BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)

BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)
Kunjungan Tak Terduga


__ADS_3

Sudah dua bulan Aera berada di kediaman Luisa. Itu artinya sudah sebulan lebih dia tinggal bersama dengan Audric.


Pelajaran tentang tata krama, bahasa Jerman dan pelajaran dari Gustav tentang keluarga Martell sudah dikuasai oleh Aera. Begitu juga pelajaran dansa yang Aera lakukan setiap malam bersama Audric.


Saat ini, Aera hanya belajar tentang mata kuliahnya saja sambil melancarkan dialek bahasa Jermannya. Meski sudah bagus, sesekali dia masih terdengar seperti orang asing. Tentu saja, tidak mudah mempelajari bahasa orang dengan dialek mereka ketika kita bukanlah warga asli. Aera cukup baik belajar selama ini dari Audric dan Lisa.


"Aera, kemungkinan tunanganmu akan meminta bertemu sebelum acara pesta. Mulai sekarang, cobalah untuk mencari tahu mengenai dia. Setidaknya, kamu harus mengetahui latar belakang keluarganya."


Mereka sedang makan siang bersama. Audric memang mengatakan bahwa Luisa telah kembali setelah selama setahun ini mengasingkan diri dengan berkeliling dunia pada semua orang.


"B-bagaimana kalau dia langsung tahu aku bukan Luisa? Bagaimana kalau aku mengacaukannya?"


Aera langsung gugup mendengar pemberitahuan itu. Bagaimana tidak, bersikap seolah saling mengenal dan bersikap santai dengan orang asing tentu saja tidak mudah. Dia bukan aktris yang akan dengan mudah bersandiwara.


Audric pindah untuk duduk disebelahnya. Menggenggam kedua tangan Aera dan menatap kedua matanya.


"Kamu sudah memahami karakter adikku dengan baik. Jangan gugup, kamu akan melakukannya dengan baik." ujarnya.


Sebelah tangan Audric naik ke pipi Aera dan mengelusnya dengan lembut. Karena terlalu sering dan sudah jadi kebiasaan Audric, Aera tidak lagi gugup mendapat sentuhan-sentuhan kecil yang ia anggap sebagai bentuk kasih sayang antar saudara.


"Tapi aku tetap takut, Ric. Bagaimana kalau dia tahu dan aku..."


Audric memeluknya, wajah panik itu membuatnya ikut tidak tenang. Bukan hanya Aera, Audric sendiri juga kawatir. Tuangannya, bukanlah pria sembarangan. Dia bukan pria bodoh yang gampang dibohongi. Meskipun ini hanya pernikahan bisnis, tetap saja menipunya bukan perkara mudah.


"Kamu bahkan belum bertemu dengannya, kenapa jantungmu berdetak begitu kuat sekarang? Aku juga gugup, tapi kita tidak punya pilihan. Waktu seperti ini akan tiba, Aera."


Aera juga tidak tahu. Dia merasa kawatir, dia takut, itulah sebabnya jantungnya berdetak begitu kuat.


"Jangan takut, aku akan ada di sampingmu ketika dia datang. Sebelum kesini, dia pasti akan mengabariku atau Gustav terlebih dahulu."


Audric melepaskan pelukannya, menangkup kedua pipi Aera yang terasa panas. Matanya turun menatap hidungnya, lalu berhenti dibelahan bibir Aera. Seperti magnet, dia terpaku disana. Jantungnya tiba-tiba berdetak anomali. Nafasnya tiba-tiba menjadi sedikit berat. Dengan cepat dia melepaskan kedua tangannya dan mengusap puncak kepala Aera. Tersenyum tipis untuk memberikan gadis itu ketenangan.


"Aku harus segera pergi. Jangan takut dan bersiaplah kapanpun itu."


Aera hanya mengangguk, dia beralih pada Gustav yang tetap berdiri tidak jauh dari mereka dengan wajah datarnya. Selama sebulan terakhir, Gustav selalu terlihat terganggu akan interaksi keduanya. Seakan dia merasa bahwa sesuatu yang salah telah terjadi pada tuannya. Aera mengikuti gerakan Gustav yang kini menghampirinya.


