BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)

BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)
Cemburu yang tak disadari


__ADS_3

Aera dibawa menuju lantai dua. Dia melihat Audric menuju arah barat sedangkan Aera dibawa menuju arah berlawanan. Aera tidak tahu seberapa luas rumah yang seperti kastil ini. Dia bahkan sampai merasa lelah karena berjalan mengikuti pelayan di depannya ini.


Sebuah pintu besar dan tinggi dibuka di depan mereka. Aera menoleh kebelakang, lorong ini sangat sepi. Berbeda dengan lantai bawah yang masih ada beberapa pelayan yang lalu lalang sana sini.


"Ini akan menjadi kamar Anda sekarang, silahkan masuk, Nona."


Ketika Aera masuk, dia melihat barang-barangnya sudah ditata dengan rapi disana.


'Jadi dia sudah menyiapkannya. Sepertinya dia memutuskan membawaku kesini setelah pertengkaran kami.'


"Saya dengan resmi akan memperkenalkan diri kembali." Aera menoleh pada Friedrick, melihat sikap dan gekstur khas seperti Gustav pada pria tua ini. "Saya adalah Friedrick Lampard. Anda bisa memanggil saya apapun. Sampai Gustav selesai dengan masa hukumannya, saya yang akan mengurus keperluan Anda."


"Gustav apa? Kenapa dia dihukum?"


Aera benar-benar tidak mengerti. Dia merasa Audric keterlaluan menghukum Gustav hanya karena peristiwa itu.


"Lalu dua pria yang ikut menjagaku saat itu? Apa mereka dihukum juga?"


"Mereka sudah dipecat, Nona."


Jawaban itu membuat Aera meradang. Dia kesal dan bertambah marah. Tapi lebih dari itu, Aera memikirkan nasibnya sendiri saat ini. Apa dia juga akan dihukum disini?


"Silahkan istirahat, mulai besok, pertemuan Anda dengan para dosen dari Universitas Humboldt akan dipindahkan kesini. Hal ini dilakukan untuk menjaga kerahasiaan. Saya juga sudah berbicara dengan mereka dan mereka setuju untuk menjaga rahasia Anda."


"Kalian membayar mereka? Atau mengancam mereka?"


"Bahkan tampa itu, siapapun akan berpikir ulang untuk membocorkan informasi keluarga Martell, Nona Aera."


Nada suara Friedrick menjadi sedikit serius dan terdengar sedikit mengancam. Aera mengerutkan keningnya karena terganggu. Dia segera berjalan menuju kasur dan duduk diatasnya.


"Saya akan memanggil pelayan untuk membantu Anda."


"Tidak perlu, aku bisa sendiri. Tapi... Bolehkan aku bertanya sesuatu?"


"Silahkan, Nona."


"Apa semua orang dirumah ini tahu aku bukan Luisa?"


"Tidak, hanya saya dan seorang pelayan wanita yang akan melayani Anda nanti."


"Begitu, lalu... Apa maksud Audric dengan gelar bangsawan yang telah ditanggalkan? Apa keluarga Martell adalah keturunan bangsawan?"


Friedrick tersenyum tipis.


"Itu akan menjadi cerita yang panjang. Anda harus membersihkan diri dan istirahat. Saya akan menjawab pertanyaan Anda lain waktu."


Friedrick memberi anggukan singkat sebagai tanda kesopanan sebelum keluar dan menutup pintu. Aera menghembuskan napas. Dia berdiri, mengedarkan pandangannya pada seluruh ruangan besar ini.


'Ini bukan sekedar kamar, ini bahkan lebih besar dari ruang tamu rumah Luisa.'


Ada tiga pintu lain dikamar ini. Aera memeriksanya satu persatu. Pintu dekat jendela adalah pintu menuju balkon. Bukan sekedar balkon biasa, mereka merancangnya dengan sangat baik. Bunga-bunga ditanami dengan baik disana. Sebuah sofa panjang dan sebuah ayunan.


"Siapa yang mendiami kamar ini dulu? Untuk apa ada ayunan disini?" gumam Aera.


Dua pintu di sebelah kanan tempat tidur adalah pintu ruang pakaian dan pintu kamar mandi yang Aera akui, jauh lebih mewah dari rumah Luisa.


"Aku seperti hidup dinegri dongeng ketika masuk kerumah ini." gumamnya.


Aera segera membersihkan diri. Memilih baju tidur miliknya yang lama dan segera berbaring. Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Waktu yang terlalu cepat untuk tidur. Karena itu, dia kembali duduk dan menghubungi neneknya.


.


Harald memasuki sebuah klub malam sendirian. Penampilannya telah berubah menjadi pria malam. Meski apa yang dipakainya tetap berkelas, penampilannya jauh dari kesan formal seperti biasa. Rambut pirang yang biasa ia tata rapi, kini sedikit berantakan.


Harald sedang menikmati minumannya ketika seorang pria lain muncul dan duduk disampingnya. Pria ini terlihat biasa saja. Dia bahkan terlihat kikuk berada di samping Harald.

