
Akhirnya mereka sudah berada di kediaman Aliyah. orang tua Aliyah memperlakukan mereka dengan baik dengan memberikan banyak hidangan. Mereka semua berada di dekat kolam renang dengan barbeque.
Namun bukan mereka sendiri yang mengerjakannya. Mama Aliyah langsung memesan chef hebat dan pasti sangat handal untuk memanjakan lidah tamunya itu. Mereka sangat menikmati semua makanan yang di hidangkan.
Mama Aliyah benar-benar menjamu mereka dengan baik. Mama Aliyah juga mengenal Dokter-Dokter yang di ajaknya itu makan kerumahnya. Karena sering bertemu di rumah sakit dan sangat dekat dengan Aliyah. Jadi wajar jamuan yang di berikan orang tua Aliyah begitu special.
"Tante makasih banyak loh untuk jamuan Tante. Makanannya enak-enak sekali. Berat badan kami bisa naik ini," ucap Rachel yang sejak tadi mulutnya mengunyah.
"Benar Tante. Kamu jadi merepotkan Tante. Seharusnya tidak perlu seperti ini tante," sahut Naomi yang merasa tidak enak.
"Kalian ini apa-apaan. Jangan seperti itu. Jangan sungkan-sungkan. Saya senang sekali dengan kalian yang menghadiri undangan saya dan jangan berterima kasih. Justru saya yang berterima kasih. Karena kalian sudah menjaga Aliyah dengan baik dan makan malam ini tidak ada apa-apanya dengan kebaikan kalian dan saya merasa tidak di repotkan sama sekali," ucap mama Aliyah yang memang orangnya sangat humbel dan tulus dan dia juga sangat senang menjamu tamunya itu yang sudah baik kepada anaknya.
"Kami itu seorang Dokter dan Aliyah pasien favorite kami. Jadi kami jelas sangat wajar menjaganya dengan baik," sahut Brian dengan mengeluarkan kata mautnya. Mendengar ucapan Brian membuat Aliyah tersenyum. Jika Brian yang sudah berbicara. Aliyah bisa sampai melayang-layang karena Brian.
"Iya deh Brian yang paling favorit," sahut Rachel yang hanya menghela napas saja yang lain hanya tersenyum saja mendengar ucapan Brian yang memang akan mengeluarkan kata-kata manisnya.
"Ya sudah kalau begitu jangan sungkan-sungkan. Kalian nikmati semuanya dan kamu juga Aliyah. Tetapi ingat tau batasnya di sini banyak Dokter yang mengawasi kamu," ucap mama Aliyah menegaskan pada Aliyah.
"Iya mah jangan khawatir," sahut Aliyah.
"Kalau begitu Tante tinggal ya. Mau apa-apa panggil saja chef nya dan nikmati semuanya," ucap mama Aliyah.
"Iya Tante. Makasih Tante," sahut Naomi dengan tersenyum. Mama Aliyah pun meninggalkan tempat itu.
"Brian kamu mau ini tidak?" tanya Iyah menawarkan pada Brian.
"Boleh," sahut Brian.
"Kamu tidak makan?" tanya Anju pada Danesh yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya.
"Tidak!" jawab Danesh dengan datar.
"Danesh. Aku tau kamu tidak suka mengikuti acara ini. Tapi aku juga tidak memaksa kamu. Tapi kamu seharusnya bisa menyesuaikan tempat. Aku merasa tidak enak dengan yang punya rumah. Karena kamu terlalu cuek. Paling tidak kamu harus makan untuk menghargai saja," ucap Anju memberi Danesh saran.
Danesh menghela napas dan menyimpan ponselnya. Lalu mengambil salah satu makanan dengan melihat kearah Anju dengan ke-2 alisnya terangkat.
Anju tersenyum tipis. Ya syukur-syukur jika Danesh mau menuruti perintahnya. Karena dia memang tidak enak dengan penghuni rumah dengan sikap Danesh yang seperti tidak mau berbaur.
__ADS_1
"Dokter Naomi. Di sini juga ada eskrim strawbery kesukaan Dokter mau tidak biar aku ambilkan," ucap Aliyah menawarkan dengan sopan.
"Kamu tau dari mana kalau saya suka eskrim strawberry?" tanya Aliyah heran.
"Brian yang mengatakannya. Makanya eskrim yang berikan waktu itu pada Dokter hasil dari rekomendasi Brian," ucap Aliyah.
Naomi terdiam mendengarnya sementara Brian hanya makan dengan santai.
"Mau tidak Dokter biar saya ambilkan?" tanya Aliyah lagi.
