BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)

BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)
Raja itu bucin


__ADS_3

Pintu menjeblak terbuka. Aera dan Dimitri langsung menoleh. Begitu menyadari siapa yang datang, Dimitri langsung berdiri dan membungkuk untuk memberi sapaan hormat.


Ivon melirik Olivia yang mengelus dadanya dengan lega. Dia sedikit kesal karena pelayan ini membesar-besarkan apa yang terjadi. Dia sudah menduga Audric akan langsung berlari kesini. Padahal tadi mereka sedang dalam pembahasan penting.


"Ric... Kenapa kamu seperti habis berlari?" tanya Aera. Audric menatap Olivia dengan jengkel sebelum duduk. Tampa bertanyapun Aera langsung paham apa yang terjadi. Sampai-sampai dia tidak bisa menahan tawanya. "Ya ampun, bukankah kamu tahu kalau Olivia itu panikan? Kamu kan tidak harus berlari. Selain itu aku membawa senjata seperti yang kamu perintahkan." kata Aera.


"Aku hanya cemas. Tapi kenapa kriminal ini disini?" ketus Audric.


"Baginda, Anda setuju memaafkannya ketika kerja sama saat itu." jawab Ivon. Aera langsung tersenyum dan memberikan jempol untuk Ivon.


"Terserah, tapi apa tujuannya kesini dan meminta bicara berdua saja dengan istriku?"


"Saya ingin minta maaf atas apa yang saya lakukan dimasa lalu kepada Yang mulia ratu, Yang mulia."


"Lalu kenapa hanya berdua? Kamu merencanakan sesuatu?"


Aera menghela napas. Sejak menikah Audric sering bersikap kekanakan begini. Rasa-rasanya Aera tidak mengenal Audric yang baru ini, dia terkadang kawatir perubahan ini akan membuat orang lain meremehkannya. Padahal, Audric hanya bersikap kekanakan saat bersamanya atau karena sedang cemburu. Tapi Aera yang belum tahu hal ini membuat kesimpulan yang berbeda. Olivia dan yang lain memang sengaja tidak menjelaskan, karena bagi mereka, melihat sikap baru Raja mereka adalah sebuah hiburan.


"Ric, aku yang minta semua keluar karena aku memiliki hal pribadi yang aku sampaikan."


"Apa? Kamu? Hal PRIBADI?" Audric menekan kata pribadi saking kesalnya. "Apa itu? Katakan dihadapanku!" perintahnya.


Aera menghembuskan napas, lalu mendekatkan dirinya pada Audric. Berbisik ditelinga suaminya itu untuk menjelaskan perkara perjanjian hidup dan mati.


Audric menatapnya dengan kening berkerut. "Ada puluhan calon kandidat yang cocok untuk posisi itu, bahkan jika kamu meminta Ivon aku akan mencabut jabatannya dan menjadi ajudanmu. Kenapa harus dia?"


Ivon dan Olivia yang tidak mengerti hanya menatap Raja mereka dengan ekspresi bingung.


"Ivon terlalu terhormat untuk posisi itu! Lagi pula dia adalah guruku dan posisinya haruslah di dekatmu. Lalu, walaupun banyak kandidat yang kamu sebutkan, aku hanya percaya padanya!"


"Apa? Kamu percaya padanya? Hal tidak masuk akal apa yang kamu katakan barusan Ratuku?"


Aera tidak menjawab, dia segera berdiri dan keluar dari sana dengan aura suram dan penuh kekesalan. Membuat Audric jadi bingung dan langsung kelabakan.


"Tunggu, Aera?"


Audric lalu menoleh pada Ivon yang langsung mengangkat kedua bahunya. Olivia yang sebenarnya paham, tapi dia ikut keluar mengejar Aera.


"Apa yang salah?" tanya Audric bingung kenapa Aera tiba-tiba pergi dengan wajah marah.


"Ckckckck! Umur saja yang tua tapi pengalaman nol besar." Tiba-tiba Yohanes yang menguping dibalik pintu masuk kedalam. Dia berdiri disisi pintu yang berlawanan dengan arah yang Aera tuju, karena itu Aera tidak melihatnya ketika keluar. Dia duduk tepat disamping Dimitri yang masih berdiri. "Duduklah, aku akan membantumu bodoh!" kata Yohanes lagi.


"Tuan, saya selalu menyimpan pisau yang tajam, jika saya mendapat perintah dari Baginda, saya akan dengan senang hati memotong lidah itu." ancam Ivon dengan wajah datarnya.


"Ya ampun, aku takut sekali Ivon! Aku akan menutup mulutku sekarang." balas Yohanes dan berpura-pura takut.