__ADS_1


"Apa yang kamu dapatkan?" tanya Harald.


"Menurut informasi pihak mereka, Zinovic mengetahui bahwa Nona Martell melarikan diri bersama pacarnya setahun yang lalu. Selain itu, Zinovic merasa senang karena Nona melakukan tindak pidana yang akan mencoreng nama baiknya. Pihak mereka memiliki bukti foto. Sepertinya diambil oleh teman anaknya."


Harald meminum seluruh minuman yang tersisa digelas sebelum mengeluarkan amplop dan menyodorkannya pada pria itu. Lalu pergi dari sana tampa berkata apa-apa lagi.


Dia segera menghubungi Audric setelah masuk ke dalam mobil. Satu kali, tidak ada sahutan. Dua kali, hasilnya sama saja. Akhirnya dia memutuskan untuk menemui Zenovic atas keputusan sendiri. Toh pada akhirnya, Harald juga akan melakukan hal ini. Seperti biasanya, Audric tidak akan mau menemui seseorang yang dianggapnya hanya serangga pengganggu.


.


Harald masuk kedalam kasino yang selalu ramai ini. Dia langsung menemui manager mereka langsung dan menunjukkan kartu namanya.


Dia langsung dibawa keruangan khusus dan diminta menunggu disana. Tidak lama, seseorang mengetuk pintu dan membukanya untuk Zagman. Pria tua itu masuk dan duduk diseberang dengan wajah yang tidak puas. Apalagi melihat sikap Harald yang duduk layaknya bos besar disana.


"Kamu datang sendiri? Bukankah aku meminta bertemu tuanmu. Tampaknya dia tidak menganggap serius ucapanku kemarin."


Harald tidak menunjukkan ekspresi apapun. Dia seperti sudah tahu orang seperti apa yang ada dihadapannya ini.


"Apa yang kamu inginkan, aku akan menyampaikannya pada CEO."


"Sampaikan padanya bahwa aku ingin bertemu dan bicara langsung."


"Zagman zinovic, kamu tidak belajar dari dua pertemuan terakhir. Apa kamu pikir CEO kami ingin menemui orang sepertimu? Dia bukan hanya tidak punya waktu. Baginya, tidak perlu menaruh perhatian khusus pada serangga pengganggu, aku pikir kamu telah mengerti akan hal itu."


"Kamu bernyali besar mengatakan hal itu padaku disini?"


"Kenapa? Karena ini tempatmu? Apa kamu pikir aku datang sendiri?"


Zagman mengeraskan rahangnya. Dia tampaknya mulai tersulut.


"Jangan membuang waktumu, Zinovic. Katakan padaku apa yang kamu inginkan dengan informasi kecil dan sedikit bukti ditanganmu itu."


Zagman berdecih, dia menuang minuman yang disediakan dan meminumnya dalam sekali teguk. Lalu ia melemparkan gelas itu kelantai dengan emosi.


"Dia sangat mengagungkan nama Martell sampai tidak sudi bertemu denganku walau aku bisa menghancurkan namanya. Martell muda memang begitu angkuh." Zagman bangkit berdiri. "Katakan padanya, untuk memperhatikanku mulai sekarang. Pertama-tama... Aku hanya ingin tanah dikawasan xxx. Wilayah itu, bukankah milik keluarga Martell?"


.


Aera berdiri di balkon karena tidak bisa tidur. Setelah bertukar kabar dengan neneknya, perasaan Aera sedikit lega. Walau sampai saat ini neneknya masih tidak jujur perihal penyakitnya, tapi kakek tetangga tempat Aera bertanya selama ini mengatakan bahwa neneknya rutin pergi ke rumah sakit khusus kangker di ibu kota.


Aera bersyukur, kakek tetangga mereka mengatakan kesehatan neneknya terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya. Dia juga rutin mengonsumsi obatnya. Tidak seperti dulu yang terlihat murung kala Aera tidak ada dihadapannya. Nenek terlihat lebih bersemangat. Cerita kakek itu membuat Aera merasa bersalah selama ini. Dia tidak tahu apa-apa akan penderitaan neneknya. Dia jadi merasa sangat egois.


"Aku jadi ingin minum susu." gumamnya.


Aera membuka pintu kamarnya. Lorong sepi itu entah mengapa membuat dia sedikit merinding. Dengan langkah cepat dia menelusuri lorongnya dan menemukan tangga turun.


Ketika sampai dilantai satu, Aera kebingungan dimana dapurnya. Karena sudah terlalu malam, dia juga tidak melihat pelayan satupun.


"Nona?"


"Oh!"


Aera dengan cepat berbalik dan mendapati Harald dan Friedrick berdiri beberapa meter dibelakangnya.


"Apa ada yang anda cari, Nona?" tanya Friedrick.


"Aku mencari dapur, aku ingin buat susu."


