
Setelah Harald menjelaskan terkait keterlibatan Darwin dan Gustav yang menolong Aera, Audric mengetuk-ngetukkan jarinya tampa sadar diatas lutut.
'Dia pasti sedang merencanakan sesuatu dalam kepalanya.' pikir Harald.
"Dia berencana membunuhku, anak itu benar-benar..." Aera sungguh tidak habis pikir akan niat jahat Luisa. Setelah membunuh neneknya, kini Luisa juga mengincarnya. Bukan sekedar mencelakai, tapi ingin dibunuh.
"Bagimana dengan tetua yang berbelok pada adikku dan Isaac?"
"Mereka seperti air mengalir. Anda akan lihat saat pertemuan besar nanti."
"Ah... Pestanya. Aku sampai lupa, bagaimana persiapannya?"
"Siap dalam dua hari, Tuan."
"Tunggu! Pesta perkenalan itu?" sanggah Aera.
Audric menggenggam tangannya, "Sebenarnya itu bukan hanya pesta perkenalan. Pertemuan besar keluarga ini akan menunjukkan siapa yang memiliki pengaruh paling kuat." jawab Audric.
"Bukankah kepala keluarganya?"
"Tentu saja, selain para tetua, ada kepala keluarga kecil yang juga memiliki peran dibawahku. Mereka bertanggung jawab pada pengelolaan bisnis di beberapa daerah, atau perusahaan dibawah grup besar Martell."
Aera berusaha mencernanya. Membuat Audric tersenyum lembut melihat ekspresi yang terbentuk diwajahnya.
"Ya ampun, berhenti berpikir karena kamu jadi sangat imut. Aku jadi ingin menciummu tahu!" kata Audric dengan lancar.
Harald yang tahu sifat asli Audric dan kadar kebucinan dirinya pada Aera, menggeleng dan memasang wajah geli. Meski tidak sekali ini saja dia melihat tingkah bodoh Audric jika sudah menyangkut Aera, tapi tetap saja ini diluar prediksinya.
"Lihat pipimu jadi memerah, apa kamu demam?" goda Audric lagi.
"Mana mungkin!" sanggah Aera sambil menutupi kedua pipinya.
'Kenapa sangat menggemaskan, aku ingin sekali menggigit pipinya.' gemas Audric dalam hati.
"Jangan pedulikan dia, anggap dia tunggul." kata Audric ketika Aera tampak malu melirik Harald disana.
"Anda membuat saya sedih, Tuan." sela Harald dengan wajah pura-pura menderita.
Audric tidak mengidahkannya, dia sibuk menatap Aera yang sedang salah tingkah.
"Ric!"
"Hmm?"
"Hen-Hentikan."
"Hahahahaha! Baiklah... Baiklah."
Audric memperbaiki posisinya, lalu menatap Harald lagi.
"Temui Gustav, periksalah apakah dia masih setia atau tidak."
"Baik, bagaimana tentang perusahaan? Kita ada pertemuan satu jam lagi. Lalu Rupert meminta bertemu dengan Anda terkait perusahaan Filla yang baru saja kita tolak. Bukankah ini menarik, Tuan?"
"Mereka sungguh kekurangan dana dalam membuat senjata ya, setelah menarik perusahaan pembuat senjata, kini mereka mencari dana tambahan. Memang apa keuntungan yang mereka tawarkan kali ini?"
"Rupert belum mengatakannya pada saya. Tampaknya ada yang serius dimana Anda harus memutuskan langsung."
"Pergilah duluan, atasi masalah kecil yang ada. Aku akan menyusul."
"Jadi, tampaknya kamu sangat sibuk." kata Aera setelah Harald keluar.
"Tapi rasanya aku tidak ingin pergi. Setelah kamu tidak mendorongku lagi, aku jadi semakin merindukanmu."
