
Audric sampai di kediaman dalam keadaan cukup stabil. Friedrick langsung menghampirinya dan melaporkan keadaan. Wajah kawatir jelas terlihat ketika dia tidak melihat Aera dimanapun.
"Tuan, apa yang terjadi? Dimana Nona?"
"Bagaimana keadaan disini?"
"Itu... Dimitri berhasil lari bersama dua pria dengan tanda pengenal pasukan Martell, namun bukan bagian tim inti. Dia melukai beberapa penjaga rumah."
"Siapa saja yang datang?"
"Tidak ada yang datang Tuan, hanya dua orang yang berhasil membawa Dimitri."
"Sepertinya dua pengawal itu temannya dulu, ini pergerakan individu, mereka memanfaatkan keadaan. Meski begitu Nona masih diluar." kata Harald.
"Kenapa Ivon tidak bisa dihubungi?" tanya Friedrick lagi.
Belasan pengawal masuk dan menghadap Audric yang masih di area ruang tamu. Lalu beberapa detik berikutnya ada belasan lain juga yang membawa beberapa pengawal yang dilumpuhkan.
"Tuan, mereka adalah pengawal yang berhianat, ada puluhan lain yang masih dalam pengejaran. Sampai detik ini kami belum bertemu tuan Ivon dan Nona Aera." lapor salah satu dari mereka yang merupakan kepala regu.
"Masukkan dalam penjara." perintah Audric. "Bagaimana keadaan hotel saat ini?"
"Kami berhasil melumpuhakan semua pembunuh bayaran. Namun hanya beberapa yang tertangkap. Beberapa mati ditempat dan sudah diurus. Hal yang aneh adalah... Pintu yang dikunci dari luar. Saat kami membukanya, semua perkataan yang kami dengar hanyalah kata-kata tuduhan yang buruk mengenai Anda."
'Sepertinya mereka menggiring opini palsu pada semua keluarga.'
"Temukan Aera dulu, Harald hubungi tetua pertama. Perketat penjagaan area mension dan tarik semua pasukan kerumah ini dan Friedrick! Ambilkan dua senjata untukku."
"Anda akan pergi lagi?" tanya Harald.
"Apa menurutmu aku hanya akan menunggu disini?"
"Tapi..."
"Laksakan perintahku, tangani keadaan dengan baik selagi aku..."
"Tuan! Ada jendral dari kesatuan polisi pusat yang ingin menemui Anda. Selain itu, foto-foto bukti perkelahian di hotel tersebar ke media." lapor seorang ketua regu lain yang baru saja berlari masuk ke dalam.
"Sepertinya aku tahu siapa dia, suruh dia menuju ruang tamu. Friedrick, sambut dia dengan baik."
" Ya, Tuan."
.
Audric menatap seorang jendral dan satu bawahannya dengan pandangan mengintimidasi. Menciptakan tekanan yang membuat lawannya akan berhati-hati.
"Tuan Kanselir mengutus saya pada Anda. Gambar dan narasi yang beredar saat ini begitu menyudutkan Anda. Media mulai berani membahas perang dimasa lalu yang Martell danai. Sebenarnya apa yang terjadi, Tuan?"
"Melihat kamu yang datang dan bukan mentri hukum dan HAM, aku menduga orang itu masih dipihakku."
"Tentu saja, saya dan beliau masih disisi Anda. Pendapat publik mulai terbentuk. Beberapa media yang selalu bersebrangan dengan Anda mulai menggiring opini. Rakyat bahkan dunia bisa menuntut Anda."
"Bagaimana dengan keluarga Ackerman?"
"Sampai saat ini belum ada pergerakan, lagi pula, kanselir berada dipihak kita, apa yang Anda kawatirkan? Masalah utama adalah opini publik, Presiden yang kita curigai, bisa membuat gerakan."
'Salah satu anak kepala keluarga Ackerman mungkin menantu disini, tapi aku tidak tahu kapan mereka akan berbalik arah. Terutama dengan adanya Luisa.' pikir Audric.
"Hmm... Aku tidak perlu mempermasalahkan orang-orang yang hidupnya bergantung padaku. Begitu juga dengan dunia. Martell tidak akan menjadi lemah hanya karena konflik kecil ini. Koordinasikan seluruh pasukan negara untuk menangkap pembunuh bayaran yang menyerang hotelku. Aku akan mengendalikan media. Anjing-anjing kecil yang mencoba menggigit tuannya, aku sendiri yang akan menghukumnya. Lakukan diam-diam sehingga dunia tidak perlu tahu apa yang sebenarnya terjadi. Lalu presiden kecil kita... Awasi dia dengan baik, biarkan dia melakukan apa yang dia inginkan, celah-celah akan membuat keuntungan."
