BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)

BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)
Tidak bisa marah pada adik kecil ini


__ADS_3

Audric pulang lebih cepat karena belum mendapatkan kabar apapun dari Aera. Gustav juga tidak tahu kemana Aera dibawa pergi.


"Dia belum kembali!" marahnya.


"Apakah saya perlu menghubungi tuan Adolf, Tuan? Ponsel Nona Aera tidak aktif ketika saya mencoba menelepon satu jam yang lalu."


"Tidak, aku sendiri yang akan menghubunginya."


Audric menelepon kenomor Adolf. Tidak butuh waktu lama, Adolf menjawab panggilannya.


"Maafkan aku, Adolf. Tapi aku tidak bisa menghubungi adikku. Dia masih bersamamu?"


Begitu mendengar jawaban Adolf, rahang Audric langsung mengeras. Dia hampir tidak bisa menahan dirinya.


"Aku mengerti," jawabnya sebelum mematikan sambungan.


'Sial! Apa yang mereka lakukan dihotel? Ini berbahaya, bagaimana kalau Adolf menyadari bahwa Aera bukan adikku.'


Audric memijit keningnya. Dia kawatir Aera ketahuan dan bisa membahayakannya. Terlihay jelas, Audric lebih mencemaskan keselamatan Aera dari pada kegagalan rencananya.


"Aku akan menjemputnya. Siapkan air hangat untuk dia mandi saat kami kembali."


Gustav tidak sempat bertanya ketika Audric langsung pergi lagi. Hari mulai gelap dan dia juga pergi tampa supir.


.


Adolf dan Aera sedang makan malam direstoran hotel ketika malam mulai datang. Adolf bahkan menyiapkan pakaian ganti untuknya setelah dia dibawa kehotel. Aera tidak punya pilihan selain menuruti keinginannya, dia memegang rahasia mereka dan Aera tidak ingin keadaan menjadi lebih buruk. Dia tidak ingin pengobatan neneknya terhenti.


"Apa makanannya sesuai dilidahmu?"


"Hmm, ini enak!" jawab Aera.


Adolf berdehem pelan. Aera meliriknya sedikit sebelum fokus pada makanannya lagi. Dia yakin Adolf ingin membicarakan hal serius lagi.


"Aera, aku benar-benar tidak ingin membuatmu takut. Jadi tolong percaya padaku. Aku sedang menyelidiki keberadaan Luisa juga. Tapi aku selalu menemui halangan. Seolah dia sangat terlindungi."


Aera tidak tahu pembicaraan ini mengarah kemana, tapi dia menunjukkan keseriusan dalam mendengarkan perkataan Adolf.


"Jika aku atau Audric belum menemukannya sampai hari pernikahan kita, apa yang akan kamu lakukan?"


Aera menunduk, dia juga tidak tahu jawabannya. Dia ingin mempercayai Audric. Tapi saat seperti ini, apakah Audric bisa membantunya? Kontrak mereka bisa saja berubah ketika dia mengetahui kalau Adolf mengetahui rencananya.


"Aku... Aku tidak tahu."


"Aku tahu kamu kawatir. Tapi bisakah kamu percaya padaku?"


Aera mengangkat kepalanya. Mempertanyakan pernyataan itu lewat tatapan matanya.


"Apa Audric memberimu uang untuk melakukan ini? Apa kamu mendapat sejumlah properti atau dia mengancammu?"


"Itu... Itu karena nenekku."


"Nenekmu? Kenapa nenekmu? Dia menyekap nenekmu?"


Aera tidak tahu kenapa Adolf langsung berpikiran buruk seperti itu. Tapi didalam hati kecilnya, dia tidak menerima pikiran buruk seperti itu tertuju pada Audric.


"Tidak! Audric membantu biaya pengobatan nenekku. Dia berjanji akan memberikan pengobatan terbaik sampai nenek sembuh."

__ADS_1


Adolf terdiam sesaat, bukan karena alasan Aera itu. Tapi karena nada bicaranya yang terlihat kesal.


"Oh, jadi demi nenekmu? Bagaimana kalau aku yang akan membiyayainya? Keluar dari perjanjian itu dan berada dipihakku, Aera. Aku tidak tahu apa kamu menyadarinya selama tinggal dengan Audric. Tapi dia bukan pria baik. Tangannya sudah kotor bahkan sebelum dia menjadi kepala keluarga. Aku menghawatirkan keselamatanmu."


