
Audric kedatangan tamu pagi itu setelah beberapa kali menolak kedatangannya. Ia akhirnya memberikan izin karena dia akan ada dirumah seharian selama akhir pekan ini.
Setelah perdebatan yang mengeluarkan urat dikepala, mereka bertiga memutuskan pergi menuju danau berlin. Sepanjang jalan Aera melihat dengan semangat bangunan-bangunan yang menarik perhatiannya.
Setibanya ditempat tujuan, mereka sudah disambut oleh seorang pria tua dan dua orang pria muda.
"Aku pikir ini hari bersejarah. Ini akan jadi hari perdamaian dunia. Aku pikir aku bermimpi ketika mendengar permintaanmu, Ric."
Audric mengabaikan perkataan pria itu beserta segala sindirannya, dia memperhatikan rumah terapung yang akan mereka gunakan.
"Akan lebih baik jika berlayar dengan kapal pesiar dilaut." katanya dengan raut datar.
"Jangan sedih, kita bisa memikirkan itu untuk akhir pekan depan." lalu dia beralih pada dua orang lain yang bersamanya. "Terima kasih atas bantuannya, aku akan mengirim uangnya nanti." ujarnya dengan senyum lebar.
Seorang pria tua dan seorang pria lain tadi mengangguk dan melambai pada mereka semua. Sepertinya mereka adalah pekerja yang disewa oleh pria dihadapan mereka ini.
"Rumahnya cantik" celetuk Aera.
Pria itu tersenyum lebar. Dia sudah akan maju dan merangkul Aera kalau dua tangan dari dua pria langsung mendorongnya.
"Jangan menyentuh calon istriku." ujar Adolf.
"Ya ampun, aku kan juga saudara kalian, sialan! Lui, ayo naik denganku!"
Ajak pria itu. Adolf melirik Aera yang kebingungan. Dia belum mengenal pria itu tapi dari caranya bicara sepertinya Luisa cukup akrab dengannya.
"Ayo, Lui!" ajak Adolf.
"Lui, aku ingin bicara sebentar." kata Audric.
Adolf tahu Audric akan menjelaskan identitas sepupu mereka itu. Karena itu dia masuk duluan untuk memberi mereka waktu.
"Lui, dia Lucas. Sepupu aku dan Luisa. Saat kecil dia sering bertengkar dengan Lui. Ketika dewasa mereka jadi sedikit renggang. Jangan jauh-jauh dariku mengerti!"
"Kenapa membawaku kesini kalau ini berbahaya bagi rencanamu?"
"Kamu tahu Adolf yang punya ide kesini."
Aera mulai berpikir, apa Adolf sengaja melakukannya?
Dia tahu bahwa Luisa dan Lucas cukup dekat.
Mereka bergabung dengan Adolf yang sudah menyiapkan alat pancing. Aera langsung mengambil posisi di sampingnya. Lalu setelah itu Audric menarik bangku dan ikut duduk disampingnya. Jadi posisinya Aera ditengah-tengah. Lucas yang memegang kendali. Membawa mereka kewilayah yang cukup jauh.
"Ini menyenangkan bukan? Tampa pengawal dan orang-orang yang akan mengawasi kalian."
Lucas bergabung dan duduk di samping Adolf yang mulai memasukkan mata pancingnya kedalam air.
"Tapi... Kalian mau memancing atau nonton film?"
Aera juga merasa posisi mereka tidak normal. Mana ada orang memancing berjejer seperti ini dalam jarak yang sangat dekat.
"Aku akan pindah kesebelah sana."
Aera membawa alat pancingnya dan menjauh dari mereka.
"Aku juga akan kesana." susul Adolf.
"Kamu juga tidak berniat mengikuti mereka kan?" sindir Lucas ketika Audric juga ikut berdiri.
Tampa menjawab, dia juga beralih dan duduk tidak jauh dari Aera. Lucas yang melihatnya hanya bisa terperangah.
