
"Ya sudah Aliyah, kamu tunggu Brian aja yah. Saya keruangan dulu ya. Saya masih ada pekerjaan. Kamu tungguin aja bentar lagi juga Brian akan kembali," ucap Rachel yang pamit. Namun saat Rachel berjalan tiba-tiba Aliyah memegang tangannya membuat Rachel menoleh kearah Aliyah.
"Ada apa?" tanya Rachel.
"Apa Dokter Naomi dan Dokter Brian ada hubungan spesial?" tanya Aliyah yang ingin memastikan. Rachel terdiam dengan mengkerutkan dahinya dengan pertanyaan Naomi.
"Maaf Dokter. Jika saya lancang bertanya. Saya melihat mereka sangat dekat. Makanya saya bertanya dan sangat penasaran,"ucap Aliyah. Tiba-tiba saja hal itu terbesit di pikirannya dan harus di pertanyakannya. Karena dia tidak akan bisa tenang.
"Kalau di tanya hubungan special ya maksudnya konteks kemana. Naomi dan Brian sejak kecil sudah saling mengenal dan saya rasa hal itu sangat special salam hubungan mereka," jawab Rachel yang menanggapi dengan santai pertanyaan dari Aliyah.
Namun Aliyah merasa tidak seperti itu. Dia tetap murung dan merasa ada sesuatu yang membuatnya penasaran dan ingin tau banyak hal.
"Sudahlah Aliyah kamu tunggu saja Brian dan kamu tanya padanya special yang maksud pemikiran kamu itu seperti apa. Karena saya juga tidak bisa menjelaskannya. Karena saya tidak mengerti maksud kamu," sahut Rachel dengan kebingungannya. Rachel menurunkan tangan Aliyah dari lengannya.
"Saya permisi ya," ucap Rachel yang langsung pergi dari hadapan Aliyah.
Aliyah terdiam di tempatnya dengan wajahnya yang penuh dengan kesenduhan yang merasa hatinya sedang tidak baik-baik saja. Selain debaran jantungnya yang mulai tidak terkontrol. Aliyah juga merasa hatinya tidak baik-baik saja.
"Dokter Naomi mengatakan dia punya seseorang waktu itu yang sudah bahagia. Itu artinya dia dan Brian memang hanya berteman saja dan seperti yang di katakan Dokter Rachel. Jika mereka sudah saling mengenal sejak dulu dan mereka bersahabat. Jadi jelas sangat special bagi Brian dan lebih mengutamakan kucing Dokter Naomi di bandingkan aku," batin Aliyah yang kembali mencoba untuk berpikir positif. Padahal hatinya sudah tidak baik-baik saja. Tetapi tetap saja pikirannya seperti itu.
Bucin membuat Aliyah menutup mata untuk kenyataan. Dia tidak terlalu peka seperti Anju.
********
Aliyah keluar dari rumah sakit karena memang tidak menemukan Brian. Namun ternyata memang benar Brian sedang bersama Naomi. Aliyah melihat Brian membukakan pintu mobil untuk Naomi dan keduanya terlihat tertawa-tawa. Mereka terlihat sangat dekat. Bukan seperti teman tetapi lebih dari itu. Tampak Natural yang membuat hati Aliyah gelisah.
"Makanya kamu itu kalau di kasih tau mendengar. Untung aja tadi bapak itu nggak ngamuk lagi," ucap Naomi.
"Masih untung kan. Berarti aku masih dalam tahap untung," sahut Brian dengan mengangkat alisnya.
"Isss kamu itu ya Brian benar-benar," ucap Naomi kesal yang menarik telinga Brian. Keduanya yang kembali seloroh yang di saksikan Aliyah dan terlihat kecemburuan di wajah Aliyah melihat Naomi dan Brian.
Namun tiba-tiba Naomi menghentikan aksinya ketika menyadari ada Aliyah yang berdiri sejak tadi dan tangan Naomi yang di telinga Brian perlahan turun.
"Aliyah!" tegur Naomi. Brian juga langsung melihat ke arah Aliyah yang berada di depannya
"Eh Aliyah. Kamu ada di sini?" sahut Brian tampak biasa saja dan merasa tidak ada apa-apa.
"Brian!" sahut Aliyah dengan tersenyum yang berusaha untuk tenang.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Brian.
"Aku sejak tadi mencari kamu dan ternyata kamu habis dari luar," jawab Aliyah yang mulai tidak bersemangat dengan moodnya tampak berubah.
"Oh iya. Aku baru menemani Naomi menemui pasiennya di luar," jawab Brian yang apa adanya.
__ADS_1
"Hmmm, ya sudah kalau begitu aku duluan ya. Soalnya ada pasien yang harus aku tangani," sahut Naomi dengan tersenyum. Dia tidak ingin mengganggu Aliyah dan Brian.
"Iya," sahut Brian.
