
Adolf termenung di dalam ruang kerjanya. Tumpukan berkas, komputer yang menyala dan tangan yang sedang memegang mouse terdiam begitu saja. Sebelah tangannya menopang dagunya, matanya menatap layar tapi pikirannya tidak disana.
Ketika Harry masuk, pria berkulit hitam itu langsung tahu Adolf sedang memikirkan hal lain. Beberapa waktu terakhir dia memang seperti itu sehingga dia sudah memahaminya.
"Sir, istri Anda baru saja tiba bersama kakak ipar Anda. Mereka sedang menuju ke kediaman keluarga Martell."
Adolf mengepalkan tangannya. Lalu meraih ponselnya. Dia segera menghubungi Aera. Tapi sayangnya, teleponnya tidak diangkat.
"Apa dia akan kembali lagi kerumah itu?"
"Melihat betapa kawatirnya dia saat terakhir kali, mungkin saja. Anda pasti juga menyadarinya, perasaan istri Anda sangat terlihat jelas."
"Hah... Dia istriku tapi bukan istri sungguhan. Jangan menyebutnya begitu. Itu akan membuatnya tidak nyaman."
"Bukankah itu yang kamu suka?" Harry terkekeh kemudian. Akhirnya mengubah sikap formalnya, membuat Adolf meliriknya kesal.
'Si brengsek ini sedang mengejekku.' gerutunya dalam hati.
"Semakin lama, kamu terlihat semakin berbeda. Kamu juga semakin mempedulikannya. Jatuh cinta padanya juga seperti Audric, heh?"
"Entahlah... Mungkin saja."
"Heh! Akhirnya aku akan melihatmu menangis." Harry menghembuskan napasnya, "Setelah selama ini hanya main-main bahkan menyakiti wanita yang serius denganmu."
"Kamu tahu sendiri pernikahan dalam kelurga kami selalu diatur. Untuk apa aku serius pada orang lain."
"Yah, setidaknya hanya bayar dan pergi. Jangan menggunakan yang polos dan murni juga, sialan! Aku yang selalu merasa bersalah karena sikapmu."
Adolf tertawa, itulah yang dia sukai dari temannya ini. Harry itu sangat baik.
'Lihatlah, dia hanya tertawa.'
Harry tidak bisa berkata-kata lagi. Sifat Adolf memang seperti itu sejak dia mengenalnya. Meski begitu, mereka tetap menjadi teman baik sampai sekarang. Karena itu dia mulai serius membahas masalah lain.
"Aku mendapatkan laporan, bahwa Luisa dirumah utama kelurga Martell. Jika mereka berdua ada disana, kemungkinan mereka bicara akan semakin besar bukan? Sebaiknya kamu menjemput Aera, berada satu atap dengan Luisa sedikit berbahaya untuknya. Lalu... Tentang paman Audric, Abert Martell diketahui menggeledah rumah ketika kita berada di Bayern. Menurutmu, apakah dia mencurigai Luisa palsu?"
"Menggeledah?"
"Ya, dia datang dengan banyak pengawal."
"Apa kamu mendapatkan informasi alasan kedatangannya?"
"Mata-mata kita tidak bisa masuk kedalam. Mereka hanya melihat dari kejauhan, lalu mendengar percakapan penjaga gerbang yang sedang berkumpul."
"Apa yang ingin ia pastikan sampai melanggar aturan? Saat ini surat keputusan Audric pasti sudah datang padanya. Sebentar lagi, mereka pasti akan mengadakan pertemuan besar untuk memutuskan hukuman. Aera... Aera tidak boleh ada disana. Luisa harus keluar sendiri."
"Kenapa? Bukankah Aera hanya perlu diam saja?"
"Tidak, jika benar Abert mencurigainya. Pria tua itu akan melakukan segala cara untuk membongkarnya dalam pertemuan. Luisa harus datang sendiri kali ini!"
"Lalu bagaimana dengan Aera? Kamu akan membiarkan dia disana?"
