
Mereka memang melanjutkan berbelanja seperti yang Audric rencanakan. Tapi suasananya kenapa jadi begini?
Aera melirik Audric yang duduk disofa tunggu seperti seorang raja yang kejam. Dia memerintahkan Aera untuk mengganti pakaian dengan segera. Setelah itu dia langsung menyuruh Aera memilihkan beberapa setelan dan pakaian santai.
"Sebenarnya ada apa sih dengannya?"
Aera menggerutu pelan sambil terus memilih. Mana dia sama sekali tidak mengerti busana pria. Dia mana tahu yang mana yang sesuai selera Audric.
Flasback_
"Kamu menyukainya?"
"Hah?"
"Jawab aku, apa kamu menyukainya?"
"Adolf maksudmu? Ya... Dia pria yang baik dan menyenangkan sejauh ini. Tidak ada alasan untuk tidak menyukainya."
"Walaupun dia adalah tunangan Luisa?"
Aera menelengkan kepalanya sesaat, apa maksud Audric sebenarnya.
"Ya... Maksudku... Tidak peduli dia dan aku siapa. Tidak ada alasan bagiku membencinya juga. Dia baik sejauh ini."
Jawaban yang membuat Audric membuang pandangannya dan menjadi luar biasa diam sampai mereka tiba di depan sebuah toko pakaian yang terkenal dengan koleksi mahal mereka.
Flasback end_
Setelah setumpuk pakaian memenuhi tangannya, Aera menghampiri Audric dan meletakkan pakaian itu disebelahnya.
"Nah, pilih dan cobalah!"
Aera menghembuskan napas, lalu duduk dan memilih satu celana, satu kemeja dan satu jas. Karena lupa dengan dasinya, dia kembali berdiri dan memilih beberapa dasi dan membawanya.
"Oh, kemana semua orang?"
Aera tidak sadar karena fokus dengan dasi, semua orang ternyata telah meninggalkan area itu.
"Aku menyuruh mereka keluar. Kamu bantu aku mencoba semua ini."
"Benar-benar seenaknya."
Meski menggerutu, Aera tetap melakukan perintah itu. Dia mengikuti Audric yang berjalan menuju ruang ganti dan menunggu diluar pintu.
"Ini terlalu cerah."
"Tidak, ini cocok untukmu. Coba dasi ini!"
Aera memberikan dasi bewarna biru garis hitam senada dengan warna kemeja yang bewarna biru dan jas yang bewarna hitam. Tapi, bukannya mengambil dasi itu, Audric hanya menatapnya dengan datar.
"Pasangkan untukku."
"Hah? Aku tidak bisa memasang dasi tahu!"
"Kalau begitu belajarlah."
Aera memberengut dengan lucu. Dia mengalungkan asal dasi itu lalu mengikatnya seperti dia memasang dasi pramuka.
"Cukup bagus," komentar Ausric, dia memperhatikan dirinya dikaca.
Aera melirik tumpukan baju-baju itu.
"Kamu tidak berencana mencoba semuanya kan? Aku ada kelas satu jam lagi. Aku tidak ingin menundanya lagi."
__ADS_1
"Kelas?"
"Ya!"
"Kalau begitu aku akan mengantarmu."
Aera berkacak pinggang. Persis seperti seorang ibu yang akan memarahi anaknya.
"Kamu tidak kasihan dengan sekretarismu? Dia terus saja kawatir karena kamu keluar dari jadwalmu seenaknya."
Audric menatap Aera yang seperti itu sambil membuka bajunya. Membuat Aera mendengus dan berbalik.
'Bisa-bisanya dia sesantai itu melepas pakaiannya dihadapan wanita!' gerutunya dalam hati.
"Kamu tidak suka bersamaku? Apa bersama Adolf lebih menyenangkan? Kamu bahkan bisa mengganggu jadwalnya seharian lalu kenapa aku tidak boleh?"
