BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)

BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)
Kematian Leonor


__ADS_3

Hiruk pikuk kota Berlin yang bebas dan mekarnya kasino setelah matahari tenggelam, membuat berbagai jenis orang bisa bertemu disana dengan tujuan yang berbeda-beda.


Saat ini, Ivon dan Harald sedang bermain berdua tampa mau diganggu orang lain. Bermain sambil bekerja, tentu saja hal seperti ini sudah lumrah untuk jenis orang seperti mereka. Tali obrolan kali ini sedikit berbeda dari biasanya. Harald yang sama sekali tidak menduga, cukup terkejut ketika Ivon memulainya.


"Apa menurutmu Tuan Audric benar-benar serius pada wanita itu?" tanya Ivon.


Pria dengan tato berbentuk kunci yang terletak dibelakang telinganya itu sedang memperhatikan kartunya dengan saksama.


"Kamu kan sudah tahu dia sejak awal."


"Aku hanya tahu Tuan memanfaatkannya. Aku tidak tahu hubungan mereka jadi seperti itu."


"Kamu pasti pernah mendengar kalau hati manusia itu bisa berubah kapan saja kan? Dia juga begitu. Dia juga manusia." jawab Harald santai.


"Tapi Nona itu terlihat lemah, wanita yang hanya bisa bergantung seperti itu hanya akan jadi beban."


"Kalau dia mendengarmu, dia pasti akan memotong lidahmu, Ivon. Hati-hatilah, aku ini kaki tangannya yang paling setia. Aku juga sudah menetapkan diri akan mematuhi calon istrinya. Lagipula, dia tidak selemah itu." sahut Harald dengan nada memperingatkan.


Ivon menatapnya, jika itu orang lain, mungkin dia akan ketakutan. Harald tampak benar-benar siap memukul seseorang dengan ekspresinya itu.


"Kamu sepertinya menyukai Nona itu."


"Kenapa tidak? Kamu juga harus begitu."


"Kita lihat nanti, apakah dia pantas dihormati atau tidak."


Harald menarik senyum tipis. Ivon adalah pria keras yang tidak mudah mempercayai seseorang. Selama dia bekerja, dia sudah melihat berbagai jenis wanita yang mengelilingi dunia Audric. Semuanya adalah wanita penuh ambisi dan keserakahan. Bahkan Rubelia sendiri, tidak luput dari penilaian buruknya meski mereka hanya berbisnis dan saling memanfaatkan satu sama lain.


Tentu saja kehadiran Aera membuatnya menaruh curiga lebih besar. Wanita yang akan menjadi istri atasan yang selama ini ia layani dengan setia.


Harald berhenti sejenak, lalu melirik ke arah kanan. Dimana seseorang baru saja masuk. Dia segera pindah meja disebelah orang yang baru saja datang itu. Bergabung dengan permainan orang lain sebagai alibi. Ivon sendiri langsung keluar dari kasino.


"Aku dengar hutangmu bertambah, tapi kamu masih berani datang kesini?" ujar seseorang pada pria yang baru saja datang.


"Ck, jangan banyak bicara. Ini permainan terakhirku, tahu!" jawabnya. Pria berambut merah itu tidak terlalu tinggi dan sudah sangat berumur.


"Kamu mau pergi? Lari dari hutangmu?"


"Hutang apa, aku baru saja menang lotre, aku akan membangun bisnisku diluar kota."


Harald yang mendengar obrolan itu langsung memiliki kesimpulan. Meski begitu, dia tetap disana sampai pria itu berhenti bermain setelah beberapa kali kalah.


Pria tua itu memegang botol wisky lalu keluar. Harald mengikutinya, lalu merangkulnya dengan senyum sehangat matahari dan mendorongnya masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah dibuka oleh Ivon.


"Siapa kalian, brengsek!" bentaknya dengan marah. "Anak muda sialan! Kalian perlu diajari sopan santun!" lanjutnya.


