Brian Sang Pemain " Doctors"

Brian Sang Pemain " Doctors"
Episode 38 Debat mulut Anju dan Danesh


__ADS_3

Setelah mengantar Aliyah pulang kerumahnya. Danesh dan Anju pulang Apartemen mereka. Dan keduanya masuk begitu saja dengan sama-sama cuek.


"Apa itu alasan kamu mencegahnya kerumah sakit?" tanya Danesh tiba-tiba membuat langkah Anju berhenti saat hendak pergi.


"Maksud kamu?" tanya Anju dengan sahi mengkerut.


"Kamu seakan tau apa yang terjadi dan makanya tidak membiarkannya pasien kamu kerumah sakit," ucap Danesh. Anju hanya diam mendengar kata-kata Danesh.


"Kamu seperti sudah sangat berpengalaman dengan pria itu, makanya mencegahnya untuk menemui Pria itu. Apa pemandangan seperti itu sering kamu lihat," ucap Danesh yang tiba-tiba saja kepo dengan Brian. Mungkin karena tadi melihat reaksi istrinya.


"Jangan-jangan karena dia juga kamu juga setuju untuk menikah denganku," tebak Danesh.


"Kenapa jadi membahasnya?" tanya Anju yang baru bersuara ketika Danesh banyak bicara.


"Aku hanya tidak ingin Aliyah tidak kenapa-kenapa. Karena Aliya sedang sakit. Aku seorang Dokter dan aku mengerti tentang kesehatannya. Aku perhatian kepadanya karena aku tau dia seperti apa dan yang di alaminya tidak mudah untuk di terimanya. Jadi itu alasanku untuk mencegahnya ke rumah sakit," jelas Anju dengan memberikan alasannya.


"Yang di alaminya!" gumam Danesh.


"Apa yang di alaminya? Apa itu karena kamu sudah mengalami terlebih dahulu," sahut Danesh membuat Anju langsung melihat ke arah Danesh.


"Maksud kamu itu apa sebenarnya? Kenapa kamu malah membasah Aliyah dan Brian dan malah mengintrogasi ku seperti ini?" tanya Anju lama-lama kesal dengan Danesh yang sejak tadi banyak bicara.


"Aku hanya melihat. Jika ekspresi kamu dan pasien kamu sama ketika melihat laki-laki itu bersama wanita itu," jawab Danesh.


"Aku tidak cemburu melihat mereka," sahut Anju dengan cepat. Tidak ada yang mengatakan dia cemburu apa tidak. tetapi malah dia mengatakan sendiri.


Danesh mendengus mendengarnya. Secara tidak langsung Anju mengatakan jika dia sebenarnya cemburu dengan Brian dan Naomi. Anju pun menyadari ucapannya yang akhirnya malu sendiri dengan menghela napas dan menutup matanya yang terlalu lancar bicara.


"Jadi cemburu!" sahut Danesh.


"Tidak ada yang cemburu dan aku hanya membantu Aliyah," sahut Anju dengan mengelak.


"Begitu rupanya," sahut Danesh tampak datar.


"Wanita itu kekasihnya?" tanya Danesh yang masih aja ingin mengetahui sesuatu.

__ADS_1


"Mereka hanya berteman. Itu Naomi yang juga datang kepernikahan kita waktu itu," jawab Anju.


"Ya aku mengingatnya. Mereka datang bersama dan aku berpikir mereka pasangan," jawab Danesh.


"Sejak kecil mereka sudah saling mengenal dan bersahabat dekat. Mereka tidak pacaran dan tidak ada hubungan apa-apa," jawab Anju.


"Aku baru tau jika ada orang yang bisa menjadi teman sampai selama itu. Wanita dan Pria berteman. Hal itu sangat tidak masuk akal," ucap Danesh.


"Untuk masalah hati aku tidak tau bagaimana hati mereka. Intinya sampai detik ini mereka masih berteman," jelas Anju. Jika Danesh penasaran. Dia jauh lebih penasaran.


"Berbicara dengan penuh penekanan. Sudah menjelaskan. Jika kamu dan pasienmu sama-sama menjadi korban. Karena ada hubungan persahabatan di antara mereka berdua," sahut Danesh dengan kata-katanya yang membuat Anju mengkerutkan dahinya.


"Kamu itu jangan sok tau. Aku dan Brian tidak ada hubungan apa-apa. Jadi nggak usah sok jadi peramal dan mengatakan jadi korban. Semua sudah berlalu," kesal Anju dengan penuh penegasan pada Danesh.


"Aku hanya menduga saja. Karena sangat jelas pernikahan kita kamu terima karena hal ini," ucap Danesh yakin.