Aera juga kadang-kadang takut pada Audric. Tapi sejauh ini, Audric memperlakukannya dengan baik. Dia tidak yakin Audric akan menyakitinya. Tapi secara akal sehat, dia juga tidak bisa mengabaikan perkataan Adolf. Tapi, sampai detik ini. Aera masih ingin menjaga kepercayaannya pada Audric, mereka memiliki kontrak dan dia tidak bisa pergi begitu saja.


"Aku akan memikirkan perkataanmu. Tapi untuk saat ini..."


"Lui?"


Keduanya menoleh, Audric berdiri dua langkah dari tempat duduknya. Dia terlihat letih dan sedikit berantakan. Aera langsung berdiri, sentara Adolf menatapnya dengan seringai kecil dibibirnya.


"Kenapa kakak ada disini?"


"Kamu kemana saja? Kenapa ponselmu tidak aktif?"


Aera memeriksa ponselnya, masih menyala. Tidak mati sama sekali. Tapi ketika dia memeriksa lebih teliti, ternyata ponselnya berada dalam model pesawat. Seketika dia langsung menoleh pada Adolf yang tersenyum lebar.


'Pasti saat aku tertidur. Untuk apa dia melakukan hal konyol seperti ini?' gerutunya.


"Maaf kak, sepertinya tidak sengaja mode pesawat. Tadi kami asik memancing jadi..."


"Ayo pulang, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan." potong Audric dan mengarang alasan untuk membawa Aera pergi dari sana. Setelahnya, dia menatap Adolf dengan tajam. "Lain kali, aku harap kamu tidak mengajaknya keluar terlalu lama. Bagaimanapun aku menghawatirkan keselamatan adikku satu-satunya."


"Maaf Ric, aku hanya ingin kencan yang romantis. Kamu tidak mempercayaiku untuk perlindungannya? Aku tidak tahu sekarang kamu sangat peduli pada Lui."


"Aku juga tidak tahu kalau kamu jadi tipe agresif akhir-akhir ini. Bukankah ini hanya pernikahan bisnis? Kamu terlihat sangat serius sekarang." balas Audric.


Ketegangan jelas terjadi antara mereka berdua. Tidak ada keramahan palsu yang biasa mereka tunjukkan. Aera yang bingung memegang lengan Audric dengan pelan.


"Adolf, aku akan pulang bersama kakakku. Terima kasih untuk hari ini."


"Hati-hati dijalan dan tolong kirim pesan saat kamu sampai dirumah."


"Ya, sampai jumpa." jawab Aera.


Dia berjalan duluan karena mulai takut dengan aura Audric yang semakin terasa menyeramkan. Meski tidak mengatakan apa-apa, tapi tatapan Audric pada Adolf terlihat sarat akan ketidak sukaan. Dia seperti menahan dirinya untuk kemarahan yang dia sendiri tidak tahu kenapa sampai sebesar itu.


Di dalam mobil, Audric masih diam saja. Aera juga takut menanyakan alasan kemarahannya. Bukankah dia harus berperan jadi tunangan Adolf. Menagapa pergi lama dengannya menjadi masalah?


"Ric, apa kamu marah karena aku tidak bisa dihubungi? Maafkan aku, aku tidak sadar..."


"Diamlah," potong Audric dingin.


Aera menunduk, tiba-tiba hatinya berdenyut nyeri sekali. Dia tidak tahu artinya rasa sakit itu, tapi yang ia yakini, dia tidak suka dengan sikap Audric yang seperti ini.


Sesampainya mereka dirumah, Gustav segera menyambut mereka. Memberitahukan bahwa air panas untuk mandi keduanya telah siap dikamar masing-masing.


Tampa banyak bicara, Audric segera pergi menuju kamarnya. Meninggalkan Aera yang menatap punggungnya dengan wajah sedih.


"Nona, sebaiknya Anda juga segera mandi."


.


Aera tertidur di dalam kamar mandi. Dia bersandar di pinggir bath menggunakan handuk. Karena terlalu nyaman dan lelah, tampaknya dia tidak sadar telah tertidur. Pelayan yang menyiapkan bajunya diluar tampak kawatir karena dia sudah terlalu lama di dalam.


"Nona, Nona Lui?"

__ADS_1


Aera tertidur, jadi tentu saja dia tidak menjawab panggilan itu. Ketika pelayannya mulai panik karena pintu dikunci dari dalam, Gustav datang untuk menyampaikan kabar bahwa satu pelajarannya akan ditiadakan besok. Melihat kepanikan pelayan itu, dia ikut menggedor pintu.


"Sudah berapa lama?"


"Sudah lebih dari 30 menit. Nona juga biasanya tidak mengunci pintu jika berendam. Kecuali dia sedang mandi, tapi dia juga tidak menjawab panggilan. Bagaimana kalau terjadi sesuatu."


