
"Jangan menceramahiku Naomi. Dia merusak sendiri," sahut Brian.
"Aku tidak menceramahi mu hanya mengatakan apa yang benar," sahut Naomi.
"Sudahlah! Ayo keruang operasi!" ajak Brian.
"Aku mengenalmu brian!" langkah Brian terhenti.
"Ini Operasi besar. Jadi tolong fokus. Jangan sampai kita melakukan kesalahan. Karena masalah ini," ucap Naomi mengingatkan Brian. Karena dia takut terjadi sesuatu.
"Kamu menggurui seniormu," sahut Brian.
"Aku hanya mengingatkan," jawab Naomi.
"Jangan meragukanku. Aku Dokter profesional dan aku bisa mengatasi semuanya tanpa mencampurkan urusan pribadi dengan pekerjaan ku," ucap Brian yang langsung pergi.
Naomi hanya menghela napasnya, " semoga apa yang kamu katakan benar dan tidak terjadi apa-apa," batin Naomi.
*******
Ruang operasi.
Naomi, Brian dan ada 4 suster yang melakukan operasi bersama. Operasi besar salah satu pasien yang sangat di kenal. Seorang politikus bernama tuan karma. Dia mengidap tumor.
Rumah sakit medical di beri kepercayaan untuk mengoperasi tuan Karma. Awalnya di serahkan pada Kayra. Tetepi Kayra memberi kesempatan putranya untuk melakukannya yang juga sangat ahli dalam Operasi dan Naomi yang mendampinginya.
Mereka melakukan operasi dengan fokus. Jika tidak fokus bukan operasi namanya. Namun ada yang aneh dengan Brian. Biasanya dia sangat fokus. Namun tiba-tiba Brian mengingat perkataan Anju.
"Apa kamu sadar jika perlakukan kamu kepada Naomi jauh lebih baik di bandingkan kepadaku,"
"Jangan melibatkan Naomi dalam hubungan kita, aku dan Naomi tidak ada hubungan apa-apa,"
"Brian!" tegur Naomi yang melihat Brian bengong dan Brian tersentak yang mencoba untuk fokus dengan menggoyang-goyangkan kepalanya yang padahal di pikirannya dan di dalam bayangannya undangan pernikahan Anju dan Danesh yang terlintas.
"Fokus," ucap Naomi mengingatkan.
"Suntikan cairannya!" titah Brian pada Naomi. Naomi mengangguk dan menyuntikkan sesuatu pada bagian lengan pasien mereka. Namun ketika Naomi menyuntikan cairan tersebut tiba-tiba dia melihat kearah Brian.
"Kenapa menyuruhku menyuntiknya Brian tekanan darahnya sedang rendah," ucap Naomi merasa seperti ada yang salah. Brian kaget mendengarnya dengan membuka lebar matanya yang saling melihat dengan Naomi.
__ADS_1
Tit-tit-tit-tit-tit-tit.
"Dokter jantung pasien melemah!" sahut suster panik. Brian dan Naomi melihat ke layar monitor dan melihat jantung pasien yang melemah dan bahkan jantungnya semakin rendah.
"Siapkan pompanya!" titah Brian yang mulai cemas.
Orang-orang yang ada di ruangan itu terlihat tergesa-gesa dengan menyelamatkan pasien yang sudah gawat darurat. Brian bahkan melakukan pompa jantung.
Namun Naomi mendadak diam dengan jarum suntik yang masih di pegangnya jatuh kelantai bersama dengan air matanya yang jatuh.
Suara jantung itu semakin terdengar pelan di monitor sudah lurus jantung tersebut. Suara napas Brian terdengar naik turun dengan matanya yang terpejam dan keringat di dahinya.
"Catat kematiannya!" lirih Brian dengan suara seraknya yang menghembuskan napasnya perlahan.
Operasi itu gagal. Dan pasien meninggal. Berian menoleh kebelakangnya dan melihat Naomi masih berdiri di tempatnya yang mematung dengan tatapan kosong.
"Naomi," lirih Brian. Tidak ada respon dari Naomi. Namun air mata Naomi menetes.
************
Operasi yang sangat di khawatirkan Naomi akhirnya menjadi cerita untuknya, kesedihan dan penyesalan. Dalam operasi besar yang ditanganinya yang ternyata tidak berhasil. Langkahnya berjalan dengan perlahan saat keluar dari ruang operasi.
Keluarga pasien yang menangis histeris karena kematian tuan Karma. Entalah apakah ini karena kesalahan teknis yang terjadi di ruang operasi atau bagaimana.
Tetapi dari apa yang terjadi. Sepertinya Naomi merasa jika itu adalah kesalahannya. Suntikan yang di lakukannya membuat pasien beberapa detik setelah itu langsung drop dan tidak bisa di selamatkan.
