BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)

BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)
Gagal kabur


__ADS_3

Aera termenung ditengah malam karena memikirkan perkataan Yohanes. Orang yang baru ia kenal dan menawarkan bantuan padanya. Meski Aera tidak mempercayainya, dia tetap memiliki keinginan untuk mencoba. Tidak ada satupun yang bisa membawanya keluar dari sana kecuali bekerja sama dengan orang dalam.


Aera bahkan tidak hapal jalan disana, dia juga dikabarkan menempati paviliun paling dalam. Tempat yang paling jauh dari jalan keluar. Yohanes mengatakan dia mengetahui jalan rahasia. Tapi imbalan yang diminta pria itu sangat aneh, Aera bahkan tidak mengerti maksud dari permintaannya.


Aera menoleh ketika dia mendengar ketukan dua kali di depan pintunya. Dia segera membukanya karena tahu siapa yang datang.


"Bagaimana? Sudah memikirkannya?"


Yohanes mengulurkan jaket hitam besar dan masker. Artinya Aera harus menerima itu jika menyetujui rencananya.


"Apa benar imbalan yang kamu minta hanya jalan-jalan seharian? Kamu tidak akan menjualku atau melakukan hal buruk?"


"Hmm? Kenapa aku harus melakukan tindakan kriminal seperti itu? Aku ini masih muda, bagaimana aku bisa merusak masa depanku?"


.


Jadi, disinilah mereka. Sudah lewat tengah malam dan berada di sebuah hotel yang terletak di pinggir pantai. Yohanes memesan kamar untuk dirinya sendiri, setelah itu Aera yang menunggu di area tersembunyi keluar ketika mereka akan memasuki kamar.


"Kamu yakin tidak akan ketahuan orang-orang Audric atau orang tuamu, kan?" tanya Aera, ketika mereka ada di depan pintu.


"Entahlah, Kamu suka main kucing-kucingan?" jawabnya, melihat reaksi Aera yang memasang wajah datar, dia terkekeh pelan. "Tetaplah pakai masker dan jaket itu, lalu jangan terlalu banyak bicara di sekitar orang banyak. Kamu hanya menguasai bahasa Inggris disini, itu akan memunculkan kecurigaan jika mereka ada disekitar kita."


"Tapi kenapa kamu tidak menutupi wajahmu?"


Mereka masuk ke dalam kamar, Aera langsung duduk. Meski baru kenal, Aera tidak merasakan hal-hal buruk dari Yohanes. Meski sikap dan cara bicaranya yang suka seenaknya, Aera bisa merasakan atmosfir yang bersahabat darinya.


"Ah... Aku lelah. Lorong rahasia itu kenapa sangat panjang." keluh Yohanes, dia menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Mengabaikan pertanyaan Aera dan dia langsung menutup matanya begitu saja.


"Wah, dia sungguh tidur?" tanya Aera dengan ekspresi tidak percaya.


Terbersit dalam pikirannya untuk kabur saat itu, namun ketika dia mulai melangkah ke arah pintu, suara rendah Yohanes menghentikan langkahnya.


"Jangan berani kabur tampa persetujuanku. Orang-orang bodoh itu mungkin saja ada diluar."


Aera berbalik, Yohanes masih dalam posisi yang sama. Berbaring dikasur tampa melepas sepatu dan menutupi wajahnya dengan satu lengan.


"Siapa mereka?"


"Entahlah, karena banyak yang menginginkanmu."


Setelah itu Yohanes menyeringai. Aera mengurungkan niatnya, bukan karena percaya padanya. Tapi dia hanya harus waspada. Bagaimana kalau benar ada yang mengincarnya, orang Luisa atau Audric?


Matahari sudah terbit dua jam yang lalu. Aera mencium aroma kopi yang sangat enak. Dia yang duduk di sofa panjang kamar, langsung duduk ketika mendengar langkah kaki mendekatinya.


