
Pria tua yang memiliki mata hijau seperti Audric, mendapatkan laporan yang menyebabkan keningnya mengerut. Paman Audric, Abert sedang menyusun rencana besar sehingga menempatkan banyak mata-mata disekitar Audric.
"Apa maksudmu dengan Luisa yang kembali kerumah dengan penampilan yang berbeda lagi? Apa yang salah dengan itu?"
"Saya juga tidak mengerti. Tapi mata-mata mengatakan bahwa pelayan mempertanyakan sikap Tuan Audric yang kembali seperti dulu pada adiknya."
"Permisi, Tuan. Saya mendapatkan sebuah kabar."
Seorang wanita masuk ke dalam ruangan Abert, dia adalah asisten Abert yang lain.
"Katakan."
"Saya dengar PM wilayah Bayern, Tuan Paul eisner akan menjamu Tuan Audric dan pasangan muda Ackerman."
"Apa?"
Abert berdiri dari duduknya dan mengepalkan tangannya dengan geram. Dua hari yang lalu, dia sudah menemui Paul dan memberikan banyak hadiah. Membujuknya untuk tidak berkoalisi dengan partai AMF. Tapi sepertinya Paul menghianatinya.
"Beraninya dia mempermainkan aku." geram Abert.
Abert menghubungi Adriana. Adiknya yang juga merupakan bibi kandung Audric. Adriana dulu pernah berteman dengan Paula eisner. Dia perlu memberikan peringatan pada Paul. Jika itu nantinya tidak berhasil, maka dia terpaksa melakukan hal ekstrim.
"Ada apa Kakak menghubungiku?"
Suara Adriana terdengar lembut namun tegas, dari suaranya seseorang bisa menilai bahwa dia seperti tidak menyukai si penelepon.
"Kamu tahu kan, rencanaku dengan Suamimu. Jangan bersikap seolah kamu musuhku, Adriana."
"Maafkan aku."
"PM Bayern membuat jamuan untuk dua keponakan kita dan juga Adolf. Aku harap kamu bisa membuat dirimu hadir disana karena Paula adalah temanmu. Kamu harus bisa membuat Paul mengurungkan niatnya."
"Akan aku usahakan."
Diseberang sana, setelah Abert memutus panggilan, Adriana menggenggam ponselnya dengan kuat. Ketika suaminya lewat, dia kembali menormalkan ekspresinya dan bersikap seolah tak terjadi apa-apa.
Adriana membenci suaminya. Dia sama sekali tidak bahagia dengan pernikahannya sejak lama. Gilbert adalah pria hidung belang yang selalu bermain dibelakangnya. Ketika dia lewat saja, Adriana bisa mencium bau parfum salah satu pelayan favorit pria tua itu.
"Aku akan kembali ke kantor dan pulang larut malam. Suruh Riddick menghubungiku ketika dia kembali. Sejak tadi dia tidak bisa dihubungi."
"Ya, hati-hati dijalan." sahut Adriana datar.
Riddick adalah anak pertama mereka. Dia jarang pulang dan masih kuliah. Sifatnya sangat mirip dengan ayahnya. Dia juga tidak peduli ketika Adriana menangis karena sang ayah. Riddick malah menyalahkan ibunya yang tidak secantik simpanan ayahnya.
Adriana sungguh telah muak dengan pernikahannya. Tapi dia tidak bisa bercerai begitu saja. Dia akan kehilangan seluruh asetnya jika mengajukan gugatan. Aturan itu sudah ada sejak dulu oleh para tetua keluarga untuk menghindari perpecahan keluarga. Seorang istri atau suami akan dikenai sangsi itu jika mengajukan cerai. Jadi, dengan berat hati dia menghubungi istri dari Paul eisner.
.
Aera mempelajari siapa pasangan Eisner yang akan mereka hadiri undangannya. Tidak hanya mereka bertiga, Harald, Harry dan Benjamin ikut kesana.