Audric memeluknya lagi. Menempel seperti gurita, ikut naik ke ranjang pasien dan duduk disebelah Aera. Memeluk tubuh mungil itu dan menyandarkan kepala Aera di dadanya.
"Soal pesta itu... Apa kira-kira yang akan terjadi nanti?"
"Mungkin serangan terencana." jawab Audric dengan santai.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" Aera jelas jadi khawatir.
Audric menyatukan jari-jari mereka dan mencium pelipis Aera.
"Keluarga Martell itu cukup besar, setidaknya ada tujuh kepala keluarga berpengaruh karena jasanya memajukan perusahaan. Meski satu sudah aku hancurkan karena ulahnya sendiri. Walau aku kepala keluarga, aku tetap harus mendengarkan usulan dan saran mereka." Tentu yang hancur itu adalah keuangan pamannya.
"Jadi, kira-kira rencana apa yang akan mereka gunakan untuk menyerangmu?"
"Mungkin identitasmu, kepemimpinanku dan tindakan otoriter yang aku lakukan, jika mereka berani, mungkin kematian Leonor. Kita akan lihat nanti."
"Kamu tidak takut?"
Audric tertawa kecil. Takut tidak ada dalam kamusnya omong-omong.
"Aera, aku dibesarkan untuk menjadi pemimpin yang kuat. Sejak kecil aku sudah mengikuti ayahku bekerja dan melihatnya memimpin. Termasuk melihatnya memberikan hukuman pada penghianat atau orang-orang yang menyerang kami. Jadi ini bukan apa-apa bagiku."
'Aku tidak bisa membayangkan bagaimana cara dia dibesarkan. Tapi tampaknya Audric kecil tidak tumbuh seperti anak seusianya.'
"Jangan kawatirkan apapun, cukup lihat aku dan katakan apapun yang ingin kamu katakan nanti. Bahkan jika keputusanku kamu tentang, aku akan mengikuti keinginanmu selagi tidak membahayakanmu."
"Aku mengerti."
Aera memang kawatir, tapi mendengar perkataan Audric membuat kekawatirannya sedikit berkurang.
.
Rupert membuka pintu sebuah ruangan di dalam gedung MFc yang selama ini selalu kosong. Dalam setahun, bisa dihitung jari Audric kesana. Setiap kesana kedatangannya juga selalu dirahasiakan. Tidak ada satupun karyawan yang mengetahui kecuali Rupert dan kepala keamanan yang juga berasal dari Martell.
"Tidakkah Anda ingin memeluk saya yang telah bekerja keras ini?"
Rupert merentangkan kedua tangannya. Seperti seorang ayah yang sedang menyambut putranya pulang merantau. Namun tatapan datar Audric membuatnya mencibir dan memilih berhenti bercanda.
'Bocah ini tidak pernah berubah.' cibir Harald dalam kepalanya.
"Jadi, dia ingin menemuiku?"
Audric menarik sudut bibirnya, tersenyum sinis kemudian. "Tambang batu bara... Dia menaikkan penawaran setelah gagal denganku kemarin. Meski diwilayah itu ada dua tambang, mereka menawarkan ini setelah menawarkan hak penuh monopoli perdagangan disana pada Martell."
"Wah, bukankah tawaran itu juga menarik? Walau kita tidak butuh mereka untuk memonopoli wilayah itu, bahkan kita tidak begitu membutuhkan wilayah itu. Kekayaan alamnya yang lebih menggiurkan. Lihat bahan baku sebesar itu, kita bisa menurunkan biaya produksi dan meraih keuntungan berlipat setelah kita kehilangan tambang sebelumnya." ujar Rupert.
'Itu memang penawaran yang menggoda. Tapi...' belum sempat Harald menyelesaikan pemikirannya, Audric telah mengatakannya sama persis seperti yang ia pikirkan.
"Mereka menginvasi dan menyerang karena menginginkan itu, kenapa mereka menawarkan hal yang mereka inginkan?"
