BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)

BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)
Luisa tertangkap


__ADS_3

Ivon kembali bekerja setelah seminggu beristirahat. Setelah dia kembali, Audric langsung memanggilnya secara pribadi.


"Temukan dia, seret dia kehadapanku baik hidup ataupun mati. Pasukan istana sama sekali tidak berguna. Kerahkan seluruh pasukan Martell dibawah komandomu."


"Akan saya laksanakan." jawab Ivon.


Suasana diantara mereka sangat suram. Baik Harald maupun Ivon yang selalu disisinya merasakan tekanan kuat yang selalu keluar dari raja mereka.


"Ric."


Sebuah suara lembut yang memecah ketegangan. Harald sangat bersyukur dalam hati atas kedatangan Aera yang akhirnya keluar juga dari istananya.


Seminggu ini dia tidak banyak berbicara dan terus berada disamping Pangeran. Audric bahkan diabaikan, sehingga suasana hati pria itu semakin buruk dari hari ke hari.


Begitu Audric melihat Aera yang berjalan menuju meja kerjanya, dia langsung berdiri dan menyambut dengan senyum lembutnya. Audric membelai wajah Aera dengan penuh kasih sayang. Suasana suram tadi telah berganti sepenuhnya.


"Salam saya kepada Yang mulia ratu." kata Ivon dan Harald bergantian.


Aera menoleh, lalu mengangguk singkat pada keduanya. Tapi ketika dia melihat Ivon, Aera melepaskan diri dari Audric dan menghampirinya.


"Bagaimana lukamu? Kamu sudah benar-benar sembuh? Bukankah seminggu waktu yang singkat? Lukamu bisa terbuka lagi!" kata Aera, seolah mengomel padanya.


Harald yang melihat wajah Ivon yang merah padam antara malu dan takut, menahan tawanya dengan sekuat tenaga.


"Saya baik-baik saja, Yang mulia."


Aera meragukannya, dia hendak menekan pelan punggung Ivon untuk memeriksanya tapi Audric langsung menangkap tangannya.


"Ratuku, tangan ini juga belum sepenuhnya pulih. Punggung bawahanku ini cukup kuat untuk menerima beberapa peluru lagi jadi jangan kawatir." kata Audric, dia tersenyum tapi saat melirik Ivon tatapannya berubah sangat tajam.


"Dia itu guruku, kamu harus memperhatikan bawahanmu juga, Ric. Kamu memanggilnya pasti untuk menemukan Luisa, kan? Tidak bisa! Walaupun butuh waktu lama tidak masalah, jangan membuatnya memaksakan diri."


Audric tidak ingin berdebat, dia memeluk Aera dan memberi perintah pada Ivon secara diam-diam. "Baiklah, aku tidak akan melakukannya. Ivon, pergilah." katanya.


"Aku senang kamu sudah terlihat lebih baik. Apa Henry minum susunya dengan baik pagi ini?" Audric sengaja merubah topik pembicaraan.


"Hmm, itulah alasan aku kesini. Kamu terlalu sibuk sampai-sampai tidak melihatnya dua hari ini."


"Jadi karena itu kamu datang? Bukan karena merindukanku?"


"Aku juga merindukanmu."


Audric tersenyum lebar, dia sudah akan mencium Aera tapi bibirnya dihalangi telapak tangan kecil istrinya itu.


"Tidak tahu malu, Harald masih bujangan, kamu tidak boleh membuatnya iri." kata Aera sambil mengerling pada Harald, mengejek sekretaris suaminya itu.


"Yang mulia, saya juga ingin menikah. Tapi suami Anda tidak memberikan sedikitpun waktu untuk saya pergi berkencan. Saya bahkan tidak punya banyak waktu istirahat." keluh Harald.

__ADS_1


"Kasihan sekali, kamu mau aku carikan istri? Ada banyak grup penggemar Harald, lho! Aku bisa menyeleksi mereka."


"Apa? Tidak! Tidak! Yang mulia, saya masih sangat bisa mencarinya sendiri." tolak Harald dengan wajah putus asa.


Aera terkekeh, Audric yang tidak tahan mencuri kecupan ringan ketika dia sedang lengah. "Ya ampun." katanya terkejut.


"Aku sudah menyuruhnya mencari asisten, tapi dia belum menemukannya." kata Audric.