__ADS_1


Audric malah masa bodoh, pikirannya hanya dipenuhi oleh Aera yang marah padanya. Dia sedang memikirkan bagaimana cara membujuknya. Mulai dari bunga, perhiasan sampai memberikan saham, pikiran itu bertengger di kepalanya saat ini.


"Yang mulia! Anda mendengar saya?" kesal Yohanes.


"Ck, kalau kamu hanya mau meracau pergilah sebelum aku mematahkan kakimu."


"Ya ampun, pria gila ini. Kamu tidak mengejarnya dan malah sibuk memikirkan cara yang tidak masuk akal, kan? Dasar bo_ Hah... Dasar!" Hampir saja dia kelepasan bilang kata bodoh lagi, dia bahkan sampai melirik Ivon yang pura-pura tidak peduli.


"Anda juga dilarang mengatakan pria gila ini." protes Ivon tampa menatapnya.


"Ck! Iya iya!" sahut Yohanes dongkol, lalu dia mulai memasang wajah serius. "Yang mulia, adik saya itu sedang hamil muda. Dengan kalimat ini apa Anda sudah mengerti?" tanyanya.


"Kenapa dengan hamil muda?" heran Audric yang memang tidak memahaminya sama sekali.


"Ya ampun, kakak ipar saya saat hamil muda pernah mengidam sesuatu yang lebih aneh. Tengah malam dia malah ingin bermain roller coster, kakak saya bahkan harus menahan malu karena membangunkan pemilik wahana tengah malam."


"Jadi maksudmu Aera sedang mengidam?"


Yohanes tersenyum untuk menjawab pertanyaan itu. "Intinya, apapun yang dia inginkan, jangan Anda tolak. Ibu hamil itu sangat sensitif pada penolakan suami kereka."


Dari momen inilah dimulainya tersebar cerita dari mulut ke mulut hingga luar istana, bahwa Raja selalu mengabulkan apapun permintaan Ratu karena dia sangat mencintainya. Sehingga hal itu berdampak pada perlakuan banyak bangsawan dan pejabat penting yang tadinya mengabaikan eksistensi Aera, kini berlomba mengambil hatinya.


.


Aera merapatkan mantel bulunya. Perutnya mulai terlihat karena memasuki trimester ketiga kehamilan. Saat ini dia sedang menjalankan perannya sebagai ratu. Memeriksa pengeluaran rumah tangga istana dan melakukan pengaturan-pengaturan baru. Biasanya akan ada saja yang berani menentang karena meremehkan asal usulnya. Masalahnya, jika raja mereka sudah bersuara, siapapun tidak bisa berkutik. Jadi yang berani hanyalah mereka yang benar-benar tidak paham situasinya dan meremehkan kedudukan Aera.


Seperti saat ini, Aera sedang dihadang oleh pemimpin wilayah yang sedang berkunjung ke istana dengan tujuan khusus, sudah jelas dia memang mengincar Aera.


"Diwilayah kami ada banyak pelamar tahun ini. Ada lima orang lulus seleksi untuk ditempatkan di dapur dan dua orang sebagai pelayan utama. Semuanya dengan pendidikan yang bagus dan dari keluarga yang cukup berpengaruh. Tapi karena kebijakan baru Yang mulia, mereka terancam tereliminasi."


Aera mengelus perutnya, menatap pria berumur dihadapannya dengan ekpresi sepolos mungkin. Olivia saja sampai menahan diri agar tidak tertawa. Sementara Dimitri bersiaga karena kawatir bangsawan ini melakukan hal diluar batas.


"Tenang saja Tuan, aku menilai dengan sangat adil. Walau mereka tidak lulus tes psikologi dari Baginda, tapi jika lulus dalam tes kebohongan, aku akan mempertimbangkannya."


"Hah, sungguh tidak masuk akal anak ingusan yang baru saja lulus karena pengaruh kekuasaan menangani hal ini. Istana bukan tempat bermain, Yang mulia." ujarnya.


"Tuan Hitler, jaga sikap Anda!" Dimitri memberi peringatan.


"Apa aku terlalu kasar pada Anda Yang mulia? Karena Anda masih muda. Saya hanya mengajarkan bahwa dunia ini tidaklah mudah. Saya mohon maaf jika Anda tersinggung."


Orang-orang yang lewat dari jauh mulai memperhatikan mereka. Bahkan beberapa sudah mendengarkan dari dekat sejak tadi. Pria hampir botak dari keluarga Hitler itu tersenyum karena mengira orang-orang akan ikut mendukungnya. Dia mengira banyak orang akan sepemikiran dengannya. Karena para bangsawan wilayah memang banyak yang membicarakan dan menentang, namun baru dia yang berani bersuara.


