BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)

BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)
Bukti apa?


__ADS_3

Friedrick menghembuskan napasnya pertanda ia sedang letih. Sudah lima hari sejak Audric meninggalkan Berlin. Dia juga bekerja keras menemukan bukti pembunuhan Leonor, atau alasan dia dibunuh.


Seluruh berkas rahasia yang terletak di dalam ruang rahasia bawah tanah rumah itu. Bahkan dengan diam-diam tampa diketahui pelayan lain, dia masuk ke dalam kamar yang dahulu ditempati oleh orang tua Audric. Bukan karena dia dilarang kesana, Friedrick memiliki izin penuh memasuki seluruh area rumah termasuk kecuali kamar pribadi Audric dan ruang kerjanya. Tampa izin Audric, tidak ada yang bisa memasukinya.


Dia juga menugaskan seluruh mata-mata yang tersebar disetiap rumah anggota keluarga Martell mencari petunjuk apapun. Namun hingga detik ini, tidak ada satupun bukti yang membuatnya bisa mengetahui siapa pelaku pembunuhan dan apa motifnya.


"Apa aku perlu mengunjungi sekolah itu? Karena sekolah itu bukan milik keluarga, bisa saja penyelidikan ini bocor." gumamnya.


Friedrick memutar otaknya. Tempat yang memungkinkan adalah bagian keamanan. 'Karena sudah sangat lama, mungkin saja CCTV saat itu sudah tidak ada. Atau mungkin sudah dilenyapkan.' pikirnya.


'Satu-satunya harapan adalah daftar karyawan dan guru saat itu.'


.


Aera menatap membaca buku diperpustakaan ketika dia merindukan masa kuliahnya di Indonesia. Aera rindu kehidupan lamanya, tapi tidak ada yang bisa ia lakukan sekarang karena kakinya diikat oleh Audric.


"Apa kamu memikirkan melanjutkan kuliahmu yang tertunda? Sangat disayangkan jika kamu mengakhirinya, Aera."


Audric berdiri di samping tiang, bersandar disana sambil memperhatikan Aera sejak tadi.


"Entahlah, tapi_ Bukankah aku hanya punya satu pilihan?" Aera menutup bukunya dan menatap Audric datar, "Yaitu patuh pada tuanku?"


Audric senang Aera mau bicara lagi dengannya setelah pembicaraan mengenai ayahnya saat itu, tapi perubahannya membuat hati Audric lebih sakit. Seakan dia telah membunuh jiwa Aera yang dulu hidup. Keceriaan dan senyum hilang darinya.


"Aku bukan tuanmu, kita akan menikah."


"Benar juga, tapi bukankah kamu harus mendapatkan izin dari waliku? Berhubung dia menemukan anaknya yang hilang, dia pasti tidak akan membiarkanmu begitu saja."


"Apa kamu berniat ikut dengannya sekarang?"


"Aku tidak bilang begitu. Dari pada dijual pada orang tak dikenal bukankah lebih baik ikut denganmu? Dari dua pilihan terburuk, jika ada pilihan ketiga tampa gangguan darimu, tentu saja aku akan pilih itu."


Audric berdiri dengan tegak, lalu berbalik untuk pergi. "Aku akan pergi sebentar, kita akan makan malam sebentar lagi dan besok akan berangkat ke Jerman."


Aera menatap buku ditangannya. Matanya mulai berkaca-kaca. Tapi sebaik mingkin ia menahan diri untuk tidak menangis disana.


"Bagaimanapun Audric adalah pilihan terbaik walau kamu membencinya. Dia orang yang bisa dipercaya untuk melindungimu."


Yohanes muncul entah dari mana. Tampaknya pria itu sejak tadi mendengar pembicaraan mereka. Dia berjalan mendekat dan duduk disamping Aera.


