
Aera membuka matanya ketika rungunya menangkap suara-suara berisik dari arah pintu. Dalam keadaan setengah sadar, dia turun dari kasurnya. Aera membuka matanya begitu mendengar suara gedebuk kuat di depan pintu, seolah seseorang telah menabraknya dengan kencang.
Dia yang biasanya sangat susah bangun jika sudah tidur, kini berlari kearah pintu. Memasang sikap waspada dan menempelkan telinganya kepintu, mencoba mendengar suara-suara diluar.
Sayup-sayup Aera menangkap suara kecil yang terus-menerus memanggilnya. Lalu ada suara pria lain yang bisa dikenalinya. Dengan cepat dia membuka pintu dan mendapati Audric langsung jatuh ke lantai tepat dibawah kakinya.
"Kamu terbangun? Maafkan kami. Tuan sangat mabuk dan..."
Audric tiba-tiba berdiri dengan cepat. Dia tersenyum lebar pada Aera dan langsung memeluknya dengan erat.
"Aku merindukanmu... Aku sangat rindu Aeraku yang imut. Aeraku... Milikku... My baby... Jangan marah, Maafkan aku..."
Aera terdiam karena terlalu syok mendengar rengekan manja, ucapan maaf dan kata-kata penuh kepemilikan yang diucapkan Audric. Tapi ketika Audric menumpukan seluruh tubuh besarnya, Aera nyaris tumbang kalau saja Harald tidak cepat-cepat menahannya.
"Bawa masuk dulu," ujar Aera dengan susah payah.
"Bagaimana bisa dia seperti ini?"
Aera menarik napas panjang, jujur saja tubuh Audric yang tinggi dan dibungkus dengan otot-otot itu tidaklah ringan.
"Maafkan aku, tadinya aku menyeretnya kekamarnya. Tapi dia malah berlari ke depan pintumu dan mulai membuat keributan... Dia biasanya tidak kehilangan kendali saat minum. Sepertinya kali ini dia benar-benar minum dengan banyak."
"Sepertinya? Kamu tidak menemaninya?"
"Tidak, dia turun sendiri dan hanya diikuti oleh seorang pengawal. Aku juga mendapatkan telepon."
Audric tertidur pulas. Kedua orang itu tampak tidak tahu harus berbuat apa. Jam menunjukkan pukul tiga lewat dan Aera masih mengantuk.
"Sebaiknya kamu tidur di kamarnya. Akan sulit jika dia bangun lagi dan..."
"Tidak apa-apa, berbahaya jika dia bangun dan melakukan hal yang tidak-tidak."
Harald menyeringai, sungguh ini juga diluar perkiraannya. Audric memang mabuk, tapi Harald tidak membawanya kekamarnya. Dia sedikit berbohong disini. Dia memang sengaja membawa Audric langsung ke depan pintunya dan menyuruhnya memanggil sendiri. Dia tahu Aera akan luluh saat Audric terlihat lemah.
"Kalau begitu aku minta tolong, aku akan kembali sekarang. Hubungi aku jika butuh bantuan. Selamat malam."
Harald segera keluar dari sana. Meninggalkan Aera yang kini hanya bisa pasrah. Dia melepaskan sepatu Audric dan membuka dasinya. Dengan susah payah Aera melepaskan jas yang dipakai Audric karena dia kembali berulah. Aera bahkan harus terjebak dalam dekapan Audric selama beberapa menit.
Ketika semua telah selesai, Aera mengambil handuk basah untuk membersihkan wajah dan leher Audric agar lebih segar. Setelah itu dia berencana tidur disofa, tapi Audric membuka matanya dan menahan tangan Aera.
"Jangan pergi... Aera... Maafkan aku. Maafkan aku..." gumamnya tampa sadar. Pegangannya mengendur, lalu tangan itu terlepas begitu saja. Audric kembali tidur.
Aera meletakkan handuk basah itu diatas meja dan naik ke atas kasur. Mengusap rambut Audric yang mulai panjang. Menatap wajah yang terlihat gelisah itu. Audric memang menutup matanya, tapi dia tampak gelisah. Keningnya terus mengerut dan bibirnya seakan ingin mengucapkan sesuatu.
"Apa kamu benar-benar tulus minta maaf? Benar-benar menyesal?" tanya Aera.