Aera berbalik, syukurnya Audric telah memakai kemejanya lagi. Sehingga Aera tidak merasa canggung melihat dada telanjang seorang pria dihadapannya.
"Apa yang kamu bicarakan? Kamu dan dia berbeda. Kamu lebih sibuk darinya."
"Sepertinya kamu tidak tahu siapa tunanganmu sebenarnya."
Karena Aera diam sambil berpikir, Audric berjalan kembali ke sofa dan memnggil Harald. Menyuruh manajer toko membungkus semua yang diambil Aera tadi dan mengirimnya kerumah Luisa.
"Ayo, aku akan mengantarmu."
Aera segera mengikutinya, melirik Harald yang terlihat penasaran padanya. Ketika Aera menoleh, Harald malah membuang pandangannya. Bersikap seolah tidak melakukan apa-apa.
Setelah selesai mengantar Aera langsung ke tempat pertemuan, Gustav sudah menunggunya dengan tumpukan buku dan semua keperluan kuliahnya. Setelah Aera masuk, barulah Audric pergi.
.
Aera memyelesaikan mata kuliah yang ia tinggalkan sehari sebelumnya sampai malam. Matanya sampai sayu karena mengantuk dan dia menguap berulang kali. Aera bahkan harus makan malam disana bersama Gustav ketika pergantian materi dan pengajar.
Aera yang bersandar di kursi penumpang, menoleh ketika Gustav berdiri disamping pintu mobil yang terbuka.
"Kalau diingat-ingat... Selama aku disini aku belum pernah berbelanja selain kemarin. Ayo ke supermarket dan beli cemilan. Ah tunggu!"
Aera mengeluarkan dompetnya dan memeriksa sisa uangnya.
"Ah... Aku perlu mengambil uang dulu dari bank."
"Itu tidak perlu, Nona. Tuan Audric memberikan saya kartu yang bisa anda pakai untuk kebutuhan anda. Bahkan untuk membeli pakaian dan perhiasan."
Gustav memberikan sebuah kartu hitam pada Aera yang membuat gadis itu terbelalak.
"Sejak kapan? Maksudku... Untuk apa? Apa ini terhitung hutang nantinya?"
"Hutang?"
Gustav tidak menyangka pertanyaan seperti itu akan muncul dari Aera. Kebanyakan gadis pasti akan senang dan berbelanja sepuasnya, tapi mengapa Aera malah mengira ia akan berhutang?
"Aku tidak mau pakai itu sebelum jelas perjanjiannya. Aku akan pakai uangku sendiri saja. Ayo pergi!"
"Oh, baiklah. Tapi... Sebaiknya Anda ambil dulu kartunya. Ini diberikan sebelum Tuan ke luar kota. Maaf saya baru bisa memberikannya karena Anda kemarin menginap diluar."
"Tidak apa-apa, toh aku tidak membutuhkannya sejauh ini."
Aera menyimpan kartu itu dalam dompetnya dan kembali bersandar. Dia lelah, juga mengantuk, tapi keinginannya membeli cemilan juga besar karena dia jarang keluar rumah kecuali pergi bersama dua pria itu. Sejauh ini, Aera belum diberi izin untuk pergi sendirian. Dia masih dijaga ketat dimanapun dia berada. Baik ketika bersama Audric maupun Adolf.
"Nona, kita sudah sampai." kata Gustav.
Ketika dia menoleh kebelakang, dia mendapati Aera tertidur pulas. Karena itu dia memerintahkan supir untuk langsung pulang kerumah.
__ADS_1
Jam menunjukkam pukul 10 malam. Belum mencapai tengah malam meskipun sudah cukup larut karena malam lebih cepat disana. Audric juga baru tiba dirumah dan akan masuk kedalam ketika mereka tiba. Sehingga dia langsung menghampiri mereka.
"Tuan, Anda sudah pulang? Nona tertidur dalam perjalanan."
