
Hujan masih membasahi bumi. Naomi yang berada di kamar Brian. Duduk di meja belajar yang tepat di dekat jendela. Sehingga air hujan membasahi kaca jendela. Naomi masih memakai pakaian saat pertama datang kerumah Brian. Dia tidak mengganti dengan pakaian yang lain yang padahal ada pakaian Brian seperti sweater yang bisa di gunakannya.
Dia hanya membuka laptop dengan gambar otak di dalam laptop. Dan menulis beberapa hal. Naomi sepertinya sedang meneliti sesuatu yang pasti hanya dia yang tau di dalam dunia kedokteran.
Krekkk.
Pintu kamar di buka yang ternya Kayra memasuki kamar dengan membawakan secangkir teh.
"Minum dulu supaya hangat," ucap Kayra meletakkan teh tersebut di atas pintu.
"Makasih Tante," sahut Naomi tersenyum.
"Kenapa tidak ganti baju?" tanya Kayra.
"Sudah kering kok Tante bajunya," jawab Naomi dengan tersenyum.
"Tetap aja kamu akan sakit," ucap Kayra khawatir.
"Tidak kok Tante," sahut Naomi.
"Terserah kamu. Kamu sedang apa?" tanya Kayra.
"Ini lagi meneliti titik tumor paling dalam untuk operasi tuan karma," jawab Naomi.
"Semoga Operasinya berhasil," ucap Kayra mengusap-usap bahu Naomi yang memberikan dukungan kepada Naomi.
"Amin," sahut Naomi dengan tersenyum yang pasti hal itu sesuai dengan harapannya.
"Kamu Dokter yang sangat hebat Naomi. Almarhum ibu kamu pasti sangat bangga dengan kamu," ucap Kayra.
"Itu semua karena Tante, om dan juga Brian yang selalu memberi suport pada Naomi," jawab Naomi yang tidak akan melupakan jasa-jasa keluarga Brian.
"Itu juga karena kemauan kamu. Kamu anak yang pintar dan punya keinginan yang tinggi," sahut Kayra yang mencium pucuk kepala Naomi. Dia seakan begitu bangga dengan Naomi dan sayangnya pada Naomi memang begitu tulus. Naomi tersenyum yang merasakan kasih sayang dari Kayra.
"Apa jika nanti Brian memilik pilihannya sendiri. Apa aku masih ada di tempat di sini. Tidak mungkin aku masih berada di sini. Itu sama saja aku bisa menjadi duri di dalam hubungannya nanti. Aku tidak akan merasakan pelukan Tante Kayra lagi," batin Naomi yang tiba-tiba takut jika Brian menikah.
Karena jika hal itu terjadi mana mungkin dia akan bisa seperti sekarang ini.
"Ya sudah Naomi Tante keluar dulu!" ucap Kayra yang mengusap-usap rambut Naomi.
"Iya Tante," sahut Naomi tersenyum.
"Kamu lanjutin ya pekerjaan kamu," ucap Kayra. Naomi menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Kayra pun langsung pergi meninggalkan tempat itu.
Setelah kepergian Kayra. Naomi berdiri dari tempat duduknya dan menuju jendela. Naomi meneguk teh tersebut sembari melihat hujan rintik-rintik.
"Persahabatan akan berbeda. Jika diantaranya salah satunya sudah menemukan pasangannya. Aku hanya berharap semoga Brian bahagia bersama Anju. Anju wanita yang baik dan sabar pada Brian. Jika mereka bersama. Semoga saja Anju tidak membuatku asing berada di keluarga ini," batin Naomi yang tersenyum. Senyum yang tidak tau artinya apa.
Dia hanya takut kehilangan kehangatan dari keluarga Brian yang tidak di dapatkannya. Ibunya meninggal saat dia masih SMA. Sementara sebelum itu Naomi adalah anak broken home dan ayahnya yang suka main perempuan.
Dia anak ke-2 yang memiliki kakak laki-laki yang tinggal di Luar Negri. Namun sang kakak sangat cuek sejak dulu sehingga Naomi tidak merasakan sosok sebagai kakak.
Karena keluarganya yang tidak sesempurna Brian membuat Naomi menjadi orang yang tertutup. Namun dia hanya terbuka pada keluarga Brian. Kayra teman ibunya yang juga sudah berusahalah merawat ibunya dengan penyakit tumor ganas yang membuat sang ibu pergi.
Semenjak kematian sang ibu. Naomi hanya tinggal sendiri di Apartemen. Tetapi keluarganya Brian sangat menyayanginya. Makanya Naomi masih punya tempat yang di anggap keluarga. Tetapi sekarang hal itu mulai di rasakannya. Jika takut pendamping Brian nanti akan membuatnya asing.
