
Kedua tangan Anju yang berada di atas meja saling menggenggam kuat dengan debaran jantungnya yang tidak terkontrol.
"Apa maksud kamu Anju?" tanya Brian lagi.
"Kamu orang pertama yang aku undang. Karena bagiku kamu sangat special, jadi datanglah ke pernikahan ku," sahut Anju dengan tersenyum.
"Bukan itu yang aku tanya. Aku bertanya apa maksudnya kamu akan menikah?" tanya Brian menekan suaranya.
"Maksud pernikahan sangat baik Brian," jawab Anju.
"Anju kamu tidak pernah berhubungan dengan siapapun. Jadi tidak mungkin kamu menikah tiba-tiba dengan laki-laki ini dan aku bahkan tidak pernah melihat siapa laki-laki ini," sahut Brian yang kelihatan tidak terima dengan kabar pernikahan Anju dan masih merasa Anju berbohong.
"Tidak ada yang tiba-tiba Brian dan aku dan Danesh sudah mengenal lama, kami memutuskan untuk menikah," jawab Anju meyakinkan Brian dengan mata Anju yang berkaca-kaca.
"Apa-apaan sih kamu Anju. Kenapa kamu bisa menikah dengan orang lain. Apa kamu ingin mempermainkanku. Apa menurut kamu ini sesuatu lelucon dengan membuat semua ini," Brian kelihatan marah.
"Maksud kamu bicara seperti itu apa Brian. Kamu seperti ini seolah menunjukkan jika aku adalah milikmu Brian," sahut Anju.
"Anju hubungan kita lebih dari apapun. Seharusnya kamu tau itu. Lalu kenapa kamu bisa memutuskan untuk menikah. Dan aku yang bertanya apa maksud semua ini. Kamu ingin membalasku?" tanya Brian dengan penuh penekanan.
"Hubungan bukan hanya sekedar dekat, atau sekedar harus memahami saja. Tapi juga butuh kejelasan," jawab Anju.
"Brian aku berhak menemukan siapapun yang menjadi pasanganku. Aku tidak mungkin menunggu kejelasan yang tidak pasti. Kamu masih berpetualang sementara aku tidak. Aku merasa bukan milik siapa-siapa dan seharusnya kamu tidak marah dengan keputusanku. Karena aku tidak melakukan kesalahan," tegas Anju.
"Aku sudah mengatakan berkali-kali kepadamu. Semua orang-orang yang dekat denganku semuanya hanya sahabat dan aku tidak pernah punya hal yang special sama juga seperti...."
__ADS_1
"Aku," sahut Anju memotong pembicaraan Brian.
"Ya aku sama dengan semua wanita yang kamu dekati. Aku sama yang hanya di anggap sahabat. Jika wanita yang satu marah padamu. Kamu juga akan mengatakan hal ini kepadanya dan bagi kamu semua wanita yang ada di sekeliling mu sama rata termasuk aku dan itu menentukan tidak ada yang istimewa dari kita berdua," ucap Anju.
"Anju. Kau sangat mengenalku Anju. Aku mungkin belum siap untuk menuju pernikahan. Seharusnya kamu mengerti. Kamu tidak bisa mengambil keputusan dengan tiba-tiba seperti ini. Hubungan itu bukan hanya langsung pada pernikahan. Kita bisa ..."
"Lalu kenapa tidak dari awal membuatku yakin. Jika aku berbeda dari yang lain," sahut Anju memotong pembicaraan Brian.
"Aku tidak memintamu untuk menikahiku. Tetapi sebagai wanita. Aku hanya ingin satu hubungan yang jelas. Agar aku punya alasan untuk memberikan perhatian yang lebih kepadamu, agar aku punya alasan untuk marah kepadamu, agar aku punya alasan untuk cemburu kepadamu. Tetapi tidak Brian kau membuatku menjadi orang bodoh dan mungkin orang-orang bisa saja menertawakanku,"
"Kenapa aku harus memberi perhatian yang lebih pada pria yang tidak ingin bersamaku? kenapa aku harus marah atau cemburu pada pria yang bukan kekasihku? Aku menjalani semua itu bukan hanya 1 tahun. Tetapi bertahun-tahun,"
"Oke kita bukan anak remaja yang harus mengatakan cinta. Tetapi apapun itu semuanya membutuhkan ikatan yang pasti agar aku bisa menjaga diriku untukmu," ucap Anju dengan matanya yang bergenang. Brian hanya diam mendengar apa yang di katakan Anju. Ungkapan hati Anju yang selama ini di pendamnya.