"Apa ada yang Nona perlukan?"


"Tentu saja ada, duduklah." pinta Aera.


Pintu ruang makan terbuka, pelayan masuk ketika Audric sudah pergi. Mereka akan membersihkan meja makan seperti biasanya.


"Kita bicara ditempat lain, Nona." ajak Gustav.


Maka, mereka berbicara di ruang belajar dimana masih dalam kawasan perpustakaan.


"Gustav, ceritakan tentang tunangan Luisa."


Gustav menghela napasnya. Dia terlihat jauh lebih tua dari sebelumnya ketika dia berpikir keras. Tampak ada keraguan di dalam sorot matanya itu.


"Gustav?"


"Maafkan saya, Nona."


Aera tidak mengerti mengapa Gustav tiba-tiba minta maaf. Mungkinkah karena kontrak ini membuat Aera harus mengalami banyak hal tidak mengenakkan nantinya?


"Tidak apa-apa Gustav, ceritakan saja padaku. Aku sudah menyetujui kontrak ini demi kesembuhan nenekku. Aku sudah tidak keberatan sama sekali."


Mendengar hal itu, Gustav lebih merasa tertekan. Membuat Aera tidak mengerti mengapa dia yang terlihat menyesal, padahal dia hanya pekerja juga disini dan tidak ada hubungannya dengan kontrak ini.


"Tuan Adolf ackerman, adalah pria yang baik sejauh saya mengetahui tentang beliau."


"Apa itu namanya? Adolf ackerman?"


"Benar, dia anak pertama keluarga ackerman. Ayahnya adalah kanselir saat ini. Dia digadang-gadang akan menjadi Kanselir berikutnya atas dukungan penuh dari keluarga Martell. Keluarga yang memiliki pengaruh sangat besar pada pemilihan setiap Kanselir. Mempengaruhi keputusan parlemen bukan hal yang sulit, bahkan untuk menetapkan siapa presiden berikutnya."


Aera tiba-tiba terdiam. Ketakutan mendatanginya seperti badai salju di tengah malam. Dia benar-benar buta tentang politik negara ini.

__ADS_1


'Apa aku sedang menggali kuburanku sendiri?' pikirnya. 'Kenapa Audric tidak menceritakan semua ini padaku? Ah! Mana mungkin dia akan mengatakannya.'


Menyadari ketakutan Aera, Gustav melanjutkan penjelasannya.


"Tidak seperti yang anda bayangkan, Nona. Tuan Adolf sejauh ini sangat baik pada Nona Luisa. Dia sangat menghormati Nona Luisa. Bahkan untuk menyentuh tangannya. Sepertinya, dia mengerti bahwa hubungan mereka hanyalah hubungan saling menguntungkan."


Aera tertawa masam. 'Setiap orang selalu baik diawal, Gustav.'


"Jadi, apa Luisa memiliki pria yang dicintainya sehingga dia kabur?"


"Tidak ada yang tahu alasan dia pergi. Termasuk saya yang sudah melayaninya sejak kecil."


.


Malam harinya, Aera baru saja selesai mandi ketika pelayan berlari ke kamarnya. Mengetuk dua kali dan masuk setelah disuruh. Melihat wajah antusias pelayan wanita ini, Aera menduga ada berita baik. Meski begitu, berita baik bagi mereka belum tentu jadi berita baik untuknya.


"Ada apa, Silvia?"


"Nona, cepat ganti pakaian anda dengan pakaian terbaik. Tunangan anda berkunjung dengan setumpuk hadiah!"


Bagai disambar petir, tentu saja dia langsung panik. Namun pelayan yang melihatnya malah salah mengartikan.


"Jangan gugup Nona. Anda sangat cantik. Saya akan pilihkan gaun terbaik."


Gustav muncul setelah Aera selesai berganti baju dan pelayan sedang membantu merapikan rambut panjangnya.


"Nona suda siap." ujar pelayan dengan semangat.


"Keluarlah Silvia," suruh Gustav. Setelah pelayan itu keluar, Aera langsung berdiri dengan panik.