"Tuan Hitler, Anda seperti pahlawan ya. Membela rakyat yang ingin bekerja disini. Saya sungguh terharu dengan niat baik Anda. Tapi... Saya minta maaf karena aturannya tidak bisa dirubah. Kejujuran nomor satu, kita butuh orang yang bisa setia kan? Ini kan istana, bukan tempat bermain. Ya kan?" balas Aera dengan santai.


Hitler mengeraskan rahangnya meski dia berusaha tersenyum. "Tentu saja, karena itu saya meminta Anda untuk menyerahkan perkara ini pada ahlinya."

__ADS_1


"Hmm? Siapa yang Anda usulkan?" pancing Aera, dia bisa mendengar suara pekikan tertahan beberapa orang sebelum keheningan melanda secara tiba-tiba. Aera tersenyum, dia tahu siapa yang datang.


"Tentu saja bagian administrasi, serahkan saja pada mereka. Bukankah selama ini itu tugas mereka sebelum Anda mengambil alih Yang mulia." jawab Hitler.


"Sepertinya aku perlu mengaudit ulang orang-orang dibagian itu. Harald, serahkan daftar nama mereka nanti."


Hitler langsung pucat. Dia langsung bergeser dan menghadap pada Audric. Memberi salam dengan sedikit bergetar menahan takut. Apalagi ketika Audric berdiri disisi Aera dan menatap Hitler dengan aura membunuh.


"Sepertinya akhir-akhir ini aku jadi terlalu lembut pada orang-orang seperti ini."


"Yang mulia, Sa-saya hanya menyampaikan saran. Saya tidak bermaksud tidak sopan."


"Ck!"


Karena Audric berdecak dengan ekspresi semakin gelap, Ivon yang juga selalu bersamanya menendang kaki perdana mentri itu dan membuatnya dalam posisi berlutut.


"Nah, itulah posisi yang cocok untukmu. Beraninya kamu meremehkan Ratuku." Audric membungkuk dan mencenkram dagu Hitler. "Apa kamu kekurangan informasi? Bahkan para pelayan tahu kalau Ratuku lebih berharga bagiku dari pada istana ini. Bagaimana bisa kamu menghinanya?" Audric menghempaskan dagu itu dengan kasar.


"Saya mohon ampun Yang mulia! Saya sungguh bersalah. Maafkan saya yang kurang sopan!"


"Ivon, seret dia. Kebetulan hukum tentang penghinaan keluarga kerajaan baru saja direvisi. Dia bisa menjadi yang pertama."


Ivon menyuruh dua petugas menyeret Hitler. Dia ikut bersama mereka untuk menngawasi sampai Hitler dimasukkan kedalam penjara khusus.


"Sudah berapa lama kamu diluar? Ayo masuk kedalam." Ekspresi Audric langsung berubah drastis. Dia menuntun Aera dengan sangat lembut.


"Kamu akan apakan orang itu?" tanya Aera.


"Aku tidak akan terlalu kejam, tenang saja. Hukuman penjara dan denda yang besar. Kalau dia sanggup membayar dia akan menyelamatkan lidahnya."


Aera menelan ludahnya mendengar hukuman potong lidah yang diucapkan Audric dengan cara yang sangat santai. Seolah potong lidah bukan suatu yang kejam.


"Itu mengerikan untuk didengar, Ric." bisik Aera.


"Aku minta maaf." sesal Audric.


Sejak kejadian pembahasan Dimitri saat itu, Audric selalu berhati-hati saat bicara. Karena saat itu Aera benar-benar mengabaikannya selama 3 hari. Waktu segitu adalah tamparan keras baginya.


"Ada perayaan dialun-alun kota dan istana besok, kita harus segera bersiap-siap juga." kata Aera.


"Tentu saja."


Keduanya saling menggenggam tangan satu sama lain. Terlihat sangat mesra bagi siapapun yang melihatnya. Semua orang sudah melihat bahwa raja mereka sangat mencintai istrinya.


Tentu saja pada awal menjadi raja tidak sedikit penguasa wilayah yang menawarkan putri mereka untuk dijadikan selir sebagai tanda ikatan kuat pendukung kerajaan. Tapi Audric menolak mereka dengan dingin. Bahkan dengan tegas menghardik mereka kalau kerajaan tidak butuh ikatan seperti itu. Bagi Audric, Martell miliknya sendiri sudah menjadi pondasi kuat yang bisa melawan mereka yang mencoba untuk menyerang kerajaan yang ia bangun.

__ADS_1


__ADS_2