"Aku perlu memastikan sesuatu, aku akan menunggu beberapa saat."
'Ya, aku ingin tahu apakah dia akan kembali dalam genggaman Audric atau tetap melanjutkan perjanjian denganku. Apakah kamu benar-benar jatuh cinta atau hanya karena terpengaruh oleh manipulasi Audric.'
.
Luisa duduk diruang tamu ketika Audric dan Aera baru masuk. Tatapannya yang tajam dan dingin langsung tertuju pada Aera yang berdiri di samping kakaknya. Hingga Aera merasakan udara yang terasa mencekik, namun karena kemarahannya sendiri, dia tidak ingin terpengaruh. Baginya, Audric yang jauh lebih menakutkan darinya, meski kini Audric tidak seperti itu lagi padanya, tapi saat dia marah, Audric jelas berkali lipat lebih menakutkan.
Luisa berdiri, lalu tersenyum tipis. Melangkah mendekat dan berdiri tepat dihadapan Aera. Menatap mata biru Aera yang bersinar penuh keberanian, dan melihat warna rambut mereka yang juga sama.
"Ini... pertemuan pertama kita. Wanita yang membuat kakakku menjatuhkan lututnya yang selalu tegak atas nama bangsawan Martell. Salam kenal, Aera. Aku adalah Luisa martell"
Luisa tidak mengulurkan tangannya seperti biasa, melainkan menyapa dengan etika seperti bangsawan pada pertengahan abad dulu. Seolah menunjukkan pada Aera bahwa darah mereka tidaklah sama dan sangat jauh berbeda.
__ADS_1
Keheningan yang tercipta begitu mencekik. Udara terasa menipis dan Aera langsung mengernyitkan keningnya. Meski begitu, dia tetap berdiri tegak dengan wajah menatap lurus pada Luisa yang kini kembali dingin.
"Selamat datang kembali, Tuan dan Nona. Saya sudah menyiapkan makanan kecil."
Friedrick datang untuk memecah ketegangan. Namun tentu saja tidak semudah itu memecah atmosfir yang terbentuk. Bahkan para pelayan yang terkejut karena kedatangan Aera yang disangka orang asing yang mirip Luisa, masih membeku dan menunduk dengan kaku ditempat mereka. Bertanya-tanya dalam hati siapa wanita yang mirip dengan Luisa itu.
"Aera ingin berbicara denganmu, setelah itu kita juga harus bicara. Friedrick, antar mereka ke ruang lain." perintah Audric.
"Kenapa tidak langsung bicara beritiga disini?" potong Luisa.
Audric tidak menjawabnya, hanya melemparkan tatapan tajam padanya dan lirikan kecil pada Friedrick sebagai perintah.
"Saya akan mengantar anda sekalian."
Friedrick membawa mereka pada ruang kosong yang sepertinya ruang santai yang ada di lantai satu. Selama tinggal disana, Aera belum pernah memasuki ruangan ini. Selama ini dia hanya pergi ke tempat dan ruangan yang pernah Friedrick tunjukkan. Karena rumah ini begitu luas, dia pernah beberapa kali tersesat hingga ia tidak ingin pergi ketempat yang tidak ia ketahui lagi.
"Matamu menunjukkan betapa marahnya kamu saat ini."
Aera mengepalkan tangannya sesaat sebelum mengurainya kembali. Lalu tersenyum dengan santai. Membuat Luisa yang semula penuh percaya diri mulai terganggu.
"Bolehkan aku tau sesuatu? Sebenarnya, apa yang kamu inginkan dengan semua ini?"
Luisa tersenyum tipis, tapi terkesan dingin dan penuh intimidasi.
"Entahlah, aku hanya sedang bosan dan ingin bermain-main sedikit. Menyusahkan kakakku adalah hobiku yang baru."
Aera tahu dia berbohong. Wanita dihadapannya ini sungguh membuatnya bingung.
"Bagaimana caranya kamu mengetahui keberadaanku?"
