
Aera sedang menelepon neneknya ketika Audric pulang pada malam hari. Siang tadi, setelah mengatakan hal yang kasar pada Aera, dia tidak pulang makan siang seperti perkatan sebelumnya. Dia sangat sibuk sehingga makan siang dalam perjalan menuju luar kota, sebuah kota yang lebih kecil dari Berlin, tempat ia tinggal. Dia memiliki pertemuan dengan anggota parlemen yang menangani aturan perdagangan domestik. Seseorang yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarga Martell.
"Syukurlah kalau nenek sehat. Jika ada kendala tolong jangan ragu untuk menghubungi saya, Nek."
Aera melirik pintu kamarnya yang terbuka. Audric berdiri di sana, masih memakai setelan kantornya lengkap dengan mantel tebal untuk melindunginya dari udara yang semakin dingin.
Setelah Aera mengucapkan sampai jumpa, dia mematikan sambungan. Lalu dengan pelan naik kembali ke atas kasur dan berbaring membelakangi Audric.
"Aku dengar kamu melewatkan makan siang dan juga belum makan malam. Ada apa denganmu? Gustav bilang demammu juga sudah reda, tidak ada alasan untuk tidak makan!"
"Jangan pikirkan aku, pergilah. Bukankah aku harus istirahat yang banyak. Besok aku harus belajar dan belajar lagi."
Suara Aara terdengar penuh dengan kemarahan. Dia juga sadar harusnya tidak bersikap kekanakan sampai harus membahayakan kesehatannya. Tapi Aera tidak bisa mengendalikan dirinya. Dia marah, jadi dia tidak bisa bersikap seolah tidak ada yang terjadi.
Audric melangkah masuk, suara sepatunya terdengar jelas diruangan hening itu. Aera mengerutkan keningnya ketika pria itu berdiri dihadapannya. Menatapnya dengan sorot tajam tepat kedalam bola matanya.
Aera yang tidak tahan, menurunkan pandangannya dan menaikkan selimutnya hingga menutupi tubuhnya hingga leher.
"Kamu marah karena aku melarangmu berteman dengan guru bahasamu itu?"
Aera tidak menjawab dengan mulutnya, namun dia mengucapkan jawaban itu di dalam kepalanya.
'Untuk apa aku marah tentang Lisa. Aku juga tidak berharap akan berteman dengannya, apa dia tidak merasa kalau dialah yang menyebalkan?', gerutunya.
Audric menekuk sebelah lututnya sehingga wajahnya bisa sejajar dengan Aera. Dengan jarak yang begitu dekat, tentu saja Aera menjadi terkejut.
"Atau kamu marah karena aku mengancammu dengan hutang?"
Gerakan kecil dari alis yang menukik diwajah Aera sudah membuat Audric mengetahui jawabannya. Dia menarik sudut bibirnya membentuk seringai kecil yang memabukkan bagi siapapun yang menggilai wajah tampan itu. Namun bagi Aera yang bukan bagian dari mereka, sikap Audric ini membingungkan baginya. Bukannya kagum, wajah itu malah menyurutkan keberaniannya.
Suara rendah dan dalam Audric saat bicara membuat Aera juga menegang. Jantungnya berdetak dengan sangat cepat, antara takut dan gelisah, dia teringat kembali latar belakang dan rumor yang beredar di internet tentang Martell. Tangannya sampai menggenggam erat selimut di depan dadanya, seolah Audric adalah pembunuh berdarah dingin yang sedang mengacungkan pisau kelehernya.
"Kamu harus mengerti," Audric mengangkat tangannya untuk memperbaiki anak rambut Aera, menyapirkannya kebelakang telinganya dengan lembut. "Dunia ini tidaklah sesederhana apa yang ada di depan matamu. Kalau kamu tidak berhati-hati, kapanpun orang-orang yang memiliki keinginan bisa menusukmu dari belakang. Menjadi Luisa dan aku tidaklah mudah, Aera. Terutama Luisa adalah simbol kecantikan keluarga Martell setelah ibuku. Dia wajah yang harus menjaga citra baik keluarga ini. Itulah tugasnya setelah menginjak umur dua puluh tahun."
Aera merasakan tangan itu bergerak mengelus rambutnya. Mata mereka bertemu dan saling mengunci satu sama lain. Bukan hanya Aera, Audric seperti kehilangan kontrolnya juga. Namun ketika dia berkedip, dalam sekejap Audric kembali bersikap biasa. Dia menarik selimut Aera hingga terbuka. Lalu bangkit dan mengulurkan tangannya.
"Ayo makan malam bersama, aku tidak ingin kamu sakit."
Seperti terhipnotis sikap lembut itu, Aera duduk dan perlahan meletakkan tangannya dalam genggaman tangan besar Audric. Mereka keluar dari kamar menuju ruang makan. Dimana Gustav dan beberapa pelayan telah menunggu.
