
Adolf memainkan pena yang berada di tangannya. Memutar-mutarnya sambil berpikir. Dia baru saja selesai berdiskusi dengan presiden dan dua mentri lain yang saling bersebrangan. Pemilihan dipercepat dan dia mendapat kabar buruk tentang hak suara dari negara bagian Bayern.
Paul eisner mengalami kerugian besar akibat sabotase oleh paman Audric. Hal itu menimbulkan kerugian besar pada pasar bisnisnya. Paman Audric menggunakan kekusaannya untuk menukar hasil produksi untuk bahan tekstil yang diproduksi oleh pihak rekanan mereka menjadi kualitas buruk . Sehingga produk mereka, memiliki kualitas yang buruk dan terpaksa ditarik dari pasaran.
Paul bahkan tidak tahu apa-apa sebelum produk keluar, dan Abert martell ada dibalik semua itu tampa menggunakan namanya. Sehingga mereka tidak bisa menuntut perisahaan atau keluarga Martell. Semua adalah hasil manipulasi dan sogokan yang tidak bisa dibuktikan walaupun benar.
"Aku dengar Audric bahkan tidak bisa berbuat apa-apa! Sialan!"
Adolf menggebrak meja sembari berdiri. Dia menatap lantai dengan pikiran yang amat kacau. Dia tidak ingin gagal. Ambisinya bukan hanya menduduki kursi kanselir, ada hal yang ingin ia lakukan setelah menduduki kursi itu.
Pintu ruangnnya diketuk dua kali. Harry muncul disana dengan wajah penuh beban.
"Nyonya Luisa ingin menemui Anda."
Sekilas Adolf sudah akan tersenyum ketika dia mengira itu adalah Aera. Namun ketika Harry menyingkir, wajah dingin Luisa muncul disana. Berdiri dengan tatapan sinis lalu masuk begitu saja.
"Aku tidak tahu apakah sebagai istrimu aku tetap harus mendapatkan izin untuk masuk." Luisa duduk dengan tenang di depan meja Adolf.
Adolf kembali duduk. Dia merutuki wanita dihadapannya ini. Dia nyaris kehilangan kesabarannya dan kini Luisa datang secara tiba-tiba. Pertemuan dengan Luisa tidak akan berakhir baik setelah semua kejadian ini.
"Apa maumu? Aku tidak ingat kita punya janji untuk bertemu."
"Aku punya sebuah penawaran."
Adolf menatap Luisa dengan tatapan menelisik. Wanita dihadapannya tidak bisa ditebak dengan mudah. Karena Adolf belum tahu keinginan dan tujuan Luisa sebenarnya.
"Aku akan menjadi Luisa istrimu, menjalankan semua peran dan memberikan pengaruh yang kuat selayaknya Luisa Martell. Sesuatu, yang tidak bisa wanita palsu itu lakukan."
Tentu saja Adolf terkejut. Namun dia tahu ada hal yang akan ia bayar untuk kesediaan wanita ini.
"Sejak awal ini adalah rencana kalian yang ingin menipuku. Jadi, apa alasanmu saat itu sehingga membuat orang lain menjadi dirimu?"
"Ah... Itu? Aku yakin kamu tidak ingin mendengarnya. Alasan konyol kekanakanku."
Jawaban yang seakan mengindiksikan bahwa wanita dihadapannya tidak akan menjawab pertanyaannya dengan benar.
"Jadi, penawaran apa yang kamu ajukan?"
Luisa tersenyun tipis sebagai tanda permulaan yang bagus.
"Aku sudah membuat perjanjian dengan kakakku, bahwa aku akan menjalankan peranku sebagai istrimu. Sebagai bentuk pembatalan janji, dia hanya menyita satu aset milikku, sehingga kerugian akibat paman kami bisa dibayarkan pada perdana mentri Bayern, aku akan meminjamkan dana pribadiku."
"Lalu?"
"Kakakku, menjadi lemah setelah bertemu wanita itu. Jadi, aku ingin mengembalikan dia ketempat asalnya."
Tentu saja reaksi Adolf seperti yang diperkirakannya. Luisa menarik ujung bibirnya sepersekian detik hingga nyaris tak terlihat. Adolf, menununjukkan reaksi yang menandakan bahwa dia tidak setuju.
"Kamu yang memulai semua ini."
"Aku tahu! Dan aku menyesal karena tidak memperhitungkan kakakku yang akan jatuh cinta padanya. Ck!" decakan terakhirnya membuat Adolf menghembuskan tawa remeh.
"Kamu cemburu karena kakakmu bisa menunjukkan kasih sayangnya pada seseorang, sementara padamu dia masih sangat dingin, Luisa, kamu berbeda dengannya."
Perkataan itu seakan menyulut bara yang ada di hatinya. Luisa menatap Adolf tajam, menunjukkan ketidak sukaannya.
"Jangan membandingkan aku dengan darah rendahan sepertinya, Adolf. Lagi pula, aku tahu kamu juga tertarik dengan gadis bodoh itu, kan? Kamu tidak akan dirugikan, kamu bahkan bisa mendapatkannya."
