BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)

BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)
Masalah baru


__ADS_3

Seorang pria paruh baya yang sedang duduk dilingkaran meja kasino mendapat laporan. Dia langsung menoleh pada anaknya yang berdiri kaku beberapa meter darinya. Dia mengangkat tangannya pertanda pengusiran.


Anak yang menderita luka itu menggigit bibirnya dengan kuat. Lalu berlari keluar dari sana dengan ekspresi kecewa dan marah. Pria itu tampak tak peduli, setelah menerima laporan, dia seperti berpikir lalu tersenyum sendiri. Seolah sebuah rencana muncul begitu saja dalam kepalanya.


.


Audric menatap Aera yang menunduk di dalam kamarnya. Aera perlahan mengangkat kepalanya, memberanikan diri menatap mata yang kini seolah menembusnya.


"Aku hanya membela diri. Mereka yang mulai."


"Kamu tahu masalah apa yang kamu timbulkan?"


Aera menunduk lagi. Dalam hati dia kesal karena dia dimarahi atas hal yang menurutnya bukan salahnya. Aera hanya mencoba membela diri.


"Nama Luisa tidak boleh rusak sampai semua urusan ini selesai."


"Bukankah sudah aku bilang! Aku hanya membela diri! Apa kamu ingin Luisa mencium kaki gadis itu? Haruskah aku melakukan itu untuk menghindari perkelahian!"


Aera bangkit dan mendongak, menatap Audric dengan kesal.


"Ada apa denganmu? Aku hanya memintamu memperbaiki emosimu didepan umum. Ada hal-hal yang harus kamu jaga! Luisa adalah wanita sekelas bangsawan, kami tidak pernah menggunakan tinju kewajah orang lain. Jika kamu ingin membalas, harusnya kamu menggunakan otakmu. Begitulah para kelas atas mengatasi masalah."


Ini adalah kalimat terpanjang dalam satu tarikan napas yang Audric ucapkan kepadanya. Bukan nada dingin dan tatapan kemarahan yang membuat hati Aera terasa tertusuk. Tapi makna kalimat itu terasa sangat merendahkannya. Seolah dia adalah makhluk rendahan yang tidak tahu tatakrama kalangan atas sepertinya.


"Aku bukan kalian, aku hanya yatim piatu miskin yang kamu paksa mengikuti kemauanmu. Maafkan aku, kalau aku belum bisa meniru adikmu."


Nada suara Aera menjadi sangat rendah dan dingin. Dia berlari keluar dari kamarnya. Dia hanya ingin sendirian saat ini. Rasanya dia tidak akan bisa menahan air matanya lebih lama jika terus bertengkar dan membela diri. Dia sadar posisinya. Dia hanya harus menenangkan diri dan bersikap biasa seperti sebelumnya.


Ketika Adolf meneleponnya, dia berhenti dan segera mengangkatnya. Tidak tahu mengapa, seolah dia ingin segera mengadu begitu melihat nama Adolf dilayar ponselnya.


"Hik! Bisakah kamu menjemputku? Pura-puralah berkunjung atau apapun." pintanya sambil menangis.


"Oh my baby... Ada apa denganmu? Sesuatu terjadi?"


"Kumohon, aku hanya ingin pergi sebentar saja dari rumah ini."


"Jangan menangis, aku akan mampir kesana sebelum ke kantorku."


"Terima kasih."


Aera mematikan sambungan dan berjalan keluar. Dia duduk diarea taman bunga milik Luisa. Mengusap air matanya dan menatap hamparan bunga dengan sedih.


"Nenek... Aera rindu Nenek... Kenapa disini terasa semakin sulit? Apa pilihan Aera ini salah?" isaknya.


Dia menaikkan kakinya kebangku lalu menyembunyikan wajahnya kedalam lutut.


Audric, yang masih berada di dalam kamarnya melihat sosoknya dari balik jendela.


Ponselnya berbunyi, Harald mengirim pesan bahwa nama Luisa sudah dihapus dari catatan kepolisian. Harald juga mengingatkannya untuk jadwal selanjutnya.


Audric menghampiri tiga orang yang telah berdiri sejajar diluar kamar Aera. Gustav bersama dua pria yang mengawalnya tadi.


"Kalian pasti tahu ada hukuman untuk sebuah keteledoran bukan?"


"Maafkan kami, Tuan." jawab mereka satu persatu.


"Apa aku akan semudah itu pada kalian?"


Audric sudah memutuskan, dia harus melakukan hal yang lebih ketat dari sebelumnya.


"Kalian berdua bisa pergi, aku akan mengirim pesangon sesuai masa kerja kalian. Gustav! Kemasi seluruh barang Lui. Aku ingin semua barangnya telah ada dirumah utama ketika aku pulang. Seseorang akan mengawalnya dari sini. Dua minggu setelah masa hukumanmu, datanglah kembali untuk menjadi pelayan pribadi Lui dirumah utama."


.


Aera sudah berhenti menangis ketika Adolf datang. Sudah cukup sore, dia tiba pukul dua dan langsung menemui Aera di taman seperti bunyi pesannya.


