
Aera berlari sekencang mungkin. Sepatu hak tinggi mahal yang ia kenakan kini menjadi sepatu biasa setelah dengan Aera mematahkan haknya.
"Sial, kakiku sakit sekali."
Aera duduk diaspal tepat disamping tong sampah dan tumpukan sampah yang menggunung. Gang itu cukup gelap karena itu termasuk gang buntu.
Aera menatap langit, dia menghawatirkan Audric, tapi mengingat perkataan Ivon sebelum menyuruhnya berlari duluan, Aera tahu Audric akan baik-baik saja karena kemampuannya. Dialah yang jadi target empuk mereka karena menjadi kelemahan Audric.
Flasback_
Audric meninggalkan kericuhan dalam aula bersama Aera. Harald dan Ivon langsung bergabung. Sayangnya, hal yang tak terduga, sesuatu yang telah direncanakan Luisa dan Isaac menunggu mereka.
Begitu mereka keluar dari Aula, pintu langsung tertutup. Semua anggota Martell terkunci di dalam. Termasuk Luisa dan Isaac yang tadi hendak keluar. Semua orang terkejut, mereka mengira Audric yang melakukan ini untuk membungkam mereka karena perkataan Audric sebelum keluar.
Ditambah Isaac memanipulasi keadaan sehingga semua yang hadir percaya bahwa Audric sedang marah dan menunjukkan otoritasnya sebagai pemimpin yang kejam dan seenaknya.
"Ini tidak mungkin, Audric tidak akan melakukan hal seperti ini untuk menunjukkan kekuatan kepemimpinan. Ini sangat kekanakan, aku tahu dia tidak seperti itu." Ujar tetua pertama.
"Tetua, saya tahu Anda bijaksana. Lalu menurut Anda kenapa tuan Audric melakukan ini kalau tidak menyuruh kita patuh dan diam. Ini adalah ancaman terbuka pada kita karena dia menguasai dan memimpin langsung pasukan Martell." tegas Isaac.
Sementara perdebatan terjadi di dalam Aula, diluar Aula Audric dan Aera diserang oleh orang-orang yang ternyata telah menunggu mereka.
genggaman tangan keduanya terlepas. Audric berdiri dihadapan Aera ketika mereka menodongkan senjata. Namun pasukan pengawal yang baru saja tiba berhasil menjatuhkan senjata dan melumpuhkan pemegang senjata.
Sontak perkelahian tak terelakkan terjadi. Para pembunuh bayaran yang disewa oleh Isaac bersama pasukan yang berhasil ditarik Luisa kepihaknya saling serang. Tadinya, Audric tidak ikut turun tangan, mereka berjalan menuju lobi bersama Harald, Ivon dan dua pengawal Aera.
Sayangnya, Ivon tidak tahu jika Max telah berhianat. Pria itu diam-diam memakai masker dan meledakkan bom asap yang mengandung obat bius ketika Audric dan Aera telah memasuki mobil.
Ketika empat orang itu telah di dalam mobil, lima orang datang entah dari mana, melumpuhkan Jake dan menahan pintu mobil agar tidak bisa dibuka.
Ivon yang pertama kali berhasil menendang pintu karena dia bisa bertahan lebih lama dari pengaruh efek obat bius itu. Dia keluar dan menembak tiga orang. Begitu Harald dan Audric bisa keluar, pihak lawan berdatangan.
"Ivon, bawa Aera pergi sekarang." perintah Audric.
Tampa menunggu, Ivon segera mengangkat Aera yang pingsan dan membawanya menuju mobil lain.
Audric kehilangan banyak tenaga efek dari terlalu banyak menghirup asap. Begitu juga dengan Harald. Beruntung pasukan Martell yang lain cepat datang dan mengamankan mereka setelah Ivon berhasil membawa Aera.
Ivon dikejar dua mobil lain. Pelurunya tinggal dua dan Aera masih pingsan. Sambil menghindari kejaran, Ivon memutar otak untuk menemukan tempat untuk bersembuyi. Dia tidak bisa melawan dengan kondisi Aera yang tak sadarkan diri. Aeralah target mereka.
"Nona, saya mohon cepatlah sadar." gumamnya.
Dia nyaris menabrak dinding pembatas jalan ketika satu mobil berhasil mengejar dan menabrak mereka dari belakang.
Ivon berhenti di depan restoran dan membawa tubuh Aera memasuki area parkir dan masuk melalui pintu samping. Itu adalah restoran milik temannya. Dia tahu orang-orang itu akan datang, karena itu dia langsung keluar dari pintu belakang.
Dia berhenti masuk ke dalam gedung tua terbengkalai di belakang restoran. Merobek bagian bawah gaun Aera yang mengganggu.
"Sial, alat komunikasi terputus dan ponselku jatuh!" kesalnya ketika tak menemukan ponselnya disakunya.
__ADS_1
Mau tidak mau Ivon terpaksa mencari tempat persembunyian untuk menunggu Aera sadar. Karena tenaganya juga sudah banyak terkuras, belum lagi kakinya yang sejak tadi terus berdenyut. Ivon sengaja mengikat kakinya dengan perban sebanyak mungkin agar jahitannya tidak terbuka dengan mudah ketika ia berkelahi.
"Egh!"
Aera membuka matanya setelah setengah jam mereka meringkuk disana. Suara-suara perkelahian terdengar tidak jauh dari tempatnya. Aera akhirnya membuka matanya lebar-lebar ketika dia mendapati jas hitam menyelimutinya yang terbaring di lantai.
Aera bangun, mengendap-endap dan mengintip siapa yang sedang berkelahi itu. Begitu menyadari Ivon melawan lima orang sekaligus, Aera segera mengeluarkan senjata yang diberikan Ivon padanya. Dengan keberanian yang ia miliki, Aera bergabung.