__ADS_1
"Benarkah? Kamu menyetujuiku untuk berselingkuh?"
"Jangan bertindak seolah kita pasangan nyata. Itu menggelikan!" balas Luisa jengkel.
"Jadi, apa yang akan kamu lakukan?"
"Seperti yang aku katakan, mengirimnya ketempat asalnya."
"Audric akan membawanya kembali. Bagaimna kamu bisa mengabaikan kakakmu sendiri, dia bahkan tidak membiarkanku leluasa menemui Aera."
"Kamu berpikir kakakku tahu tempat asalnya?"
Adolf mengernyit, dari pertanyaan itu, dia tahu Luisa mengetahui segalanya tentang Aera yang selama ini berusaha ia gali.
"Jadi kamu sudah tahu asal usulnya? Dimana itu?"
"Spanyol, bukankah kamu hanya butuh beberapa jam untuk terbang kesana dan menikmati waktumu saat libur dengannya?"
"Bagaimana... Bagaimana bisa dia lahir disana?"
Melihat keterkejutan Adolf, membuat Luisa tersenyum lebar.
"Aku akan memberitahumu saat kita telah tinggal bersama, suamiku."
'Wanita ini, benar-benar gila dan licik.'
.
Setelah menemui Adolf, Luisa kini berdiri di depan pintu sebuah rumah sewa yang sangat sederhana. Tentu saja dia tidak sendiri, Gustav dan satu pengawal selalu bersamanya. Meski kedua orang itu hanya akan menunggunya dari jarak aman.
Ketika pintu dibuka setelah diketuk dengan ketukan yang banyak. Sampai-sampai Luisa merasa sangat kesal karena dia tahu Aera ada di dalam.
"Untuk apa kamu kesini?" tanya Aera cepat.
"Tentu saja bicara denganmu."
Aera langsung menyingkir dari pintu ketika Luisa menerobos masuk ke dalam. Melihat mejanya yang berantakan karena dia sibuk mengerjakan tugas kuliahnya, Luisa menarik ujung bibirnya.
"Mahasiswa yang sangat rajin." sarkas Luisa sambari duduk di satu-satunya sofa panjang disana.
Aera menarik bangku lain dan duduk di hadapannya.
"Apa maumu?" tanya Aera, dia tidak ingin basa basi.
"Senang kamu tidak merengek lagi tentang siapa orang tuamu." lagi-lagi Luisa mengejeknya karena pertemuan pertama mereka saat itu. Dimana Aera menginginkan banyak informasi darinya. "Kedatanganku kesini, untuk mengajukan penawaran."
"Penawaran?" ulang Aera pelan.
"Kamu ingin kembali ketempat asalmu bukan?"
"Tentu saja."
"Bagus, kamu bisa menjadi darimu sendiri mulai sekarang. Aku memutuskan akan menjalankan hidupku dengan baik. Bayaran dari kami sudah cukup untuk kamu melanjutkan pengobatan nenekmu bukan? Tapi... Aku akan tetap membantumu dari yayasan amal keluarga jika kamu masih miskin. Asal... Kamu pergi dari kehidupan kakakku, uang bukan masalah untukku."
Aera terdiam cukup lama. Mencerna setiap perkataan wanita di depannya. Wanita yang sangat mirip dengannya dan baru ia ketahui memiliki hubungan darah dengannya.
"Kenapa kamu tiba-tiba..." Aera ragu untuk melanjutkan pertanyaannya. Jika dia menduga dengan benar saat ini, itu artinya dugaan Audric salah tentang tujuan Luisa sebenarnya. "Apa kamu mengira aku dan Audric memiliki hubungan?"
__ADS_1
"Walaupun tidak resmi, kenyataannya aku tidak suka perubahan kakakku. Kamu, adalah pengganggu yang tidak aku prediksi. Jadi selayaknya pengganggu, kamu harus disingkirkan."
'Dia mengatakannya dengan sangat kasar. Sangat blak-blakan! Sebelumnya dia juga kasar, tapi dia memilih bahasa yang terlihat seperti seorang bangsawan. Kenapa saat ini dia seperti semakin membenciku dari sebelumnya?'
"Kamu tidak memahamiku?"
Aera tersentak, dia merutuki dirinya yang malah penasaran akan kepribadian Luisa. Dia menghembuskan napas pelan. Entah kenapa dia seperti melihat sosok adik yang mainannya telah ia rebut.
'Mungkin karena aku tahu dia saudaraku.' ujarnya dalam hati.
"Aku dan kakakmu tidak menjalin hubungan jika itu yang kamu takutkan. Walaupun dia mengatakan isi hatinya, tapi bukan bearti aku menerimanya begitu saja setelah apa yang kalian lakukan."
"Itu bagus, aku pikir kamu bodoh seperti wajahmu."
'Wajah kita mirip dan kamu menghina wajahku?' Aera benar-benar tidak habis pikir.
"Bagaimana kalau aku menolak?"