"Seperti yang kamu dengar, aku mencarimu."
"Itu artinya kamu tahu asal usulku? Lalu menjebakku masuk dalam permainanmu?"
Aera mulai jengkel, tapi dia tetap mempertahankan ketenangannya. Dia tidak ingin terpancing oleh permainan kata yang Luisa buat.
"Kamu dan aku sangat mirip, apa ini hanya kebetulan? Atau kamu tahu siapa orang tuaku dan itu ada hubungannya dengan keluarga ini?"
Luisa terkekeh pelan. Mengejek perkataan Aera dan memandangnya dengan sorot yang sangat merendahkan.
"Kepercayaan dirimu boleh juga. Meski aku tidak sepenuhnya menyukai keluarga ini, aku tetap tidak suka darah rendahan memiliki keyakinan seperti itu, bahkan dalam mimpi sekalipun."
'Dia menyebutku darah rendahan? Itu artinya dia tahu siapa orang tuaku, kan? Bagaimana caranya agar dia mau mengatakannya?'
"Aku tidak peduli penghinaan apa yang kamu katakan. Kamu harusnya sadar, kamu yang menyeretku kesini, kamu yang merencanakan permainanmu ini. Jadi, apa yang ingin aku katakan adalah, kamu harus menyelesaikannya sendiri. Aku tidak akan mau menjadi pionmu lagi."
Luisa tertawa, bukan tertawa pelan seperti biasa. Tapi tertawa terbahak-bahak seolah perkataan Aera adalah hal yang paling lucu di dunia ini.
"Bagaimana ini? Kamu sungguh-sungguh tidak tahu diri sampai-sampai aku tidak bisa menahan diriku." Dalam sekejap Luisa mengubah ekspresinya menjadi lebih kejam. "Kamu lupa... Apa yang kamu pertaruhkan dalam kontrak ini? Bahkan Audric tidak akan bisa menghentikanku." bisiknya.
"Kamu mengancamku dengan nenekku? Jika kamu berani menyentuhnya, aku akan membuatmu menyesalinya Luisa."
Luisa bangkit, lalu mencondongkan dirinya. Mencengkram rahang Aera dengan kuat sampai-sampai Aera maju beberapa senti.
"Dari mana keyakinan dirimu bisa berpikir bisa mengancamku? Aku Luisa martell, memiliki apa yang disebut kekuatan dan kekuasaan. Anjing yang aku beri makan harusnya tidak menggonggong pada majikannya, bukan?"
Nada Luisa sangat rendah dan mengancam. Matanya membesar dengan sorot penuh amarah.
"Nona! Ap-Apa yang Nona lakukan?"
Gustav yang mengawasi mereka dari jauh sedari tadi langsung berlari mendekat. Ingin menghentikan tindakannya namun tidak memiliki keberanin yang cukup untuk menarik Aera dari tangan itu.
"Aku bukan anjingmu ataupun kakakmu. Kalaupun aku harus menjadi anjing, aku akan menjadi anjing gila yang menggigitmu." balas Aera dengan susah payah.
Luisa semakin menguatkan cengkaramannya sehingga kuku-kuku itu menancap dengan kuat ke kulit wajah Aera. Aera berusaha menariknya, namun itu hanya akan membuat goresan, sehingga Aera menahan diri agar wajahnya tidak terluka.
__ADS_1
"LUISA!"
Teriakan Audric dari pintu membuat Luisa melepaskan cengkramannya seketika. Dia berdiri dengan angkuh namun jelas terlihat takut. Tampaknya dia menyadari kalau dirinya berlebihan kali ini.
"Bawa dia kekamarnya dan jangan biarkan dia keluar!" perintah Audric dingin, dia langsung menatap Gustav.
"Baik, Tuan." Gustav segera menghampiri Luisa dan mempersilahkannya jalan duluan.
