masuk!" ajak Anju yang melihat Aliyah hanya diam saja di tempatnya dan ajakan Anju membuat Aliyah sedikit kaget yang langsung buyar dari lamunannya.
"Kenapa melamun!" ayo kita masuk!" ajak Naomi lagi.
"Dokter duluan saja. Saya mau ke toilet dulu," ucap Aliyah yang tiba-tiba mengurungkan niatnya untuk menjenguk Naomi.
"Ke toilet," sahut Anju.
"Iya Dokter," sahut Aliyah.
Tidak tau apa yang membuatnya berubah pikiran. Ya mungkin saja karena Aliyah merasa tidak pantas ada di dalam dan apalagi keluarga Brian ada di dalam.
"Ya sudah Dokter saya ke toilet dulu! Dokter masuklah duluan, nanti saya menyusul. Permisi Dokter!" ucap Aliyah yang langsung pergi membuat Anju heran dengan Anju yang mengkerutkan dahinya.
"Aneh sekali. Kenapa dia tiba-tiba ingin ke toilet apa mungkin karena apa yang di lihatnya," batin Anju dengan menghela napas dan langsung memasukinya ruangan tersebut. Karena dia juga tidak mungkin pergi. Karena melihat keluarga cemara di dalam sana. Ya tujuannya hanya untuk menjenguk Naomi dan bukan yang lain.
"Pagi!" sapa Anju begitu sudah masuk.
"Om!" sapa Anju pada Davin dan juga mencium punggung tangan Davin.
"Anju sudah lama kita tidak bertemu,"sahut Davin.
"Iya Om. Om bagaimana kabar om?" tanya Anju.
"Kamu lihat sendiri. Om selalu baik-baik saja," jawab Davin.
"Alhamdulillah kalau begitu," sahut Anju
"Kamu sendiri bagaimana?" tanya Davin.
"Baik juga Om," jawab Anju.
"Om dengar kamu juga terluka dari kebakaran itu," ucap Davin yang memang mendengar kronologinya.
"Hanya terjatuh om dan sudah baik-baik saja," jawab Anju. Perban di dahinya sudah menjelaskan jika dia memang terluka.
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu," sahut Davin dengan tersenyum.
"Danesh tidak ikut?" tanya Davin.
"Tidak Om," jawab Anju.
" Danesh juga baik-baik saja kan?" tanya Davin.
"Baik kok Om," sahut Anju.
"Syukurlah," sahut Davin.
"Kamu sendiri bagaimana Naomi. Apa kamu baik-baik saja?" tanya Anju yang sejak tadi dirinya yang di tanya dan sekarang dia bertanya mengenai Naomi.
"Sudah jauh lebih baik kok," sahut Naomi.
"Maaf ya tadi malam aku nggak nungguin kamu," ucap Anju.
"Tidak apa-apa Anju," sahut Naomi.
"Oh iya Rachel mana?" tanya Naomi yang tidak melihat Rachel.
"Belum datang sepertinya. Tadi aku kemari sama Aliyah. Kita ketemu di depan dan kayanya ingin melihat kamu. Bahkan tadi sudah sampai depan pintu," ucap Anju.
"Lalu di mana Aliyah?" tanya Naomi.
"Ketoilet. Nanti dia akan menjenguk kamu," jawab Anju.
"Begitu rupanya," sahut Naomi yang tiba-tiba memikirkan sesuatu.
"Sudah Naomi kamu jangan memikirkan apa-apa lagi. Sekarang makan buahnya," titah Kayra.
"Iya Tante," sahut Naomi.
"Ya sudah kalau begitu kalian mengobrol kah. Om harus kekantor Naomi. Tidak apa-apakan Om tinggal," ucap Davin.
"Iya Om tidak apa-apa. Makasih ya om sudah khawatir pada Naomi dan makasih sudah nyempetin diri untuk jenguk Naomi pagi ini," ucap Naomi.
"Iya Naomi. Kamu cepat sembuh ya. Om pergi dulu. Nanti pulang kerja Om mampir lagi kerumah sakit ucap Davin.
"Iya om," sahut Naomi.
"Mah papa pergi," ucap Davin pamit pada istrinya.
__ADS_1
Kayra menganggukkan kepalanya dan juga mencium punggung tangan suaminya itu. Davin mencium kening Kayra juga pastinya mencium pipi istrinya. Meski sudah mempunyai anak yang dewasa mereka tetep menunjukkan keromantisan mereka.
Bersambung