"Sudah bangun? Mandilah, setelah ini kita akan jalan-jalan. Sorenya, setelah melihat matahari tenggelam, aku akan membantumu kabur. Tapi, kita harus berhati-hati agar penyamarannya tidak terbongkar. Saat ini, kekasihmu pasti sudah mulai mengacak-acak seisi kota."


Aera sempat kawatir karena dia lupa mengemas baju ganti. Toh saat dibawa ke istana presiden dia tidak membawa apapun.


Seperti memahami kekawatirannya, Yohanes mengambil sebuah paper bag dari lemari dan memberikannya pada Aera.


"Pakai itu, aku memesannya untukmu."


"Kapan kamu..."


"Jagan kawatirkan hal yang tidak perlu."


Aera akhirnya memilih mandi saja. Lagi pula pria yang bersamanya itu bukan pria biasa. Jadi dia tidak ingin memusingkan masalah teknis.


Selesai mandi, Aera memperhatikan penampilannya di depan kaca kamar mandi. dres selutut tampa lengan dengan bahan yang lembut. Setelah memasukkan semua baju kotornya di dalam paper bag, dia akhirnya keluar.


Mengabaikan rasa malu dan canggung, Aera berjalan ke depan kaca dan merapikan rambutnya. Dia tidak membawa peralatan apapun, rambut panjangnya yang ia sanggul saat mandi kini tergerai dengan indah. Dia menjadikan jari-jarinya sisir alami untuk merapikan rambutnya.


Yohanes, yang sedang duduk santai di sofa kini menatap Aera yang masih berdiri di depan kaca. Sorot mata yang sulit diartikan, bahkan saat Aera menyadari tatapannya lalu menoleh, dia tidak mengalihakan tatapannya seolah apa yang ia lakukan adalah hal normal.


Tentu saja hal itu membuat Aera tidak nyaman, dia segera duduk di hadapan Yohanes yang masih mengikuti pergerakannya.


"Apa yang kamu lihat? Apa kamu sadar tatapanmu itu tidak sopan?"


Yohanes menarik sedikit sudut bibirnya. Tidak mempedulikan perasaan tidak nyaman Aera.


"Aku rasa aku memahami perasaan Audric. Dia pasti sangat frustasi selama ini."


Perkataan yang memikiki makna ambigu. Aera sama sekali tidak mengerti. Setelah mengatakan hal itu, Yohanes mengambil paper bag disampingnya dan berjalan ke samping Aera.


"Berdiri." suruhnya.


"Apa yang kamu..."


Yohanes mengelurkan mantel bulu yang indah. Lalu mengeluarkan topi dan sebuah kaca mata. Tidak lupa sebuah masker, dia memasangkannya sendiri pada Aera.


"Ayo pergi," ajaknya.


"Tunggu, pakaian kotorku."


"Tinggalkan saja atau buang ke tong sampah. Kenapa kamu harus membawa itu?"


Belum sempat Aera merespon, Yohanes mengambil paper bag ditangan Aera dan memasukkannya ke dalam tong sampah sambil lewat. Membuat Aera sedikit syok dan kesal. Namun karena tidak ingin membuat masalah pada orang yang akan membantunya kabur, dia diam saja.


Setelah sarapan, mereka pergi menuju alun-alun kota. Berjalan tidak tentu arah, Aera hanya mengikutinya saja.


Ketika mereka memasuki sebuah katedral, Aera berhenti di depan pintu masuk. Sedikit ragu untuk masuk karena banyak sekali pengunjung di dalam.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan?"


"Ta-tapi banyak sekali orang."


"Lalu?"


"Aku akan menunggu diluar."


Tapi ketika Aera berbalik, Yohanes langsung menarik tangannya. Membawanya menuju pinggir bangku, terus menerobos ke dalam dan berbelok masuk kesebuah pintu.


"Kenapa kamu memba..."