"Brian mau sedekat apapun kita dan mau kita saling mengerti perasaan masing-masing. Tetapi jika tidak ada ucapan yang di perdengarkan kepada si wanita. Maka wanita itu akan merasa dia bukan milik siapa-siapa,"
"Aku menghargai persahabatan kita. Tapi kamu apa sadar. Jika aku memang tidak punya tempat di hatimu. Bahkan perlakuanmu berbeda kepadaku dan juga Naomi," ucap Anju mengungkit Naomi.
"Kenapa kamu membawa Naomi dalam hal ini?" tanya Brian dengan suara dinginnya membuat Anju tersenyum getir.
"Kamu bisa dengan mudah berjanji kepadaku. Lalu mengingkarinya dan akan minta maaf. Hal itu sering kamu lakukan. Kamu tidak pernah makan, atau satu mobil dengan Rachel. Kalian tidak pernah berdua dan selalu ada orang lain dan jika dengan Naomi. Jika kau berjanji kepadanya. Kau tidak pernah mengingkarinya. Aku masih mengingat saat kamu baru selesai operasi. Naomi menelpon yang ingin di jemput. Kamu berlari dengan buru-buru sembari membuka baju operasimu. Kamu tidak pernah membuat Naomi harus menunggumu lebih dari 10 menit. Sementara aku harus menunggumu paling cepat lebih 3 jam," ucap Anju.
"Cukup Anju," sahut Brian dengan suara seraknya.
"Jika kau ingin menikah maka menikahlah. Kau tidak perlu membawa-bawa Naomi dalam hubungan kita. Kau tau aku dan Naomi mengenal sejak dulu. Kau tidak seharusnya berpikiran jika sejauh itu. Aku dan Naomi tidak ada hubungan apa-apa," tegas Brian.
__ADS_1
Anju hanya tersenyum mendengarnya. Namun senyum seperti memiliki arti.
"Aku tidak berpikiran apa-apa kepada Naomi. Aku hanya takut saja. Jika sebenarnya bukan aku wanitanya yang kau sakiti tetapi justru Naomi," sahut Anju.
"Apa maksudmu? Apa kau berpikiran jika Naomi menyukaiku atau sebaliknya," sahut Brian dengan wajah datarnya. Emosinya bukan lagi karena Anju menikah diam-diam. Tetapi karena Naomi di bawa-bawa dalam hubungan mereka.
"Tidak aku tidak mengatakan hal itu. Karena aku tidak bisa menebak perasaan orang lain," sahut Anju.
"Kau dengar aku Anju. Aku sangat kecewanya dengan keputusan pernikahan ini. Kau seperti 2 orang yang tidak bisa ku tebak. Tapi mau bagaimana lagi. Ini sudah menjadi pilihanmu dan keinginanmu jadi selamat untuk pernikahanmu," ucap Brian yang berusahalah untuk menerima keputusan Anju. Namun sangat ketus dalam memberikan ucapan selamat.
Brian menghela napasnya dan mengeluarkan uang dari dompetnya. meletakkan dia atas meja untuk membayar makanan itu.
"Aku permisi. Sekali lagi selamat atas pernikahanmu dan Naomi tidak pernah terlibat urusan kita," ucap Brian berdiri dari tempat duduknya dan langsung pergi meninggalkan Anju.
Kepergian Brian membuat air mata Anju menetes dan tidak lama dia pun menangis dengan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Aku menerima perjodohan itu," ucap Anju pada Athar.
"Kamu yakin?" tanya Athar.
"Aku yakin. Aku tidak mungkin menunggu laki-laki yang tidak menginginkan ku. Jadi aku menerima perjodohan itu," sahut Anju dengan keputusannya.
"Baiklah papa akan sampaikan pada keluarganya Danesh mengenai keputusan kamu," sahut Athar.
Seminggu yang lalu Anju membuat keputusan besar dalam hidupnya. Tadinya dia masih ingin memberi Brian kesempatan. Namun hari demi hari Brian malah menunjukkan kedekatannya dengan orang lain seolah tidak pernah mengerti perasaannya.
__ADS_1
Di tambah dengan Naomi yang lebih menunjukkan jika dia ada tempat special. Baik bagi Brian maupun keluarga Brian. Apa yang di lihat Anju membuatnya memilih di jodohkan dengan pilihan orang tuanya.
Bersambung