*******
Restaurant.
Brian baru sampai di Restaurant tempat dia dan Anju janjian. Brian langsung menghampiri Anju yang sudah datang terlebih dahulu.
"Anju!" tegur Brian.
"Hay Brian," sahut Anju dengan tersenyum.
"Aku tidak terlambat kan?" tanya Brian dengan menaikkan alisnya. Merasa sombong karena datang tepat waktu.
Brian tersenyum lalu duduk di depan Anju.
"Aku memang sengaja mengingat untuk kita bertemu dan berusaha untuk tidak terlambat. Padahal hujan deras dan kamu tau sendiri aku paling mager kalau keluar hujan-hujan seperti ini. Tetapi demi kamu agar tidak marah padaku. Jadi aku berusaha untuk mu," ucap Brian.
"Terima kasih Brian untuk usaha kamu. Kamu mencoba untuk memperbaiki diri," ucap Anju yang pasti senang.
"Sama-sama. Aku melakukannya untuk kamu. Agar kamu tidak marah lagi pada ku," " sahut Brian. Anju hanya tersenyum saja.
"Hmmm kamu sudah pesan makanan?" tanya Brian yang melihat meja itu masih kosong.
"Belum. Aku menunggu kamu," jawab Anju.
"Baiklah kita pesan," sahut Brian. Anju menganggukkan kepalanya dan Brian terlihat memesan makanan yang berbicara dengan pelayan. Namun Anju terus melihat ke arah Brian dengan wajah senduhnya.
"Selama kita saling mengenal aku baru pertama kali melihat effort kamu Brian," batin Anju sedikit terharu dengan sikap Brian.
"Bentar lagi pesannya akan datang," ucap Brian. Anju hanya mengangguk saja.
__ADS_1
Tidak lama akhirnya pesanan mereka pun saya dan mereka makan bersama dengan pesanan yang sudah mereka pesan.
"Oh iya Anju kenapa kamu mengajakku makan. Kamu bilang ingin bicara serius?" tanya Brian di tengah makan itu membuka obrolan sembari makan.
"Iya aku memang ingin bicara serius," jawab Anju.
"Sama aku juga ingin bicara serius pada kamu," sahut Brian mode serius
Anju tersenyum dan meneguk air putih.
"Katakanlah apa yang ingin kamu katakan? Apa aku duluan?" tanya Brian.
Anju masih diam yang belum merespon ucapan Brian.
"Baiklah aku saja yang duluan. Jika aku...." omongan Brian terputus ketika Anju meletakkan kartu undangan di samping piring Brian.
"Apa ini?" tanya Brian yang sembari makan dan hanya melihat sekilas undangan berwarna gold tersebut.
"Kamu mengajakku bertemu ingin mengajakku kondangan bersama. Memang siapa yang menikah?" tanya Brian heran.
Anju diam saja dengan melihat ke arah Brian terus.
"Aneh sekali kamu. Jangan bilang yang serius yang ingin kamu katakan ini. Masa iya kita makan malam hanya untuk mengajakku kondangan. Kamu itu lucu sekali Anju," ucap Brian sembari tertawa.
Dan Brian pun melihat kembali undangan tersebut. Nama calon pengantinnya terbaca oleh Brian.
Anju & Danesh.
Melihat hal itu membuat Brian menoleh ke arah Anju dan Anju masih menatap Brian. Wajah Brian yang tertawa tiba-tiba menjadi datar.
"Kamu menikah?" tanya Brian dengan suara pelan yang ingin memastikan.
"Iya," jawab Anju.
Uhuk-uhuk-uhuk-uhuk.
Brian langsung terbatuk yang tersedak dengan makanan. Karena kaget dengan pernyataan Anju yang akan menikah.
"Kamu jangan bercanda Anju," sahut Brian sembari meneguk air putih untuk meredam tenggorokannya. Brian menghentikan makannya dan mengendalikan tenggorokannya yang gatal.
"Aku tidak bercanda," sahut Anju dengan wajah seriusnya.
Brian yang merasa hal itu serius melihat undangan itu kembali. Membukanya dan melihat dengan jelas ada foto Anju dan Danesh dalam undangan itu saat melakukan prewedding.
__ADS_1
"Apa-apaan semua ini?" tanya Brian dengan serius. Tadi dia tertawa-tawa. Sekarang wajahnya serius dan di meja itu terjadi ketegangan di antara keduanya.
Bersambung