Brian Sang Pemain " Doctors"

Brian Sang Pemain " Doctors"
Episode 77 Tidak ada hentinya.


__ADS_3

"Itu kenyataannya, kau itu seorang Dokter. Tetapi sangat jorok. Seharusnya Dokter itu steril dan tidak penuh kuman seperti mu," sahut Danesh yang masih memperpanjang mengatai istrinya.


"Diamlah!" Jangan mengataiku terus tuan Danesh yang paling bersih!" kesal Anju dengan penuh emosi dan sampai menghela napasnya menghadapi Danesh yang tidak bisa di atasi yang membuat emosinya menggebu-gebu.


"Jadi diam dan mulutmu tutup. Jika kau bicara lagi aku akan melempar semua ini ke wajahmu," tegas Anju dengan emosi.


Danesh tidak bicara lagi. Anju lama-lama seperti Mak lampir, karena kemarahannya pada Danesh yang berterus terang mengejek dirinya tanpa ampunan.


Danesh kalau bicara memangĀ  selalu suka-suka ada- saja yang di katakannya membuat Anju marah dan terjadi perkelahian di antara mereka berdua. Tetapi jika tidak ada perdebatan itu, mereka tidak akan bicara sebanyak itu.


Ternyata menginapnya Anju dan Danesh di rumah Melody membuat banyak komunikasi di antara keduanya, sehingga keduanya yang sering ngobrol. Bukan sering ngobrol lebih tepatnya sering berdebat.


*************


Melody dan Ardian berada di meja makan yang sedang sarapan bersama.


"Kenapa Anju dan Danesh tidak turun juga pah. Bukannya Anju harus ke rumah sakit," ucap Melody yang menunggu-nunggu menantu dan anaknya itu.


"Mungkin mereka masih tidur," sahut Ardian.


"Apa mereka kecapean ya," ucap Melody senyum-senyum membuat Ardian juga tersenyum dengan alisnya terangkat.


"Cape apa mah?" tanya Ardian yang tau apa maksud istrinya.


"Isss papa, ya siapa tau aja iya kan. Mereka melakukannya," sahut Melody yang senyum-senyum dengan harapannya.


"Mama ini bisa aja," sahut Ardian geleng-geleng. Anju dan Danesh memang cape. Tetapi cape bukan karena olahraga malam. Tetapi karena bertengkar.


Setelah Anju selesai beres-beres dengan buru-buru. Akhirnya Danesh dan Anju keluar dari kamar menghampiri Melody dan Ardian yang berada di meja makan yang sedang sarapan dan menunggu mereka sejak tadi.


"Itu mereka pah," ucap Melody pelan melihat kedatangan Anju dan Danesh.


"Kalian sudah bangun ternyata? Apa tidurnya nyenyak? sampai lama sekali bangunnya?"tanya Melody dengan tersenyum.


"Nyeyak mah," sahut Anju dengan tersenyum tipis.


"Nyeyak apa, yang ada encok iya," ucap Danesh pelan dan Anju mendengar ciutan Danesh membuat Anju melihat ke arah Danesh dengan Anju yang menyerngitkan dahinya.


"Kamu bilang apa Danesh?" tanya Melody yang mendengar ucapan Danesh.

__ADS_1


"Tidak bicara apa-apa," sahut Danesh dengan wajahnya yang tampak kesal. Kesal dalam berbagi hal karena Anju.


"Ya sudah kalau begitu. Ayo kemari. Kita sarapan sama-sama, mama dan papa menunggu kamu dari tadi," sahut Ardian


"Tapi pah Anju sudah terlambat," sahut Anju yang harus menolak sarapan itu. Karena memang tidak memungkinkan dia untuk sarapan. Dia sudah begitu terlambat dan terlihat buru-buru.


"Padahal mama sudah memasakkan kamu nasi goreng," sahut Melody dengan wajah kecewanya.


"Iya mah, soalnya Anju sudah terlambat," sahut Anju yang sebenarnya merasa tidak enak.


"Ya sudah tidak apa. Mungkin tidurnya terlalu nyenyak. Jadi kamu sampai kesiangan bangunnya," sahut Melody dengan senyum-senyum yang penuh dengan arti.


"Ya sudah mah. Kalau begitu. Anju berangkat ya," sahut Anju yang.


"Mama bekali sarapan untuk kamu ya," ucap Melody


"Nggak usah mah," sahut Anju.


"Ngakak apa-apa Anju. Biar kamu bisa sarapan di mobil," ucap Melody yang langsung membuat bekal untuk Anju dan Anju tau bisa menolak


"Ini!" ucap Melody yang sudah selesai membuat bekal itu.


"Jangan lupa di makan ya," ucap Melody.


