BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)

BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)
Kebohongan yang terungkap


__ADS_3

Audric menatap datar orang yang lagi-lagi dengan berani menghalangi jalannya. Dia baru saja sampai di depan gedung salah satu perusahaan yang dimiliki olehnya secara pribadi. Perusahaan yang membuat alat-alat kesehatan dengan teknologi modern dan penelitian yang terus menerus.


Zagman, pria tua yang beberapa waktu lalu mengajukan permintaan akan rahasia yang ia pegang, kini berdiri dihadapannya. Wajah memerah menahan amarah. Beberapa hari yang lalu, mata-mata yang dikirim Audric berhasil mendapatkan bukti yang dipegang Zagman dan menghancurkan sebagian isi kasinonya. Surat kepemilikan tanah juga berhasil direbut kembali. Hal itulah yang membuat Zagman amat murka.


"Kamu benar-benar licik. Apa kamu pikir aku akan membiarkan kamu merampas milikku begitu saja!"


"Entahlah, aku hanya mengambil apa yang tadinya milikku, Zinovic. Jangan terlalu marah. Kamu tahu sejak awal semua itu bukan milikmu. Tidak ada hal yang instan di dunia ini, maka aku menyarankanmu untuk lebih bekerja keras."


Petugas keamanan membukakan pintu untuk Audric dan dia melewati Zagman dengan wajah dingin yang pwnuh keangkuhan.


"Lihat saja, aku akan membuatmu menyesal meremehkanku!" teriak Zagman. "Sialan!" umpatnya ketika Audric tidak mengidahkan ancamannya.


Zagman menghentikan langkahnya ketika seorang pria yang umurnya hampir sama dengannya, berdiri di samping mobilnya. Dia kenal pria itu, salah satu anggota keluarga Martell yang memiliki pengaruh.


"Suatu kehormatan seorang Martell senior menghampiriku. Tuan Abert martell, Anda pasti memiliki hal yang penting sehingga menemui saya secara pribadi."


Abert, paman Audric itu tersenyum ramah. Dia mendekatkan jarak mereka dan menepuk pundak Zagman.


"Kamu sepertinya sangat marah pada keponakanku. Ada yang bisa aku bantu? Bagaimanapun aku adalah pelanggan setia kasino milikmu. Aku sangat peduli pada usahamu yang dirusak olehnya. Aku akan bertanggung jawab atas tindakan tidak baik keponakanku."


Zagman menepis tangan Abert. Dia sedang memikirkan perkataan Abert dengan teliti. Bagaimanapun juga, Zagman tahu karakter Abert bukanlah orang yang bermurah hati seperti ini.


"Apa yang kamu inginkan dariku?"


"Aku hanya ingin bertanggung jawab, temanku. Jangan salah paham. Memang apa yang aku inginkan."


Zagman mengerutkan keningnya, mulai kesal karena Abert malah bermain kata-kata dengannya.


"Jangan main-main denganku hanya karena kamu dari kekuarga sialan itu!"


"Hati-hati dengan mulutmu, kawan. Audric sangat membanggakan nama Martell, dia bisa memenggalmu bahkan jika hinaan itu bukan tertuju padanya secara pribadi. Jadi, katakan apa yang membuatmu bisa mendapatkan tanah milik kami yang kini sudah direbut kembali. Apa alasan Audric setuju saat itu?"


"Hah! Akhirnya kamu menunjukkan wajah ularmu. Berikan aku sesuatu yang berharga jika kamu ingin informasi."


"Begitu? Baiklah, datanglah ke kantorku siang ini. Kamu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan."


Zagman menatap kepergian Abert dengan kesal.


"Martell sialan! Kamu ingin memanfaatkanku untuk melawan keponakanmu? Kita lihat siapa yang akan memanfaatkan siapa!"


.


Gustav baru saja kembali dari menemani Aera melakukan aktifitas perkuliahannya ketika sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya. Dia meletakkan tas Aera dan merapikan buku-buku Aera diatas meja. Aera sendiri langsung masuk kamar mandi.


Setelah menerima pesan, Gustav langsung keluar dari sana. Dia berpapasan dengan Friedrick yang juga baru saja kembali dari lantai tiga.


"Bagaimana pendidikan Nyonya?"


"Seperti biasa, berjalan lancar."


"Itu bagus, aku harap kamu juga tidak menimbulkan masalah bagi Tuan, Gustav."


Setelah berkata seperti itu, Friedrick turun ke lantai satu. Meninggalkan Gustav yang menatap punggungnya dengan penuh kewaspadaan.


Tepat pukul delapan malam, Aera turun kebawah karena ingin berjalan-jalan disekitar taman. Dia membawa kucingnya yang beberapa hari ini selalu bersama Olivia karena dia sibuk belajar. Jadi sambil menunggu Audric pulang untuk makan malam, dia mengajak Coco bermain.