Mereka tiba tepat pukul lima dan langsung disambut dengan sangat baik oleh kedua pasangan Eisner. Mereka bahkan menyiapkan wartawan untuk mengambil gambar secara khusus.
Audric melirik Harald. Degan cepat Harald menyampaikan keberatan Audric pada sekretaris Paul dan melarang fotografer itu mengambil gambar lebih jauh.
Meski terlihat tidak puas, tapi Paul mengangguk pelan. Mereka masuk bersama kedalam dan segera duduk di ruangab yang telah disiapkan.
"Istana Anda terlihat jauh lebih Indah dari terakhir kali saya kesini, Tuan Paul." ujar Adolf.
"Ya, ada beberapa perluasan dan renovasi disana sini. Meski begitu, kami membuatnya sesederhana mungkin."
Harald baru saja mendapatkan pesan dari Friedrick, bersamaan dengan itu seorang pengawal juga melapor padanya. Mendapat kabar buruk dan kabar kedatangan seseorang yang tak disangka-sangka, Harald segera berbisik pada Audric yang duduk sendirian.
"Bibi Anda baru saja tiba di depan gerbang istana ini dan paman Anda Abert baru saja tiba di kediaman Anda."
Audric melirik istri Paul yang langsung tercekat tiba-tiba. Dia tidak mengerti tapi pandangan Audric seolah sedang menuduhnya. Membuat Paula langsung melirik suaminya. Terlihat takut jika dia membuat kesalahan.
"Sepertinya kalian mengundang orang lain selain kami. Apa kalian sangat menyukai keluarga Martell?"
__ADS_1
Bersamaan dengan perkataan itu, Adriana masuk dan langsung memberi salam pada Paul dan pelukan hangat pada Paula.
"Maafkan aku, Paul. Aku meminta bertemu mendadak dengan Paula karena begitu merindukan sahabatku. Aku kebetulan sedang ada urusan di kota ini. Tidak menyangka dua keponakanku ada disini." Adriana langsung duduk di sebelah Audric.
"Maafkan saya Tuan Martell, saya tidak tahu kalau teman istri saya akan datang, tapi... Izinkan saya menjamu bibi Anda juga."
"Tentu saja, kamu harus menjamunya. Dia bibiku, keluarga terdekatku."
"Seperti yang saya dengar, antara keluarga Martell sangat dekat. Kalau begitu, mari ikuti saya."
Setelah makan malam yang membosankan dan hanya diisi oleh pembicaraan terkait bisnis dan politik. Aera diajak oleh Paula jalan-jalan kesekitar taman. Begitu juga dengan Adriana sementara para pria sedang membahas bisnis dan politik.
"Anda pasti tahu kenapa bibi saya tiba-tiba datang kesini bukan? Saya tidak bisa melihat kerinduan seorang sahabat dimatanya."
"Saya sungguh tidak tahu. Tapi nanti saya akan tanyakan pada istri saya, Anda jangan terlalu kawatir."
Harald kembali menghampirinya dan berbisik pelan.
"Friedrick menemukan mata-matanya."
Adolf melirik mereka. Melihat ekspresi Audric yang sedikit terganggu, Adolf yakin ada masalah yang terjadi.
"Saya harus menghubungi seseorang, silahkan lanjutkan obrolan. Saya mohon maaf Tuan Paul."
"Tidak masalah, saya tahu Anda sangat sibuk."
Audric berjalan keluar, Harald menuntunnya pada tempat yang aman untuk mereka berbicara.
"Si tua bangka itu tetap gigih menggulingkanku setelah sekian lama tidak berhasil," gerutu Audric, dia mengeluarkan ponsel dan menghubungi Friedrick.
"Ya, Tuan?"
"Dimana Luisa bersembunyi?"
