
Akhirnya Naomi mengecek kondisi Aliyah yang berada di ruang ICU. Aliyah tidak sadarkan diri yang membuat Naomi melihat nanar wajah Aliyah yang tampak pucat.
"Dia pagi drop. Apa jangan-jangan. Karena dia mengunjungi ku dan aku tidak tau apa yang terjadi padanya sampai dia drop seperti itu," batin Naomi yang merasa jika Aliyah yang seperti itu karena dirinya.
"Apa Brian sudah tau jika Aliyah drop," batin Naomi yang kepikiran Brian.
Krekkk.
Suster tiba-tiba masuk kedalam ruangan itu.
"Dokter!" sapa Suster. Kayra menganggukkan kepalanya.
"Apa saat dia masuk. Kondisinya sangat parah?" tanya Naomi.
"Lumayan parah Dokter," jawab Suster dengan apa adanya.
"Ada apa sebenarnya? Kenapa Aliyah langsung drop begitu pulang dari Apartemen ku. Padahal sebelumnya dia kelihatan baik-baik saja saat di Apartemen," batin Naomi yang jadi kepikiran.
Naomi menghela napasnya yang juga tidak tau apa yang terjadi. Namun dia sedikit merasa bersalah karena Naomi drop saat pulang dari Apartemen nya. Naomi berpikiran. Jika Aliyah pasti kelelahan.
Namun tiba-tiba Naomi melihat di atas kursi yang ada di ruangan itu, melihat ada buku binder Aliyah Binder yang selalu di tulis Aliyah. Naomi mengambil binder itu dan berniat untuk menyimpannya. Namun tiba-tiba sebuah photo jatuh dari dalam buku itu dan membuat Naomie mengambilnya yang mana photo itu yang terbalik di lantai.
Naomi berjongkok dan mengambil photo tersebut yang membuat Naomi kaget yang ternyata itu photo dirinya dan juga Brian.
"Kenapa Aliyah punya photo ini?" tanyanya dengan bingung.
Naomi mengingat-ingat. Jika sebelumnya Aliyah melihat-lihat album milik Naomi. Dan photo yang ada di binder Aliyah tesebut adalah photo yang di ambilnya dari albumnya. Naomi bingung sendiri apa maksud Aliyah mengambil photo itu dari albumnya.
"Dokter saya permisi!" ucap Suster pamit dari ruangan itu. Namun Naomi tidak mendengarkannya dan masih sibuk dengan lamunannya.
"Dokter!" tegur Suster itu lagi
"Ha iya kenapa?" tanya Naomi dengan gugup.
"Saya permisi!" ucap Suster itu lagi.
"Oh iya," sahut Naomi dan Suster itu langsung pergi. Naomi menghela napasnya dan mencoba untuk fokus.
__ADS_1
Naomi berdiri dari dan duduk di bangku yang ada di ruangan itu. Dia Hendak menyimpan photo itu di tengah binder itu. Namun tulisan Aliyah di bagian tengah membuat mata Naomi membaca tulisan itu karena namanya ada di tulisan itu.
..."Aku cemburu melihat Dokter Naomi dan Brian begitu dekat. Lalu apa aku punya hak untuk cemburu. Sampai sekarang Brian tidak mengatakan apa-apa kepadaku. Aku bingung dengan posisi ku yang sebenarnya tempatku ada di mana. Aku hanya ingin mendengar Brian mengucapkan perasaannya kepadaku. Aku ingin tau bagaimana perasaannya kepadaku,"...
..."Aku menunggu semua itu. Tetapi kenapa di saat aku menunggu semua itu. Aku malah melihat kedekatan Dokter Naomi dan Brian. Bahkan tadi pagi mereka begitu dekat, sama halnya dengan Tante Kayra yang sangat dekat dengan Dokter Naomi dan begitu ketus kepadaku. Aku takut jika pada akhirnya Brian tidak punya perasaan apa-apa kepadaku. Aku takut jika hanya aku yang punya perasaan ini. Aku tidak mau hal itu terjadi. Aku benar-benar sangat takut,"...
..."Aku tidak tau bagaimana caranya meluluhkan hati Tante Kayra supaya dia bisa memperlakukan ku seperti Dokter Naomi. Aku ingin menjadi bagian dari kehidupan Brian dan aku ingin Tante Kayra menyukaiku. Kenapa semuanya terasa sakit dan aku merasa takut. Aku takut jika ternyata apa yang aku pikirkan tidak sesuai dengan apa yang aku harapkan....
..."Aku menjatuhkan semua harapanku pada Dokter yang sudah aku kagumi. Brian dia pria yang membuatku bahagia dan bertahan sampai detik ini. Aku punya tujuan hidup karena dia yang ada di sisiku dan memberiku kenyamanan yang tidur aku dapatkan dari orang lain,"...
