BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)

BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)
Audric kenapa?


__ADS_3

Aera sedang berjalan santai dipagi hari seperti biasanya ketika rasa sakit tiba-tiba ia rasakan di perutnya. Dia merasa ada yang keluar melalui ***********, saat ia mengangkat sedikit gaunnya, dia bisa melihat air bening yang mengalir telah sampai di mata kakinya.


"Aku membaca buku, katanya saat ibu melahirkan akan keluar cairan ketuban. Olivia..." katanya dengan wajah cemas.


Olivia sudah tidak tenang, dia juga belum pernah melahirkan.


"Olivia, beritahu butler dan pengwal untuk segera menyiapkan mobil. Yang mulia, mohon maaf atas kelancangan saya." usai bicara begitu Dimitri segera menggendong Aera. Berjalan cepat untuk keluar dari istana menuju area pintu keluar darurat.


Olivia sudah menghubungi butler dan pengawal melalui telepon sambil berlari kecil mengikuti langkah Dimitri.


Audric sedang berbicara dengan Yohanes dan beberapa mentri luar negeri terkait kerja sama antara dua kerajaan ketika pintu dijetuk dua kali.


"Baginda, ini saya."


Mendengar suara butler, Audric menyuruhnya masuk. Butler itu segera membuka pintu dan berdiri sambil menunduk.


"Yang mulia ratu sedang dibawa kerumah sakit. Sepertinya beliau akan melahirkan." katanya.


Audric segera berdiri dan berlari keluar tampa mengatakan apapun. Yohanes ikut bangkit dan meninggalkan para mentri yang terlihat antusias karena kelahiran penerus tahta.


Sesampainya dirumah sakit, Audric yang masih memakai pakaian resmi dengan dikawal puluhan pengawal, memasuki rumah sakit. Dia disambut oleh direktur rumah sakit dan segera diantar ke ruang persalinan.


Aera masih dalam tahap pembukaan, tapi kondisinya menurun sehingga dia memerlukan alat bantu pernapasan. Keringat membanjiri wajah hingga rambutnya basah oleh keringat.


"Ric... Ini sakit. Sakit sekali, Ugh!" Aera merintih dan mengatur napasnya seperti yang diarahkan dokter ketika pembukaan jalan lahir semakin besar.


Audric menggenggam tangannya, memberikan kecupan ringan dikeningnya dan mengelus perut Aera dengan lembut. Seolah sedang menenangkan anaknya didalam agar tidak terlalu menyakiti ibunya. Meski hal itu tidak terlalu berguna, tapi Aera bisa merasakan dukungan yang besar.


"Ric... Rasanya... Huh....!"


"Aeraku yang hebat, kamu pasti bisa. Kita sudah menunggunya bersama. Berusahalah sedikit lagi. Aku mencintaimu, Aku mencintaimu, Sayang." Audric terus membisikkan kata cinta dan memberikan semangatnya sampai suara tangisan keras bayi mereka terdengar.


Aera tersenyum, dia merasa sangat lega. Tapi hanya beberapa detik berselang, Aera kehilangan kesadarannya. Tentu saja Audric langsung panik. Dia bahkan tidak sempat menoleh pada anaknya yang kini dibawa oleh perawat.


Tindakan pertolongan segera dilakukan. Aera dipindahkan keruang ICU. Dia juga mengalami perdarahan dan mendapatkan tranfusi darah.


"Yang mulia, tenangkan diri Anda." bisik Yohanes, mereka sedang diruang tunggu.


Ketika dokter keluar dan menyatakan kindisi Aera telah stabil, Audric segera masuk kedalam. Tidak ada yang berani mencegahnya meski seharusnya Aera masih tidak boleh diganggu.


"Pangeran, apa dia lahir dengan sehat?" tanya Audric pada barisan dokter dibelakangnya. Dia sedang duduk disamping istrinya sambil terus menggenggam tangan Aera.


"Sangat sehat, Yang mulia. Pangeran memiliki warna mata dan rambut yang sama seperti Yang mulia ratu."

__ADS_1


Audric tersenyum, menatap wajah Aera yang kini terlihat lebih tenang. "Kamu dengar, segeralah buka matamu. Anak kita... Mirip denganmu. Dia pasti akan menjadi anak yang tampan." kata Audric.