"Kamar pribadi Anda, Tuan. Saya terpaksa memasukkannya kesana setelah tuan Abert membawa banyak orang untuk menggeledah rumah dengan dalih ada penyusup. Hanya kamar Anda yang tidak bisa ia masuki."
"Buat surat peringatan dan kirimkan kerumahnya." perintahnya kemudian.
"Baik, Tuan."
Sambungan diputus, lalu Audric melihat Aera yang sedang berbincang dengan Paula dan bibinya Adriana. Bagaimanapun Adriana tidak boleh mencurigai Aera, sehingga Audric menghampirinya untuk membawa Aera pergi.
"Harald, apa kamar hotelnya telah disiapkan?"
"Sudah, Sir" sahut Harald.
"Segera siapkan mobil, aku akan pergi bersama Aera terlebih dahulu. Pastikan Adolf tetap disini untuk mengawasi bibiku. Pasti ada hal yang akan ia lakukan."
"Baik, Sir!"
Mereka berjalan kearah yang berbeda. Harald buru-buru memberi kabar melalui Harry dan segera menyiapkan mobil, sementara Audric menyelamatkan Aera dari obrolan yang akan berpotensi membongkar identitasnya.
"Tampaknya kalian menjadi akrab satu sama lain."
"Ah, Audric. Kalian sudah selesai bicara?" tanya Adriana.
"Saya memiliki beberapa keperluan lain juga dikota ini. Maafkan saya Nyonya Eisner, saya harus pergi bersama adik saya sekarang."
"Benarkah? Padahal kami akhirnya menjadi teman. Tadinya aku ingin Luisa menginap dan kami akan memilih baju bayi yang cocok untuk calon anakku. Aku ingin mengajarinya beberapa hal tentang menjadi seorang ibu,"
Audric melirik Aera yang terus tersenyum dengan canggung.
"Kalian bisa melakukannya lain kali. Ini benar-benar mendesak."
"Ah, maafkan aku karena terdengar memaksa. Aku hanya sangat menyukai adikmu. Silahkan berkunjung kapanpun untuk Anda, Tuan Martell," lalu Paula beralih pada Aera. "Aku harap kita bisa bertemu secepatnya lagi." ujarnya.
"Terima kasih atas keramahan Anda, Nyonya. Dan Bibi Adriana, sampai jumpa lagi."
__ADS_1
Audric melirik bibinya dan memberikan tatapan datarnya sebelum mengangguk pelan sebagai bentuk penghormatan kecil. Sama sekali tidak menunjukkan simpati sama sekali atas kehadirannya disana.
Aera menghembuskan napas ketika mereka sudah cukup jauh. Berjalan terus menuju area depan yang cukup jauh.
"Apa kamu mengalami kesulitan dengan mereka?"
Audric berhenti berjalan, dia berbalik dan menatap Aera yang diam saja. Gadis dihadapannya kembali bersikap dingin dan mengabaikannya.
"Kita akan menginap dihotel malam ini. Aku cukup lelah untuk kembali."
"Dimana suamiku?"
"Apa?"
Aera mengangkat wajahnya dan dengan dingin menatap Audric.
"Ada hal-hal yang harus ia lakukan sebelum menyusul. Kamu tidak boleh lama-lama disini terutama karena adanya bibiku."
"Aku akan menunggunya dimobil. Kamu bisa kembali sendiri."
Aera kembali melanjutkan langkahnya, namun kali ini Audric tidak ingin membiarkannya. Mendengar kata suamiku saja sudah membuat kepalanya panas. Karena itu dia masuk ke mobil yang sama dengan Aera.
"Apa yang kamu lakukan!"
"Ikut menunggu sepertimu, aku tidak peduli kalau rencana gagal dan mereka menghampiri kita kesini."
Aera mengepalkan tangannya dengan kesal. Dia segera turun dan naik ke mobil Audric. Membuat pria itu tersenyum kecil.
Mereka akhirnya meninggalkan kediaman Eisner menuju hotel yang telah disiapkan.
