BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)

BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)
Aera mabuk


__ADS_3

Jangan pernah mencoba hal yang tidak pernah kamu ketahui tampa mencari informasi terlebih dahulu. Karena coba-coba tampa tau apa-apa seperti berjalan dalam kegelapan.


Aera kini menyesali keputusannya. Harusnya saat Audric menawarkan perjanjian, dia tidak menerimanya. Dia bisa lari dan mencari cara lain untuk membantu neneknya.


Nasi sudah menjadi bubur, keputusan labil yang ia ambil menyusahkan dirinya sendiri sekarang.


Kini, dia harus terjebak dalam ikatan yang sama sekali tidak ia inginkan. Adolf memang tidak terlihat mengancamnya, tapi setiap permintaannya penuh paksaan yang halus. Dia membuat Aera melakukan keinginannya dengan cara yang halus.


"Kenapa kita kesini?"


Eara sangat bingung kenapa dia dibawa ke sebuah taman bunga. Ada beberapa tempat duduk disana dan sangat sepi. Saat mereka memancing, Adolf ditemani empat orang. Namun kali ini, selain supirnya, tidak ada siapapun di dekat mereka. Bahkan supirnya juga menjaga jarak.


Adolf meletakkan plastik berisi beberapa kaleng minuman di dalam plastik yang tadi dia beli diatas kursi panjang itu, lalu dia duduk disana setelahnya. Aera mengikutinya, duduk di sampingnya.


"Apa biasanya tempat ini sesepi ini?"


"Tidak juga, aku tidak tahu kenapa jadi sepi. Kita hanya harus menikmati waktu seperti ini."


Aera mengernyit heran. Bukankah sebelumnya pria ini mengatakan bahwa dia ingin mengajak kencan. Apa ini yang dia maksud dengan kencan?


"Maafkan aku, tapi apakah ini yang kamu maksud dengan kencan?"


"Kamu pasti sedikit bingung karena kamu dari Asia. Tapi ini tempat yang tenang untuk bicara dan saling mengenal lebih dekat."


'Ini hanya seperti pindah tempat, taman bunga dirumah Luisa juga indah.' kata Aera dalam hati.


Dia membuka kaleng minuman dan meneguknya. Melihat itu Adolf bertanya.


"Kamu bisa minum?"


"Huh? Apa maksudmu?"


Aera memeriksa kaleng minuman yang bertuliskan salah satu merk bir. Pantas saja dia merasakan pahit dilidahnya.


"Terkurung dirumah itu membuatmu tidak mengetahui kebiasaan orang Jerman. Apa Gustav melayanimu seperti dia melayani orang Asia?"


Aera baru menyadarinya, bukan hanya Gustav, tapi Audric juga memperlakukannya seperti dia diperlakukan dinegara asalnya. Meskipun dia diajari tatakrama dimeja makan oleh Cesilia, tapi dia tidak memberitahu apapun mengenai budaya disini. Tentu saja, segala pelajaran yang diberikan atas arahan Gustav. Dia mengaturnya dengan baik sehingga Cesilia tidak menanyakan banyak keanehan yang ada pada Aera yang dia kira adalah Luisa.


"Gustav tidak mengajarimu? Wah... Ini cukup berbahaya. Kamu harus belajar banyak hal agar tidak dicurigai."


"Apa itu alasanmu saat dipesta memisahkanku sangat lama dengan yang lain?"


'Wah, pria ini lebih teliti dari pada si brengsek Ric.' lanjutnya dalam hati.


Adolf tersenyum, lalu ikut membuka minuman untuknya sendiri.


"Aku juga sedikit mencari tahu bagaimana orang di negaramu berkencan."


Aera jadi tahu alasan Adolf mengatakan hal konyol tentang kencan saat dirumah Luisa tadi. Bukan hanya ingin menghibur, tapi dia juga ingin mengenalnya melalui cara yang dimengerti olehnya.


"Jadi karena aku menolak semua ide yang kamu ucapkan tadi, itu alasanmu membawaku kesini? Kencan ala orang Jerman?"


"Gadis pintar, ini adalah cara orang kami berkencan. Walau tidak semua, tapi kami lebih suka yang seperti ini."


"Aku mengerti."


Aera juga jadi mengerti mengapa Adolf mengajaknya memancing saat itu. Dia meminum bir itu lagi, meski dia belum pernah minum sebelumnya, tapi Aera menilai bahwa rasa bir tidak buruk walau sang nenek selalu melarangnya untuk menyentuh minuman ini. Neneknya selalu menekankan jangan minum apalagi jika sedang bersama pria.

