
Apartemen
Ceklek.
Pintu di buka silahkan masuk.
Suara otomatis pintu Apartemen Naomi terdengar yang berarti pintu sedang terbuka. Naomi yang berada di dapur melihat ke arah depan yang ternyata Brian yang masuk dengan kucingnya Naobi yang baru selesai di bawa Brian ke Dokter hewan.
Melihat kedatangan Brian. Naomi langsung meninggalkan pekerjaannya untuk menyapa kucingnya yang gemoy itu.
"Naobi, chut,chut,chut,chut," panggil Naomi yang terlihat senang yang berjongkok dan kucingnya langsung berlari ke arahnya dan Naomi langsung menggendong kucingnya yang gembul berwarna putih itu.
"Habis dari Dokter ya. Bagaimana sayang apa ada yang sakit, di mana yang sakit," Naomi begitu senang saat mengajak kucingnya itu mengobrol membuat kebahagiaan tersendiri baginya. Padahal kucingnya tidak bisa membalas ucapannya. Bisa sebenarnya dengan mengeluarkan suara meongnya.
"Apa dia baik-baik saja?" tanya Naomi pada Brian.
"Iya dia baik-baik saja. Hanya saja kamu kurang memberinya vitamin. Jadi itu alasannya timbangan Naobi menurun,"jawab Brian.
"Benarkah! Padahal aku sudah sangat rutin. Tetapi mungkin aku terkadang lupa. Karena terlalu sibuk di rumah sakit. Ya ampun kasihan sekali kamu harus kurus," ucap Naomi dengan wajah sedihnya melihat ke arah kucingnya itu.
"Ya sudah tidak apa-apa. Lain kali jika kamu kerepotan kamu bilang aja sama aku. Nanti biar aku yang temani Naobi, kamu juga tidak mungkin memperhatikan Naobi sendirian. Jadi katakan saja kepadaku. Jika kamu butuh sesuatu," ucap Brian.
"Kamu lebih sibuk dari pada aku mana mungkin kamu yang mengawasinya," sahut Naomi.
"Kamu terlalu spele. Buktinya hari ini aku bisa mengantarnya ke Dokter. Padahal aku ada janji dengan Aliyah dan janji aku batalkan demi Naobi. Untuk membawa Naobi ke Dokter," ucap Brian menegaskan.
Mendengar nama Aliyah membuat eksperesi Naomi sedikit berubah.
"Kamu ada janji dengan Aliyah?" tanya Naomi memperjelas sekali lagi omongan Brian.
"Iya hari ini seharusnya aku mengantarkan dia pulang. Namun karena kamu tiba-tiba ngechat. Lalu aku batalkan. Aku juga tidak ingin terjadi apa-apai pada Naobi," jawab Brian singkat.
"Lalu dia bagaimana? Apa dia baik-baik saja? tanya Naomi yang tiba-tiba khawatir.
"Memang dia harus bagaimana? Dia baik-baik saya, apa dia tidak harus baik-baik saja?" Brian kembali bertanya.
Naomi menelan salivanya. Dia mengingat jelas bagaimana Naomi yang drop dan semua itu mengacu pada Brian. Karena sikap Brian yang berubah pada Aliyah.
Karena Naomi yang sudah tidak fokus pada kucingnya. Kucingnya lepas dari tangannya melompat dan pergi ketempat bermainnya.
__ADS_1
Brian sendiri menghela napas dan dengan santai menuju sofa langsung rebahan dengan mengeluarkan ponselnya dari sakunya. Sementara Naomi masih melihat ke arah Brian.
"Kamu mau makan?" tanya Naomi.
"Boleh!" sahut Brian.
"Aku buatkan," sahut Naomi yang langsung kembali ke dapur. Tadi sebenarnya dia membuat makanan untuk makan malam.
"Brian ada yang ingin aku tanyakan pada kamu?" ucap Naomi tiba-tiba dari dapur sembari tangannya bekerja membuat makanan.
"Apa itu?" tanya Brian.
"Kamu sama Aliyah bagaimana?" tanya Naomi dengan hati-hati yang takut salah ngomong. Membuat Brian menoleh ke arah Aliyah dengan wajah bingung Brian.
"Maksudnya? Dan tumben kamu bertanya seperti itu . Biasanya aku dengan siapa saja. Kamu tidak pernah tanya apa-apa. Kamu jangan seperti mama Naomi yang mulai kepo dan banyak nasehat," sahut Brian yang kembali fokus pada ponselnya dan menanggapi pertanyaan Naomi dengan santai.
"Aku hanya merasa jika kali ini aku harus tau," sahut Naomi.
"Kenapa?" tanya Brian.
"Aku tidak mau terjadi sesuatu pada Aliyah," jawab Naomi.
"Maksudnya bagaimana Naomi. Terjadi sesuatu apanya. Memang aku ngapain," ucap Brian.