"Maksudmu mereka punya tujuan lain yang lebih besar?" tanya Rupert.
Audric tidak menjawabnya. Dia perlu memikirkan hal ini terlebih dahulu. Yang ada dikepalanya saat ini adalah calon istrinya.
"Anda akan pergi?" tanya Rupert melihat Audric berdiri dan merapikan jasnya. "Tapi masih ada yang perlu aku diskusikan."
"Aku akan menghubungimu nanti, jangan putuskan dulu terkait hal ini." jawab Audric, lalu dia melangkah keluar. Melewati Rupert yang telah berdiri. "Apa Luisa menghubungimu lagi?" tanya Audric dan berhenti di depannya.
"Tidak, tenang saja. Aku tidak akan ikut campur perang keluarga kalian."
"Aku harap begitu, menusukku dari belakang bukan pilihan yang bagus. Aku tidak punya stok sabar yang lain untukmu."
Rupert tersenyum seolah mengatakan itu tak akan terjadi lagi. Ancaman dan kemarahan Audric memang bukan main-main.
Setelah Audric keluar dari sana, Rupert duduk kembali. Menatap telapak tangannya yang basah. Lalu menghela napas dan bersandar pada sandaran kursi, menatap keluar dinding kaca yang menunjukkan langit mendung yang kelam.
"Bertindak sebagai penonton memang menyenangkan, tapi akan lebih asik kalau ikut didalamnya. Sayang sekali." gumamnya dengan nada kecewa.
.
Aera keluar dari rumah sakit bersamaan dengan Ivon. Mereka berdua menuju ruang rawat Darwin untuk melihat keadaanya. Ibu tirinya ada disana. Darwin juga sudah sadar. Ketika dia melihat Aera muncul di depan pintu, dia segera duduk sambil menahan rasa sakit. Darwin ditembak Dimitri di perut dan dadanya. Beruntung ia masih selamat.
"Aera... Nak, maafkan aku." katanya dengan penuh rasa bersalah.
Ibu tiri Aera juga terlihat menyesal. Tampaknya dua orang ini telah menyadari keserakahan mereka hanya membawa kerugian. Aera mendekat, berdiri disisi ranjang. Beberapa bekas memar masih terlihat diwajah, tangan dan kakinya.
__ADS_1
"Saya sudah mendengar ceritanya, meski Anda dimanfaatkan. Keserakahan Anda membuat kita hampir mati. Tapi..." Aera memberi jeda, "Saya tetap berterima kasih karena Anda tidak berniat membunuh saya."
"Aera, kami benar-benar menyesal." Kini ibu tiri Aera yang bicara. Entah itu tulus atau tidak, Aera tidak peduli.
"Saya tidak apa-apa. Bahkan jika saya mati, tidak ada yang saya sesali. Satu-satunya yang mungkin membuat saya sedih hanya meninggalkan orang-orang yang mencintai saya. Karena itu... Saya harap ini pertemuan terakhir kita. Anda dan saya memiliki kehidupan sendiri, saya ingin kita menjalaninya masing-masing. Tolong jangan manfaatkan saya lagi... Karena sejak saya lahir, kita bahkan tidak pernah saling mengenal. Ini... Permintaan pertama dan terakhir saya untuk Anda."
Aera berbalik, dia mengepalkan tangannya sebelum melangkah keluar.
"Anda tahu, kan? Kalau hal ini tidak akan berakhir disini saja." ujar Ivon.
"Aku tahu, wanita itu mungkin akan menutup mulutku, tapi dia tidak akan berani membunuhku."
"Anda menghitung anak ayam sebelum semua telur menetas, Tuan. Anda tidak lupa bahwa dia juga berdarah Martell bukan? Tuan mungkin lunak saat ini terutama semua yang berkaitan dengan Nona. Tapi dia tidak akan diam saja terkait keselamatan Nona. Anda sudah melibatkan diri terlalu jauh, juga ada bukti ditangan kami. Jadi untuk beberapa hal, bahkan jika Anda mati, kami tetap bisa membuktikan kejahatan kalian. Jadi, setelah Anda keluar dari Berlin, jagalah diri Anda sendiri."