Bohong kalau Aera tidak senang dengan pernyataan Audric. Dia juga menyukai pria ini. Tapi, Aera tahu batasan dan jarak mereka begitu jauh. Belum lagi Audric posisi Audric yang membuatnya tidak percaya diri. Masalah mereka juga cukup rumit, status Aeran juga tidak jelas. Dia dikenal dengan Luisa istri Adolf, tapi pada dasarnya pernikahan itu hanya tipuan.
Aera berbaring sedikit jauh dan menggenggam tangan Audric. Dengan posisi menghadap padanya, Aera mengelus sebelah wajah Audric, seakan menenangkannya. Meski tidak sadar, tampaknya cara itu berhasil. Napas Audric menjadi lebih teratur dan wajahnya terlihat kembali tenang.
.
Pagi-pagi kamar Aera sudah berisik oleh suara-suara panik dan langkah kaki yang lalu lalang. Ketika Aera membuka matanya, dia dikejutkan dengan tatapan mata Audric yang sayu. Bibir dan wajah pucat serta berkeringat dingin. Aera langsung duduk dan menoleh kiri kanan.
Adolf duduk di sofa, bersama Harry dan Benjamin. Menatap mereka dengan ekspresi yang berbeda-beda. Sementara Harald sibuk menelepon seseorang.
Adolf menunjukkan ketidak sukaan yang kentara. Dia juga menatap Aera dengan tatapan meminta penjelasan. Namun ketika sebuah tangan yang terasa panas menyentuh pergelangan tangannya, Aera segera menoleh.
"Kamu demam?" paniknya.
Aera langsung memeriksa kening Audric, terasa sangat panas. 'Bagaimana dia bisa terserang demam seperti ini?' panik Aera, dia hendak turun tapi Audric menahannya.
"Tolong jangan pergi." ujarnya dengan lemah.
"Aku hanya akan mengambilkan handuk untuk kompres."
"Tak apa, Nona. Dokter sudah ada disini."
Aera akhirnya tetap ditempatnya dan membiarkan Audric menggenggam tangannya. Ini pertama kalianya Aera melihat Audric selemah itu. Yang dia lihat selama ini adalah Audric yang kuat, penuh karisma dan menakutkan. Dia baru sadar seberapa kuat dan penting kedudukannya, Audric hanyalah seorang manusia biasa yang bisa sakit juga.
"Apa yang Anda rasakan, Mr.Martell?"
Audric tidak menjawab, dia hanya mengeratkan genggamannya pada tangan Aera dan terus menatap lurus pada Aera yang terlihat kawatir.
"Apa Anda merasakan sakit pada bagian tubuh tertentu?"
"Ric!" panggil Aera pelan karena pertanyaan dokter tidak kunjung dijawab.
__ADS_1
"Aku hanya butuh istirahat. Suruh mereka semua keluar." keluhnya, dia melirik Harald dengan galak.
"Ta-tapi Tuan, Anda..."
"Aku hanya..."
"Apa kepalamu sakit?" potong Aera. Audric langsung fokus padanya lagi.
"Sedikit." Audric langsung menjawabnya dengan cepat.
"Bagaimana dengan perutmu?"
"Tidak sakit."
"Apa ada yang lain? Anggota tubuh lain yang sakit?"
"Tidak, aku... Hanya merasa sedikit lemas."
"Sedikit atau banyak!" Tiba-tiba Aera menjadi tegas.
"Se... Ya. Ba-banyak."
"Dokter, apa ada lagi yang harus Anda tanyakan?"
"Tidak, cukup Nona."
"Silahkan lanjutkan pengobatannya."
Aera menggunakan nada lembut pada dokter laki-laki itu, lalu ketika dia menatap Audric, dia menjadi galak lagi.
"Dengarkan saja dokternya."
"Hmm." sahut Audric disertai anggukan penuh kepatuhan.
Aera tiba-tiba tidak bisa menahan senyumnya, entah kenapa dia merasa Audric sangat lucu dengan sikapnya yang tidak biasa ini. Meski terkejut, tapi Aera menyukainya. Audric yang patuh dan manja, jangankan Aera, semua orang disana hanya bisa tercengang. Kecuali Adolf tentu saja.
Bahkan, ketika mata Aera tidak sengaja bertemu dengan pria itu, senyumnya langsung hilang. Adolf terlihat sangat dingin saat ini. Tatapan matanya seolah mengatakan bahwa Aera menghianatinya. Membuat Aera merasa tidak nyaman.