"Ya sudah mah. Anju kerumah sakit dulu," ucap Anju yang langsung mencium punggung tangan Melody dan juga Ardian.


"Kamu hati-hati ya," ucap Ardian.


"Iya pah," sahut Anju.


"Danesh antar istri kamu dengan benar. Kamu jangan aneh-aneh," ucap Melody dengan tegas.


"Iya-iya," sahut Danesh yang tampak terpaksa. Kesalnya dirinya yang tidurnya sudah Tidka nyenyak dan mendapat banyak kesialan dari Anju.


"Kalian sering-sering ya menginap di sini," ucap Ardian.


"Iya pah," sahut Anju.


"Ya sudah, kalau begitu, Kami pamit," sahut Anju yang langsung pergi.

__ADS_1


"Hati-hati," sahut Melody yang tersenyum.


"Mereka sepertinya baik-baik aja pah," ucap Melody.


"Iya rencana mama berhasil dan semoga mereka baik-baik saja dan semoga nanti bisa menginap kembali di rumah kita," sahut Ardian dengan harapannya.


"Amin," sahut Melody dengan tersenyum yang pasti itu menjadi harapannya. Cinta pasti akan tumbuh di antara anak dan menantunya itu dengan pernikahan mereka yang memang hasil perjodohan.


**********


Naomi benar-benar kembali menjalani aktivitas sebagai Dokter padahal kondisi Naomi belum membaik. Tetapi dia malas untuk rebahan. Naomi yang memakai pakaian Dokternya berjalan di koridor rumah sakit.


"Dokter Naomi!" tiba-tiba seorang suster memanggil Naomi menguat Naomi menoleh kebelakang.


"Suster!" ucap Naomi. Suster yang menegurnya adalah Suster yang bersamanya saat di gudang penyimpanan. Suster itu langsung memegang tangan Naomi.


"Maafkan saya Dokter, maaf saya sudah membuat Dokter celaka, maafkan saya," Suster itu menangis dengan memegang tangan Naomi. Tangan Suster itu terlihat sangat dingin dan bergetar dengan meminta maaf pada Naomi.


"Saya benar-benar ceroboh Dokter, maaf kan saya, saya tidak tau. apa yang saya lakukan membuat dokter celaka tolong maafkan saya Dokter," ucap Suster itu lagi yang benar-benar merasa bersalah.


"Suster sudah, saya sudah memaafkan Suster. Saya tau Suster tidak ada niat sama sekali dan semua itu insiden yang terjadi tanpa perencanaan, musibah tidak ada yang tau dan sudahlah kita lupakan saja dan jadikan semua ini sebagai pelajaran dan Suster tidak perlu seperti ini," ucap Naomi.


"Iya Dokter Naomi, sekali lagi saya meminta maaf atas kecerobohan saya," ucap Suster itu. Naomi menganggukkan kepalanya.


"Dan lain lain kali lebih hati-hati lagi ya. Jangan sampai kejadian ini terulang lagi," ucap Naomi.


"Iya Dokter saya janji akan lebih hati-hati lagi," ucap Suster tersebut.


"Makasi Dokter. Dokter juga tidak menghukum saya. Dokter Kayra dan pihak rumah sakit tidak mengeluarkan saya dari rumah sakit. Semua karena permintaan Dokter Naomi yang berbesar hati sehingga saya tidak mendapat hukuman. Terima kasih untuk kebaikan Dokter Naomi," ucap Suster tersebut dengan air matanya yang masih keluar. Dia terharu dengan apa yang di lakukan Naomi.


"Tidak perlu berterima kasih, seperti apa yang saya katakan, semua itu musibah dan kamu tidak harus bertanggung jawab dan menerima sanksi berat yang penting kamu belajar dari kesalahan, bagaimana kedepannya," ucap Naomi.


Jika bukan karena dia yang membujuk Kayra untuk tidak terlalu memperbesar masalah itu. Pasti Suster itu sudah di keluarkan dan semua Karena Naomi yang meminta pada Kayra untuk memberi kemudahan. Sehingga Suster itu akan mendapatkan sanksi atas apa yang telah di perbuatanya.


"Sekali lagi saya minta maaf Dokter dan terima kasih Dokter untuk kebaikan Dokter," ucap Suster itu lagi.


"Iya, sudahlah. Kamu tidak perlu menangis lagi sama masalah ini sudah selesai," ucap Naomi. Suster itu menganggukkan kepalanya.


"Ya sudah Dokter, kalau begitu saya permisi dulu! Semogalah Dokter cepat sembuh," ucap suster itu pamit.

__ADS_1


"Iya, terima kasih untuk doanya," sahut Naomi dengan menganggukkan kepalanya yang melihat kepergian Suster tersebut.


Bersambung


__ADS_2