"Ambil ini," Yohanes menyodorkan sebuah coklat. "Ini bagus untuk memperbaiki suasana hati." katanya. Lalu dia pergi setelah mengusap puncak kepala Aera selayaknya seorang kakak.


'Tidak tahu kenapa, aku jadi ingin melindunginya, apa karena dia adik angkatku?' pikir Yohanes ketika pergi.


.


Paginya, Aera dan Audric berhadapan dengan Darwin sebelum keberangkatan mereka. Pria paruh baya itu datang membawa beberapa orang pasukan.


"Bukankah Aera telah memilih, kenapa Anda melakukan ini?" tanya Audric.


Nyonya Fernandes dan Yohanes ada dibelakang. Mereka baru saja selesai mengantar ke depan gerbang sebelum kedatangan Darwin yang tiba-tiba.


"Aku tidak mengizinkanmu membawa anakku. Aku akan membawanya pulang tuan Martell muda. Kamu tidak bisa membawanya tampa persetujuanku sebagai ayahnya. Kalau tidak, kamu akan bermasalah dengan hukum karena menculik seorang gadis dari tangan ayah kandungnya. Apalagi statusku yang tidak mungkin bisa diabaikan, kamu tidak akan membuat dua negara berseteru bukan?"


'Sial! Dia benar-benar serakah,' geram Audric dalam hati.


Audric tidak bisa berkata-kata. Bagaimanapun yang dikatakannya adalah kebenaran. Meskipun kekuatan keluarga Martell bisa menggerakkan negara, jika membuat kedua negara berseteru bukanlah hal baik untuk pihaknya. Itu akan menjadi hal yang rumit dan panjang. Dia bisa saja diserang bersama-sama.


"Aku sudah dewasa, haruskah aku masih mengikutimu?"


Audric menoleh padanya, dia cukup terkejut Aera akhirnya melawan ayahnya secara terang-terangan. Jika ini keinginannya, tidak ada yang perlu dia kawatirkan.

__ADS_1


"Charlotte... Bagaimanapun juga orang tuamu adalah tempatmu pulang, Nak! Pria ini berbahaya dan tidak baik untukmu."


"Pertama, namaku Aera, Tuan. Kedua, orang tuaku sudah meninggal. Aku yatim piatu sekarang, aku tidak punya rumah untuk kembali."


"Aera....Ayah mohon. Ayah ingin menjagamu dan membayar waktu yang telah Ayah sia-siakan."


'Aku ingin muntah mendengarnya. Bagaimana bisa dia bermuka tebal seolah aku tidak tahu apa tujuannya?' marah Aera.


"Ayo berhenti disini, Tuan Darwin. Kita tidak perlu mengotori tangan masing-masing disini dengan darah bukan? Meski saya tidak keberatan dengan itu."


Audric sudah berada diambang batasnya. Giginya menggeretak karena emosi. Dia menatap tajam Darwin yang kini bersikap waspada. Aera menoleh, dia bisa melihat urat-urat leher dan wajah Audric. Genggaman tangan pria itu di tangannya juga semakin mengencang.


"Hentikan, Ric."


Seketika Audric langsung tenang. Dia sudah lama tidak mendengar panggilan akrab itu, sehingga dia langsung menoleh dengan mata berbinar.


"Maafkan saya, tapi kami harus pergi."


Aera menarik tangan Audric untuk masuk kedalam mobil. Harald langsung menutup pintu begitu keduanya masuk dan menjalankan mobilnya.


"Anda ingin masul untuk minum segelas anggur, Tuan?" tanya Yohanes dengan senyum ramah.


Darwin yang menjadi sangat marah karena gagal membawa Aera menoleh.


"Tidak perlu, terima kasih atas tawaranmu. Maaf membuat suasana tidak baik. Untuk Anda Nyonya, saya minta maaf. Kalau begitu saya permisi." jawabnya dengan senyum yang dipaksakan.


