Brian Sang Pemain " Doctors"

Brian Sang Pemain " Doctors"
Episode 81 Bukan aku


__ADS_3

"Kenapa Dokter yakin?" tanya Aliyah.


Naomi menghela napasnya dan memegang pipi Aliyah. Dia menatap gadis yang senduh  dengan matanya berkaca-kaca yang tersenyum sepertinya menyimpan rasa ketakutan.


"Kamu harus yakin dan jangan takut dan harus percaya. Jika Brian tidak akan membuat kamu kecewa," ucap Naomi yang terus meyakinkan Aliyah.


"Dokter terus meyakinkan saya, sekaan Dokter tau jika Brian akan mengatakan hal itu," ucap Naomi dengan wajahnya yang justru tidak terlihat sesuai dengan perkataannya yang membuat Aliyah menyimpang senyum tipis.


Aliyah tiba-tiba memegang tangan Naomi dan  satu tanganya di letakkannya di dada Naomi. Telapak tangan yang merasakan getaran itu yang membuat Naomi heran apa yang di lakukan Aliyah.


"Kenapa? Jadi  Dokter yang dek-dekan," ucap Aliyah yang membuat Naomi kaget dengan pertanyaan Aliyah.


"Aku merasakan debaran jantung Dokter. Apa yang Dokter rakana dan kenapa jantung Dokter yang berdebar dengan kencang?" tanya Aliyah. Tiba-tiba Naomi langsung menjatuhkan tangan Aliyah dan Naomi melihat lurus kedepan dengan menghela napas.


Tidak tau kenapa Naomi menjadi gugup dan sangat dek-dekan. Dia terlihat kurang nyaman. Dan tampak terlihat begitu gelisah dengan pertanyaan Aliyah dan Aliyah tersenyum melihat ekspresi Naomi.


"Dokter sebenarnya bahagia atau tidak. Jika saya bersama Dokter Brian?" tanya Aliyah lagi yang membuat Naomi melihat kembali pada Aliyah.


"Aliyah! kenapa berbicara seperti itu?" tanya Naomi dengan gugup. Tangannya bergetar dan tanpa di sadarinya meremas pakaiannya. Aliyah sangat memperhatikan Naomi.


"Saya hanya ingin tau jawabannya," jawab Aliyah.


"Aliyah saya jelas sangat senang dan itu yang juga saya inginkan dan bukannya saya sebelumnya mengatakan kepada kamu hal itu. Jadi jangan bertanya seperti itu lagi," jawab Aliyah tampak gugup.


"Begitu ternyata," sahut Aliyah yang tersenyum. Senyum Aliyah seolah menjadi arti dari setiap apa yang di lihatnya.


"Dokter apa Dokter me......"


"Aliyah!" Aliyah tidak melanjutkan kalimatnya ketika ada yang memanggilnya dan membuatnya menoleh kearah suara itu dan Naomi juga melihat kearah suara itu yang ternyata Brian.


"Brian!" lirih Aliyah.


Brian pun menghampiri Aliyah dan Naomi dan Naomi terlihat mengatur nafasnya.


"Kamu sudah datang ternyata," ucap Brian.

__ADS_1


"Iya, aku tadi mengobrol sebentar dengan Dokter Naomi dan kita juga sarapan bersama," jawab Aliyah tersenyum. Tadi dia terlihat takut. Namun dia terlihat sangat tenang sekarang.


"Kalau begitu ayo bicara," ucao Brian.


"Oh iya. Ayo!" sahut Aliyah yang langsung berdiri. Makan dia dan Naomi sudah di sudahi nya dan dia juga beres-beres sebelum pergi.


"Dokter Naomi. Makasih ya sudah mau makan bersama saya," ucap Aliyah dengan tersenyum.


"Iya!" sahut Naomi.


"Makasih juga sudah mendengarkan cerita saya," ucap nya lagi.


"Iya Aliyah, saya senang menemani kamu mengobrol," ucap Aliyah dengan tersenyum yang membuat Aliyah juga tersenyum.


"Ya sudah kalau begitu. Ayo Brian kita bicara!" sahut Aliyah.


"Kamu duluan ya Aliyah, tunggu aku sebentar," ucao Aliyah.


"Oh oke," sahut Aliyah tampak santai.


"Baik aku duluan ya," sahut Aliyah yang langsung pergi.


"Aku juga harus pergi!" ucap Naomi yang hendak pergi. Namun Brian memegang tangan Naomi dan membuat langkah Naomi terhenti dan Brian tanpa ada pembicaraan yang keluar dari mulutnya langsung memeluk Naomi.


Hal itu membuat Naomi kaget dengan pelukan Brian yang tidak tau apa maksudnya. Namun Naomi memejamkan matanya yang juga memeluk Brian melingkar tangannya di pinggang Brian.