"Kenapa dua orang ini jadi aneh. Terutama bajingan Ric ini?" gumamnya.
Lucas memang tidak berniat memancing, jadi dia menyiapkan alat panggangan dan mengatur kursi dan meja. Dia juga menyiapkan daging untuk dipanggang dan beberapa lalapan. Anggur dan wiski berkualitas tinggi juga menghiasi meja.
"Wah, Lucas. Kamu begitu bersemangat untuk piknik ini sampai-sampai menyiapkan hal ini." komentar Adolf yang menyambar sebotol Wiski dan kembali pada posisinya.
"Walau kamu memberitahuku secara mendadak, aku tetap harus menyambut kalian bukan?" jawabnya.
Aera berdiri dengan semangat ketika ikan memakan umpannya. Audric yang sejak tadi hanya duduk sambil memperhatikan ponselnya, ikut menoleh.
Adolf berdiri, membantu Aera yang terlihat kesulitan. Dengan teknik yang baik, dia membantu sekaligus mengajari Aera. Hal itu membuat Audric melemparkan tatapan yang sarat akan permusuhan. Lucas yang melihat tatapan Audric yang seperti itu mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
'Aku tidak salah lihat, kan? Ric tampak marah. Tidak, itu terlihat seperti cemburu. Apa karena adik satu-satunya akan menikah? Sejenis kecemburuan saudara? Hah! Si bajingan ini?'
Lucas terkekeh, membuat Audric menoleh padanya. Tampa sungkan dan takut, dia membuat ekspresi mengejek.
"Sendirian itu memang terasa hampa ya, Ric. Harusnya kamu membawa Rubel agar kamu tidak iri dengan kemesraan adikmu. Hahahaha!"
Lucas menertawakan Audric. Aera menoleh dengan bingung sementara Adolf menyeringai.
"Kamu tidak memancing?" tanya Aera.
Adolf kembali duduk. "Kamu memang tidak mengenal kakakmu dengan baik ya, Lui. Sejak kapan Ric mau mengotori tangannya." ujarnya dengan nada sarkas.
"Ah, aku lupa karena jarang bertemu. Ayo lanjut mancing." sahut Aera.
Dia melirik Audric yang menatapnya tajam. Ketika ponselnya berdering, Audric berdiri dan menjauh dari mereka. Meski begitu, Aera masih bisa melihatnya dari posisinya.
"Dia selalu sibuk, bahkan ketika libur begini. Kadang aku kasihan dengannya. Menjadi kepala keluarga diusia muda, dia kehilangan waktu bermain dan bersenang-senang." kata Lucas.
"Kamu selalu melankolis, Lucas. Audric bahkan tidak pernah mengeluh. Kalau dia mau, dia bisa menyerahkan posisi itu pada yang lain. Tapi sejak awal, dia mengambilnya. Bahkan dia melenyapkan faktor pengganggu saat itu."
Aera menoleh pada Adolf, kenapa cara bicara Adolf terdengar menyimpan sebuah kemarahan?
"Kamu selalu berada dipihak mereka, apa kamu akan terus seperti itu? Bahkan kamu tahu kebenarannya. Ric tidak akan melakukan hal itu jika dia tidak diprovokasi. Dia masih muda saat itu dan jika itu kamu, aku yakin kamu akan melakukan hal yang sama. Kalian berdua punya pandangan yang sama tahu."
Aera diam saja. Dia tidak mengerti, dia bahkan takut kalau Lucas akan melibatkannya dalam pembicaraan itu. Apa yang harus ia lakukan. Dengan wajah kawatir, dia menoleh pada Audric. Memintanya segera bergabung dan menyudahi pembicaraannya ditelepon.
"Lui, Lui?"
"Huh, Ya. Kenapa?"
Aera tidak sadar bahwa Lucas sudah memanggil namanya tiga kali.
"Kamu melamun ya, jangan pikirkan masalah itu. Tetap dukung kakakmu walau kamu akan menikahi Adolf."