"Nona! Mengapa Anda disini?"
Tentu saja Ivon kaget, padahal dia sengaja menjauhi tempat mereka tadi agar orang-orang ini tak menemukannya.
"Aku tidak bisa membiarkanmu sendirian. Lihatlah kakimu yang mulai berdarah lagi." teriak Aera sabil melayangkan satu tendangan.
Aera segera menancapkan jarum berisi racun itu pada paha lawannya yang sedang terjatuh. Lalu mundur kembali ke posisi di dekat Ivon.
Setelah tersisa satu orang lagi, mereka mendengar langkah-langkah kaki lebih banyak diluar. Ivon segera melumpuhkan laki-laki yang tersisa dan menarik Aera untuk bersembunyi.
"Nona, larilah keluar lewat jalan itu. Saya akan menghadang mereka. Larilah sejauh mungkin, sebisa mungkin hindari keramaian, tolong lari sejauh mungkin. Karena ada penghianat diantara pasukan, Anda juga tidak bisa pulang kerumah. Kita tidak tahu keadaan rumah saat ini."
"Audric... Dimana dia? Apa yang terjadi?" tanya Aera dalam bisikan panik.
"Sstt!"
Ivon memberi aba-aba untuk mundur. Lalu mereka pelan-pelan berbelok melewati tiang-tiang dengan di dinding yang belum selesai. Ada pintu keluar disana, menuju semak-semak diluar.
"Tapi, bagaimana denganmu? Kamu juga terluka."
Ivon menunduk untuk melihat keadaan pahanya yang celananya kini basah oleh darah. Lalu dia menatap Aera dengan sorot yang penuh tekad.
"Percaya pada saya, Nona. Tolong pergi sekarang, jangan kawatirkan apapun."
Aera menggeleng pelan, dia hampir menangis kalau saja Ivon tidak mencengkram kedua bahunya dan menatapnya dengan lebih serius.
"Jangan lemah, tolong jangan lemah, Nona! Tolong hargai apa yang saya lakukan demi Anda sekarang."
Flasback end_
Aera memeriksa jam tangannya, dia sudah pergi selama 20 menit. Tidak ada tanda-tanda Ivon akan menyusulnya. Sampai detik ini dia masih bisa menghindari pengejaran pihak lawan. Aera juga tidak yakin kemana dia harus pergi setelah 10 menit wantu tersisa seperti yang disuruh Ivon.
'Harusnya aku tidak meninggalkan ponselku di dalam mobil.'
Krak!
Suara botol minuman plastik terinjak terdengar tidak jauh dari posisinya. Aera melipat kakinya dan segera berjongkok. Senjata pemberian Ivon ia pegang dengan sangat erat.
Langkah kaki itu tidak hanya satu. Ada sekitar tiga orang. Aera sangat yakin. Lalu salah satunya terdengar berbicara. Membuat Aera mengernyit.
'Sepertinya mereka bukan orang yang mengejarku, suaranya seperti remaja.'
__ADS_1
Aera mencoba mengintip, benar saja dugaannya. Mereka hanyalah remaja yang sedang mabuk dan menghisap sesuatu yang seperti obat terlarang.
'Sial! Kenapa mereka memilih tempat ini sih!'
Aera tetap diam ditempatnya, karena jika dia keluar untuk melewati mereka, dia pasti akan diganggu.
'Aku hanya harus menunggu...'
"Hai nak! Apa kalian melihat seorang wanita memakai gaun pesta lari ke arah sini?"
Aera menegang ditempatnya ketika suara pria dari jauh berteriak kepada tiga remaja itu.
"Paman! Kalau kami melihatnya sudah pasti kami yang duluan menangkapnya untuk bersenang-senang!" jawab salah satu dari mereka. Lalu yang lainnya tertawa seperti orang gila.
'Dasar brengsek! Mereka pikir aku apa!' kesal Aera.
Brug!
"Akh!"
"Hoi paman! Apa-apaan ini!"
Aera mendengar tubuh seseorang membentur dinding dan jatuh. Lalu yang lain berteriak pada si pelaku yang menyerang temannya.
"Akh!"
Terdengar suara yang keluar akibat cekikan.
"Karena itu saat seseorang bertanya jawablah dengan benar."
Suara rendah pria dewasa, Aera tidak berani bergerak seincipun. Dia hanya mengharapkan keuntungan pada posisinya. Jika mereka lebih dari satu orang dengan kemampuam selevel Dimitri saat itu, Aera sudah pasti akan kalah. Dia hanya harus memilih yang lebih menguntungkan baginya.
"Ti-tidak lihat! Kami tidak lihat! Kami juga baru datang." ujar anak yang sama yang tadi berteriak.
Bruk!
Terdengar suara jatuh ke lantai. Lalu langkah-langkah mulai menjauh. Meninggalkan anak-anak itu yang langsung saling mengumpat. Aera mengintip sedikit, melihat kearah mana orang-orang itu pergi.
Aera berdiri, berjalan keluar karena merasa sudah waktunya dia pergi. Dia harus berlari kearah berlawanan.
"Wuaaa! Kamu!" teriak salah satu anak ketika Aera melewati mereka.
"Bukankah dia yang dicari orang-orang tadi? Wanita dengan gaun pesta, tapi kenapa gaunnya begitu?" tanya yang lain.
"Dari mana dia muncul?" tanya anak yang tadi dicekik.
Ketiganya hanya saling pandang, meski dalam keadaan sedikit mabuk, mereka tidak terlihat agresif. Mereka hanya duduk dan diam memperhatikan Aera yang pergi.
Aera juga tidak mengidahkan mereka, dia hanya terus berjalan untuk meninggalkan tempat itu.
__ADS_1