"Kamu ambil aja Aliyah. Naomi pasti mau. Mana bisa dia menolak eskrim itu," sahut Brian yang paling tau.
"Baiklah," sahut Aliyah.
"Untuk saya juga ya Aliyah," sahut Rachel yang tidak mau ketinggalan.
"Baiklah," sahut Aliyah berdiri dari tempatnya untuk mengambil eskrim tersebut.
Mereka semua menikmati makanan mereka dan Aliyah dan Brian memang kelihatan dekat. Sesekali Brian meniup sup untuk Aliyah. Namun ke-2 orang itu mencuri perhatian Anju. Ya Anju sejak tadi memperhatikan Brian dan Aliyah.
"Sebenarnya Brian tulus tidak sih pada Aliyah. Apa jangan-jangan aku aja yang berlebihan dan menganggap terlalu panjang yang padahal tidak terjadi apa-apa," batin Anju yang penasaran dengan hati Brian pada Aliyah.
Anju sibuk dengan pikirannya sendiri sembari mengambil satu sendok sup yang masih panas dan ingin menikmatinya. Danesh melihat hal itu langsung menghentikannya.
"Ini masih panas," ucap Danesh yang membuat Anju terkejut.
"Ya ampun aku sampai tidak sadar," ucap Anju yang hampir saja lidahnya gosong.
"Makanya jangan menghayal," ucap Danesh.
"Apa sih kamu," kesal Anju pada Danesh. Tidak tau kenapa Anju kesal dengan Danesh. Padahal Danesh baru saja menyelamatkan lidahnya.
Mereka berdua sibuk dengan pertengkaran kecil mereka. Dan yang lain sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Kali ini Brian dan Aliya memang tampak sangat dekat. Brian juga perhatian kepada Aliyah. Namun bukan Naomi yang harus seperti apa. Tetapi justru Anju yang terlihat pemikiran yang sejak tadi melihat Brian dan Aliyah yang tampak begitu dekat.
Danesh geleng-geleng melihat Anju yang sejak tadi tidak fokus. Danesh menghela napas dan meniupkan sop tersebut.
"Makanlah!" ucap Danesh memberikan sup tersebut pada Anju.
__ADS_1
Anju sedikit gugup saat menerima satu mangkok sup dari Danesh. Sup yang di lihatnya sendiri tadi baru di tiup Danesh.
"Jangan di lihati. Cepat makan!" tegas Danesh dan Anju langsung mencicipi kuah sup tersebut. Danesh kembali fokus pada apa yang di makannya. Juga lama-lama tidak fokus. Karena melihat fokus Anju yang entah pada siapa.q
"Aku mau ke toilet sebentar ya," ucap Naomi yang hendak berdiri dari tempat duduknya.
"Dokter tau kan di mana toiletnya?" tanya Aliyah.
"Tau. Tadi sudah menemani Rachel," jawab Naomi.
"Baik Dokter!" sahut Aliyah dan Naomi langsung pergi meninggalkan tempat itu untuk menuju toilet.
***********
Naomi yang berada di toilet memegang perutnya yang terasa begitu perih.
"Pantesan sangat perih tiba-tiba ternyata datang bulan," gumamnya dengan dahinya yang mengkerut dengan dirinya yang mengalami datang bulan.
"Bagaiman ini! Kenapa harus datang di waktu yang tidak tepat. Aku belum ada persiapan apa-apa" Naomi sepertinya punya masalah untuk hal itu yang membuat Naomi terlihat kesakitan dengan menahan rasa perih.
Sementara yang lainnya masih tetep pada tempat mereka di awal yang menikmati makanan.
"Ini Brian!"lagi-lagi Aliyah memberikan Brian makanan dan Brian mengangguk dan memakan makanan tersebut.
Ting!.
Tiba-tiba notif pesan di ponsel Brian berbunyi. Brian langsung mengeluarkan dari sakunya.
"Brian aku datang bulan. Bisa minta tolong pinjamkan pembalut Aliyah. Aku nggak ada bawa persiapan," tikus Naomi yang langsung menghubungi Brian.
"Ya ampun Naomi," lirih Brian tampak khawatir.
"Ada apa Brian?" tanya Aliyah heran dengan wajah Brian yang tiba-tiba mencemaskan sesuatu.
Brian mendekatkan mulutnya pada Aliyah "Aliyah kamu punya pembalut tidak?" bisik Brian yang membuat Aliyah mengkerutkan dahinya ada-ada saja pertanyaan Brian mengenai pembalut.
Bersambung
__ADS_1