Tulisan ungkapan hati Aliyah yang di tulisnya di dalam Taxi di baca semua oleh Naomi. Naomi melihat ke arah Aliyah yang masih berbaring lemah dengan Naomi yang menghela napasnya.
"Aku sudah menduga. Jika Aliya sedang tidak baik-baik saja. Dia memikirkan terlalu jauh dan aku juga tidak tau bagaimana Tante Kayra kepadanya. Aliyah aku sudah mengatakan kepada kamu. Jangan memikirkan hal-hal yang tidak masuk akal yang membuat kesehatan kamu yang semakin menurun," ucap Naomi dengan wajah senduhnya yang kasihan dengan Aliyah.
**********
Setelah melihat keadaan Aliya di ruangan Aliyah. Naomi memasuki ruangannya dengan wajah perihnya dan di sana ada Brian yang duduk di mejanya dengan fokus pada layar monitor laptopnya yang sepertinya Brian banyak pekerjaan.
"Kamu tau kan Aliyah berada di ICU?" tanya Naomi yang membuka almamater dokternya dan meletakkan di atas kursinya.
"Kamu tidak masuk?" tanya Naomi.
"Tidak! Aku kebetulan bicara dengan Dokter Faisal yang kebetulan keluar dari ruangan ICU. Makanya aku melihat Aliyah," jawab Brian dengan santai.
"Dia masuk semalam pagi," ucap Naomi.
"Ohhhh begitu," sahut Brian dengan santai.
"Hanya Oh," sahut Brian.
"Lalu?" Brian bertanya balik.
"Brian. Aliyah semalam drop menuju jalan pulang. Dia drop di dalam Taxi," ucap Arhan dengan penuh penegasan dan bahkan serius.
"Kamu kenapa Naomi?" tanya Brian merasa aneh dengan Naomi.
"Aku yang seharusnya bertanya kepada kamu. Kamu kenapa bisa sesantai ini. Di saat Aliyah masuk ICU," sahut Naomi yang berbicara penuh penekanan.
__ADS_1
"Siapa yang santai. Dia sudah di tangani," sahut Brian.
"Ya tapi dia masuk ICU karena kamu!" sahut Naomi dengan menguatkan volume suaranya yang membuat Brian kaget. Dia langsung melihat Naomi dengan serius.
"Kamu kenapa sih Naomi. Pagi-pagi marah-marah dan sekarang malah menyalahkanku," sahut Brian.
"Apa hubungannya, Aliyah masuk ICU dengan," sahut Brian.
"Kenapa semalam kamu tidak mengantarnya?" tanya Naomi.
"Dia jemput supir," sahut Brian.
"Dia naik Taxi dan semalam itu tidak ada yang menjemputnya dan Taxi yang membawanya kerumah sakit," tegas Naomi.
"Lalu itu salahku," sahut Brian.
"Jadi menurut kamu tidak," sahut Naomi. Semakin kesal.
"Kenapa jadi aku Naomi!" sahut Brian yang ikut kesal.
"Ya seharusnya kamu mengantarnya pulang dan keadaannya tidak akan seperti ini Brian," ucap Naomi menekan suaranya.
"Aku tidak mengantarnya. Karena ada kamu. Kamu sendirian!" sahut Brian menegaskan.
"Kenapa harus memperdulikan ku. Jika dia lebih membutuhkanmu. Cukup Brian!" sentak Naomi yang semakin marah membuat Brian semakin heran dengan Naomi yang volume suaranya naik.
"Jika kamu tidak bisa bertanggung atas apa yang kamu lakukan kepada Aliyah. Seharusnya kamu tidak membuatnya berharap banyak darimu," tegas Naomi yang menunjuk Brian.
"Kau tau tau apa yang terjadi padanya. Dia drop karena memikirkan hubungannya denganmu. Dia mana kau tidak memperjelas hubungan kalian," lanjut Naomi penuh dengan penegasan.
"Apa yang mau di perjelas. Aku tidak ada perasaan apa-apa kepada Aliyah!" tegas Brian.
Mendengar hal itu membuat Naomi mendengus kasar dengan tersenyum.
"Sekarang mengatakan tidak ada perasaan apa-apa. Setelah anak orang sudah seperti itu. Brian aku sudah mengingatkan mu untuk tidak bermain-main pada Aliyah. Aliyah itu sakit dan dia bisa drop hanya karena keegoisan mu. Apa kau tidak bisa mencari wanita lain yang bisa kau jadikan permainan selain orang seperti Aliyah hah!" sahut Naomi.
Bersambung
__ADS_1