Adolf berdiri, berjalan kesisi kasur setelah dokter selesai memasang infus dan menyuntikkan beberapa obat. Benjamin yang mengantarkan dokter itu keluar ketika Harald sibuk dengan resep yang diberikan padanya. Harald tampak memberikan perintah pada salah satu pengawal.
"Itu... Aku... "
Audric melepaskan genggamannya. Tidak seperti biasanya dia akan menggunakan segala cara. Kali ini dia tidak melakukannya.
"Aku sudah tidak apa-apa. Kamu bisa pergi kalau ingin pergi." ujarnya pada Aera.
Harald mengangkat sebelah alisnya. Lalu melirik Aera yang terlihat bimbang. Menarik sudut bibirnya melihat tingkah Audric yang terlihat seolah pasrah dan mengalah. Padahal di dalam hati, Harald yakin atasannya itu sangat ingin menahan Aera.
"Aku akan pulang denganmu."
Aera turun dari ranjang, mengganti bajunya dengan cepat di dalam kamar mandi dan mengikuti Adolf. Sebelum benar-benar keluar, Aera menoleh kebelakang. Dimana Audric menatapnya dengan penuh harap.
"Tampaknya Anda harus lebih berusaha, Sir. Tapi Nona terlihat kawatir pada Anda. Dia juga tidur disebelah Anda tampa ragu karena cemas, bukankah itu kemajuan?"
"Dia hanya baik hati. Tapi... Apa aku salah lihat, Adolf terlihat sedikit... Terluka. Apa dia sungguh menyukai Aera pada akhirnya?"
"Entahlah, melihat ekspresinya saat melihat kalian berdua diatas ranjang yang sama, kemungkinan besar, ya. Tapi saya tidak begitu yakin. Anda tahu sendiri dia pemain wanita."
"Pria itu, dulu dia tidak begitu." sahut Audric.
"Hmm? Maksud Anda dia berubah karena sesuatu?"
"Ya, lebih tepatnya sejak kematian Leonor. Sahabat dan cinta pertamanya."
Harald cukup terkejut, namun tidak begitu peduli. Kisah orang lain bukan atensinya saat ini. Kecuali atasan di depannya saat ini tentu saja, mau tidak mau dia harus peduli karena Audric akan melimpahkan pekerjaan yang banyak padanya jika dalam suasana hati yang buruk.
"Jadi, apa Anda benar-benar melakukan itu?"
"Membunuh? Entahlah."
Harald mengerutkan keningnya. Jawaban ambigu itu membuatnya penasaran. Namun belum sempat dia melanjutkan pertanyaannya, pintu kamar kembali terbuka. Aera berdiri disana dengan wajah cemas yang berubah canggung seketika.
"Saya akan memeriksa obat Anda, sebaiknya Anda mulai sarapan agar anda bisa meminum obat setelahnya."
Harald keluar setelah mengangguk kecil pada Aera yang masih berdiri di ambang pintu. Ketika Harald lewat, dia akhirnya masuk ke dalam.
"Apa ada yang tertinggal?"
__ADS_1
Bukannya tidak tahu, tapi Audric hanya tidak ingin luapan hatinya yang saat ini meletup-letup terlihat jelas.
"Aku... Aku tidak ketinggalan apapun. Hanya... Kamu sakit jadi..."
"Kemarilah, duduk disebelahku lagi." pinta Audric. "Aku senang kamu kembali." lanjutnya. Tiba-tiba dia bergeser dan menjadikan paha Aera sebagai bantal.
"Aku pasti sangat merepotkan tadi malam. Aku tidak mengingat bagaimana aku sampai disini. Apa aku menyusahkanmu? Apa ada perkataanku yang membuatmu tidak nyaman tadi malam?"
"Ti-tidak. Kamu hanya terus merengek seperti bayi."
Audric sungguh tidak ingat. Dia merengek?
"Sial, aku sangat malu padamu."
Audric menenggelamkan wajahnya pada perut Aera. Membuat Aera memerah dan ikut malu. Jantung keduanya berdetak begitu kuat. Kecanggungan tiba-tiba membuat keduanya menjadi sangat kaku. Aeralah yang pertama berhasil menguasai diri.
"Bolehkah... Aku menanyakan sesuatu?" tanya Aera.
"Silahkan."
"Luisa... Dari mana dia mengetahui keberadaanku? Aku bahkan tidak tinggal dinegara ini. Apa mungkin aku dari negara ini?"