Sepanjang jalan menuju ruang makan, Aera memikirkan bagaimana dia bisa luluh begitu mudah. Dia melihat tautan tangan mereka, lalu menunduk dengan raut tidak menentu. Bingung, lega dan penasaran menjadi satu. Tentang keberadaannya disana, alasan dari semua yang ia lakukan. Sang nenek yang mengidap kangker. Dan dia tidak memiliki uang untuk mendapatkan pengobatan terbaik. Aera tidak punya pilihan ketika sebuah tawaran gila ada didepan matanya, mau tidak mau dia harus mengambilnya.
'Aku hanya harus mengikuti perintahnya, maka semua akan baik-baik saja bukan? Dia menakutkan saat-saat seperti ini. Aku tidak ingin menggali kuburanku disini dan mengabaikan nasib Nenek,' pikir Aera.
Begitu mereka masuk, Gustav memperhatikan tautan kedua tangan itu. Meski pelayan disana pelayan baru yang tidak mengetahui identitas asli Aera, tapi dia adalah orang yang melayani Aera sejak kecil. Audric tidak pernah bersikap lembut pada adiknya. Juga tidak dekat layaknya adik kakak. Meski hubungan mereka baik secara keluarga, tapi tidak ada ikatan kakak adik yang hangat selama ini. Karena itu, Gustav lagi-lagi terkejut melihat perlakuan Audric terhadap Aera.
"Gustav, tutup pintunya."
Perintah itu membuat Gustav terkejut. Biasanya, dia akan dibiarkan disana jika mereka memang perlu membicarakan hal rahasia. Hanya para pelayan yang akan disuruh keluar.
"Apa makanan disini ada masalah dilidahmu?" mulai Audric.
"Sejauh ini, tidak ada."
__ADS_1
"Bahasa Jerman, Aera_ Katakan jika ada masalah. Lalu, aku ingin tahu apa saja yang sudah dikatakan Gustav tentang adikku. Apa kamu sudah mempelajarinya dengan baik?"
Aera berjengit kecil ketika dia ditegur lagi perihal bahasa. Aera lupa bahwa obrolan saat makan itu artinya latihan.
"Itu... Tentang adikmu. Tidak banyak, Gustav masih fokus mengajariku tentang silsilah keluarga besar Martell. Aku masih kesulitan mengingat nama-nama keluargamu."
"Begitu? Aku juga tidak terlalu banyak bicara hal pribadi dengan Luisa. Tapi yang aku tahu, adikku tidak mencintai tunangannya. Jadi, saat kamu bertemu dengannya, kamu tidak perlu berpura-pura menyukainya. Cukup bersikap sopan."
Aera bertanya-tanya, apa yang membuat Luisa pergi sampai kakaknya sendiri tidak bisa menemukannya.
"Apakah itu penyebabnya dia pergi, adikmu? Karena dia tidak ingin menikah?"
Lidahnya terasa bekerja lebih keras saat mengucapkan bahasa Jerman. Aera hanya belum terbiasa, dia sudah cukup lancar menggunakannya. Namun dia belum fasih dengan logatnya. Masih terdegar asing dan terdengar seperti bukan orang Jerman pada umumnya. Hal itulah yang ingin Audric rubah.
"Aku kagum akan kemampuanmu yang cepat belajar tentang bahasa. Aku pikir, kamu punya bakat tentang itu."
Jawaban yang sama sekali tidak nyambung. Tentu saja Area tahu mengapa Audric mengalihkan pembicaraan. Dia tidak diizinkan untuk menanyakan penyebab Luisa kabur.
"Terima kasih. Saat ini, selain Inggris dan Jerman, aku juga menguasai bahasa mandarin dan jepang. Meski logatku tidak baik."
'Ikuti saja permainannya.' tambah Aera di dalam kepalanya.
"Wah, apa karena kamu mengambil jurusan filsafat? Karena itu kamu mempelajari banyak bahasa?"
"Tidak juga, aku mempelajarinya karena aku ingin. Tidak ada yang tahu nanti aku akan berakhir dimana. Itu tidak ada ruginya bagiku. Aku pernah bercita-cita akan tinggal di Jepang suatu hari nanti. Aku suka Jepang karena terkenal rapi dan bersih. Mereka juga ramah."
Aera baru sadar, bahwa pria dihadapannya itu terus menatapnya. Entah sejak kapan dia selesai dengan makanannya. Aera yang gugup segera meminum air putih. Lalu mengelap bibirnya dengan serbet.
"Tampaknya pelajaran tatakramamu telah berhasil. Aku rasa Cesilia tidak perlu datang lagi mulai besok."
"Sekarang mari pergi ke ruang dansa."
"Ya? Kita baru saja selesai makan."
Aera buru-buru bangkit dan mengikuti langkah Audric yang sudah berjalan duluan. Gustav memberi hormat ketika Audric lewat dan berjalan dibelakang mereka.
"Tidak apa Gustav, kami hanya akan latihan dansa, kamu bisa istirahat sekarang."
