
"Kalau kamu shif malam. itu artinya kamu tidak pulang kerumah?" tanya Melody dengan wajah seriusnya. Anju menganggukkan kepalanya yang memang benar apa adanya.
"Dan Danesh kamu tidak temani istri kamu," sahut Melody. Danesh menggelengkan kepalanya yang memang apa adanya. Dan mana mungkin juga dia akan menemani Anju.
"Ya ampun Danesh kamu ini apa-apaan sih. Kamu itu seharusnya menemani Anju di rumah sakit. Lagian masa iya kamu tidur sendirian di rumah. Jika istri kamu itu menginap di rumah sakit. Tugas suami itu untuk menemani istrinya. Jadi kalau Anju lembur. Kamu juga harus lembur," ucap Melody terlihat menasehati Danesh.
"Nggak usah mah. Hal itu tidak perlu mah," sahut Anju.
"Tidak Anju! Danesh itu harus menemani kamu. Apapun itu. Kamu itu seorang Dokter dan pekerjaan Dokter itu tidak menentu yang kadang-kadang akan menginap di rumah sakit. Sementara Danesh tidak ada shift malam. Jadi dia harus menemani kamu. Kamu itu istrinya dan itu tugas seorang suami," tegas Melody penuh penekanan dalam setiap katanya.
"Ingat Danesh mama tidak seperti ini lagi. Kamu harus ada di dekat istri kamu terus. Kalau di awal-awal pernikahan sudah seperti ini yang satu di mana dan yang satu di mana. Bagaimana kalian bisa harmonis," oceh Melody.
Melody dan Ardian tidak tau saja. Jika Danesh dan Anju bahkan tidak pernah satu kamar. Jadi mana mungkin ada keharmonisan di antara ke-2nya nya. Anju dan Danesh hanya diam saja yang di omeli Melody. Mereka bahkan sama minum.
"Benar kata mama kamu Danesh kamu itu harus ada untuk istri kamu. Begitu juga dengan Anju. Kalian tidak boleh ada jarak. Kalau kalian jaga jarak terus kapan kalian akan punya anak," celetuk Ardian.
Uhuk-uhuk-uhuk-uhuk.
Danes dan Anju serentak sama-sama tersedak mendengar kata-kata Daniel tentang kata-kata anak.
Keduanya menjadi gugup dan sama-sama canggung dengan menelan salivanya. Bagaimana mau punya anak sekamar aja tidak pernah.
"Benar kata papa kamu. Kalian berdua harus dekat dan saling melengkapi untuk persiapan untuk mendapatkan anak," tambah Melody lagi yang membuat Anju dan Danesh semakin canggung.
"Udahlah mah. Jangan membahas hal itu," sahut Danesh
"Makanya kamu dengerin mama dan papa," sahut Melody.
"Iya-iya," sahut Danesh dengan terpaksa.
"Mama dan papa makan aja. Kita bertemu untuk makan malam. Bukan untuk membicarakan hal lain yang tidak jelas," ucap Danesh.
"Hal lain apa. Ini itu membahas kalian berdua," sahut Melody.
"Iya-iya. Aku mengerti," sahut Danesh yang tidak mau membantah lagi. Karena nanti ceritanya akan semakin panjang dan lebih baik dia saja.
******
Malam semakin larut yang di damping hujan yang deras. Ternyata Aliyah sudah berada di Restaurant di mana dia berjanji bersama Brian. Namun kenapa Aliyah masih sendirian? Apa lagi jika bukan karena Brian yang tidak tau di mana yang tidak datang menemui Aliyah.
__ADS_1
Aliyah sudah mulai kelihatan gelisah dengan menghela napasnya beberapa kali kedepan. Melihat terus ke arah pintu menunggu Brian yang tak kunjung datang. Penampilannya sudah sangat cantik dan sudah sangat siap untuk bertemu dengan Brian.
"Kamu di mana sih Brian? Kenapa tidak datang juga ini sudah jam 10. Kamu juga di telpon nggak bisa!" ucap nya yang mulai kesal dengan wajahnya yang sedih. Beberapa kali Aliyah yang melihat arloji di tangannya.
"Kenapa Brian di Dinner pertama kita kamu malah seperti ini. Kamu itu keterlaluan Brian," Aliyah mulai kesal dan dengan sikap Brian.
Di Restaurant yang sama ternyata sama dengan Restaurant Anju dan Danesh yang sedang makan. Namun hanya tinggal mereka berdua. Melody dan Ardian sudah pulang terlebih dahulu. Karena ada pertemuan dan tinggal ke-2 nya.