"Audric bilang dia akan disini ketika dia datang. Apa Audric sudah pulang? Apa mereka sedang bicara di ruang tamu?"


"Tidak, Tuan Adolf datang tampa pemberitahuan. Tuan Audric baru saja saya kabari. Dia mungkin akan sampai dalam beberapa menit."


"Tidak mungkin, bagaimana ini?"


Aera memijit keningnya. Dia memeriksa dirinya lagi di cermin. Gaun biru langit dengan rok selutut. Memakai mantel bulu yang sangat lembut karena musim dingin. Lalu rambut yang digerai indah dengan kepangan kecil dikiri kanan. Terlihat normal sebelum dia menyadari sesutu. Dia melebarkan matanya begitu dia tahu sesuatu yang penting itu tidak ada.


"Gustav, mataku." ujarnya pelan.


"Tuan sudah menyiapkannya jauh-jauh hari. Ini, Nona. Pakailah!"


Aera menghela napas lega, dia mengambil kotak kecil ditangan Gustav dan memakai lensa kontak yang warnanyanya sangat mirip dengan mata Audric itu.


Ketika Aera masuk ke dalam ruang tamu. Adolf, tunangannya itu langsung berdiri menyambutnya. Tersenyum dengan sorot mata yang jika penilaian Aera tidak salah, penuh dengan kekaguman.


"Silahkan duduk, maaf jika aku membuatmu menunggu."


Adofl duduk kembali, senyumnya sedikit memudar dengan kening sedikit mengerut. Aera sekuat tenaga berusaha bersikap seperti Luisa yang digambarkan Gustav. Tapi melihat respon Adolf, dia menjadi sangat berdebar karena cemas.


"Aku pikir berkeliling dunia sedikit mengubahmu. Bahasa apa yang biasa kamu pakai diluar sana?"


"Tentu saja bahasa Inggris, Aku berkeliling kebanyak tempat. Itu bahasa yang umum. Tapi, aku juga mempelajari bahasa dari tempat yang aku kunjungi."


"Ah, jadi karena itu tadi dialekmu sedikit berubah." ujarnya.


"Benarkah?"


Adolf terkekeh, lalu dia memberikan kode pada pelayan yang ia bawa untuk menyerahkan hadiah pertemuan kembali mereka. Ada tiga kotak persegi panjang dan sebuah tas bermerk. Semua kotak dibuka, berisi perhiasan dan sebuah sepatu yang terlihat sagat mahal.


"Kamu selalu berlebihan."


"Tentu saja tidak, kamu adalah calon istriku."


Aera tidak bisa berkata-kata lagi. Dia masih sedikit syok melihat hadiah-hadiah mahal itu.


"Aera, maukah kamu jalan-jalan sebentar berkeliling taman?"

__ADS_1


Adolf sudah berdiri dan berjalan menghampirinya. Mengulurkan tangan pada Aera.


Mau tidak mau, Aera menerima uluran tangan itu dan mengikutinya berjalan ke area luar menuju taman. Karena sudah malam, udara jauh lebih dingin. Aera merapatkan mantelnya agar lebih hangat.


"Kediamanmu selalu terlihat indah dimalam hari."


"Terima kasih."


Jawaban itu membuat Adolf berhenti berjalan, dia berbalik dan menatap Aera dengan saksama.


"Aku senang kamu lebih banyak merespon sekarang. Jalan-jalan sepertinya sedikit merubah kepribadianmu menjadi lebih ramah."


Aera terkejut tentu saja, dia tidak tahu bahwa Luisa adalah orang yang dingin pada tunangannya sendiri. Gustav mengatakan bahwa sikap Luisa hanya datar dan cenderung menerima karena menghargai. Dia tidak tahu bahwa jika berdua saja, Luisa sangat dingin. Apa Audric juga tidak tahu hal ini?


"Setiap orang bisa berubah menjadi lebih baik. Apa kamu terganggu dengan perubahanku?"


Aera tidak sadar dia telah membuat satu kesalahan lagi. Adolf tersenyum lebar. Lalu menggeleng pelan.