"Aku sudah mengatakan ini tidak ada hubungannya dengan aku menerima pernikahan itu. Aku menikah dengan kamu karena kesepakatan kita dan tujuan kita sama. Kita juga melakukannya dengan alasan yang sama yaitu orang tua dan kita berdua sama-sama punya masa lalu," ucap Anju dengan penuh penegasan dan penekanan kepada Danesh.


"Tidak perlu marah seperti itu. Aku hanya menduga," sahut Danesh.


"Isss kenapa sih kamu itu jadi nyebelin banget," ucap Anju dengan kesalnya kepada Danesh.


"Males ngomong sama kamu. Sok tau dan kepo. Kita sudah sepakat untuk mengurus kehidupan kita masing-masing. Jadi stop jangan mencampuri urusanku dan aku juga tidak pernah mencampuri urusanmu," tegas Anju.


Anju menghela napasnya dan langsung pergi menuju kamarnya dengan membawa kekesalannya. Danesh hanya mendengus melihat Anju yang malah marah-marah.


"Aneh sekali, dia marah-marah karena aku mengungkit hal itu. Dari wajahnya terlihat dia yang cemburu. Tetapi masih mengelak," batin Danesh dengan tersenyum miring.


"Ya aku tidak tau dan mungkin juga bukan menjadi ranah ku harus mengetahui urusanmu. Karena kita berdua mempunyai kesepakatan bersama," batin Danesh.


Danes tidak mengatakan apa-apa dan hanya diam saja dengan menghela napasnya. Ini pembicaraan terlama saat dia menikah dengan Anju. Namun ternyata pembicaraan mereka malah lebih seperti bertengkar dan sampai Anju sangat kesal. Jarang-jarang mengobrol tiba-tibanya mengobrol jadi bertengkar. Tapi gemes sih.


*****


Mentari pagi kembali tiba. Aliyah yang merasa kecewa dengan Brian. Hari ini kerumah sakit untuk menemui Brian. Aliyah kelihatan tidak terima dengan perlakuan Brian kepadanya yang membuatnya harus menemui Brian.

__ADS_1


Aliyah keluar dari Taxi dan bertemu dengan Naomi yang kebetulan juga baru sampai rumah sakit dan tumben Naomi tidak bersama Brian.


"Dokter Naomi" panggil Aliyah membuat langkah Naomi terhenti.


"Aliyah!" sahut Naomi.


"Kamu ngapain di sini?" tanya Naomi.


"Ingin menemui Brian! Apa Dokter melihatnya?" tanya Aliyah yang berbicaralah sedikit ketus pada Naomi.


"Tidak! Aku tidak melihatnya. Saya juga baru sampai," jawab Naomi.


"Tumben sekali tidak bersamanya. Bukannya Dokter selalu menempel ya padanya," ucap Aliyah yang membuat Naomi heran dengan perkataan Aliyah yang terlalu menjurus.


"Maksud kamu apa yah?" tanya Naomi heran.


"Saya ada janji tadi malam dengannya dan dia tidak datang. Saya sudah menghubunginya tetapi ponselnya tidak di angkat. Kata Dokter Rachel. Jika Brian sedang bersama Dokter Naomi maka ponselnya tidak akan pernah di angkat. Jadi pasti tadi malam dia bersama Dokter kan!" ucap Aliyah yang kali ini bicara dengan tegas. Wajahnya yang biasanya sering senyum-senyum dan cengengesan berubah menjadi tegas dan kelihatannya marah pada Naomi dengan tatapan matanya yang sangat tajam.


"Lain kali jika Dokter bersamanya. Tolong suruh dia untuk mengangkat telpon saya. Dokter tau kan saya itu menyukai Brian! jadi tolong hargai kami," tegas Aliyah dengan penuh penekanan kepada Naomi. Hal itu membuat Naomi kaget.


"Tunggu Aliyah! Maksud kamu apa ya bicara seperti ini?" Tanya Naomi yang mulai tersinggung dengan Aliyah.


"Jangan pura-pura tidak tau," jawab Aliyah.


"Aliyah saya tidak pernah ikut campur dengan urusan kamu dan Brian. Jika kamu punya janji dengan Brian. Maka bicara padanya. Saya tidak menyuruhnya untuk tidak menepati janjinya. Jadi jangan berpikiran jika saya yang membuat dia tidak menepati janjinya kepada kamu," ucap Naomi dengan apa adanya dan juga menegaskan pada Aliyah.


"Dan bukan kapasitas saya harus menyuruh dia untuk mengangkat telpon, mau dari kamu atau dari siapapun," lanjut Naomi menegaskan.


Aliyah diam mendengar perkataan Naomi.


"Aliyah!" tiba-tiba Brian datang membuat Aliyah dan Naomi menoleh kebelakang.


"Brian!" sahut Aliyah.


Naomi menghela napas dan tanpa mengatakan apa-apa Naomi langsung pergi. Hal itu membuat Brian heran.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2