__ADS_1


"Apa yang kamu sukai, Aera?"


Aera mulai tidak fokus, dia merasa efek bir itu terlalu cepat baginya. Apa karena ini pertama kali atau memang kadar alkoholnya terlalu tinggi. Tapi, dia tidak peduli.


"Yang aku sukai? Aku... Suka apa ya?"


Adolf menoleh padanya. Tidak menyangka Aera akan mabuk dengan sekaleng bir. Kalengnya sudah berada dibawah kaki gadis itu. Ketika Aera ingin membuka sekaleng lagi, Adolf menahannya.


"Jangan yang ini ya, rasa ini tidak enak."


Adolf menjentikkan jarinya sebagai tanda, lalu pengawal yang selalu Aera kira sebagai supir itu menghampirinya.


"Siapkan mobil."


Aera sudah mulai berbicara diluar akal sehatnya. Menyebutkan semua jenis makanan dan tempat-tempat yang ada didaftar yang ia sukai.


"Kenapa aku tidak boleh minum? Aku haus..."


Tangan Aera yang lagi-lagi dihalangi oleh Adolf membuatnya protes. Wajahnya sudah memerah dan bibirnya mengerucut. Persis seperti anak kecil saat merajuk. Dia menatap Adolf dengan matanya yang polos.


"Ya Tuhan! Bagaimana bisa aku tidak jatuh pada gadis ini." katanya dengan nada fruatasi.


Adolf bangkit dan menarik Aera untuk berdiri. Tapi bukannya berdiri, dia malah mengernyitkan keningnya seolah dia sedang marah.


"Ayolah, kita akan membeli yang lebih enak. Kamu sudah mabuk, ayo kita pulang."


"Tidak mau! Aku tidak mau pulang! Tidak mau!" katanya berulang-ulang.


Mau tidak mau Adolf menggendongnya dengan bridal, memegangnya dengan erat agar Aera tidak bisa memberontak.


Ketika sampai kemobil, Aera sudah tertidur. Adolf menyandarkannya ke lengannya agar Aera lebih nyaman.


"Anda akan mengantarnya pulang, Sir?"


"Mana mungkin, pulang kerumahku. Gustav tidak boleh tahu kalau dia mabuk." Dia menoleh pada Aera dan merapikan rambutnya. "Padahal aku sengaja mengambil cuti, tapi kamu malah mabuk karena sekaleng bir?"


Adolf hanya bisa tersenyum dan tertawa kecil melihat wajah Aera yang terlihat masih marah dalam tidurnya.


.


Audric mendapat laporan dari Gustav menjelang makan malam. Aera belum pulang dan ketika ponselnya dihubungi, Adolf yang mengangkat dan memberitahu bahwa Aera sedang dikamar mandi. Padahal Aera sedang tidur. Adolf juga memberi kabar bahwa Aera tidak akan pulang malam ini.


Audric mengepalkan tangannya. Namun karena dia sedang dalam percakapan serius dengan rekan bisnisnya, dia terpaksa menahan diri untuk tidak menunjukkan ekspresi berlebihan. Dia tidak segera membalas pesan Gustav, dia langsung menyimpan ponselnya dan melanjutkan pembicaraan mereka.


Setelah percakapan selesai dan rekan bisnisnya telah pergi, Audric langsung memisahkan diri dari Rubelia dan sekretarisnya. Mereka sedang berada disebuah restoran dan berada dalam ruang privat khusus.


Dia mencoba menghubungi ponsel Aera. Sayangnya Aera tidak mengangkat panggilannya. Dia menjadi cemas, takut terjadi sesuatu pada Aera. Dimatanya, Aera hanyalah gadis naif dan kekanakan yang tidak begitu mengerti kejamnya dunia.


"Sial! Kenapa dengannya?"


"Mr. CEO?"


Harald menghembuskan napas, dia tahu apa yang sudah pasti membuat atasannya itu berada diluar kepribadiannya. Karena itu, dia menghampirinya dengan cepat.


"Sir Audric!" ulang Harald dengan menggunakan panggilan lain.


"Cari tahu apa yang terjadi dirumah Adolf saat ini. Pastikan apa penyebab Aera menginap disana." perintahnya tampa menoleh. Dia masih fokus menelepon Aera.