Titah mutlak dari seseorang yang merupakan pemimpin sebenarnya negara itu. Meskipun presiden bukanlah dirinya, tapi para elit politik tahu siapa penguasa sesungguhnya.
.
__ADS_1
Aera menatap langit, cerah dan angin berhembus dengan sejuk. Tidak ada bintang, meski hanya langit hitam pekat yang terihat, Aera sedikit merasa terhibur dengan kondisinya saat ini. Dia sedang berjalan menuju jalan utama setelah jauh dari orang-orang tadi.
Tapi, sesuatu terjadi di depan matanya ketika dia melihat seseorang melintas di persimpangan jalan di depannya. Satu orang yang dikejar oleh dua orang lainnya.
"Itu kan... Tapi siapa yang mengejarnya? Bukankah dia ada dipenjara kediaman Martell?" gumam Aera.
Dia berlari kecil, mengintip dari tembok yang jadi pembatas area gedung. Karena jalan yang kecil dan sedikit gelap, Aera bisa melihat mereka yang sedang berkelahi disana. Dua orang memakai masker, menyerang Dimitri yang sendirian.
Dimitri terlihat sedikit kesusahan, padahal menurut Aera kemampuan dua orang itu lebih lemah darinya.
'Mereka bukan seperti pengawal Martell, lalu siapa yang menyerang pria itu?' pikir Aera.
Aera membelalakkan matanya ketika melihat Dimitri ditusuk dengan pisau di area perutnya. Lalu pria lainnya mengeluarkan pisau juga, bersiap menusuk dada Dimitri. Namun mereka langsung berhenti ketika Aera membuat kegaduhan saat ada kendaraan yang lewat. Dia sengaja jatuh di depan mobil itu.
"Hei Nak, apa yang kamu lakukan!"
Seorang pria tua keluar diikuti seorang anak perempuan berusia sekitar 10 tahun. Menghampiri Aera yang jatuh.
"Saya jatuh, apa Anda tidak lihat!" teriak Aera dengan sengaja.
Lalu dia mencengkram jaket pria tua itu dan berbisik.
"Ada orang terluka disana. Dua orang itu adalah pembunuh, tolong buat keributan sedikit saja." pinta Aera.
Pria tua itu melepaskan diri dengan sedikit mendorong Aera. Dia melirik ke kiri, dimana dua orang tadi masih berdiri disana.
"Kamu sengaja jatuh kan, berpura-pura tertabrak untuk uang!" bentak pria tua.
Aera bersyukur orang ini mau bekerja sama.
"Siapa bilang, Anda tidak lihat saya terluka! Anda harus bayar ganti rugi!"
"Kenapa aku harus membayar untuk penipu sepertimu!" bentak si pria tua balik.
"Hei! Kenapa kalian sangat ribut. Kakek tua, pergilah. Biar wanita ini kami yang antar kerumah sakit."
"Tidak mau! Kenapa aku harus ikut kalian!" tolak Aera dengan berani.
"Karena kami tahu apa yang coba kamu lakukan, Nona." jawab salah satu dari mereka.
"Ah... Sial!" gerutu Aera. "Kakek, pergilah. Terimakasih atas bantuan Anda." ujar Aera dan berhenti berpura-pura.
Dua orang itu mencoba membawa Aera, namun Aera melawan. Seperti dugaan, mereka terlibat perkelahian. Kakek tua dan anak kecil itu hanya bisa menonton karena ketakutan. Berharap ada yang lewat disana dan menolong.
"Kakek, tolong kakak itu." bisik si anak.
"Berbahaya, kamu bisa celaka kalau kakek tinggal."
"Tapi kek! Kakak itu... Wow!"
Kekawatiran anak itu berubah menjadi kekaguman saat Aera berhasil menendang jatuh salah satu dari mereka, lalu pria satu lagi tiba-tiba jatuh sendiri karena serangan pertama tadi Aera telah berhasil menancapkan jarum beracunnya.
Aera berlari melihat Dimitri yang masih sadar. Darah membanjiri tempat ia berbaring. Ketika mata mereka bertemu, Dimitri sedikit terkejut tapi juga terlihat pasrah.
"Kamu bisa bangun?" tanya Aera, berjongkok disisinya.
"Hahaha, kenapa menolongku?" tanya Dimitri , ia masih sempat-sempatnya tertawa kecil seolah mengejek apa yang dilakukan Aera.