"Tidak mudah mencarinya, Yang mulia. Ada banyak peminat, tapi mereka tidak bisa dipercaya."


"Kenapa tidak mengambilnya dari perusahaan saja, Ric? Pilihlah salah satu karyawan yang berbakat dan tidak ada hubungan apapun dengan elit politik dan juga bangsawan."


"Bukan ide yang buruk." jawab Audric.


"Nah, aku sudah cukup mengambil waktumu. Aku akan kembali."


"Tidak, kamu bisa terus menggangguku. Aku tidak masalah."


"Hahaha! Lihatlah wajah Sekretarismu saat kamu mengatakan itu. Aku pergi dulu. Selamat bekerja dan datanglah nanti menemui Henry dan aku."


Aera mencium kedua pipi Audric sebelum pergi untuk memberikannya semangat. Harald menepuk keningnya setelah beberapa menit karena kini mata Audric hanya menatap pintu yang kini tertutup dengan tatapan tidak ikhlas.


"Anda bisa mengunjungi Yang mulia ratu lebih cepat kalau Anda menyelesaikan semua dokumen ini Yang mulia. Saya akan membatalkan pertemuan hari ini dan mengaturnya untuk besok."


Mendengar hal itu, Audric segera pindah ke kursi kerjanya. Tampa mengatakan apapun dia melanjutkan pekerjaannya. Membuat Harald menggelengkan kepala dan tersenyum dengan pasrah. Walau hal itu akan membuatnya repot karena mengatur ulang lagi jadwal Audric, tapi kalau suasana hati rajanya baik, merupakan keuntungan baginya.


Dua hari pencarian, setelah Ivon menelusuri jejak cctv yang menangkap keberadaan Luisa, dia memutuskan mendatangi sebuah perkampungan nelayan.


Meski Luisa dalam penyamaran, Ivon yang telah mengenalnya sejak lama tentu saja dengan mudah mengenalinya. Hal yang tidak bisa dikenali oleh kepolisian dan pasukan khusus kerajaan.


Sudah 10 hari dia terus datang ke dermaga. Dia berpura-pura menjadi pelayan orang kaya yang menginginkan ikan segar langsung dari laut.


Hingga pada pagi kesepuluh, saat dia duduk menunggu disebuah restoran kecil disana, dia mendengar dua ibu-ibu tua membicarakan apa yang dilakukan suaminya.


Salah satu ibu itu mengaku suaminya mendapatkan pekerjaan mengantar orang ke sebuah pulau kecil di negara tetangga. Ibu itu terdengar sangat antusias dan senang setelah menceritakan bayaran yang didapat suaminya.


Ivon hanya diam saja, tapi ketika ibu itu pergi. Dia mengikutinya diam-diam. Melihat siapa suami yang ia maksud karena saat ini sudah waktunya para nelayan pulang setelah pergi dari malam hari.


'Jadi dia?'


Ivon langsung menghampiri nelayan tua dari suami ibu yang bercerita tadi. Dia adalah Pak tua yang mengantar Luisa saat itu. Tampa banyak bicara, Ivon menunjukkan tanda pengenalnya dan langsung menyeret pria itu tampa perlawanan menuju tempat yang jauh dari keramaian. Istri Pak tua itu sampai ketakutan dan hanya diam mematung ketika suaminya dibawa pergi.


"Kamu mengenali wajah wanita yang kamu antarkan sekitar tiga minggu yang lalu?" mulai Ivon.


"Wanita? Itu... Ya! Saya melihatnya." jawabnya dengan gugup karena ketakutan.


"Kamu mengenalinya?"

__ADS_1


"Saat itu tidak, saya belum mendengar kalau ada tahanan kerajaan yang lari."


"Kamu tahu apa hukuman bagi yang membantunya?"


Pak tua itu langsung bersujud dihadapan kaki Ivon. Dia memohon-mohon dengan berbagai alasan. Lalu meminta dia saja yang dihukum karena tidak langsung melapor ketika tahu dan membiarkan keluarganya yang tidak tahu apa-apa.


"Pak tua, bukan aku yang akan memberikanmu ampunan. Sekarang sebutkan pulau mana yang kamu datangi itu." kata Ivon dengan dingin.


Setelah mendapatkan titik koordinat pulau tersebut, Ivon segera melaporkan hal itu pada Harald.