Aera melirik Adolf yang tersenyum sinis. Seperti bukan Adolf yang selama ini ada dihadapannya.
"Jangan kawatir, aku suka perdamaian."
"Bwahahahaha!"
"Lui kita memang berbeda. Dia bahkan jalan-jalan dan menghabiskan uang selama setahun tampa peduli kakaknya bekerja keras. Itu pasti kamu lakukan untuk menjaga perdamaian, kan?" sindirnya.
Aera jadi ingat perkataan Audric, bahwa Lucas dan Luisa sedikit renggang setelah dewasa. Apakah aslinya mereka bermusuhan?
Mengingat sifat Luisa yang asli, mungkin saja begitu. Aera hanya harus menirunya kan?
"Aku punya tujuan, lagi pula bisnis dan politik dalam keluarga bukan minatku."
"Gadis ini, jangan berlagak tidak tahu apa-apa. Aku tahu kelicikanmu." balas Lucas.
"Jangan membahas yang tidak perlu, kita disini untuk bersenang-senang." sela Adolf.
Audric bergabung kembali dengan mereka. Menyudahi perdebatan singkat itu. Aera melihat bahwa Adolf menyudahi bukan karena ingin menolongnya atau memang karena alasan yang ia sebutkan tadi. Tapi karena dia melihat Audric yang selesai dengan urusannya.
'Apa mereka menghindari Audric masuk dalam perdebatan? Atau itu hanya Adolf sendiri?' tanya Aera dalam hati.
Adolf mendapatkan ikan lagi. Dia terlihat senang dan memamerkannya pada Aera yang langsung memberikan jempolnya.
Sepanjang obrolan ringan mereka, Audric lebih banyak diam. Dia hanya akan bicara jika Aera terjebak dalam sesuatu yang ia tidak tahu.
"Daging memang yang terbaik." kata Lucas.
"Benar." sahut Aera.
Mereka makan dengan suka cita seolah perdebatan beberapa saat lalu tidak pernah ada. Lucas yang selalu mencairkan suasana. Dia benar-benar pandai melerai perdebatan kecil antar Audric dan Adolf. Sesekali dia juga akan berdebat dengan Aera.
Dari luar, mereka terlihat seperti keluarga harmonis. Tapi bahkan Aera yang aslinya orang luar, bisa melihat permusuhan mereka satu sama lain. Tidak terkecuali dengan Luisa yang sedang ia perankan.
Aera mengantuk, mereka menikmati anggur tapi Aera hanya minum sedikit. Dia tidak ingin mabuk dan mengacaukan segalanya. Karena itu, dia memilih tidur dari pada meladeni keinginan Lucas dan Adolf yang ingin bertanding.
"Ya ampun, kenapa dia malah tidur..."
Lucas sudah mabuk, dia sudah akan menepuk tangan Aera yang tertidur di sofa sebelahnya sebelum Audric menepis tangannya. Adolf yang masih sadar segera memapahnya masuk kedalam kamar. Sementara Aera hanya diberi selimut dan dibaringkan di sofa.
__ADS_1
"Terakhir kali kita pergi bersama saat hight school, kan? Saat itu belum ada permusuhan ini."
Audric tidak menjawab, dia hanya menikmati anggur ditangannya.
"Kenapa kamu membawa Luisa kerumah utama? Kamu tahu dia tidak suka ada disana."
"Dia adikku, sudah seharusnya aku mengawasinya dari dekat."
"Kami akan menikah, sudahi sikapmu itu. Tidak masuk akal kamu terus menjauhkanku darinya."
"Itu hanya pernikahan diatas kertas. Kalian tidak benar-benar bersama. Aku yakin kamu juga tahu Luisa memiliki seseorang yang dicintainya."
Adolf tertawa, dia tahu Audric selalu mengawasi semua orang.
"Jadi, kamu tahu aku menyelidiki adikmu selama ini?"