Belum sempat dia mengayunkan botol minumannya, Harald sudah mencengkram belakang lehernya dan membenturkan kepalanya ke kaca mobil yang tertutup. Menahan kepala itu lalu merebut botol minumannya.


"Tenanglah Pak tua_ Aku tidak suka membuat keributan." kata Harald kalem.


"Siapa kalian! Apa yang kalian mau! Agh!" Harald menekan kepalanya ke kaca mobil ketika dia mencoba melepaskan diri.


Ivon yang duduk di depan mengeluarkan pistol dan mengarahkan pada pria tua itu tampa menoleh.


"Kamu pasti tidak ingin mayatmu kami buang dijalanan, kan? Jadi diam dan duduk dengan nyaman, Pak tua." ujarnya.


Melihat pistol yang mengarah padanya, dia segera tenang. Harald melepaskan tangannya dan membiarkan dia duduk dengan tenang.


"Apa mau kalian?"


"Kamu tidak kenal dia?" tanya Ivon menunjuk Harald, lalu mengetuk-ngetukkan pistolnya santai ke lututnya. Rekan disamping yang bertugas sebagai supir melirik Harald untuk menunggu perintah.

__ADS_1


"Teruskan jalan, kita butuh tempat kecil untuk tikus ini. Dia belum boleh mati disini." kata Harald.


Supir itu terus melajukan mobil dan menambah kecepatan. Sampai mereka tiba disebuah rumah kecil dan berhenti di sana. Pria tua itu dipaksa turun oleh Ivon dan dibawa masuk ke dalam rumah itu. Di dalam sudah ada dua pria lain yang menunggu.


"Nah, istirahatlah disini untuk sementara, sampai kamu dibutuhkan pak tua."


"Siapa kalian! Apa wanita itu yang menyuruh kalian? Katakan padanya aku sudah tutup mulut! Kenapa menyekapku disini!" teriaknya ketika dia diikat dan dileparkan kelantai kamar.


"Hmm? Kamu tidak mengerti juga sampai disini? Apa kamu tidak mengenaliku?" tanya Harald.


"Apa! Siapa kamu!"


"Sepertinya dia hanya berurusan dengan kaki tangan selama ini." komentar Ivon.


"Kalau begitu kita perlu menambah teman untuknya." sahut Harald dan tersenyun masam.


"Ya, harusnya sebentar lagi sampai. Aku sudah memesan wanita itu pada Carter." sahut Ivon.


Brak!


Pintu depan terbuka sedikit keras, seorang wanita yang terus saja meronta dengan tangan dan mulut terkunci dibawa masuk oleh seorang pria besar yang baru saja datang.


"Anda sudah sampai, ketua?" basa-basinya pada Ivon. "Ah, Anda disini Tuan Harald?" sapanya pada Harald. Lalu dia membuka penutup mulut wanita itu sebelum melemparnya kesebelah pria tua.


"Nah, karena kamu sudah punya teman, kamu sudah mengerti situasinya, kan?" tanya Harald pada si pri tua.


"Tu-tuan Harald! Sa-saya mohon lepaskan saya. Saya tidak bersalah!" kata wanita itu, dia mulai menangis dan menggigil ketakutan ketika menyadari Harald adalah orang yang menyuruh pria besar itu membawanya kesana.


"Tentu saja kamu tidak bersalah. Kamu hanya melakukan perintah."


"To-tolong selamatkan saya. Ampuni saya!" ujarnya lagi. Wanita ini belum terlalu tua, dia menunduk dan berlutut.


Pria tua itu mendongak, lalu menatap wanita yang selalu memberinya uang tiap bulan itu dengan ketakutan.


"Ya," jawab wanita itu.


Harald menyeringai, dia berjongkok. Mengeluarkan pistol miliknya dan mengarahkannya pada pelipis pria tua itu.


"Jadi, apa yang terjadi hari itu?" tanya Harald.