Ada jeda beberapa detik sebelum Audric menjawab pertanyaan itu. Dia harus memilig kalimat yang tepat agar Aera tidak salah paham dan membuat hubungan mereka kembali renggang. Topik ini cukup sensitif diantara mereka berdua.
"Aku masih menyelidikinya. Aku belum bisa mengatakan apapun. Luisa tidak mau mengatakan kebenarannya padaku. Yah, hubungan kami jadi sedikit memburuk setelah aku tahu dia berbohong padaku."
Audric merubah posisi kepalanya sehingga menghadap ke atas. Mata mereka bertemu, Audric meraih telapak tangan Aera dan menempelkannya pada pipinya sendiri.
"Aku berjanji akan menyelidikinya sanpai selesai. Aku sedang mengupayakannya. Karena aku tidak punya petunjuk yang mengarahkanku kepadamu. Memang sangat aneh kamu terlalu mirip dengan Lui."
"Adolf juga bilang begitu. Terlalu aneh ketika wajah kami begitu mirip."
"Adolf? Dia mencari asal usulmu juga? Untuk apa?"
"Tentu saja menolongku."
'Menolong? Jadi benar dia memperlakukan Aera secara spesial? Yah, sejak awal dia memang menunjukkan ketertarikan. Tapi... Sampai membantu menyelidiki...'
"Apa yang kamu pikirkan?" sela Aera.
"Tidak ada."
"Aku disini hanya sampai kamu sembuh. Aku akan pulang setelah kamu membaik." kata Aera dengan cepat, "Selain itu... Bolehkah aku menemui adikmu? Aku pikir berbicara langsung padanya bisa membuatku mendapatkan petunjuk."
Audric tidak langsung menjawab. Aera adalah wanita baik dan naif dimatanya. Meski Aera memiliki mental yang kuat dan sosok yang cukup tegas, Luisa bukanlah perkara mudah untuk dihadapi.
Apalagi mengingat fakta hubungan darah antara mereka berdua. Audric tahu Luisa tidak menganggap Aera sebagai saudara. Luisa hanya menjadikan Aera sebagai alat untuk tujuannya.
"Luisa tidak mudah dihadapi. Dia penuh tipu daya. Dia bisa mempermainkanmu."
"Bukankah kalian saudara?"
Audric meneguk ludahnya dengan berat. Dia merasa sedang di tampar oleh sindiran yang Aera katakan.
"Maafkan aku. Aku akan memperbaiki diri, aku akan lebih jujur dan tulus padamu."
Aera menatap mata sedalam lautan itu. Bertanya-tanya dalam hati benarkan yang dikatakan Audric saat ini. Apakah pria dipangkuannya ini sungguh-sungguh akan tulus. Tapi, mengingat hubungan rumit mereka, Aera kembali pesimis.
"Tidak perlu memaksakan dirimu. Setelah semua ini selesai, aku akan kembali ke negaraku."
Audric langsung duduk. Dia mengernyit sedikit karena sakit kepala yang tiba-tiba menyerangnya.
"Jangan pergi, perceraian akan segera aku urus. Kalau tidak, aku akan memaksa Lui untuk berada pada posisi dia seharusnya. Kamu bisa kembali pada identitas aslimu."
"Lalu apa? Jika aku tetap disini... Sama saja seperti membuat bom waktu. Orang-orang akan curiga bahwa Luisa yang menikah dengan Adolf bukan Luisa asli. Kamu tahu banyak yang mengatakan Luisa berubah."
Sakit kepala Audric menjadi semakin bertambah. Dia memegang kepalanya dan mulai meringis.
"Tidak, maafkan aku malah membahas hal ini. Apa kepalamu jadi sakit? Cepat kembali berbaring!"
Aera merebahkan Audric kembali namun tidak dipangkuannya. Dia hanya duduk di samping Audric yang terus meringis.
"Apa obatnya tidak bekerja?"
"Aku tidak tahu, aku akan tidur sebentar." jawab Audric pelan.
Sejujurnya, kepalanya tidak sesakit itu. Tapi Audric tidak punya jawaban atas perkataan terkahir Aera. Dia takut menjawabnya dan malah membuat Aera semakin ingin pergi. Sehingga ia mengalihkan perhatian pada rasa sakit yang sebenarnya masih bisa ia tahan.
__ADS_1