"Begitu? Biar aku yang menggendongnya kedalam. Kamu istirahatlah," jawab Audric.
"Baik Tuan, tentang kartu yang Anda titipkan kemarin, tampaknya Nona sedikit salah paham. Saya kira dia akan membicarakannya langsung dengan Anda nanti."
"Seperti dugaanku, dia akan melakukannya. Tidak apa-apa. Terima kasih telah menjaganya untukku, Gustav."
Gustav sedikit terkesiap, meski begitu dia menjawab dan membungkuk dengan senang hati.
'Apakah mungkin... Ini jalan yang baik untuk Nona Rubel maupun Tuan? Tapi... Bagaimana dengan para tetua keluarga ini?'
Gustav yang telah melayani keluarga Martel sejak lama melihat punggung Audric dengan raut kawatir.
Audric meletakkan tubuh Aera dengan lembut keatas kasur. Lalu membuka jaket yang dipakainya. Setelah itu dengan lembut dia membuka ikatan rambut Aera agar dia tidur dengan nyaman.
"Kamu terlihat sangat lelah, dan seperti biasa, tidur seperti orang mati." gumam Audric sambil tersenyum.
Pintu kamar Aera diketuk. Gustav masuk setelah diperintahkan olehnya. Membawa seluruh buku Aera dan tasnya.
"Ponsel Nona berdering bebera..."
Baru saja Gustav menjelaskan, ponselnya kembali berdering. Audric mengangguk dan mengambil tas Aera. Gustav segera keluar dan menutup pintu.
"Kenapa kamu sangat berisik malam-malam?"
Adolf yang menghubungi Aera, terdengar berdecak diseberang sana.
"Kakak ipar tercinta... Bisakah aku bicara dengan calon istriku? Aku begitu merindukannya karena kamu menculiknya pagi-pagi sekali."
"Dia sudah tidur."
Jawaban datar itu membuat Adolf berpikir bahwa mungkin saja Audric balas dendam padanya.
"Kamu mau membalasku ya? Aku benar-benar perlu bicara dengan Lui, jadi bisakah kamu bekerja sama, kakak ipar?"
"Dia benar-benar telah tidur, apa aku perlu mengirimkan fotonya padamu?"
"Oh, Tentu."
Seketika Audric menyesal mengatakan hal itu. Dengan kesal dia menolaknya dan langsung mematikan sambungan.
"Tidak akan!"
Audric menghela napas. Lalu matanya fokus pada wajah Aera yang terlihat sangat gelisah.
"Aera?"
Audric mengelus kepalanya dengan lembut. Tapi Aera malah menangkap tangannya dan memeluknya dengan erat. Perlahan, Aera nampak tenang kembali.
Audric perlahan menarik tangannya. Memperhatikan Aera lagi sebelum memutuskan melepas sepatu dan jas yang ia kenakan. Audric naik ke atas kasur dan memeluk Aera yang kembali gelisah.
"Nenek..."
Kata itu ia ucapkan berulang kali. Hingga Audric menepuk pelan punggungnya dan memberikan usapan lembut pada kepalanya. Aera kembali tenang, nafasnya kembali teratur dan dia berhenti memanggil neneknya.
'Aku baru sadar betapa mungilnya dia.' katanya dalam hati.
Dia juga merasakan jantungnya mulai berdetak tidak normal. Semakin lama degupnya semakin tidak beraturan. Meski begitu, Audric tidak merasakan ketidaknyamanan.
'Apa benar aku jatuh pada gadis seperti ini? Ini tidak masuk akal sama sekali. Dia hanya gadis yang diambil untuk menggantikan posisi Luisa sementara waktu.'
__ADS_1
Meski berkata begitu di dalam hatinya, perlakuannya selalu berbeda. Seolah pikiran dan tubuhnya tidak bisa bekerja sama. Audric tidak melepaskan pelukannya. Dia malah menutup matanya dan ikut tertidur.