Pria tua itu sepertinya telah bisa membaca situasi. Dia menunduk dengan wajah ketakutan.


"Sa-saat itu saya adalah supir Nyonya, dia mengunjungi sekolah diluar hari biasanya. Nona yang telah terlihat curiga sejak lama pergi keruang kepala sekolah saat itu. Tapi karena Nyonya merubah tempat pertemuan, mereka bertemu di ruang klub musik. Nona yang tahu ibunya berselingkuh ingin menangkapnya secara langsung dan membuat bukti untuk ayahnya. Tapi, saat saya mencoba menghalangi, saya tidak berhasil. Nona terlibat perkelahian dengan ibunya sendiri. Saat itu, seorang anak datang setelah kepala sekolah pergi. Anak itu melihat dari jendela sesaat, lalu pergi begitu saja."


Sudah dipastikan anak itu adalah Audric. Harald maupun Ivon tidak terkejut Audric tidak melerai pertengkaran itu dan mengabaikan mereka.


"Lalu?"


"Nyonya tidak sengaja memukul anaknya dengan gitar. Saat Nona jatuh, dia memerintahkan saya membunuh anaknya agar tidak ada bukti. Saya melakukannya, tapi... Tapi ketika itu sudah berdiri di belakang saya, hanya melihat saya. Saya terkejut dan langsung menyerangnya. Tapi dia terlalu kuat, saya hanya lari... Lalu saya tidak tahu lagi apa yang terjadi. Dua hari kemudian, Nyonya membuat perjanjian dengan saya untuk tutup mulut selamanya."


"Seorang ibu membunuh anaknya untuk menutupi kebusukan moralnya. Ya ampun..." respon Ivon.


Keduanya kembali kekediaman utama keluarga Martell. Meninggalkan dua orang itu disana dengan penjagaan yang ketat. Baik Harald maupun Ivon harus segera menemui Audric.


Sesampainya disana, mereka malah melihat pemandangan tak terduga. Aera sedang berdiri diantara dua pria. Seorang pria yang sama sekali tidak memiliki ketakutan pada Audric. Yohanes, sedang merangkul lengan Aera seolah mereka sudah sangat dekat.


"Kalian datang diwaktu yang tepat, usir orang ini sekarang juga." perintah Audric. Satu tangannya memegang lengan Aera yang lain.


Harald menghela napas. Ivon yang hanya mengetahui Yohanes dari namanya saja, mengernyit bingung karena tuannya bisa sesabar itu padanya.


"Tuan, Anda tahu saya tidak bisa memaksanya. Kalian berdua... Tolong bicaralah baik-baik." pinta Harald dengan wajah memohon.

__ADS_1


Semua orang sudah menegang ditempat mereka. Friedrick sudah berkeringat dingin karena dia tahu siapa Yohanes. Sementara Olivia dan pelayan lain yang tidak tahu apa permasalahannya, mengira Yohanes adalah mantan pacar Aera yang ingin merebut Aera kembali. Kedatangan Harald merupakan harapan mereka bersama.


"Aku tidak akan bisa bicara baik-baik dengan bajingan ini." jawab Audric dengan tatapan yang masih mengarah pada Yohanes.


"Kamu tahu apa posisiku disini, kan? Dua orang yang belum menikah tidak boleh sekamar, Aera juga harus aku jaga dari pria berbahaya sepertimu." balas Yohanes. Pria ini terlihat sangat menikmati kemarahan Audric.


"Tolong hentikan dan lepaskan aku." Aera yang sudah jengah akhirnya bersuara.


"Tidak bisa! Kamu harus pisah kamar dan aku akan tetap disini. Aku akan menjagamu." jawab Yohanes santai.


"Kamu benar-benar cari mati." ujar Audric.


Aera tidak tahan lagi, dia menarik tangannya paksa dan menendang tulang kering Yohanes. Tidak jauh berbeda dengan Yohanes, Audric terkejut ketika dia terdorong sedikit kebelakang setelah Aera mengerahkan kekuatannya untuk menarik tangannya.