"Anda datang berkunjung, Tuan Yohanes?"


Mereka dihampiri oleh dua pendeta. Memberi salam pada Yohanes seolah mereka sudah lama saling mengenal.


"Ya, aku harap tidak mengganggu. Aku hanya akan istirahat sebentar karena lelah."


"Tidak masalah, Anda bisa istirahat ditempat biasa. Apa saya perlu memberitahukan kedatangan Anda pada pendeta Marcus?"


"Tidak peru, kami hanya sebentar. Adikku sedikit lemah, jadi dialah yang harus istirahat."


"Baiklah, kami permisi."


Aera baru menyadari sikap datar dan dingin Yohanes ketika dia berinteraksi dengan dua pendeta itu. Karena sejak kemarin sikapnya terlihat acuh tak acuh dan seenaknya, Aera pikir dia hanyalah pemuda yang sedang ingin bermain.


Nyatanya, mereka tidak keruangan istirahat yang disebutkan Yohanes. Aera malah dibawa menuju sebuah lorong yang menghubungkan mereka pada jalan keluar lain. Menyadari ada yang tidak beres dengan situasi mereka, Aera akhirnya bertanya.


"Apa kamu sedang menghindari sesuatu?"


"Bukan aku tapi untukmu. Seseorang mengikuti kita sejak tiba disini."


"Apa dia orangnya Audric?"


"Sepertinya bukan, kalau Audric, pria itu pasti sudah menyeretmu begitu tahu lokasi kita."


Mereka masuk kedalam sebuah taksi. Lalu menyebutkan tempat yang selanjutnya ingin ia datangi.


"Lalu siapa?" tanya Aera begitu taksi mulai berjalan, melanjutkan pembicaraan sebelumnya.


"Entahlah, mungkin orang yang menginginkan nyawamu."


"Apa?"


Tentu saja Aera kaget. Dia tidak menyangka Yohanes akan hal itu, apalagi dengan wajahnya yang sangat santai itu.


"Jangan kawatir, aku kan bersamamu. Karena itu jangan jauh-jauh dariku."


Tuduhan itu membuat raut wajah Yohanes sedikit dingin.


"Aera, apa kamu tidak sadar banyak pihak yang ingin kamu mati?"


Seketika Aera merinding. Dari mana Yohanes bisa mengatakan hal yang mengerikan seperti itu?


Selama ini yang mengancamnya hanya Luisa. Apa Luisa yang mengirim orang-orang itu karena kedatangan Audric padanya?


"Apa maksudmu?" tanya Aera pelan.


"Selain Luisa, saat ini paman mereka juga telah mengetahui keberadaanmu. Setelah Audric menyebutkanmu sebagai wanitanya, tidak sulit baginya untuk tahu identitasmu. Luisa hanya salah satunya, aku tidak tahu kenapa dia membencimu. Tapi mendengar hubungan darah kalian dari ibuku, aku pikir aku memahami kebenciannya padamu. Melenyapkanmu pasti akan membuatnya puas. Karena dia membenci ikatan yang menghubungkannya dengan sesuatu yang dianggapnya rendah."


"Ba-bagaimana kamu tahu hal itu?"


"Kamu tidak tahu? Orang tua kami bersahabat sejak masa remaja. Ibuku sering mengajakku pergi mengunjungi mereka. Atau Bibi yang sesekali mengunjungi kami. Mereka akan menghabiskan waktu berhari-hari hanya untuk bertukar cerita, jalan-jalan dan melakukan sedikit bisnis. Kami anak-anak hanya akan ditinggalkan dirumah untuk bermain satu sama lain."


"Jadi kamu teman mainnya?"


"Aku musuhnya." Yohanes menoleh padanya dan menyeringai kecil. "Kami sering bertengkar karena dia selalu angkuh. Aku membenci orang sepertinya."


"Ah... Begitu." sahut Aera.