*******
Brian berlari di sekitar rumah sakit yang seperti mencari-cari. Kepalanya melihat kekanan dan kekiri yang tidak tau siapa yang di carinya.
"Rachel!" panggil Brian pada Rachel yang berjalan bersama Anju. Namun tatapan Brian hanya pada Rachel yang seolah tidak ingin melihat Anju yang ada di samping Rachel.
"Kenapa Brian?" tanya Rachel.
"Kamu lihat Naomi?" tanya Brian yang kelihatan panik.
"Tidak aku tidak melihatnya," jawab Rachel.
"Kemana dia!" gumam Brian yang panik.
__ADS_1
"Apa ada masalah?" tanya Rachel jadi panik. Karena wajah Brian yang terlihat panik.
"Tidak apa-apa. Ya sudah aku dari dia dulu," sahut Brian yang langsung pergi.
"Apa kamu membenciku Brian. Sampai tidak ingin melihatku. Padahal aku ada di depanmu," batin Anju yang merasa jika Brian sangat membencinya. Mungkin karena keputusannya yang menikah.
"Kenapa dia sepanik itu. Apa ada sesuatu?" tanya Rachel.
"Aku juga tidak tau," sahut Anju.
"Bukannya mereka baru melakukan operasi bersama. Oh iya operasinya gagal ya," ucap Rachel yang pasti tau operasi itu gagal. Karena tuan Karma orang yang cukup terpandang dan baru beberapa jam kematiannya. Para media sudah berkumpul di rumah sakit untuk mendapatkan keterangan.
"Aku dengar begitu," sahut Anju yang juga tidak tau bagaimana jelasnya.
*************
Naomi ternyata berada di atap gedung yang yang berjongkok dengan menangis sengugukan. Naomi merasa bersalah atas operasi tersebut dan melupakan tangisannya sekencang-kencangnya di tempat yang sepi. Dengan berjongkok dan menutup wajahnya dengan ke-2 tangannya yang menangis terisak-isak.
Baginya kematian tuan Karma adalah kesalahannya. Dia yang teledor dan menyalahkan dirinya sendiri.
"Hiks,hiks,hiks,hiks,hiks," suara tangis dengan dada yang sesak itu di keluarkannya. Hanya mengumpat di dalam hati. Karena berbicara begitu terasa sangat sesak.
Brian yang sejak tadi mencari Naomi akhirnya menemukan Naomi. Brian yang dengan napasnya yang naik turun melihat di ujung sana bagaimana Naomi yang menangis. Dia mungkin tau Naomi akan seperti apa dan tempat mana yang akan di datangi Naomi. Makanya Brian langsung naik ke atap gedung.
Brian menghela napas beratnya dan melangkah menghampiri Naomi. Brian langsung berdiri di depan Naomi. Berjongkok dengan satu lututnya menyentuh lantai.
"Naomi!" tegur Brian yang memegang bahu Naomi dan membawa Naomi kedalam pelukannya.
Naomi menangis semakin pecah di dada bidang Brian dengan suara yang semakin terisak-isak dan kedua tangannya yang masih menutup wajahnya.
"Apa yang kamu tangisi Naomi. Jangan berpikiran semua ini kesalahan kamu. Ini tidak ada hubungannya dengan kamu. Kita hanya Dokter Naomi," ucap Brian mengusap rambut Naomi untuk menenangkan Naomi yang terus menangis di pelukannya.
Brian sudah menduga jika apa yang terjadi akan membuat Naomi merasa bersalah. Padahal mereka adalah Dokter bukan Tuhan. Operasi bisa berhasil atau tidak dan semua itu sudah menjadi ketentuan mereka yang seharusnya Naomi tidak merasa bersalah.
Brian sangat tau kelemahan Naomi. Makanya mencarinya dan benar Naomi akan mencari tempat sepi untuk menangisi apa yang terjadi.
Naomi masih menangis di pelukan Brian yang ternyata Anju melihat hal itu dari kejauhan. Sebelumnya Anju melihat Brian yang menaiki tangga darurat dan membuat Anju penasaran dan ternyata Brian mencari Naomi dan tidak tau apa yang terjadi membuat Naomi menangis histeris.
Namun terlihat Anju yang cemburu melihat Naomi dan Brian. Sebenarnya pemandangan ini dari dulu sudah sering di lihat Anju. Namun akhir-akhir ini dia merasa ada sesuatu dan pelukan itu bukan pelukan biasa. Brian seolah menjadi Pria yang ada untuk Naomi dalam memberikan ketenangan.
__ADS_1
Bersambung