Gustav segera berlari keluar, dia pergi menuju lantai tiga dimana ruang penyimpanan seluruh kunci cadangan rumah berada. Dengan panik dia memeriksa setiap kunci yang tergantung. Ketika menemukannya, dia kembali turun kebawah.


Ditengah perjalanan, dia berpapasan dengan Audric. "Tuan, Anda ingin makan malam?" Bisa-bisanya dia malah bertanya hal itu ditengah kepanikannya.


"Ada apa dengan ekspresimu? Kunci cadangan ruang mana yang kamu pegang?" tanya Audric.


"Nona tidak menjawab panggilan pelayan dan saya. Dia masih di dalam kamar mandi."


"Apa?"


Audric segera berbalik dan berlari menuju kamar Aera. Dia ikut menggedor pintu setibanya disana. Ketika Gustav telah menyusulnya, dia langsung mengambil kunci ditangan Gustav dan membuka pintu.


"Aera!"


Tampa sadar, dia meneriakkan nama Aera di depan pelayan lain. Tapi tampaknya pelayan itu tidak menyadarinya karena dia menunggu diluar. Gustav segera menyuruhnya menyiapkan handuk kering.


Audric menatap wajah tidur itu dengan perasaan campur aduk. Dia mengusap wajahnya dengan kasar sebelum berjongkok dan memeriksa apakah Aera hanya tidur atau pingsan.


Ketika dia tahu Aera tertidur, dia memijit pangkal hidungnya dengan wajah frustasi. Kelakuan Aera yang teledor seperti ini benar-benar membuatnya cemas. Audric tidak tahu kapan Aera akan terkena masalah jika seperti ini.


"Bagaimana kalau kamu bergerak dan merosot kedalam air ini?"


Suara Audric sangat pelan, tapi Gustav yang berdiri dengan handuk kering ditangannya bisa mendengarnya dengan jelas. Dia melihat wajah cemas Audric dengan ekspresi yang seolah telah memahami apa yang terjadi dengan tuannya itu.


"Berikan handuknya dan kalian bisa keluar." perintahnya.


Gustav mengangguk dan segera keluar bersama pelayan tadi. Audric segera membalut badan Aera dan mengangkatnya keluar. Ajaibnya, Aera benar-benar tidak terbangun. Dia malah menggerutu dengan suara tidak jelas. Seolah Audric mengganggu tidurnya.


Tangannya bahkan tampa sengaja menampar pelan wajah Audric ketika ia dibaringkan di sofa panjang disana. Audric segera mengganti handuk basah itu dengan baju handuk dalam sekali gerakan cepat. Saat itulah, Aera akhirnya terbangun.


"Akhirnya kamu bangun juga. Tidurmu nyenyak?"


Aera yang setengah sadar tidak menjawab. Dia hanya menatap wajah di hadapannya itu dengan bingung. Sampai Audric mengangkat dan membaringkannya dikasur, barulah ia tersadar secara penuh.


"Huh? Aku tertidur?"


Audric menghela napas. Kemarahannya karena kepergian Aera dan Adolf yang begitu lama tiba-tiba menguap begitu saja. Dia mengusap kepala Aera dan mengusap keningnya dengan ibu jarinya.


"Tidurlah lagi, kamu pasti kelelahan sehingga menciptakan kehebohan ini."


Aera tidak mengerti karena efek linglung bangun tidur, tapi benar kata Audric bahwa dia memang masih mengantuk. Berendam membuat tubuhnya terasa lebih ringan dan menimbulkan efek mengantuk yang luar biasa padanya. Ditambah usapan lembut tangan besar Audric dikepalanya. Membuat matanya tertutup lagi.


"Bagaimana kecerobohan ini bisa sangat menarik dimataku?" bisik Audric pada dirinya sendiri.


Matanya menatap setiap fitur wajah Aera. Tampa sadar, usapan tangannya beralih pipi Aera, lalu perlahan, usapan itu berakhir dibibir Aera. Ada gejolak luar biasa dalam dirinya yang seperti ingin melompat keluar. Menabrak batas yang ia buat dan membunuh rasionalitasnya.


Ketika tersadar, Audric menarik tangannya kembali. Dia menarik selimut dan menyelimuti Aera dengan benar sebelum keluar dari kamar itu. Jantungnya berdetak dengan kuat.


'Aku terlalu terbawa suasana. Dia hanyalah pengganti adikku untuk sementara.'


Audric masih menolak apa yang hatinya rasakan. Otaknya menolak fakta bahwa dia mulai tertarik dengan adik palsunya itu.

__ADS_1


.


__ADS_2