Ketika Aera sedang asik bermain dengan Coco, dia tidak sadar ada seorang remaja laki-laki yang mengendap dibelakangnya. Anak itu memakai pakaian serba hitam dan memakai masker. Rambut hitamnya ditutupi dengan topi. Dia juga memegang sebuah kayu sepanjang satu meter di tangannya.

__ADS_1


Ketika Aera melihat bayangan yang menutupinya, Aera langsung berdiri dan berbalik. Ekpresi terkejut dan bingung menghiasi wajahnya. Ketika melihat kayu ditangan anak itu, Aera langsung melonggarkan pelukannya pada Coco dan membiarkannya melompat turun.


"Siapa kamu?"


"Kamu tidak perlu tahu. Aku hanya ingin membalas perlakuan kalian pada ibuku."


Setelah berkata seperti itu, anak itu mengayunkan kayu itu pada tubuh Aera yang berhasil ia hindari. Aera tahu dia masih tergolong remaja dari suaranya. Aera mengira dia masih berumur sekitar empat atau lima belas tahun. Tubuhnya juga tidak terlalu tinggi.


"Tunggu dulu!"


Aera berusaha menahan kayu yang hampir mengenai kepalanya itu. Saat ini Aera terbaring diatas tanah dengan kayu yang terarah padanya.


"Siapa ibumu? Apa maksudmu dengan membalas kami?"


"Jangan pura-pura bodoh! Kalian menghancurkan satu tangan ibuku hingga dia harus menjalani amputasi, brengsek!"


Aera terbelalak, dia yang tidak tahu apa-apa tentu saja sangat bingung. Meski dia menguasai sedikit bela diri, tapi kalau begini lama-lama tenaganya akan habis juga.


"Aku tidak tahu apa-apa!"


Anak itu tidak mendengarkannya, Aera hanya bisa menghindar karena dia tidak ingin membalas anak ini. Hingga akhirnya sebuah pukulan mengenai bahunya sehingga Aera jatuh ketanah. Ketika anak itu akan memukul kepalanya, seseorang menahan tangannya.


Pengawal tiba bersama Gustav, Olivia dan Friedrick. Aera benar-benar bersyukur. Dia kehabisan tenaga. Dengan dibantu oleh Olivia dan Gustav, Aera kembali duduk di kursi. Dia meringis ketika Alivia tidak sengaja memegang bekas pukulannya. Lebam besar dan merah terlihat dilengan Aera yang memakai pakaian tampa lengan. Baju dan rambutnya kotor oleh tanah.


"Bawa anak itu keruang khusus. Kita akan mengintrogasinya setelah Tuan pulang." Perintah Friedrick.


"Tunggu! Siapa dia?"


"Maaf Nyonya, Anda harus diobati dan anak ini harus segera ditahan." jawab Friedrick.


.


Aera menghela napas ketika lengannya selesai diobati. Tidak satupun pertanyaannya mendapat jawaban terkait anak itu. Membuatnya semakin penasaran. Jelas sekali anak itu memiliki dendam yang begitu besar. Siapa yang menyakiti ibunya?


"Jadi, dari mana kalian tahu aku diserang?"


"Olivia yang melihatnya, dia hendak memanggil Anda karena Tuan sudah dalam perjalanan. Tuan meminta Anda menyambutnya. Jadi dia segera memanggil kami yang memang sedang ada di depan."


Aera mengernyit, tidak biasanya Audric menyuruhnya untuk menyambutnya pulang.


"Saya tidak menyangka Anda pandai bela diri Nyonya." ujar Olivia.


"Tidak juga..."


"Aku ingin memberimu kejutan tapi tampaknya akulah yang mendapat kejutan."


Semua orang menoleh pada pintu masuk. Audric berjalan dengan cepat menuju sofa tempat Aera duduk di ruang tamu itu. Memeriksa lengannya sebelum duduk di sebelahnya.


Audric menarik napas lalu meraih sebelah tangan Aera. Menggenggamnya dengan kedua tangannya. Membuat Aera menoleh dan mengrahkan dirinya menghadapa Audric.


"Kamu pasti terkejut. Aku sudah memperketat keamanan. Jadi jangan kawatir. Tapi walaupun begitu, untuk sementara kamu tidak boleh sendirian walaupun di dalam rumah."


"Jangan berlebihan, aku baik-baik saja."


"Apanya yang baik-baik saja, lihat lenganmu..."


Bukan hanya Aera, semua orang tidak percaya akan nada bicara dan ekspresi Audric yang tidak biasa ini. Dia terlihat sangat kawatir lebih dari biasanya.

__ADS_1


"Dimana anak itu dikurung? Izinkan aku menemuinya. Aku ingin tahu kenapa dia menyerangku."


"Tidak, kamu harus istirahat. Aku akan menemuimu dikamar dan kita akan makan malam dikamarmu. Olivia, antarkan Aera."


"Tapi..."