"Ayo duduk dan bicara."


Ucapan yang terdengar datar tapi wajah yang mengatakannya terlihat marah. Jadi, baik Yohanes dan Audric memilih duduk. Masing-masing disisi kiri dan kanannya.


Harald mati-matian menahan tawa, sementara Ivon melebarkan matanya. Mereka ikut duduk di sofa lain. Diam dan akan jadi penonton untuk sementara waktu.


"Jadi, apa tujuanmu datang dan mengacau kesini?" tanya Audric.


Sebelum terjadi perdebatan tadi, Yohanes tiba-tiba datang dan disambut oleh Friedrick. Kakak angkat Aera itu menanyakan keadaan Aera disana, bagaimana tidur dan makannya, kesehariannya bahkan sikap Audric pada Aera. Membuat Friedrick mau tidak mau menjawab seadanya. Meski begitu pria tua itu tidak sengaja mengatakan bahwa Aera dan Audric satu kamar saat ini.


"Aku harus ada disini, itu pesan ibuku."


"Kamu mau menjadikan bibi tameng?"


"Ck! Aku sudah dapat izin, oke! Lagipula keberadaanku disini bisa memperkuat posisi Aera dikeluargaku. Mereka tidak akan berani bicara sembarangan. Sebentar lagi pasti akan ada pertemuan besar, kan? Pesta keluarga. Aku harus hadir melihat pertunjukan."


"Aku tidak membutuhkanmu untuk menghadapi mereka." sahut Audric kasar.


"Siapa yang datang untukmu, aku datang untuk adikku."


Yohanes langsung mengusap kepala Aera, namun tangannya langsung ditepis oleh Audric.


"Pesta keluarga?" ulang Aera.


"Pesta keluarga adalah acara yang wajib diadakan ketika kepala keluarga telah menetapkan calonnya. Disana semua kekuarga berkumpul, lalu anda akan diperkenalkan secara resmi. Para tetua akan menentukan suara." Friedrick memberi penjelasan ketika melihat Audric yang enggan untuk menjelaskannya.


"Jadi pertunjukkan yang kamu maksud adalah pengunguman itu?" tanya Aera pada Yohanes.


"Adikku... Mana mungkin itu yang aku maksud. Tentu saja sesuatu yang menarik dari pada itu."


"Jangan bicara lagi. Pergilah ke kamarmu, Friedrick!" perintah Audric.


"Tunggu, aku masih belum mendengar keputusanmu untuk memindahkan kamar adikku."


Audric mengeraskan rahangnya. Sudah cukup ia bersabar sedari tadi. Menggunakan alasan adik untuk bermain-main dengannya. Yohanes benar-benar membuatnya kesal.


"Jangan mengaturku, adik katamu? Aera bukan..."


"Kamu sendiri yang membuatnya begitu, bagaimanapun dia adikku, lho! Benar kan, Aera?" potong Yohanes, tersenyum lebar padanya.


"Yohanes, pergila kekamarmu. Bukankah kamu baru saja tiba?" pinta Aera.


Entah kenapa sikap pria ini begitu menyebalkan sejak awal mereka bertemu. Meski begitu Aera tidak begitu marah atau terganggu saat ini. Dia hanya tidak suka keributan.


Setelah Yohanes diantar ke kamarnya oleh Friedrick, mereka berempat akhirnya bicara mengenai masalah saksi yang telah didapatkan mengenai kasus pembunuhan Leonor. Harald menjelaskan kesaksian si pria tua dan wanita pelayan suruhan Ivana Martell, istri pamannya Abert dan ibu dari Leonor.


Aera yang begitu terkejut, menatap Audric dengan wajah syok. Antara kasihan dan bertanya-tanya, tentang sikap Audric yang hanya diam saja saat itu.

__ADS_1


__ADS_2