Harald yang sedang mendampingi pertemuan Audric bersama beberapa menteri segera mengirimkan helikopter kesana beserta dua pasukan Martell bersenjata. Lalu menghubungi pihak militer daerah perbatasan agar mengatur izin lewat helikopter mereka.


Tidak butuh waktu lama mencapai pulau itu. Ivon dan tiga orang lainnya turun dan memasuki hutan. Mereka menemukan tempat persembunyian Luisa dalam waktu singkat karena pulau itu memang tidaklah besar.


"Ada listrik disini," kata salah satu diantara mereka begitu dia selesai memeriksa sekeliling bangunan logam persegi panjang itu. "Dan aku sudah mematikannya." ujarnya dengan santai.


"Pintu ini tidak bisa didobrak walaupun kalian mematahkan tulang kalian." ujar Ivon ketika dua orang mencoba mendobrak pintu.


"Tunggu saja, aku tidak melihat jendela. Dia akan kehabisan udara karena aku mematikan listriknya. Kita hanya perlu duduk tenang dan menunggu kelinci itu keluar."


Tapi Ivon tidak tenang. Dia mengenal Luisa yang memiliki otak cerdas seperti kakaknya. Jika tempat ini dibuat dan dirancang olehnya, artinya tidak hanya ada satu jalan keluar. Ituah yang diyakini Ivon.


"Dua orang tunggu di depan pintu, satu orang ikut denganku. Pastikan kalian siaga dengan sejata, karena dia memiliki kemampuan menembak yang baik." kata Ivon memberi komando.


Dia mengelilingi area bangunan itu. Memeriksa tanah dan tanaman disana dengan baik. Ketika dia menelusuri tanah tampa rumput dan hanya ditutupi dedaunan kering yang tebal, Ivon mengikuti arahnya.


Benar saja, mereka menemukan sebuah lempeng logam yang merupakan jalan masuk sebuah lorong yang pastinya terhubung dengan banguna itu.


"Panggil mereka dan katakan untuk berpencar." perintah Ivon.


Dia mulai berlari kearah yang mungkin dilewati oleh Luisa. Tapi saat dia teringat Luisa bisa membawa helikopter, Ivon segera berlari menuju kesana.


Benar saja, dari jauh dia melihat Luisa telah berada dikursi pengemudi. Sedang menyalakan mesin. Tidak tinggal diam, Ivon segera melepaskan tembakan jarak jauh sambil berlari mendekat. Luisa yang terkejut langsung meringis karena tangannya terkena tembakan itu. Dia baru saja akan menembak dengan tangan lain tapi Ivon telah menembaknya lagi.


Menyadari keadaanya yang tidak memungkinkan tetap duduk disana, Luisa melompat turun dan berlari kearah pantai. Namun Ivon menembak kakinya sehingga ia terjerembab kepasir.


Kepalanya mendongak ketika Ivon berdiri dihadapannya. Bersiap menembak kepalanya. Senjatanya juga terlepas ketika dia melompat turun tadi, sehingga dia tidaj bisa berbuat apa-apa lagi.


"Kamu sungguh cocok dengan posisimu. Aku bahkan tidak punya kesempatan membalas tembakanmu. Bunuh aku sekarang, Kakakku pasti menyuruhmu untuk membawaku hidup atau mati, kan? Bunuh aku! Karena aku tidak ingin mati melihat wajah mereka."


Ivon menatap Luisa yang memohon padanya untuk dibunuh. Tapi wajah yang mirip dengan wanita yang sampai saat ini masih dicintainya itu mengganggunya.


"Ikat dan bawa di naik. Kita harus menyerahknnya pada Yang mulia." perintah Ivon pada dua orang yang baru saja datang dibelakangnya.


Luisa memberontak, dia berteriak untuk menyuruh mereka membunuhnya saja disana. Salah satu dari mereka menutup mulutnya dengan sapu tangan agar tidak terus berteriak.


'Dia mungkin akan sedikit menyesal dan terluka dari pada lega.'

__ADS_1


Ivon sedang menghawatirkan Aera yang akan melihat hukuman mati diberikan pada satu-satunya saudaranya didunia ini. Meski mereka memiliki hubungan yang buruk selama ini, tapi Ivon memahami bagaimana lembutnya hati Aera.


__ADS_2