Gustav menghentikan langkahnya dan memberi hormat sebelum menatap punggung keduanya yang menghilang ketika berbelok ke kanan. Dimana ruang dansa sudah disiapkan secara mendadak sejak Audric ingin Aera mempelajarinya.
Audric mulai menyalakan musiknya. Tampa aba-aba meraih pinggang Aera dan mengajaknya bergerak sesuai irama.
"Letakkan tanganmu dengan benar, Aera."
Maka Aera meletakkan tangannya di bahu Audric sementara satu tangan lagi berada dalam genggaman pria itu.
"Jangan menunduk, tatap mataku."
'Sial! Bagaimana caranya agar aku tidak gugup. Wajahnya tampan tapi menakutkan. Rasanya aku akan mati!' keluh Aera dalam hati.
"Berputar!" suruh Audric setelah beberapa saat mereka menyelaraskan gerakan itu-itu saja.
Karena tiba-tiba, Aera kehilangan keseimbangannya dan Audric menangkapnya dengan cepat. Menempatkannya di dalam dekapan yang tidak nyaman.
__ADS_1
"Apa kamu terkejut?"
"Aku belum menghapal urutan gerakannya." jawab Aera.
Cengkraman tangannya menguat pada lengan Audric ketika dia merasa akan jatuh.
"Aera, apa kamu tahu kamu memiliki tahi lalat di sudut matamu? Itu terlihat cantik."
Jantung Aera berdetak tidak karuan. Bagaimana pria ini bisa mengatakan kalimat seperti itu pada posisi mereka yang sekarang?
Dengan cepat, Aera bergerak untuk melepaskan dirinya. Dia merasa wajahnya akan terbakar kalau dia terus-terusan bertatapan dengan mata itu.
"Katamu Luisa memiliki tahi lalat di bawah matanya, juga memiliki bola mata bewarna hijau sepertimu. Bagaimana kalau tunangannya mengenali hal itu?"
Aera berhasil mengatasi gugupnya. Dia kembali menerima uluran tangan Audric dan mereka kembali berdansa.
"Kamu tidak perlu menghawatirkan hal itu."
"Ah, baiklah."
Beberapa kali Aera menginjak kaki Audric. Dia jadi terus-terusan minta maaf karena hal itu. Meski begitu, gerakan tubuhnya lebih baik sedikit. Dia tidak terlalu kaku lagi seperti saat pertama kali bersama Aron.
"Kamu berkeringat, apa ini melelahkan?"
"Ya, jadi apa kita bisa istirahat?"
"Tidak, kita sudahi saja sesi ini. Kembalilah ke kamarmu dan istirahatlah."
"Baik, selamat malam." sahut Aera.
Audric mematikan musik lalu ikut keluar menyusul Aera yang sudah pergi. Namun langkahnya terhenti ketika melihat Aera berhenti di depan jendela lorong hanya untuk melihat kearah luar.
"Kamu menyukai salju?"
Aera meliriknya sebelum kembali menikmati pemandangan hujan salju diluar.
"Siang hari tidak ada hujan salju. Itu terlihat cantik, apa aku boleh melihatnya keluar?"
Aera menatap mata Audric yang seolah menerobosnya lagi. Tatapan itu terasa sangat memikat dan menakutkan secara bersamaan. Hal itu karena Aera pikir, dia tidak bisa menebak apa yang sedang Audric pikirkan.
"Kamu bisa demam lagi, Aera. Diluar sangat dingin. Kembalilah ke kamarmu, aku akan megantarmu."
Tampa bisa di protes. Audric sudah berjalan terlebih dahulu menuju kamar yang ditempati Aera. Begitu ia membuka pintu, Audric masuk dan berdiri di depan jendela.
"Kemarilah," suruhnya.
Tirai jendela disingkap sedikit. Lalu menarik Aera untuk berdiri disana. Menghadap keluar untuk melihat hujan salju yang terlihat lebih indah karena tepat berada di bawah lampu - lampu taman yang terang.
"Jangan tidur terlalu larut karena salju-salju itu. Selamat malam Aera."
Audric mengelus rambutnya sebelum pergi. Sentuhan-sentuhan ringan seolah mereka adalah adik kakak pada umumnya, yang saling menyayangi dan memperhatikan satu sama lain. Terkadang, Aera berpikir Audric melakukan hal itu untuk membuatnya nyaman sebagai adiknya.
Hal yang tidak Aera tahu, bahwa Audric tidak seperti itu pada Luisa. Audric juga tidak seramah itu pada keluarganya yang lain. Termasuk kepada almarhum kedua orang tuanya sendiri.
__ADS_1
Bukan karena dia membenci mereka, tidak begitu tentu saja. Tapi kepribadiannyalah yang bermasalah. Dia sangat kaku dan tidak terlalu bisa memahami perasaan orang lain, sehingga dia terkesan membuat jarak dengan orang-orang. Sama halnya seperti Aera, orang-orang juga tidak mengerti apa yang dia pikirkan. Sehingga sulit memahami apa yang ia inginkan.