"Brian. Aliyah itu sakit. Dia tidak bisa mengontrol dirinya dan aku melihat belajar dia sangat bergantung padamu dan juga sampai-sampai berani masuk kedalam ruangan kita. Aku hanya takut. Jika kamu tidak bisa menjadi apa yang di inginkannya. Itu akan berpengaruh pada kesehatannya," ucap Naomi mengungkapkan rasa khawatirnya.
Huhhhhh
Brian menghela napas dan berdiri lalu menghampiri Naomi. Brian berdiri di hadapan Naomi yang Brian bersandar pada dinding meja kompor.
"Kamu berpikir terlalu jauh. Aku tidak ada maksud apa-apa kepada Aliyah. Sejauh ini kami hanya dekat dan jika kedekatan kami membuatnya bahagia. Lalu kenapa tidak dan Aliyah tidak bisa merasa untuk bisa menguasai ku. Karena aku orang yang bebas dan aku rasa dia paham itu," ucap Brian dengan santai.
Naomi ingin membalas ucapan Brian. Namun Brian langsung bicara.
"Naomi sudah kamu jangan ikut-ikutan seperti mama yang suka mengomentari ku dan Anju juga yang sudah ikut campur. Kamu harus tetap menjadi Naomi yang tenang dan tidak ikut campur dengan apa-apa," ucap Brian.
Naomi hanya diam mendengarkan apa yang di katakan Brian. Dia memang tidak bisa banyak-banyak berkomentar dan bagi Brian hal itu yang paling tidak di sukainya. Jadi mau tidak mau Naomi hanya menyampaikan seadanya dan berharap Brian bisa lebih hati-hati jika ingin bermain-main dengan Aliyah.
"Sudah. Apa makanan ku sudah selesai?" tanya Brian.
__ADS_1
"Iya sebentar lagi akan selesai," jawab Naomi membuat Brian tersenyum dan kembali ke sofa.
***********
Anju pulang ke Apartemen tempat dia dan Danesh tinggal. Namun tumben-tumbenannya Danesh ada di ruang tamu yang duduk dengan laptop di atas pahanya. Namun Anju tetap cuek seperti biasanya dan melangkah menuju kamarnya.
"Mama dan papa mengajak kita untuk makan malam besok!" ucap Danesh membuat langkah Anju terhenti.
"Mama dan papa yang mana?" tanya Anju.
"Orang tua ku," jawab Danesh.
"Harus banget pergi?" tanya Anju.
"Jika menolak. Kamu telpon saja mereka dan beri alasannya," jawab Danesh dengan singkat.
"Aku tidak bisa janji. Karena aku takut banyak pekerjaan di rumah sakit," sahut Anju yang memang sulit untuk berjanji. Dia juga bukan tipe orang yang bisa berjanji dan nanti akan di ingkari. Jadi lebih baik tidak berjanji.
"Hubungi lah mereka dan katakan yang sebenarnya," sahut Danesh yang sejak tadi bicara hanya fokus pada laptopnya dan tidak melihat ke arah Anju.
Anju yang berdiri di tempatnya sangat kelihatan begitu bingung sekali. Antara menolak atau tidak tawaran makan malam dari mertuanya itu.
"Tante Melody juga pernah mengajakku sebelumnya dan aku tidak bisa. Mana mungkin aku menolak lagi. Pasti mereka akan kecewa. Aku baru menikah dengan Danesh. Namun sering mengabaikan pertemuan dengan keluarganya. Bagaimana jika mama dan papa yang mengajak aku dan Danesh. Danesh juga pasti bisa melakukan hal yang aku lakukan," batin Anju dengan kebimbangan hatinya dengan apa yang di pikirkannya.
"Kamu belum menghubungi mereka. Jika kelamaan mereka bisa tidur!" sahut Danesh menegur Anju membuat Anju kaget.
"Oh itu. Ya aku akan makan malam bersama Tante Melody dan Om Ardian. Aku akan berusaha untuk mengosongkan jadwal," sahut Anju yang ternyata akan berusaha untuk makan malam bersama keluarga Danesh.
"Kamu yakin bisa?" tanya Danesh tidak yakin dengan keputusan Anju.
"Aku akan berusaha," jawab Anju
"Baiklah kalau begitu," sahut Danesh.
"Ya sudah aku kekamar dulu. Mau istirahat," sahut Anju. Danesh hanya menganggukkan kepalanya. Anju pun langsung pergi ke kekamarnya.
"Tumben sekali dia mau mengosongkan jadwalnya. Padahal dia sangat sibuk di rumah sakit," gumam Danesh yang cukup kaget dengan keputusan Anju yang mau mengosongkan jadwalnya untuk makan malam bersama dengan keluarganya.
Bersambung
__ADS_1