Audric tidak meninggalkan ranjang itu selama 24 jam penuh. Dia tidak mandi dan hanya makan sedikit sekali. Wajah pucat Aera membuatnya diliputi perasaan takut. Dia tidak ingin kehilangan wanita yang amat ia cintai itu.


"Ini akan jadi yang terakhir. Aku tidak menginginkan anak lagi. Jadi kumohon bangunlah, Aera." kata-kata yang keluar seolah sedang membujuk. Ivon, Harald dan beberapa orang lainnya hanya bisa menunduk mendengar perkataan raja mereka itu.


Anak mereka sudah dibawa pulang oleh Olivia. Bersama dengan Yohanes, keduanya mengawasi si bayi yang langsung berada dibawah perlindungan ketat kerajaan.


Dua hari berlalu, Audric tidak menggubris kunjungan siapapun yang ingin menemuinya. Bahkan ayah kandung Aera datang bersama orang tua Yohanes. Tapi mereka hanya menjadi tamu yang berakhir diabaikan. Audric tidak mengizinkan siapapun masuk kedalam ruang rawat Aera.


Seperti suasana berkabung, seluruh negeri merasakan suasana mendung yang tercipta. Layar televisi juga hanya berisi pemberitaan keadaan ratu mereka. Sampai waktu berlalu selama sebulan penuh, televisi masih menayangkan hal itu disela berita lain.


Audric masih setia dirumah sakit, dia bahkan tidur didalam ruangan yang sama dengan Aera. Harald dan Ivon yang kini menjadi perwakilan jika ada agenda ketempat jauh.


Bangsawan penguasa wilayah mulai bergerak. Meski suasana istana masih diliputi kesedihan, mereka malah memikirkan ambisi untuk menjadikan putri mereka pengganti ratu yang mereka anggap tidak ada harapan hidup lagi.


Mereka menemui beberapa mentri dan membicarakan hal ini kala Audric masih berada dirumah sakit. Ketika mereka semakin mendesak dengan gila, Harald yang sudah tidak tahan akan perilaku kurang ajar mereka, segera memberi tahu Audric.


"Mereka sangat berani ya. Istriku masih hidup dan mereka menawarkan anak mereka seperti melempar kotoran padaku."


"Mereka sangat lancang, bagaimana bisa mereka berpikir bahwa Anda akan menyetujui usulan konyol soal selir?" kata Ivon dengan nada marah.


"Mereka tidak menyerah soal itu sejak dulu. Ketika ada sedikit celah, mereka seperti tikus yang merayap ingin mencuri keju dilemariku. Umumkan pada mereka, bahkan jika istriku tidak bangun selamanya, aku tidak akan pernah menikah lagi."


"Itu akan menjadi hal bagus untuk menutup mulut mereka, tapi akan menjadi hal berbahaya bagi Yang mulia ratu dan juga pangeran, Baginda. Bagaimana kalau kita menunjukkan bahwa Ratu mungkin akan segera sadar. Kita hanya perlu bekerja sama dengan dokter." usul Harald.


Harald dan Ivon bertukar pandang, lalu diam cukup lama sesudahnya. Mereka sama-sama memikirkan hal yang sama. Bahwa Audric menunjukkan keengganan pada anaknya. Sejak lahir, Audric belum pernah melihat sekalipun keadaan anak mereka. Dia juga hanya sekali menanyakan keadaannya, selebihnya Harald yang melapor terlebih dahulu. Bahkan saat Harald sengaja tidak melapor untuk mengujinya, Audric sama sekali tidak menanyakannya lebih dulu.


"Baginda, pagi ini pangeran mengalami demam. Apakah Anda tidak ingin mengunjunginya?" tanya Harald.


"Olivia ada disana bukan?"


"Ya, tentu saja."


"Itu sudah cukup. Aera lebih membutuhkan aku. Laporkan saja perkembangannya, jika semakin parah bawa saja kerumah sakit."


"Baginda, tidakkan Anda ingin melihatnya sekali saja? Jika Yang mulia ratu tidak membuka matanya lagi, apakah selamanya Anda tidak akan menemui pangeran?" tanya Ivon dengan berani. "Banyak orang telah berspekulasi sendiri sejak Anda tidak pernah menemui pange_"


Brak!


Ivon terhempas kedinding dengan keras kala Audric bangun dan langsung mencekiknya. Menekan lehernya ke dinding dengan kuat sampai Ivon kesulitan bernapas.