"Mari Aliyah," sahut Naomi. Aliyah menganggukkan kepalanya dan Naomi langsung pergi.
"Kamu sudah lama menunggu?" tanya Brian.
"Lumayan," jawab Aliyah.
"Kenapa tidak menelponku?" tanya Brian.
Aliyah tersenyum, "kamu cek saja ponselmu," sahut Aliyah.
"Kamu menelpon?" tanya Brian yang langsung mengambil ponselnya dan melihat apakah Aliyah ada menghubunginya atau tidak.
"Astaga!" Brian menepuk dahinya.
"Maaf Aliyah, aku tidak membuka ponselku. Jadi tidak melihat panggilan dan juga pesan kamu," ucap Brian.
"Karena bersama Dokter Naomi. Kamu tidak bisa mengangkat telpon!" ucap Aliyah dengan dingin membuat Brian melihat Aliyah dengan serius yang tidak tau apa maksud Aliyah.
"Tadi Dokter Rachel mengatakan seperti itu saat aku bertanya di mana kamu," Aliyah langsung mengubah pertanyaannya. Karena takut Brian tersinggung dengan pertanyaan yang pertama tadi.
"Tidak apa-apa kok. Aku mengerti itu," sahut Aliyah dengan tersenyum.
"Hmmm, oh iya kamu menemuiku dalam rangka apa?" tanya Brian heran.
"Tidak ada. Memang harus perlu alasan untuk menemuimu?" tanya Aliyah kembali.
"Nggak juga sih," sahut Brian.
"Aku membawakan makanan untuk mu," ucap Aliyah menunjukkan makanan yang sejak tadi di pegangnya.
"Ya sudah kalau begitu. Kita kedalam saja. Jangan mengobrol di sini," ucap Brian. Aliyah menganggukkan kepalanya.
Sikap Brian yang tampak hangat barusan membuatnya tenang. Dan seakan melupakan pikiran buruknya mengenai Brian badan Naomi.
**********
Naomi kembali Keruangannya dan membuka almamater jasnya. Lalu duduk di salah satu sofa. Naomi terlihat begitu lelah. Mungkin karena barusan dari luar.
"Kamu dari mana Naomi? tanya Rachel yang sejak tadi ada di mejanya.
"Cek pasien di luar," jawab Naomi.
__ADS_1
"Sama Brian bukan!" tebak Rachel. Walau dia tau Naomi tadi memang pergi bersama Brian. Rachel melihat hal tersebut.
"Iya," jawab Naomi.
"Hmmm pantesan saja Brian tidak mengangkat telpon Aliyah dia pergi bersama kamu dan aku sih sudah menduganya," ucap Rachel dengan santai yang dugaannya ternyata benar. Namun
Mendengar nama Aliyah membuat Naomi terdiam. Dia seperti memikirkan sesuatu.
"Lagi ngomongin apa sih?" tiba-tiba Anju datang dan langsung duduk di tempatnya.
"Nggak ngomong apa-apa. Ini lagi ngomongin Naomi yang seharian pergi bersama Brian dan Aliyah mencari mereka dari tadi," jawab Rachel.
Anju langsung melihat ke arah Naomi yang tampak diam seperti memikirkan sesuatu.
"Kamu baik-baik aja Naomi?" tanya Anju.
"Hmm, iya aku baik-baik aja kok," sahut Naomi dengan tersenyum tipis. Senyum yang menyimpan arti yang lain.
"Aliyah sering sekali ke rumah sakit ini yang padahal dia sudah sembuh. Apa Tante Kayra tidak akan marah lagi pada Brian," ucap Anju yang duduk di kursinya.
"Ya itu resiko Brian. Dia kan memang suka mencari masalah dengan Dokter Kayra," sahut Rachel.
"Mungkin saja hubungan Aliyah dan Brian sudah sangat jauh. Atau mungkin mereka pacaran," ucap Anju sembari melirik ke arah Naomi yang masih tetap diam dengan pemikirannya yang padahal Anju sudah sengaja menguatkan volume suaranya agar Naomi mendengarnya.
"Kalau masalah seperti itu. Aku kurang yakin sih," sahut Rachel.
"Iya sih kita lihat aja nanti seperti apa hubungan mereka," sahut Anju.
"Hmmm, oh iya Anju nanti malam makan yuk!" ajak Rachel.
"Aku nggak bisa ada janji dengan orang tua Danesh," jawab Anju.
"Ya sayang banget deh," sahut Rachel yang tampak kecewa.
"Naomi kamu bisa?" tanya Rachel pada Naomi. Namun Naomi masih tetep bengong.
"Naomi!" tegur Rachel membuat Naomi kaget.
"Iya kenapa?" tanya Naomi.
"Ayo nanti malam makan!" ajak Rachel.
"Oh iya. Lihat nanti," jawab Naomi yang menjawab sudah tidak fokus lagi.
Bersambung
__ADS_1