"Aku hanya tidak suka melihat orang mati di depanku." jawab Aera.
"Kakek, apa Anda bisa membawanya kerumah sakit?" tanya Aera, mendongak melihat pria tua yang kini berdiri disampingnya.
"Tentu saja, ayo bawa dia ke mobilku." jawab kakek itu masih dalam kepanikan. "Tapi, bagaimana dengan pria yang jadi lumpuh disana?"
__ADS_1
"Tidak masalah, mereka akan kembali normal nanti."
Kakek dan anak itu tampak bingung, namun mengikuti kata-kata Aera dan membawa Dimitri kerumah sakit. Sementara Aera tidak ikut, dia harus menghindari pengejaran dan menemukan Ivon atau orang-orang Audric untuk tahu keadaan saat ini.
Namun, baru saja dia hendak melangkah pergi kembali kejalan yang ia lalui tadi, sebuah suara menghentikan langkahnya.
"Nona."
"Ivon! Sejak kapan kamu ada disana?"
Aera langsung menghampirinya. Sangat bersyukur akhirnya bertemu dengan Ivon lagi. Aera melihat motor yang terparkir disana, entah milik siapa yang jelas Ivon berdiri didekatnya.
"Baru saja, saya melihat Anda ketika Anda membawa pria yang berlumuran darah bersama seorang kakek dan anak kecil. Apa yang Anda lakukan? Menolong Domitri?"
'Ah, dia melihat wajah Dimitri sebelum dia masuk kemobil ya.'
"Kamu tidak bertanya apa yang terjadi?"
Ivon melirik dua orang yang terduduk di jalanan dengan wajah ketakutan saat melihatnya.
"Melihat dua orang ini, saya sudah bisa menebaknya." jawab Ivon.
"Huh? Sebenarnya siapa mereka? Mereka bukan bagian Martell, kan?"
"Tentu saja bukan, mereka orang yang ditugaskan membunuh saksi. Mungkin Dimitri selamat saat ini, tapi entah nanti, harusnya dia tetap tinggal dipenjara dengan aman." ujar Ivon datar.
Aera terdiam, memikirkan keadaan ini membuatnya sangat sesak. Apa kegagalan Dimitri membuatnya juga harus mati? Kini, bukan hanya pihak Audric, pihak Luisa juga ingin dia mati hanya karena tidak ingin Dimitri nanti bisa jadi saksi.
'Benar-benar mengerikan.'
"Jangan pikirkan terlalu jauh, Nona. Itu adalah pilihan Dimitri sejak awal. Keadaannya saat ini, sudah pasti dia tahu akan mengalaminya jika gagal dalam misinya. Anda terlalu baik untuk memikirkan kemalangan orang lain, terutama orang yang hampir membunuh Anda." kata Ivon.
"Dia melakukan itu demi balas dendam, Audric membunuh keluarganya. Aku hanya... Sedikit memahami pikiran seperti itu."
Ivon menatap Aera dengan dalam, mencoba memahami pemikiran gadis didepannya itu. Lalu, sebelah tangannya terangkat. Mengelus puncak kepala Aera.
"Saya harap Anda bisa bertahan dan bahagia, Nona." ujarnya dengan tulus.
Keduanya akhirnya pergi dari sana. Ivon mencari telepon umum dan menghubungi Harald karena telah menemukan Aera. Namun baru saja bicara, ponsel Harald langsung diambil oleh Audric.
"Tuan."
Aera menatap Ivon penuh harap ketika kata Tuan keluar dari mulutnya.
"Saya mengerti." kata Ivon lagi setelah mendapatkan perintah.
Lalu, dia menyerahkan telepon pada Aera karena Audric yang ingin bicara.
"Ric?"
"Bagaimana keadaanmu?"
Aera tersenyum, hatinya menjadi lebih tenang setelah mendengar suara Audric yang seperti biasanya. Artinya Audric baik-baik saja, Aera bersyukur karena hal itu.
"Aku baik-baik saja. Bagaimana keadaan disana?"
"Tidak ada yang perlu dikawatirkan, saat ini kamu hanya perlu mengikuti Ivon. Dia akan menjelaskan keadaannya. Aku harus menyelesaikan beberapa hal. Untuk saat ini... Kamu harus tinggal terpisah."
"Apa? Ke-Kenapa?"
"Aku akan menemuimu saat keadaan mulai membaik. Sampai jumpa, Sayang."
Sambungan telepon terputus, Audric yang menutupnya.
__ADS_1
Aera tidak mengerti, tapi untuk saat ini dia hanya menuruti perkataan Audric.
' Jadi aku harus bersembunyi?'