"Tentu saja tidak, justru aku sangat senang."


Aera mengalihkan pandangannya, dia tidak suka melihat senyum Adolf yang seperti itu. Ia merasa tidak nyaman. Namun, tiba-tiba saja matanya melebar ketika Adolf memeluknya dengan erat.


Aera mematung sesaat. Teringat perkataan Gustav bahwa Adolf adalah pria yang sopan. Lalu apa-apaan ini?


Hampir saja, Aera akan mendorongnya kalau tidak mendengar kalimat yang diucapkan Adolf.


"Aku merindukanmu, tapi seperti biasa. Kamu tidak pernah merindukanku. Kamu bahkan tidak mengabariku sama sekali. Lui, kamu benar-benar berhati dingin."


Aera bisa merasakan detak jantung Adolf ditelinganya. Dia tidak menyadari Adolf mengatakan hal itu dengan wajah penuh amarah. Bahkan sorot mata Adolf terlihat sangat mengerikan saat ini. Namun dalam sekejap, mata itu berubah menjadi hangat. Dia melepaskan pelukannya, lalu menoleh ke kanan, dimana seseorang baru saja berhenti berjalan dan menatap keduanya bergantian.


"Kamu baru pulang, Ric?"


Aera ikut menoleh, melihat Audric berdiri disana dengan wajah datarnya.


"Aku tidak tahu kamu akan kesini. Ya, aku baru saja pulang. Kalian sudah makan malam?" tanya Audric basa basi.


"Tentu saja belum. Tadinya aku ingin mengajak Lui keluar. Tapi sepertinya udara semakin tidak bersahabat."


"Kalau begitu kita makan dirumah saja. Ayo masuk, Luisa terlihat sudah kedinginan."


"Oh, maafkan aku. Lui, ayo masuk!" ajak Adolf.


Aera tidak tahu harus bagaimana lagi. Dia hanya mengikuti langkah mereka untuk masuk ke dalam dan langsung menuju ruang makan.


.


Setelah makan malam yang singkat, dimana pembicaraan mereka lebih banyak membahas bisnis dan isu politik. Aera tidak banyak bicara. Dia hanya akan merespon dengan singkat. Audric yang akan menyelamatkannya dari pertanyaan-pertanyaan Adolf yang membuatnya kesulitan.


Setelah Adolf pulang, Aera terduduk diam di dalam kamarnya. Dia yakin telah membuat kesalahan. Mata Adolf sangat berbeda ketika datang dan pulang. Seolah dia telah tertangkap. Namun sikapnya pada Audric malah menunjukkan sebaliknya. Sikap Adolf seperti mengatakan bahwa keadaan masih berada dibawah kendali Audric.


"Aera?"


Aera langsung menghampiri Audric untuk memastikan. Audric bahkan belum sempat masuk kedalam dan masih berdiri di ambang pintu kamarnya.


"Dia tidak curigakan? Dia tadi bilang bahwa aku sedikit berubah setelah berkeliling dunia. Mungkinkah dia menyadari aku bukan Luisa?" desak Aera dengan wajah panik.


Dibanding memikirkan ketahuan, Audric malah memikirkan tubuh ini yang tadi dipeluk oleh Adolf. Ada sesuatu yang bergejolak di dadanya. Sesuatu yang tidak dimengerti oleh Audric. Maka, untuk menenangkan hatinya sendiri, dia memeluk Aera dengan erat.


"Apa? Kamu kenapa? Tolong jawab aku, Ric?"


Bukannya menjawab, Audric malah menatap tidak suka pada tumpukan hadiah yang kini tersusun di meja rias Aera. Dia menghembuskan napasnya, lalu melepaskan pelukannya.


"Kamu sudah bekerja dengan sangat baik. Tidak ada yang salah. Ini adalah pelukan terima kasih. Istirahatlah, aku ingin mandi dan istirahat juga."


Audric mengelus puncak kepalanya seperti biasa sebelum pergi. Meninggalkan Aera yang malah semakin bingung.


"Sudahlah, yang penting aku tidak ketahuan." gumamnya sambil menutup pintu.

__ADS_1


__ADS_2