Mereka sampai disebuah tempat dengan bangunan yang sama menariknya dengan sebelumnuya. Aera selalu mengagumi kota ini ketika dia tiba pertama kali kesana.


"Apa ini central de valman yang keren itu?" tanyanya dengan wajah penasaran.


"Seperti yang kamu lihat, ayo berburu kuliner. Dulu saat kecil aku tidak diizinkan ketempat ramai seperti ini. Saat besar aku juga dikurung terus untuk belajar. Ah... Ini kebebasan yang sesungguhnya." kata Yohnes, dia berbicara lebih pada dirinya sendiri.


Aera suka makan, tapi melihat orang ini senang tampa memikirkan apapun, membuatnya merasa sedikit iri. Dia mengingat neneknya yang belum sempat ia bahagiakan dengan kesuksesannya. Yang ada dia malah terus terlibat masalah.


"Ugh!"


Aera memundurkan kepalanya ketika Yohanes menyodorkan sebuah ayam goreng dilapisi tepung tepat di depan mulutnya.


"Isi perutmu, aku sedang meminta bayaranku, walau kamu tidak ingin pura-puralah senang dan bersemangat."


Dengan malas Aera mengambil potongan ayam itu dan memakannya sambil jalan. Sangat aneh banginya melihat cara Yohanes yang seolah hidup tampa aturan, padahal dia berasal dari keluarga yang terhormat.


"Kamu tidak kawatir dikenali? Bagaimana kalau ada yang mengambil gambarmu?" tanya Aera penasaran.


"Orang disini tidak akan berani melakukan hal itu, bahkan media harus mendapat izin jika ingin menerbitkan berita mengenai kami."


"Apa itu berlaku untuk seluruh daerah kekuasaan kerajaan Spanyol?"

__ADS_1


"Benar sekali, walau tidak ada undang-undang yang diterbitkan khusus bagi pelanggar, semua orang takut melakukannya karena mereka akan dieksekusi tampa pengadilan, bahkan jika mereka sedang tidur."


"Kejam sekali."


"Hahahaha!"


Yohanes tertawa terbahak-bahak. Namun ketika dia menyadari sebuah bahaya, dia langsung melempar bungkusan ayam ditangannya dan menarik Aera kedalam pelukannya.


"Ah, sial!" umpatnya.


Aera melebarkan matanya ketika melihat pergelangan tangan Yohanes teriris pisau. Tapi belum sempat dia mengatakan kekawatirannya, Yohanes mengajaknya berlari.


Seseorang jelas sedang mengejar mereka secara terang-terangan. Ketika mereka telah berada di luar area gedung dan masuk ke dalam gang sepi, Yohanes berhenti.


"Aku sungguh kesal kesenanganku diganggu begini." ujarnya sambil mengatur napasnya.


Dia melepaskan tangan Aera dan mendorongnya kebelakang punggungnya. Lebih banyak orang datang selain dua orang yang mengejarnya. Ada lima orang baru, semuanya memakai pakaian yang serba hitam.


"Kalian kenapa lama sekali sih!" kesal Yohanes.


Aera bingung, dia berpikir lima orang yang ada dibelakang pengejar mereka itu adalah teman-temannya. Namun begitu melihat rekasi Yohanes yang langsung menurunkan kewaspadaannya dan malah menunjukkan kekesalan, dia jadi paham apa yang terjadi.


"Maafkan kami, Tuan."


Dengan mudah dua orang itu berhasil ditaklukkan. Kini keduanya berlutut dengan tangan terikat mengahadap Yohanes.


"Hah! Jadi, siapa tuan kalian?" tanyanya.


Yohanes menendang rahang salah satu diantara mereka karena tidak segera menjawabnya.


"Sepertinya aku harus mengiris leher kalian, Jim!"


Seorang pria berbadan lebih kecil maju dan mengeluarkan pisau lipat. Dia meraba leher pria yang berlutut itu, ketika menemukan pembuluh darah arterinya, dia menempelkan mata pisaunya disana.