"Dia tidak akan menyerah semudah itu kan, Ibu?" tanya Yohanes, mereka masih memandang punggung orang-orang yang pergi itu.


"Tentu saja, dia adalah orang serakah yang suka berfoya-foya. Aku tidak yakin anak diluar nikahnya hanya Aera saja. Sangat disayangkan dia keturunan raja sebelumnya, benar-benar kacau."


"Aku dengan dia anak yang dibuang pada akhirnya, diabaikan karena selalu membuat masalah. Pantas saja dia sangat berniat kali ini."


"Maksud Ibu, seseorang membocorkan rahasia padanya?"


"Bisa jadi, aku tidak begitu peduli jika itu orang luar yang butuh uang, tapi jika dari internal Martell, itu artinya serangan untuk Audric." jawab ibunya.


"Dan si rubah itu pasti jadi orang yang paling Ibu curigai, kan?"


Nyonya Fernandes menoleh, "Audric pasti sudah menduga siapa orangnya. Ayo masuk, kamu belum boleh kemana-mana."


Yohanes mengikuti ibunya sambil pura-pura murung karena masih dihukum. Namun sang ibu tidak mengidahkannya sama sekali. Terlampau hapal dengan tingkah anak bungsunya itu.


.


Kepulangan Audric dan Aera ke rumah utama keluarga Martell membuat semuanya gempar. Banyak yang mengira kalau dia Luisa pada awalnya sebelum melihat dari dekat warna bola mata Aera. Potongan rambut yang berbeda juga membuat mereka ragu.


Kecuali Friedrick dan beberapa orang terpercaya, mereka semua mengira Aera adalah anak keluarga Martell yang mungkin selama ini terpisah.


"Karena kita akan menikah, mulai sekarang kamu akan tidur di dalam kamarku." kata Audric.


Friedrick berjalan di depan mereka untuk mengantarkan mereka menuju kamar pribadi Audric. Memiliki arah yang berlawanan dengan kamar yang ia tempati dulu, Aera tidak pernah menginjakkan kakinya ke bagian timur istana megah keluarga ini. Dia selalu kawatir akan tersesat seperti sebelumnya.


"Silahkan beristirahat Tuan dan Nona. Saya akan memanggil Olivia untuk menyiapkan pakaian Nona dan keperluan Nona. Tuan, apakah ada yang Anda butuhkan lagi?"


"Tidak, aku ingin mendengar laporan atas tugas terkhir yang aku berikan. Ikut aku ke ruang kerja sekarang." perintah Audric.


Ruang kerja Audric ada disebelah kamarnya, jadi mereka hanya perlu berjalan beberapa langkah.


Tidak lama, Olivia datang dan langsung menggenggam tangan Aera. Pelayan yang melayaniny dulu, juga satu-satunya pelayan wanita yang mengetahui identitas aslinya.


"Saya senang Nona akhirnya kembali kesini. Saya sangat senang akhirnya Tuan menemukan Anda. Saya juga merindukan Nona Aera!" ujarnya dengan semangat.

__ADS_1


"Begitu? Terima kasih atas perhatianmu. Aku akan mandi."


Melihat sikap datar Aera membuat Olivia terkejut. Meski dia sudah diberitahu oleh Friedrick akan kemungkinan perubahan Aera, dia masih terkejut ketika melihatnya langsung.


"Nona pasti sudah sangat menderita. Saya akan berusaha menghibur Nona." ujarnya penuh percaya diri.


Lalu dengan ceria memilihkan dres untuk Aera yang buru-buru ia bawa dari kamar Aera sebelumnya. Dia melanjutkan dengan merapikan pakaian Aera yang dibantu oleh beberapa pelayan lain di walk in closet milik Audric.


"Kalian bisa keluar sekarang sebelum Tuan kembali, biar aku yang mengurus sisanya."


"Apa tidak apa-apa kamu sendirian Oliv? Tuan kan sangat sensitif jika orang asing ada dalam kamar pribadinya."