"Aku akan segera kembali dan menjelaskannya padamu, Oke?"


Mau tidak mau Aera menurutinya. Walau dengan perasaan gelisah dan penasaran yang besar, Aera berjalan pelan. Sesekali dia menoleh kebelakang untuk melihat kemana Audric berjalan. Ketika tiba diujung tangga, dia menghentikan langkahnya. Sepenuhnya berbalik ketika Audric keluar melalui pintu depan.


Pelayan yang menyiapkan sarapan di dapur bersama Gustav melihatnya yang berjalan pelan menuju ke arah luar. Gustav menyuruh pelayan melanjutkan pekerjaannya sementara dia mengikuti Aera.


Dia melihat Aera yang kebingungan ketika berada antara belok kanan atau lurus ketika menelusuri bagian samping bangunan rumah megah itu. Ketika Aera memilih lurus menuju sebuah bangunan terpisah dibagian belakang, Gustav menahannya dengan menepuk bahunya.


"Gustav!" kagetnya.


"Anda tidak akan menemukan apa-apa disana. Tuan menuju ruang bawah tanah."


"Ka-kamu tahu dimana itu?"


"Tentu saja, tapi sebaiknya Anda tidak kesana, Tuan pasti tidak ingin Anda melihatnya mengintrogasi penyusup itu."


"Gustav, tolong... Dia masih anak-anak! Jangan biarkan mereka menyiksanya!"


Gustav terlihat berpikir, namun dia akhirnya menyetujui Aera setelah beberapa detik berpikir.


Gustav membuka pintu samping yang tadi Aera lewati. Masuk menuju lorong gelap yang terus menurun kebawah. Setelah beberapa menit, mereka sampai di depan sebuah pintu besi yang masih terbuka. Aera bisa mendengar suara-suara dari dalam.


"Tetap jaga jarak, Nyonya." bisik Gustav.


Aera mengangguk, lalu masuk ke dalam. Ruangan itu cukup pengap, penerangannya juga sangat redup. Lorong pendek itu terpecah menjadi tiga bagian. Aera berbelok ke kanan dan melihat punggung Audric yang bersandar pada jeruji yang mirip penjara.


Gustav yang masih berdiri di pintu masuk, mengirim pesan pada seseorang sebelum mengikuti Aera masuk ke dalam.


"Bajingan biadab! Ibuku melayani adikmu sejak dia masih kecil! Tapi ini balasan untuknya!"


Anak itu terikat di sebuah bangku kayu. Audric berdiri dengan melipat tangan di dadanya. Menatap anak itu tampa minat. Seolah kemarahan yang diarahkan padanya sama sekali tidak bearti untuknya. Aera melihat sisi itu lagi, sisi Audric yang menakutkan.


"Bahkan jika itu adalah saudaraku sendiri, jika dia menghianatiku, maka aku akan memotong tangannya, nak! Ibumu pantas mendapatkan hukuman itu. Setidaknya, aku masih membiarkannya hidup. Tapi... Kamu yang melukai adikku dengan tangan kecil itu, tidak bisa aku maafkan."


Aera sudah akan menghampiri Audric ketika lengannya ditahan oleh Gustav. Bersamaan dengan itu, Audric mendapatkan telepon.


"Kenapa kamu menghubungiku?"


"Kakak, aku dengar anak mantan pelayanku menyerang Aera. Apa dia baik-baik saja?"


"Luisa, apa aku perlu mengirim pelayan setiamu itu agar aku bisa menutup matamu? Tetaplah tenang bersembunyi dan nikmati waktumu. Aku tidak bermurah hati membiarkanmu lebih lama lagi. Dan berhenti pura-pura perhatian padanya karena kamulah yang mengirimnya padaku."


"Kenapa? Toh gadis itu sudah menikah. Perjanjian kita juga sudah terjadi, beberapa asetku menjadi milikmu dan aku mendapatkan kebebasanku. Kamu hanya harus memastikan gadis itu tetap bersama Adolf. Aku dengar dia sudah tahu rahasia kita. Kecuali, kisah pelarian palsuku tentunya."


"Jangan mengaturku," sahut Audric kesal.


"Kenapa kesal? Toh itu akan menguntungkan kita. Apapun keputusanmu tentang gadis itu, aku harap kamu tidak menggagalkan rencanaku, Ric. Aku ingin bebas!"


Audric menurunkan ponselnya dengan urat-urat yang mencuat keluar. Dia sedang berusaha untuk mengendalikan emosinya. Semakin lama adiknya itu terasa semakin lancang dan menyebalkan untuknya.


Tampa ia sadari, Aera sedang berusaha menahan isakan keluar dari bibirnya. Air matanya telah menetes dengan deras. Gustav berusaha menariknya pergi. Meninggalkan tempat itu sebelum Audric atau dua pengawal lain menyadari keberadaan mereka.

__ADS_1


__ADS_2