Harald menaikkan kedua alisnya. Entah kenapa dia merasa kalau Aera sangat imut karena meminta susu dimalam hari. Tampa sadar, dia menarik senyum tipis.


"Saya akan membuatkan untuk Anda setelah ini, silahkan menunggu dikamar saja." lalu Friedrick beralih pada Harald. "Anda silahkan menunggu sebentar, saya akan memberitahu Tuan Audric."


Sepeninggal Friedrick, Aera hanya menatap penampilan Harald yang tidak biasa. Harus Aera akui, Harald tampak sangat tampan dan juga panas untuk ukuran pria tiga puluhan.


"Wah... Anda terlihat berbeda."

__ADS_1


Aera berkomentar dengan wajah polos sambil mengacungkan dua jarinya. Membuat Harald yang biasanya tampil serius dan jarang bercanda itu tampak linglung sesaat.


"Saya tidak tahu kalau orang asia sangat senang memuji dengan jujur seperti Anda. Terima kasih Nona."


"Eh... Bukan budaya asia kok, walau ada benarnya tapi aku benar-benar menilai dengan jujur. Aku tidak sekedar basa basi."


"Saya mengerti, tapi... Apa Anda biasanya memang minum susu sebelum tidur? Anda harus mengatakan kebiasaan-kebiasaan Anda pada Friedrick selama Gustav tidak ada."


"Itu bukan kebiasaan, itu hal yang biasa nenek lakukan untukku sampai aku lulus sekolah."


Harald tersenyum, "Anda ternyata sedang merindukan nenek Anda."


"Tapi Harald... Apakah kamu tahu Gustav dihukum seperti apa? Bagaimanapun itu bukan salahnya."


"Itu bagus jika kamu menyadari kesalahanmu."


Aera dan Harald menoleh kearah yang sama. Aera bahkan langsung tersentak. Dia tidak mendengar langkah kaki mereka. Apa semua orang berjalan tampa suara, tadi dia juga tidak menyadari kedatangan Harald dan Friedrick.


"Kamu terlihat sangat mudah dekat dengan semua orang. Tapi kenapa kamu malah berkelahi? Apa sikap manis itu hanya berlaku bagi pria?"


"Apa maksudmu?"


Harald yang menduga akan sesuatu langsung maju mendekat. Dia sudah yakin akan kemana arah perdebatan ini jika dilanjutkan. Bukan hanya menyakiti Aera, Audric juga hanya akan menyesali kelakuannya.


"Tuan, saya datang setelah bertemu dengan Zinovic."


"Nona, saya akan mengantar susu Anda, sebaiknya Anda kembali ke kamar." tambah Friedrick.


Melihat semua orang menyelanya dengan berani, Audric tahu dia keluar dari kebiasaannya lagi. Dia menghembuskan napas dan hanya menatap Aera yang kini menunduk dengan wajah muram.


Aera berjalan cepat meninggalkan aula depan itu. Naik keatas tangga dan berlari ketika sudah sampai di lantai dua menuju kamarnya.


"Apa yang dia inginkan?" tanya Audric.


Sama sekali tidak berniat pindah keruangan lain untuk bicara. Itu artinya dia ingin pembicaraan ini selesai dengan cepat.


"Dia menginginkan sebuah wilayah milik keluarga Anda. Tampaknya dia juga berniat menggunakan rahasia ditangannya sebagai alat untuk terus mendapatkan keuntungan."


"Begitu? Memang sejauh apa yang ia tahu?"


"Dia tahu bahwa adik anda lari dengan pacarnya setahun yang lalu. Dia juga menyimpan bukti perkelahian Nona Aera."


Audric diam beberapa saat. Mata sedalam samudra itu menatap kehampaan dengan tenang. Alis tebal bewarna hitam itu sedikit bergerak kebawah.


"Bisakah kamu mendapatkannya?"


"Bukti ditangannya?"


"Ya, juga... Cari tahu siapa yang membocorkan informasi itu padanya. Aku lebih tertarik menemui orang ini dari pada tikus sepertinya."


"Baik, Sir!"


Harald sudah akan pergi ketika Audric memanggil namanya dengan nada yang berbeda.


"Harald," mata mereka bertatapan secara langsung, membuat Harald merasa tertekan walau dia sudah biasa menghadapi Audric. "Apakah aku terlihat marah tadi?"


"Maaf, Tuan?"


"Kalian menyela dengan sengaja, apa aku terlihat melakukan kesalahan?"


Entah mengapa Harald merasa sedang melihat seorang adik yang kebingungan dengan perasannya sendiri.


"Maafkan saya, saya hanya kawatir karena Anda seharusnya memiliki hubungan yang baik selama kontrak ini masih berjalan. Seperti yang saya katakan sebelumnya."


Harald ingin sekali mengatakan bahwa Audric terlihat cemburu, tapi mana berani dia mengatakannya secara langsung.

__ADS_1


"Pergilah."


"Baik, saya permisi."


__ADS_2