Tanpa keduanya mengatakan apa-apa tetapi seperti sudah ada pembicaraan dari hati kehati dan pelukan itu seperti ada sesuatu di antara mereka. Sesuatu yang tidak harus di katakan yang membuat keduanya berpelukan.


Aliyah yang ternyata belum jauh melangkah melihat hal itu. Aliyah mendengus tersenyum melihat Brian dan Naomi yang berpelukan. Lalu Aliyah melanjutkan langkahnya.


*************


Naomi berada di dalam ruangannya yang sedang menulis sesuatu di buku. Namun tiba-tiba pikirannya tampak tidak tenang dan entah apa yang di pikirkannya dengan napasnya yang naik turun yang memang kelihatan tampak kurang tenang.


"Naomi apa yang kamu pikirkan," gumam Aliyah dengan mengusap wajahnya dengan ke-2 tangannya, menutup wajahnya dengan ke-2 tangannya yang menyanggah di diatas meja.

__ADS_1


Dia merasa dirinya begitu gelisah dan tidak tau apa yang membuatnya gelisah. Bahkan dia juga mengingat apa yang di katakan Aliyah. Kenapa dia yang dek-dekan dan lebih jantungan dari pada Aliyah. Perasaannya begitu dek-dekan dan sampai saat ini jantungnya malah terlihat semakin dek-dekan..


"Sudahlah Naomi, apa yang kau pikirkan. Sudahlah!" Naomi hanya berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri yang sama sekali tidak tenang dan tidak tau apa yang membuatnya tidak tenang.


Naomi kembali menarik nafasnya dan membuang perlahan nafasnya kedepan. Naomi menutup bukunya dan dia berdiri dari tempat duduknya. Namun tetap Naomi tidak tenang dan mondar-mandir dengan penuh dengan kegelisahan yang tidak tau apa yang membuatnya begitu gelisah. Sampai akhirnya Naomi memilih untuk keluar dari ruangannya.


Naomi yang berjalan di koridor rumah sakit dengan ke-2 tangannya yang berada di dalam saku pakaian Dokternya. Beberapa kali Naomi membuang napasnya perlahan kedepan dan Naomi tampak tidak konsentrasi sampai-sampai suster-Suster yang menyapanya tidak di pedulikannya karena dia sibuk dengan pemikirannya.


Brukkkk.


Naomi tiba-tiba bertabrakan dengan Aliyah yay datang dari arah lain yang membuat Naomi kaget.


"Aliyah!" ucap Naomi dan Naomi kaget dengan melihat Aliyah yang sudah menangis yang membuat Naomi bertanya-tanya.


"Kamu kenapa Aliyah?" tanya Naomi panik.


"Tidak dokter aku tidak apa-apa," jawab Aliyah.


"Tidak mungkin Aliyah! tidak mungkin kamu tidak apa-apa. Kamu menangis! Apa yang terjadi pada kamu. Kamu kenapa?" tanya Naomi yang benar-benar begitu kaget dengan  Aliyah.


"Dokter. Bukan aku yang di sukainya. Bukan aku ternyata. Ternyata sama dengan wanita yang sebelum aku. Apa kata Dokter Kayra benar dan bukan aku orangnya Dokter," ucap Aliyah yang menangis sengugukan dengan napasnya yang sama sekali tidak teratur.


Naomi mendengar aduan dari Naomi menelan salivanya yang melihat kehancuran hati Aliyah, kekecewaan Aliyah. Dari apa yang di katakan Aliyah sudah jelas jika Brian tidak mempunyai perasaan pada Aliyah.


"Bukan! Aku wanita itu, bukan aku!" Aliyah menghela napasnya dengan air matanya yang terus jatuh dan langsung di hapusnya.


"Aliyah kamu tenang ya. Aku akan bicara pada  Brian. Ini pasti ada kesalahan," ucap Naomi yang ingin bertindak dan ingin pergi. Namun Aliyah menghentikan tangan Naomi.


"Jangan melakukan sesuatu yang membuat hati Dokter tidak tenang. Jangan menyakiti diri sendiri untuk memaksakan perasaan orang lain untukku dan itu menyatu hati Dokter," ucap Aliyah yang berbicara serius.


"Apa yang kamu katakan Aliyah. Cukup kamu berpikiran masalah perasaan saya," tegas Naomi.


"Dokter jangan membohongi perasaan Dokter," ucap Aliyah.


"Aliyah!" Naomi memegang tangan Aliyah dingin dan Aliyah terlihat dingin dan bergetar. Namun Aliyah melepas tangan Naomi.

__ADS_1


"Makasih untuk semuanya dan saya mendoakan Dokter semoga bahagia bersama Brian!" ucap Aliya yang membuat Naomi kaget dengan perkataan Aliyah dan Aliyah juga langsung pergi dari hadapan Naomi.


Bersambung


__ADS_2