"Mm-Martell! Martell yang menyuruhku!"


"Hmm? Martell yang mana? Ada banyak Martell yang aku kenal."


"Ss-saya hanya dapat perintah dari orang yang mengaku orang dari Martell. Sa-saya tidak tahu Martell yang mana. To-tolong ampuni saya."


Yohanes tersenyum kecil, ekspresinya seolah mengatakan bahwa dia akan memberikan belas kasihnya. Tapi setelah itu, dia malah mengibaskan tangannya. Keempat orang tadi membawa kedua pria itu pergi, sementara satu dari mereka berdiri dihadapan Yohanes untuk menunggu perintah.


"Cari tahu Martell yang mana_ Oh, aku akan melanjutkan jalan-jalan. Lakukan seperti biasa, terlebih perhatikan wanita itu. Dialah yang mereka incar."


"Saya mengerti, Tuan." jawab pria itu.


Kejadian itu tentu saja membuat Aera syok. Terlebih ketika dia mendengar nama Martell. Pikirannya langsung tertuju pada Audric.


"Apa yang dipikirkan kepala kecil ini? Apa kamu sudah memahami apa yang aku katakan sebelumnya?"


"Audric ingin membunuhku, kan? Karena aku kabur lagi dia jadi marah dan gila!"


"Hah..." Yohanes menghembuskan napasnya, seakan tidak percaya Aera bisa mengatakan hal itu. "Kamu itu bodoh atau apa! Apa Martell itu hanya satu orang? Apa kebencian membuatmu jadi tumpul?"


Aera tersentak, pikiran buruk yang tadi terus memenuhinya setelah mendengar pengakuan orang tadi tiba-tiba terhenti. Dia mengedipkan matanya, seolah tersadar.


"Maaf, aku terbawa emosi karena begitu membencinya. Aku lupa kalau Luisa juga Martell."


"Cinta yang menjadi benci itu benar-benar menakutkan ya," sarkas Yohanes, "Tapi aku punya dugaan lain selaian ular itu. Kita akan tahu sebentar lagi." lanjutnya.


Mereka melanjutkan jalan-jalan. Tampaknya Yohanes tidak ingin melewatkan hari itu. Dia kini mengajak Aera menuju pantai.


"Aku ingin menikmati pantai sampai sore, lalu menyaksikan matahari tenggelam." kata Yohanes begitu mereka telah berada selama satu jam disana.


"Lalu kapan kamu akan membantuku pergi?"


'Jika tahu daerah sini dan punya uang ditanganku, aku tidak akan memerlukannya lagi. Semua uangku, dompet dan segalanya tertinggal di villa...'


Aera tersentak, dia baru saja menyadari kebodohannya.


"Kenapa aku baru teringat!" gerutunya.


"Ingat apa?"


"Oh, itu... Sebuah villa di dekat sini..." tapi begitu Aera melihat sekeliling lagi, dia tahu dia tidak ingat letaknya.


"Apa yang kamu kawatirkan?"


"Koper, dompet dan tasku. Semua barangku masih ada di villa."


"Semuanya sudah berada di dalam kamarmu di istana."


Deg!


Bulu kuduk Aera meremang. Dia kenal suara ini. Dengan cepat dia bangun dari duduknya, lalu berbalik.


"Ah, aku baru saja menikmati hariku dan kamu langsung merusaknya, Audric!" Yohanes ikut bangkit.


Jantung Aera terasa akan terlepas. Tubuhnya reflek mundur. Tangannya mengepal erat dengan mata yang melemparkan tatapan penuh kebencian.


Namun Audric hanya memasang wajah datarnya. Meski begitu, siapapun tahu bahwa kini ia sedang sangat marah. Tidak lama berselang, seluruh pengawal yang ditugaskan untuk mencari mereka juga tiba.

__ADS_1


__ADS_2