"Tidak apa-apa, aku adalah pelayan pribadi Nona sekarang."


"Hei, apa benar dia kekasih Tuan? Bukan saudara? Bukankah dia sangat mirip dengan Nona Luisa kecuali dalam beberapa hal?" tanya yang lain.


"Itu benar, jangan buat rumor tidak berguna. Kita bisa mendapat masalah. Aku bisa menjamin Nona bukan bagian dari Martell walau dia mirip Nona Luisa. Dia tidak ada hubungan apapun dengan kekuarga ini."


"Kamu yakin?"


Klek!


Suara pintu kamar mandi yang terbuka menghentikan perdebatan itu. Kedua pelayan lain segera memberi salam sekaligus memohon izin untuk meninggalkan kamar.


"Duduklah Nona, saya akan mengeringkan rambut Anda dulu."


Aera hanya diam saja, menuruti perkataan Olivia dan membiarkan pelayan itu mengeringkan rambutnya.


Sementara itu, diruang kerja Audric, Friedrick baru saja menyampaikan laporannya.


"Jadi, setelah kasus itu rekening tukang kebun dan seorang guru tiba-tiba mendapat kiriman dalam jumlah banyak? Dari mana kamu mendapatkan datanya?"


"Saya berhasil menemukan guru tersebut. Karena tukang kebun itu sudah pikun, saya tidak bisa mengintrogasinya dengan benar. Guru itu selama ini bersembunyi disebuah desa setelah mendapatkan uangnya."


"Siapa yang mengirimnya?"


"Kepala sekolah saat itu."


Audric berpikir sejenak, apa hubungannya kepala sekolah dengan kasus ini? Kenapa dia ikut turun tangan bahkan dengan uangnya sendiri.


"Tuan, guru itu mengatakan, bahwa tukang kebun itu selalu membual padanya sebelum tragedi itu, bahwa dia memegang bukti perselingkuhan kepala sekolah. Saya langsung melakukan penyelidikan, dan saya mendapatkan ini di dalam rumah tukang kebun itu."


Friedrick meletakkan sebuah ponsel model lama di atas meja.


"Saya sudah memperbaikinya, di dalamnya ada rekaman yang harus Anda lihat."


"Bagaimana dengan cctv yang hilang?" tanya Audric sembari memeriksa ponsel itu.


"Saya mohon maaf, sampai saat ini saya belum berhasil menemukannya. Sepertinya tidak ada satupun yang memilikinya."


"Itu tidak mungkin, seseorang akan menjadikan itu senjata. Entah siapa yang menyimpannya saat ini, kita harus memancingnya agar keluar."


Audric akhirnya membuka sebuah folder yang berisi dua vidio dan beberapa foto. Baru saja dia melihat siapa yang ada difoto, dia langsung tahu apa yang terjadi.


Audric menyeringai, dia bahkan hampir tertawa karena apa yang baru saja ia lihat. Sebuah aib keluarga yang membuat martabat Martell akan hancur. Dia seperti dipaksa melempar kotoran pada wajahnya sendiri ketika mengetahui fakta ini.


"Tidak ada lagi kehormatan, aku akan menghancurkan mereka tidak peduli martabat keluarga ini tercoreng." desisnya berapi-api.


Friedrick mengerti mengapa Audric akhirnya melepaskan apa yang selama ini ia pegang dengan kuat. Kehormatan keluarga yang selama ini ia pertahankan sendirian dengan segala cara, tampaknya tidak bisa ia pegang lagi. Terutama ketika kepercayaan Aera hilang darinya.


Setelah mendapat kabar dari Harald tentang keadaan Aera, Friedrick lebih menghawatirkan hati tuannya ini. Anak yang ia layani sejak kecil, Friedrick memahami bagaimana rasa kesepian yang dirasakan Audric sebelum bertemu Aera.

__ADS_1


__ADS_2