__ADS_1


Harald segera menghubungi seseorang yang bisa melakukan perintah itu. Setelah selesai, dia menghampiri Rubelia dan memberitahu bahwa mereka memiliki urusan lain.


"Baiklah, walaupun aku tahu urusan apa itu melihat ekspresinya. Sampaikan padanya aku kembali duluan. Ayo Selena!" ujarnya.


Selena, sekretaris sekaligus asisten pribadi Rubelia mengikutinya dengan patuh. Sementara itu Harald kembali pada Audric. Berdiri dengan setia untuk menunggu atasannya itu selesai dengan kecemasannya.


"Aku mencemaskanmu, kenapa kamu tidak..."


Audric menghentikan perkataannya ketika mendengar helaan nafas seorang pria.


"Kamu berlebihan padaku akhir-akhir ini, Ric. Aku ini calon suaminya. Apa yang kamu cemaskan?"


Audric mengeraskan rahangnya tampa sadar.


"Berikan ponselnya pada Lui."


"Dia tidur, bagaimana caranya aku menyuruhnya menerima teleponmu? Aku tidak ingin mengganggu tidur cantiknya."


"Apa yang kamu lakukan padanya? Jangan mengatakan hal tidak masuk akal tentang tidur dijam segini!" Marah Audric. "Jangan berpikir untuk menyentuh adikku, Adolf!" lanjutnya memberi peringatan, pikirannya menjadi sangat buruk sekarang.


"Ric, aku tahu cara menghormati Lui dengan baik. Aku adalah calon suaminya."


"Aku juga tahu bahwa itu hanya ikatan diatas kertas. Aku bisa membatalkannya kapan saja jika kamu melakukan hal diluar batas, Adolf!" balas Audric.


Diseberang, Adolf sedikit tersentak. Audric belum pernah mengancamnya secara terbuka. Dia menjadi sangat marah hanya karena Aera menginap dirumahnya. Hal itu membuat Adolf mencurigai sesuatu. Lalu dia menoleh pada Aera yang masih tertidur.


"Kamu harus memiliki rencana cadangan untuk perolehan suara jika begitu. Aku menunggu keputusanmu. Kita sama-sama tahu keuntungan dan kerugian dari ikatan ini."


Adolf mematikan sambungan sepihak. Membuat Audric benar-benar meradang.


"Apa yang terjadi, Sir?"


"Adolf sepertinya benar-benar menaruh perhatian pada Aera."


"Bukankah itu bagus, tapi kenapa Anda terlihat sangat marah?"


Audric menatap Harald dengan tajam. Seolah Harald baru saja melakukan kesalahan.


"Dia tidak boleh menyentuh Aera." tegasnya.


"Maafkan saya, tapi... Apa mungkin Anda menyukai Nona Aera?"


Audric mengerutkan keningnya. Seolah tidak terima dengan pernyataan itu.


"Kekonyolan apa yang kamu bicarakan? Dia hanyalah orang asing yang aku bayar. Dia akan dikirim kembali ketika waktunya tiba dan aku hanya menjaganya sampai saat itu."


"Kalau begitu biarkan mereka mengalir seperti air. Jika Mr.Adolf benar-benar jatuh cinta padanya. Jika penyamaran terbongkar ditengah jalan, dia tidak akan membahayakan rencana. Anda hanya perlu membujuknya, atau memanfaatkan Nona Aera untuk menariknya kepihak Anda dengan sukarela."


Harald benar, tapi kenapa Audric merasa tidak senang akan hal itu?


Apa yang membuat hatinya terasa berat dan rasa marah ini berasal dari mana?


Audric yakin dia tidak menyukai Aera. Dia hanya tertarik dengan kepribadiannya yang unik karena berbeda dari gadis lain yang ia kenal. Audric juga memberikan memperhatikannya hanya sebagai bentuk manipulasi agar Aera menurutinya. Membuat Aera percaya padanya penting untuk rencananya berjalan dengan baik.


Lalu apa?


Apa yang membuat perasaannya selalu gelisah ketika Aera bersama Adolf?

__ADS_1


Harald yang melihat kegelisahan dan kebingungan diwajah Audric, menghembuskan napas. Harald sudah mengenal Audric cukup baik, bekerja selama bertahun-tahun dengannya membuat Harald mengetahui cara pandang Audric tentang sebuah hubungan. Audric selalu menilai sesuatu berdasarkan untung rugi dan logika yang nyata. Dia jarang menggunakan perasaannya. Sehingga dia tidak peka terhadap hatinya sendiri.


__ADS_2