Ivon menyusul Aera setelah mengatakan hal itu. Dia masih sedikit kesulitan berlari karena bekas jahitan yang belum mengering, sehingga dia baru bisa menyusul Aera ketika gadis itu sudah di lobi dengan pengawalan bawahan lain.
"Nona, Tuan menjemput Anda. Beliau akan sampai dalam lima menit lagi."
Aera menghentikan jalannya. Dia melirik kaki Ivon yang terluka. Aera merasa bersalah padanya. Dia tidak mendengarkan peringatan Ivon sebelumnya.
"Kedepannya, aku akan mendengarkanmu dengan baik." katanya dengan kepala tertunduk.
'Ah... Dia sedang meminta maaf karena merasa bersalah.' pikir Ivon. Dia tersenyum karena sifat Aera ini.
"Bukankah saya guru Anda, tugas guru selain mengajar adalah melindungi muridnya. Jadi jangan merasa bersalah. Anda hanya sedikit nakal, Nona."
Aera mendongak, dia lega setelah melihat senyum Ivon yang terlihat tulus untuk pertama kalinya.
"Terima kasih, Aku akan jadi murid yang baik untuk kedepannya."
Tampa sadar tangan Ivon reflek mengusap puncak kepalanya. Memberikan dukungan tulus sebagai seorang pengawal dan juga guru. Sayangnya, setelah dia menyadari tindakannya, Ivon terlambat menarik tangannya ketika sebuah teguran seseorang membuatnya tersentak. Ivon bahkan tidak menyadari sekitarnya ketika terhanyut dalam pembicaraan singkat tadi.
"Dimana kamu meletakkan tangan kurang ajarmu, Ivon!"
"Ma-maafkan saya. Saya tidak menyadari tindakan saya."
Melihat suasana yang tidak baik, Aera segera berjalan kedepan Audric. Mengambil sebelah tangannya dan menggenggamnya.
"Ivon adalah guruku. Dia hanya bersikap baik pada muridnya. Jadi ayo pulang, disini banyak yang sedang menonton kedatanganmu."
Audric memang menurutinya, tapi pria itu masih menahan rasa kesal karena Aera malah membela Ivon yang dinilainya kurang ajar.
"Ada apa denganmu, Sobat? Ayo pulang, kamu juga butuh istirahat. Sampai kamu pulih total, Max dan Jake akan menggantikanmu." kata Harald. Lalu menyusul rombongan.
Sepanjang perjalanan Audric diam saja. Aera tahu dia marah. Tapi tidak mengerti kenapa hal sepele seperti itu bisa membuatnya marah seperti itu.
"Kamu marah?"
Meski menanyakan hal yang sudah pasti, tapi Aera ingin melihat responnya. Dan yang ia dapatkan hanyalah keheningan.
"Ivon itu kan pengawalmu. Dia juga jadi guruku."
"Apa kalian sedekat itu sampai terlihat sangat mesra?"
"Me-mesra? Apa maksudmu?"
"Kamu bahkan membelanya di depan semua orang."
"Ric, itu..."
"Aku sedang bertanya-tanya... Kenapa kamu bisa sangat ramah dan mudah dekat dengan pria lain tapi denganku begitu sulit. Apa karena aku punya banyak dosa padamu?"
"Bu-bukan begitu..."
'Kenapa kamu jadi sangat sensitif? Apa kamu tidak menyukai Ivon?' lanjut Aera dalam hati.
Dia tidak tahu bagaimana cara membujuk Audric setelah pria itu membuat keheningan lagi.
'Apa yang salah? Apa dia sedang cemburu pada bawahannya sendiri?'
__ADS_1