"Aera, bolehkan aku menemui nenekmu?"
Aera langsung menoleh dengan cepat. Dia langsung cemas akan apa yang sedang direncanakan Audric. Pikiran-pikiran buruk langsung menghantuinya.
"Kenapa kamu menatapku seolah aku adalah penjahat? Ada sesuatu yang harus aku tanyakan dan pastikan, Aera. Aku tidak akan menyakitimu dan Nenekmu. Ini tentang asal usulmu dan identitas orang tua kandungmu."
"Apa?"
Audric menatap wajah Aera dengan dalam. Sorot matanya yang biasa Aera lihat seperti laut yang dalam kini tampak sendu. Ada kecemasan yang cukup besar disana. Membuat Aera menjadi lebih gugup. Membuatnya juga takut akan identitas dirinya sendiri. Sampai Audric mengulurkan tangannya dan membela sebelah sisi wajahnya, Aera masih sibuk dengan pikirannya.
"Ada pertanyaan yang mengganjal dikepalaku. Itu membuatku takut, Aera. Karena aku menyukaimu. Aku menyadarinya setelah aku melakukan banyak hal yang menyakitimu, aku jatuh Aera. Jatuh pada mata ini, jatuh pada wajah ini, jatuh pada semua hal tentang dirimu, tentang bagaimana efek dirimu yang membuatku kehilangan arah... Perasaan ini... Aku telah mengerti."
Deg deg deg deg!
Jantung Aera berpacu begitu kuat. Kini, bukan hanya tangan hangat Audric yang ia rasakan diwajahnya, seluruh panas ditubuhnya tiba-tiba terasa naik dan berkumpul dikepalanya. Tubuhnya seolah tidak ingin bekerja sama dengan hatinya. Seolah ingin meruntuhkan tembok yang telah ia bangun dengan susah payah.
Tapi, sisi rasionalnya kembali bekerja. Aera menyingkirkan tangan Audric dan memalingkan wajahnya. Dia sedang berusaha menjernihkan pikiraannya dan tidak ingin masuk dalam perasaannya lagi. Menampik dengan keras bahwa ucapan Audric itu tulus. Dia membangun dinding dalam hatinya lagi dan membuat keyakinan bahwa Audric hanya membual untuk menariknya kembali sebagai bonekanya.
"Jangan pernah temui nenekku. Jangan tunjukkan wajahmu padanya. Aku tidak ingin dia tahu apa yang terjadi padaku disini."
"Kamu tidak ingin mengetahui identitasmu?"
"Aku Aera, identitas apa lagi yang kamu tanyakan? Aku terdaftar..."
"Tidakkah kamu bertanya-tanya kenapa kamu dan Luisa sangat mirip?" potong Audric.
Aera terdiam, dia pernah memikirkannya, tapi dia tidak ingin menduga-duga. Lagi pula ada banyak orang yang mirip didunia ini. Pikiran dangkal yang sebenarnya hanya alasan karena dia tidak punya ketertarikan akan identitas orang tuanya.
"Bukankah kita terkadang memiliki seseorang yang terlihat mirip dibelahan bumi lainnya? Untuk apa memikirkan hal yang sia-sia?"
"Begitu? Kalau begitu baiklah. Aku tidak akan menemui nenekmu."
"Kenapa kamu ingin menyelidiki asal usulku?"
"Karena Luisa, dia yang awalnya menyelidikimu. Lalu mengirimmu padaku dan merencanakan semuanya. Dari pembicaraan terakhir dengannya, aku tidak percaya bahwa dia melakukan semua ini hanya untuk menghindari pernikahan."
Lagi-lagi Aera terdiam.
__ADS_1
'Apa ini? Sebenarnya orang seperti apa Luisa ini? Kenapa Ric bahkan mencurigainya sebesar itu? Apa yang membuatnya begitu ingin mencari asal usulku?' tanya Aera dalam hati.