"Kita pulang?" tanya Danesh pada Anju. Orang tuanya baru pulang 15 menit yang lalu dan mereka berdua tampak kurang nyaman jika hanya berdua. Karena tidak ada yang ingin di bicarakan.
"Tidak apa-apa jika kamu menyetir dalam keadaan hujan seperti ini?" tanya Anju.
"Tidak masalah. Kita tidak mungkin menunggu sampai hujannya selesai. Bagaimana kalau selesainya besok pagi. Lagi pula Restaurant akan tutup," ucap Danesh.
"Ya sudah kalau begitu. Kita pulang saja," sahut Anju.
Brian menganggukkan kepalanya. Ke-2nya sama-sama berdiri. Namun saat hendak keluar dari Restaurant itu. Anju melihat salah satu meja. Yaitu meja Aliyah.
"Aliyah!" gumam Anju dengan dahinya mengkerut.
"Kamu mengenalnya?" tanya Danesh.
Tiba-tiba pelayan wanita menghampiri meja Aliyah.
"Maaf Nona. Restaurant kami sudah mau tutup!" ucap pelayan itu.
"Begitu ya. Tetapi saya masih menunggu seseorang," ucap Aliyah.
"Tapi kami sudah mau tutup. Nona juga sejak hanya sendirian. Mungkin orang yang nona tunggu tidak bisa datang. Jadi mohon maaf," ucap pelayan itu.
Melihat hal itu membuat Anju menghampiri Aliyah. Danesh mengehela dan malah mengikuti Anju.
"Aliyah!" tegur Anju.
"Dokter Anju," sahut Aliyah.
"Kamu ngapain di sini sampai jam segini dan udaranya juga sangat dingin. Ini tidak cocok untuk kesehatan kamu," ucap Anju.
"Saya menunggu Brian," jawab Aliyah dengan apa adanya.
__ADS_1
"Brian!" Pekik Anju. Aliyah menganggukkan kepalanya.
"Astaga!" ucap Anju menghela napasnya. Anju seolah sudah tau. Jika pasti tidak mengingat ada janji dengan Aliyah. Karena selama ini dia sangat sering di perlakukan Brian seperti itu.
"Saya sudah menghubunginya tetapi telponnya tidak di angkat," lanjut Aliyah dengan wajah yang menyedihkannya.
"Aliyah sudah ya. Sebaiknya kamu pulang saja. Brian tidak akan datang di pasti masih ada pasien," ucap Anju memberi saran. Aliyah hanya terdiam.
"Kamu kemari sama siapa?" tanya Anju.
"Tadi naik Taxi Dokter," jawab Aliyah. Anju menghela napas dan melihat ke arah Danesh.
"Boleh tidak jika kita mengantarkannya pulang?" tanya Anju yang harus meminta izin. Dia tidak tega dengan Aliyah yang akan pulang sendiri. Danesh mengangguk yang setuju.
"Aliyah ayo pulang bersama kami. Brian tidak akan datang di pasti ada di rumah sakit," ucap Anju dengan yakin.
"Tapi Dokter. Bagaimana kalau sebentar lagi Brian akan datang," sahut Aliyah yang masih berharap.
"Tidak akan Aliyah. Kamu percaya kepada saya. Dia tidak akan datang. Dia ada di rumah sakit," tegas Anju.
"Kalau begitu boleh saya minta tolong Dokter untuk antarkan saya kerumah sakit," ucap Aliyah
"Aliyah tidak perlu. Kamu hanya membuang waktu saja. Saya akan mengantarkan kamu pulang," sahut Anju dengan tegas.
"Tapi Dokter saya harus bertemu Brian," sahut Aliyah.
"Besok kamu bisa menemuinya. Sekarang kamu harus pulang. Kamu tidak sehat jika ngotot terus," tegas Anju.
"Tapi saya tidak bisa tenang. Jika belum melihat Brian. Saya harus pastikan dia ada di rumah sakit atau tidak. Saya takut dia justru kenapa-kenapa. Makanya tidak datang," ucap Aliyah yang masih aja menginginkan melihat Brian.
"Tapi Aliyah," sahut Anju.
"Biarkan saja. Jika dia menginginkan hal itu," sahut Danesh yang baru berbicara setelah melihat perdebatan itu.
Anju tidak bisa apa-apa. Dia malah frustasi sendiri dengan memejamkan matanya.
"Ya sudah," sahut Anju yang akhirnya mau mengantarkan Aliyah kerumah sakit.
"Makasih Dokter," sahut Aliyah dengan tersenyum yang merasa lega.
__ADS_1
Bersambung