"Berani sekali kamu mengatakan bahwa Aera tidak akan bangun lagi. Apa sekarang kamu mengganti loyalitasmu pada para bangsawan kurang ajar itu!" desis Audric dengan penuh amarah.

__ADS_1


"Yang mulia, saya mohon tenangkan diri Anda." kata Harald, dia ingin melerai tapi tidak memiliki keberanian menyela. Audric tampak sangat murka.


"Sa... Ugh! Saya tidak bermaksud begitu. Maafkan saya Ba-baginda." kata Ivon dengan susah payah.


Bruk!


Tubuh ivon tersungkur ke lantai ketika Audric melepaskan cengkramannya, lalu menekan dada Ivon dengan kakinya.


"Saya hanya kawatir pada pangeran, sikap Anda menyiratkan bahwa kelahiran pangeran adalah kesalahan. Saya hanya ingin menyadarkan Anda, Baginda."


"Kamu masih bisa bicara kurang ajar ya, Ivon!" Audric semakin menekan kakinya.


"Yang mulia ratu akan sangat sedih karena Anda mengabaikan Pangeran." lanjut Ivon, tidak peduli saat Audric semakin murka padanya.


Audric mengangkat kakinya, dia nyaris menendang kepala Ivon karena emosi kalau saja sebuah erangan tidak menyadarkannya. Audric segera berbalik, lalu menghampiri Aera yang matanya kini bergerak terbuka.


"Aera! Ratuku..." panggil Audric dengan sangat lembut.


Harald segera memanggil dokter. Ivon yang juga terkejut segera duduk dan bersandar di dinding untuk mengatur napasnya. Dadanya masih terasa sangat sakit. Tapi dia merasakan kelegaan ketika melihat Aera akhirnya membuka mata.


Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan, dokter menjelaskan bahwa keadaan Aera stabil. Meski masih ada sedikit masalah di beberapa bagian, seiring berjalannya waktu, dokter memastikan Aera akan kembali sehat seperti sedia kala.


Kabar Aera yang telah sadar tentu saja membuat semua orang bersyukur, kecuali pihak-pihak yang menginginkan adanya selir. Audric kini menjadi leluasa mengeluarkan keputusan perihal itu.


"Aku ingin bertemu anakku. Ric, bawa dia padaku." pinta Aera setelah hari kedua dia sadar.


"Nanti, saat kamu sudah boleh kembali." jawab Audric dengan tegas.


"Kenapa harus menunggu pulang, aku sudah bisa menyusuinya sekarang."


"Kamu belum bisa, kamu masih sangat lemah." Audric menjawabnya sambil menandatagani beberapa dokumen. Sehingga dia tidak bisa melihat sorot penuh tanda tanya diwajah Aera.


"Ya, aku memang telah koma selama satu bulan. Aku masih lemah. Tapi aku ingin melihatnya, Ric." Aera tiba-tiba meneteskan air matanya. Meski tak ingin menangis, entah kenapa suaranya menjadi serak dan dia mengeluarkan air matanya.


Audric segera meletakkan embaran dokumen ditangannya dan langsung menghampiri Aera. Dia memeluk Aera yang kini terisak di dadanya. Matanya menatap Harald dan mengangguk singkat untuk memberikan intruksi membawa Pangeran kemari.


"Maafkan aku, Aku jadi membuatmu sedih. Aku hanya takut kamu menjadi lelah."


"Dia pasti sudah lebih besar, aku belum melihatnya sejak lahir, jadi bagaimana bisa dia membuatku lelah! Dia anakku!" tiba-tiba Aera jadi kesal.


"Baiklah... Baiklah, Pangeran akan segera dibawa kesini. Sekarang kamu harus berhenti menangis." Audric mencium seluruh wajah Aera setelah menghapus air matanya.


"Terima kasih, Ric. Aku juga minta maaf karena merepotkanmu yang sedang sibuk."

__ADS_1


"Tidak ada yang lebih penting dari pada kamu."


Aera tersenyum mendengar jawaban Audric itu. Tapi sebagai seorang istri dan kini menjadi seorang ibu, Aera menjadi lebih sensitif. Entah kenapa dia merasa sedih saat Audric tidak menyebutkan anak mereka saat menyebutkan yang lebih penting dalam hidupnya.


__ADS_2