Luisa menatap Aera yang kini dihampiri Audric. Menatap penuh kebencian padanya yang kini mendapatkan kasih sayang dari kakaknya. Perhatian yang tidak pernah ia dapatkan. Kebencian yang semakin bertumpuk setelah dia mengetahui fakta bahwa kakaknya tertarik pada Aera sejak awal.
"Ayo kekamarku, kamu harus diobati."
"Tidak, aku akan segera pulang."
Aera sudah akan pergi sebelun dia ditahan oleh Audric.
"Setidaknya obati dulu. Aku akan mengantarmu langsung setelahnya."
.
Audric benar-benar mengantar Aera kerumah Harry. Namun dia diam-diam memerintahkan beberapa orangnya untuk mengawasi Aera.
"Kamu yakin akan tinggal disini? Bagaimana kalau aku mencarikan rumah untukmu yang jauh lebih aman?"
"Tidak perlu, selain itu... Aku ingin menyampaikan tentang kontrak yang ada ditanganmu, apa kamu bisa membuangnya? Aku tidak akan melanjutkan itu, kamu juga tidak perlu membiayai nenekku lagi."
"Apa kamu membuat kesepakatan baru dengan Adolf sebagai imbalan atas apa yang kamu lakukan di Bayern?"
"Itu bukan urusanmu lagi, setidaknya aku tidak akan merugikanmu dalam perjanjian itu."
Audric menghela napas, dia ingin membujuk Aera tapi terpaksa mengatupkan mulutnya kembali karena Aera yang mengulurkan sesuatu.
"Apa itu?" meski bertanya, dia jelas bisa melihat apa yang coba Aera berikan.
"Kartu yang pernah kamu berikan lewat Gustav. Aku tidak membutuhkannya dan tolong ambil kembali."
"Kenapa?"
"Karena aku tidak suka memakai uang orang lain tanpa alasan yang jelas."
Mendengar hal itu, Audric mengusap wajahnya dengan fruatasi. Lalu dia memegang kedua pundak Aera dan menatap lurus gadis itu yang kini menatapnya dengan bingung.
"Aera... Apa kamu pikir bayaran atas kontrak itu hanya membiayai penyakit nenekmu? Apa aku terlihat sepicik dan seburuk itu? Kartu itu milikmu, rekeningnya atas namamu dan aku membayarmu setiap bulan. Apa kamu tidak membaca point terakhir kontrak dengan benar?"
"Apa?"
"Bahkan pendidikanmu... Karena itu aku memintamu kemarin untuk jangan mengabaikan pelajaranmu lagi."
Aera benar-benar terkejut. Dia memang tidak membaca sampai akhir. Karena mereka telah membicarakannya secara langsung. Dia tidak tahu kalau Audric akan sedetail itu.
Aera merasakan tangan besar Audric mengusap puncak kepalanya. Menatapnya lembut dan penuh kehangatan.
"Kontrak itu... Aku bisa saja menghapusnya. Tapi aku tidak ingin untuk saat ini. Jadi... Bisakah kamu membatalkan perjanjianmu dengan Adolf?"
"Itu... Aku..."
Aera menjadi bimbang. Dia butuh berpikir dan berusaha menenangkan dirinya sebelum mengambil tindakan. Hal itu jelas terbaca oleh Audric yang langsung menarik tangannya.
"Aku mengerti kamu butuh waktu. Tapi Aera, apapun yang terjadi... Jangan lupakan fakta bahwa aku mencintaimu. Dan aku akan melakukan apapun untukmu."
Deg!
Aera merasakan jantungnya berdetak dengan kuat. Ungkapan cinta itu seperti sebuah uforia dan beban secara bersamaan. Ada rasa senang dan takut dalam hatinya ketika melihat wajah Audric dihadapannya saat ini. Seolah pria ini sedang mengatakan bahwa dia tidak ingin melepaskannya karena sangat menginginkannya.
"Aku akan masuk sekarang." kata Aera pelan. Meninggalkan Audric yang masih berdiri di depan pintu.
__ADS_1