"Jangan serakah, kamu memiliki nenekmu yang kamu sayangi bukan? Bagaimana kalau dia mati tiba-tiba?" Luisa menberi jeda sejenak, "Meski kamu tetap disini, memang apa yang bisa kamu lakukan? Kamu tidak akan bisa memiliki kakakku. Dia sudah dijodohkan dengan anak seorang duke. Kalaupun kamu akan berada disisi kakakku, kamu hanya akan menjadi seorang simpanan. Itukah yang kamu inginkan?"
Aera tidak bisa membantah perkataan Luisa itu. Dia hanya bisa membenarkannya dalam hati. Alasan yang selalu ia gaungkan dalam kepalanya akan sikap Audric yang abu-abu sejak pernyataannya. Dia tidak pernah memberi label pada hubungan mereka.
'Apa aku salah paham akan pernyataan itu? Apa aku jadi berharap lebih? Meski aku menjaga jarak, bukankah harusnya dia memperjelasnya jika dia serius?' pikiran-pikiran negatif langsung menghantuinya.
Aera sadar siapa dirinya. Seseorang yang tiba-tiba ditarik paksa dan diperlakukan selayaknya seorang putri. Dengan pelayanan yang baik karena dia harus memerankan seorang Luisa. Hanya itu, dia diperlakukan baik karena mereka menginginkan sesuatu.
"Maukah kamu mengakui sesuatu padaku?" pinta Aera pelan.
"Tentang apa? Hubungan darah kita yang dikatakan kakakku padaku?"
"Ya."
Luisa terkekeh pelan. Wajahnya jelas sangat meremehkan Aera saat ini.
"Kita memiliki ibu yang sama, hanya itu, seorang ibu yang dibayar untuk melahirkanku. Sampah yang tidak berarti. Dia sangat mengerikan sama seperti ayah yang membuangmu. Apa yang ingin kamu ketahui dari mereka? Seperti itulah orang tuamu."
Tampa sadar Aera meneteskan air mata. Kedua tangannya terkepal erat. Dia menagis bukan hanya karena kalimat penuh penghinaan itu, tapi kenyataan yang selama ini dia takutkan menjadi nyata. Bahwa dia sengaja dibuang. Perasaan marah dan sedih yang bercampur menjadi satu, membuat dadanya sangat sesak.
"Apa mereka masih hidup?"
Luisa berdiri, menunduk melihat wajah menyedihkan Aera yang kini mendongak untuk menuntut jawaban darinya.
"Kamu benar-benar menyedihkan. Bagimana bisa kamu masih ingin tahu apakah mereka masih hidup atau sudah mati? Orang yang sudah membuangmu, apa yang kamu harapkan?"
Aera melempar sebuah kartu nama keatas meja yang penuh dengan buku-buku itu.
"Hubungi aku jika kamu telah menetapkan pilihan. Tetap disini dan menjadi sama seperti ibu yang melahirkan kita, atau memilih pergi dan melanjutkan hidupmu dengan baik. Audric Martell, tidak akan pernah memilihmu. Dia memiliki kehormatan Martell diseluruh jengkal nadinya. Itu sudah tertanam sejak ia dilahirkan. Jangan membuatku menertawai kebodohanmu suatu hari nanti."
.
Aera berbaring miring di atas ranjangnya. Sebuah kartu nama masih ia genggam sejak tadi. Hari semakin gelap dan udara yang hangat perlahan terasa lebih dingin. Meski masih musim panas, Aera merasa udara berubah lebih dingin dikulitnya.
Perkataan Luisa seperti sebuah pedang yang mengirisnya. Tawaran Luisa juga seperti jalan yang terpaksa harus ia pilih. Bagaimana ketidak berdayaan itu membuatnya marah dan kecewa pada hidupnya. Tapi Aera tidak bisa marah pada siapapun, dia hanya bisa marah pada dirinya sendiri.
Dia yang sengaja menjaga hatinya dan membangun dinding kokoh atas perasaan Audric sejak pernyataan itu. Seperti lebur oleh keyakinan yang disampaikan Luisa. Bahwa bukan dia yang menciptakan jarak itu, tapi Audric yang memiliki kuasa atas hubungan rapuh yang mereka miliki. Karena pria itu sadar bahwa Aera tidak akan mungkin bisa menjadi wanitanya dimasa depan. Sehingga menciptakan dinding kaca tak terlihat. Dialah yang terlena, dialah yang bodoh.
"Bodoh, apa yang aku harapkan? Bukankah aku sudah lama sadar akan hal ini? Tapi... Tapi kenapa saat orang lain yang mengatakannya terasa lebih menyakitkan?"
__ADS_1
Matanya sedikit sembab, hidungnya juga jadi tersumbat karena tangisan sebelumnya. Aera mengusap air mata yang mulai jatuh lagi, lalu bangun dari kasurnya.
Dia berjalan ke westafel dan mencuci wajahnya dengan air dingin. "Aku hanya harus pergi, kan? Anggap saja ini mimpi buruk saat liburan semester!" gumamnya meyakinkan diri.