"Lihat matamu yang indah ini. Semua jadi bengkak." godanya.

__ADS_1


Aera langsung berdiri dan menariknya untuk pergi.


"Tenanglah, Aera. Jika kamu langsung kabur kerumahku, Ric hanya akan semakin mengamuk."


"Maka sembunyikan aku!"


Adolf tersenyum dan memegang puncak kepalanya.


"Aku bisa saja melakukan hal itu, tapi kamu adalah Luisa. Aku adalah calon suamimu. Ayo nikmati permainannya dan jangan pikirkan apa yang dia katakan."


Aera terdiam, Adolf benar. Kenapa dia yang susah sendiri karena perasaannya. Aera jadi tersadar bahwa selama ini Audric selalu mempermainkan emosinya. Dia seolah sebuah bidak catur yang sedang dipegang oleh Audric.


"Bagaimana caranya? Apa yang harus aku lakukan?"


Adolf tersenyum mendengar pertanyaan itu. Dimatanya, Aera hanyalah gadis polos yang begitu kuat. Gadis naif yang mudah dimanipulasi oleh pria seperti Audric. Entah alasan apa, yang membuatnya selalu ingin ikut campur urusannya.


"Sebelum itu, kamu harus menceritakan apa yang telah terjadi. Kenapa kamu menangis seperti ini, Hmm?"


.


Aera berhasil pergi bersama Adolf setelah menyelinap dari Gustav yang sedang sibuk. Para pengawal yang baru saja berganti tidak mengetahui bahwa Aera tidak boleh pergi saat ini walaupun bersama Adolf.


Dengan santai Adolf membawa Aera ke kementrian dan menyuruhnya duduk di sofa ruang kerjanya. Dia menerima kotak P3K dari Harry dan mengobati luka Aera.


"Nah, sekarang ceritakan mengapa kamu sampai seperti ini."


Adolf menerima berkas dari Harry sambil menemani Aera.


"Kamu sedang bekerja, jadi selesaikan saja. Nanti saja ceritanya."


Seorang wanita masuk ke dalam dan menyerahkan dua buah gelas teh dan sepiring cemilan. Dia tersenyum pada Aera sebelum pergi. Matanya menyiratkan rasa penasaran dan antusias yang besar. Tentu saja, ini adalah kali pertama Adolf membawa wanita ke dalam ruangannya.


"Kenapa dengan karyawan tadi? Kenapa senyumnya sangat lebar begitu?"


"Jagan hiraukan dia." sahut Adolf.


"Dia hanya penasaran dengan Anda, Nona. Adolf tidak membawa wanita manapun kedalam wilayah pekerjaan. Apalagi sejak Anda kembali, dia tidak bermain-main lagi. Tidak ada wanita manapun yang menarik dimatanya sekarang, kecuali..."


"Sebentar, Sir!"


Aera melihat senyum geli diwajah Harry. Pria afrika itu tampak sangat santai mencampuri urusan atasannya. Hal itu membuat Aera penasaran.


"Kalian terlihat sangat dekat."


"Benarkah? Selain sekretaris pribadiku, Harry juga sahabatku. Kami bersama sejak masa kuliah."


Aera mengangguk, lalu ketika Adolf memberikan tatapan dengan senyum khasnya, dia baru teringat sejak tadi pria itu menunggu ceritanya. Dia ingin hanya Adolf saja yang tahu, tapi karena pria ini sedang bekerja, Aera tidak ingin mengganggunya dengan meminta Harry pergi.


"Sebenarnya... Aku terlibat perkelahian dengan seseorang di perpustakan kota. Aku terpancing..."


Aera tidak melanjutkan ceritanya karena Adolf langsung menatapnya dengan antusias. Harry bahkan berhenti melakukan sesuatu dan ikut menoleh.


"Melihat jumlah lukamu, kamu pasti menang kan? Satu lawan satu atau kamu melawan banyak gadis sekaligus?"


"Sir, tidak seharusnya pertanyaan itu yang Anda ucapkan..."


Adolf tertawa, Aera merasa lebih lega. Dia kawatir Adolf akan memarahinya seperti Audric. Bagaimanapun, mereka akan menikah walau hanya diatas kertas.


"Kamu pasti dimarahi karena merusak nama Luisa, jangan pikirkan hal itu. Ric punya segudang cara untuk membersihkannya. Jangan menangis hanya karena hal itu, Aera. Bersikaplah tidak peduli mulai sekarang."


Aera melirik Harry yang memijit keningnya pelan, terlihat frustasi dengan apa yang dikatakan Adolf. Aera menatap Adolf untuk memastikan apakah pria ini sedang bercanda atau tidak. Nyatanya, tatapan Adolf begitu lurus dan tegas, mengisaratkan bahwa dia tidak main-main menyuruhnya begitu.


'Tapi kenapa? Kenapa aku harus melawan Audric? Bagaimana kalau dia mengancam keselamatan nenek?'


"Aku menghawatirkan nenekku."


"Baby girl... Ric tidak sepicik itu. Kecuali kamu melakukan penghianatan, dia tidak akan melanggar janjinya."

__ADS_1


Adolf mengulurkan tangannya, menyentuh wajah Aera dan mengelus pipinya.