"Kamu melakukamnya dengan sangat jelas, bagaimana aku tidak tahu?"
Adolf sudah terlihat mulai mabuk. Dia meminum anggur terakhirnya lalu menarik napas panjang. Dia bangkit dan berbaring di kasur santai luar. Tampaknya ia sudah tidak bisa menahan kantuk yang mendera.
Audric duduk di depan Aera yang sedang berbaring. Mengelus rambutnya dengan lembut sebelum mengangkat Aera dalam gendongannya. Dia berjalan menuju sisi sebelah barat. Dimana dari kejauhan dua buah speed boat melaju kearah mereka.
"Salah satu tinggal dan pastikan mereka baik-baik saja." ujarnya.
Audric membawa Aera yang masih tertidur naik ke atas speed boat dan mereka segera meninggalkan lokasi itu.
.
Aera terbangun dari tidur panjangnya di dalam pelukan seseorang. Dia mendongak dan menemukan wajah Audric yang tertidur. Tangan besar itu memeluknya dengan erat. Membuat Aera merasa kesulitan bergerak.
"Kamu sudah bangun."
"Hmm, bi-bisakah kamu melepaskanku?" pinta Aera dengan gugup.
"Tidurlah sebentar lagi. Sangat nyaman memelukmu begini."
Audric masih menutup matanya. Tapi Aera tahu dia sudah bangun sepenuhnya. Menghindari ketahuan kalau dia sangat gugup sekarang, Aera berusaha mencari topik pembicaraan.
"Kenapa kita bisa ada dikamarku? Kapan kita pulang?"
"Setelah kamu tertidur."
"Lalu Adolf dan Lucas?"
"Entahlah, mungkin masih disana."
Aera mendongak lagi, dia cemas. Mereka sedang mabuk dan ditinggalkan begitu saja.
"Bagaimana kalau ada bahaya? Mereka sedang mabuk!"
Audric membuka matanya, menatap wajah Aera yang mencemaskan mereka.
"Jangan kawatir, mereka sudah dewasa. Aku juga menyuruh seseorang mengawasi mereka."
Aera akhirnya diam. Keheningan terasa sangat mendebarkan bagi Aera. Meski Audric sudah beberapa kali memeluknya, tetap saja posisi ini terlalu intim baginya. Bukannya tidak nyaman, Aera hanya takut akan hanyut dan terus terbiasa. Sehingga dia lebih sulit lagi untuk menyelamatkan hatinya. Aera sadar, bahwa suatu saat nanti, mereka akan kembali pada posisi masing-masing.
"Apa yang kamu pikirkan?"
"Hanya... Masa depan."
"Masa depan?" ulang Audric.
"Ya, aku bukan adikmu Ric. Setelah kontrak selesai dan aku kembali keposisiku, aku harap kamu berjanji satu hal."
"Katakan."
"Jangan biarkan aku kehilangan kesucianku. Tolong lakukan apapun untuk mencegah keluargamu mengharapkan seorang anak. Kamu yang bilang aku boleh meminta syarat, bukan? Itu syaratku, tolong katakan pada mereka."
'Bahkan tampa permintaan itu, aku tidak akan membiarkan Adolf menyentuhmu.' jawab Audric dalam hati.
"Tentu, aku berjanji padamu."
Setelah menjawab Aera, ada sebuah kerisauan di dalam hatinya. Audric merasa perlu menanyakannya namun entah kenapa pertanyaan itu tidak bisa keluar. Seolah jika dia mengungkapkannya, hubungan nyaman ini akan berakhir canggung.
__ADS_1
Audric tidak ingin hal itu terjadi. Dia tidak ingin Aera menjauh atau menghindarinya. Dia ingin terus menjaga hubungan kakak adik yang Audric sendiri tidak yakin apakah ini normal. Meski begitu, mereka bukan kakak adik bukan? Jadi Audric tidak perlu memusingkan hal itu.