"Jadilah berani, kamu tidak harus berada dibawah kendalinya."


Adolf menarik tangannya kembali dan melanjutkan pekerjaannya. Dia melirik jam tangannya, sepertinya ada pertemuan yang harus ia hadiri lagi.


"Bisakah kamu menungguku disini? Kita akan makan malam setelah aku selesai dengan urusanku."


Aera hanya mengangguk.


"Bagus, aku akan menugaskan seseorang untuk menjagamu diluar. Jangan berkeliaran dimanapun, reporter bisa saja mengambil gambar dan membuat berita yang menyebabkan skandal."


"Apa reporter bisa bebas keluar masuk?"


"Tentu saja tidak, tapi mereka selalu punya cara untuk bisa menerobos." sahut Adolf sembari bangkit berdiri.


Setelah Adolf pergi, Aera memeriksa ponselnya. Ada panggilan dari Gustav dan juga pesan. Aera menghela napas. Dia tidak ingin membukanya. Dia tidak ingin pulang sekarang.


.


Audric yang masih berada disebuah hotel untuk menghadiri sebuah perjamuan, menahan keinginannya untuk langsung menjemput Aera setelah mendapat laporan Gustav.


"Ada masalah lagi, Sir?"


"Dia pergi bersama Adolf."


Audric mengangguk ketika beberapa orang menyapanya. Berbicara sebentar sebelum memberi perintah pada Harald.


"Orang-orang itu, perintahkan mereka mencari keberadaannya sekarang. Aku akan mengambilnya langsung dari tangan Adolf."


"Dia pergi setelah terlibat masalah, apakah Anda memarahinya terlalu keras, Sir?"


Audric meliriknya dengan malas. Pertanda bahwa dugaannya benar. Membuat Harald menghela napas.


"Saya tidak mengerti dengan Anda. Bukankah Anda ingin menempatkan dia dipihak Anda? Jangan sampai sikap keras Anda membuatnya lari kepelukan calon suaminya. Itu akan menyusahkan Anda, Sir."


"Apa maksudmu?"


"Maksud saya, dia bisa saja pindah haluan karena membenci Anda."


Audric tidak menjawab karena mejanya didatangi oleh seseorang yang anaknya baru saja membuat masalah siang tadi.


"Aku datang terlambat, tapi syukurlah aku bisa bertemu denganmu disini."


"Zagman zinovic, tempat ini harusnya tidak bisa dimasuki orang sepertimu. Pasti uangmu telah keluar cukup banyak untuk bisa duduk dihadapanku."


Pria tua yang dipanggil Zagman itu mengeraskan rahangnya sebelum kembali melemaskan ototnya. Dia tersenyum lebar seolah penghinaan Audric bukanlah apa-apa.


"Aku ingin meminta waktumu, bisakah kita bicara secara khusus berdua saja?"


Audric menatapnya dengan pandangan tak terbaca. Ekspresi datarnya membuat Zagman mengepalkan tangannya dibawah meja. Secara psikis, dia jelas terpengaruh oleh sosok Audric dengan segala latar belakang yang membayanginya.


"Apa tanganmu cukup kuat sehingga kamu berani mengangkatnya dihadapanku, Zagman?"


Lihatlah, keringat dingin dipelipis pria tua itu membuat Audric semakin ingin mengancamnya. Seberapa besar keberanian itu dan apa yang ia ketahui sehingga berani menemuinya dengan cara kurang ajar seperti ini?


"Jangan mengancamku saat aku punya peluru ditanganku. Sir. Audric martell, Adikmu... Bukan liburan keliling dunia tapi kabur bukan?"


Meski terkejut, Audric tidak memperlihatkannya sama sekali. Dia sangat tenang.


"Berikan aku waktumu, atau yang lebih besar akan aku lempar ke media. Mereka selalu lapar jika berkaitan dengan keluarga Martell. Kasus perkelahian bukan apa-apa tentu saja. Aku hanya bisa menjadikan itu sebagai bumbu tambahan."


"Zagman... Kamu benar-benar berusaha keras. Sepertinya aku harus menyisakan waktu berhargaku untuk memenuhi undanganmu."


"Tentu, kalau begitu semoga hari Anda selalu baik, Sir. Martell."


Beberapa pandangan mata yang sejak tadi memperhatikan Audric dari jauh langsung membuang pandangan mereka ketika Audric berdiri. Karena mejanya diletakkan khusus ditempat yang agak jauh dari yang lain. Membuat pembicaraannya tidak akan terdengar dari jarak mereka. Sehingga mereka hanya bisa melihat dan menerka-nerka tujuan dari seseorang yang berani menghampirinya.

__ADS_1


"Cari tahu sejauh mana dia mengetahui rahasia itu, Harald." perintahnya sambil mengancingkan jasnya.


Mereka segera meninggalkan perjamuan itu walau tampaknya masih ada yang ingin bergabung dimejanya untuk sesaat. Audric hanya menyapa sekilas orang-orang, baik rekan bisnis maupun saingan bisnisnya yang juga menyapanya ketika ia lewat.


__ADS_2