BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)

BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)
Apa maunya Ivana?


__ADS_3

Seminggu menjelang pesta, Audric pergi keluar negri bersama Harald. Setelah permasalahan Vilatex teratasi setelah debat sengit dirinya dengan Rupert, pria itu akhirnya berhenti bermain-main dan menarik perintahnya yang membuatnya menyerang bisnis Martell, karena itu akan berpengaruh pada kepercayaan wakil kelurga dan para tetua. Dia bisa saja dituduh ingin menghancurkan keluarga jika terungkap bahwa MFc adalah perusahaan miliknya secara pribadi.


Luisa tentu saja marah, tapi Rupert yang mendapat kemarahan Audric tidak akan mengambil tindakan maju jika dirinya berada di tepi jurang. Villar yang mengganggu mereka juga akhirnya diam untuk saat ini.


Kepergian Audric sekarang karena hal yang berbeda. Perusahaan perbankan milik Martell yang berpusat di Amerika mengalami intervensi dari pemerintah karena menolak kerja sama dengan perusahaan yang menaungi pemerintah. Audric yang tidak suka Martell diusik oleh rencana politik luar negri, terpaksa menghadapi mereka secara langsung.


"Kemungkinan pesta ditunda, padahal gaun dan semua persiapan sudah disiapkan." keluh Olivia.


Aera mendengar diskusi singkat mereka diam-diam ketika akan kekamar. Tentang penyebab Audric pergi dan siapa yang akan ia temui.


"Nona? Anda baik-baik saja?"


Olivia terlihat kawatir, sejak pagi setelah kepergian Audric, Aera terlihat lebih diam dan banyak pikiran. Membuat dia kawatir dan menerka-nerka penyebabnya.


"Aku baik-baik saja." jawab Aera singkat. Lalu dia berdiri dari sofa ruang tamu kamar itu menuju ruang pakaian. Mengganti dres selutut yang dipakainya menjadi seragam taekwondo. "Aku akan latihan!"


"Ya? Ta-tapi kan Tuan Ivon sedang pergi. Anda tidak boleh kemana-mana, Nona. Tunggulah sebentar lagi." cemas Olivia.


"Aku kan hanya latihan, Oliv! Ada ratusan pengawal berkumpul disana dan ini area kediaman yang keamanannya sangat ketat."


"Tidak! Kita tidak tahu siapa yang akan berhianat. Apa Anda lupa dengan penghianat yang telah menyerang Anda terakhir kali? Saya tidak akan membiarkan Anda pergi."


Aera telah berdiri di ambang pintu tapi Olivia memblokirnya. Membuat Aera menghela napas.


"Kamu tidak kuliah hari ini, jadi mau kemana kamu pergi sampai pelayanmu cemas begitu?"


Entah sejak kapan Yohanes sudah berdiri di depan pintu.


"Oh, Tuan! Tolong hentikan Nona. Tuan Audric sudah berpesan bahwa Nona hanya boleh keluar dari pintu rumah ini kalau bersama Tuan Ivon!"


"Jadi aku tidak dihitung olehnya? Bajingan itu benar-benar." sahut Yohanes, lalu tertawa kecil ketika Aera menatapnya datar.


"Oliv, dia akan pergi denganku, jadi tenang saja."


"Ta-tapi..."


"Beri jalan Oliv." perintah Aera tegas.


"Baiklah, tapi Nona janji tidak boleh jauh-jauh dari Tuan Yohanes. Anda tidak boleh mengikuti siapapun walaupun dia pengawal."


"Aku mengerti kekawatiranmu, jadi menyingkirlah."


Olivia akhirnya bergeser dan membiarkan Aera pergi dengan rasa cemas berlebihan. Apa yang bisa ia usahakan untuk mengatasi kekawatiranny adalah melaporkannya pada Friedrick.


.


Aera sedang berlatih sendirian. Dia sedang meningkatkan level kemampuan taekwondonya. Yohanes berbaring dimatras sambil membaca buku.


"Besok aku harus pulang. Tapi Audric sedang tidak disini. Harald juga pergi. Apa tidak sebaiknya kamu ikut denganku sampai Audric kembali?"


Aera sedang menendang samsak, jadi dia tidak menjawabnya secara langsung.


"Disana jauh lebih aman dari pada disini." lanjutnya.


"Kenapa? Sudah bosan kabur dari rumah?"


Aera berusaha mengatur napasnya, lalu duduk selonjoran disamping Yohanes. Dia sudah berlatih selama 30 menit.

__ADS_1


"Aku tidak kabur, aku sedang bersantai sambil menunggu upacara kelulusan."


"Kamu tidak bekerja?"


"Aku ingin jadi pengangguran saja.Bekerja tidak cocok untukku. Aku tidak bisa apapun."


Aera tahu Yohanes menjawabnya asal. Sejak kedatangannya Yohanes tampak menyimpan sesuatu. Dia tidak melakukan apapun selain mengikutinya, main ke berbagai bar dan kasino, jalan-jalan saat bosan dirumah saat Aera kuliah, atau seperti saat ini, menemani Aera.


Pada awalnya Aera tidak ingin ikut campur. Tapi ketika Yohanes mengatakan harus pulang dengan wajah suram membuat Aera sedikit kawatir.


"Kamu tidak ingin pulang?"


"Hmm, Aku suka disini. Bagaimana kalau aku bekerja di salah satu perusahaan Audric."


"Memangnya kamu sudah pernah kerja sebelumnya?"


"Belum, itu kan bukan hobiku."


"Kalau begitu kamu akan ditolak." sahut Aera tampa rasa bersalah.


"Karena itu aku membutuhkanmu adikku, bujuk dia untukku. Dia pasti akan mendengarkanmu."


"Tidak mau."


Yohanes melemoarkan bukunya kelantai, lalu bangkit untuk duduk. Dia berlutut dan menyatukan kedua tangannya. Memasang wajah memelas seperti kucing yang minta dikasihani.


Aera tertawa kecil, lalu memukul pelan kening Yohanes sambil bangun. Dia kembali melanjutkan latihannya.


"Hei, mau sparing?" ajak Yohanes ikut berdiri.


"Boleh."


"Katakan alasanmu ingin tetap disini maka aku akan membantumu." ujar Aera.


"Karena aku tidak suka disana."


Mereka berguling dilantai dan Yohanes mengunci pergerakan Aera.


"Aku bermusuhan dengan kakakku. Sebelum kesini, dia memasuki istana sebagai tangan kanan ayah."


Tatapan Yohanes membuat Aera terpaku, sorot kesedihan dan kebencian menyatu disana.


"Dia sudah melakukan hal buruk padamu?"


Aera berhasil melepaskan diri dan membalik keadaan. Ivon yang telah selesai melakukan entah apa yang diperintahkan padanya.


"Nona, Anda harus kembali sekarang menuju kediaman utama."


"Ada apa?" tanya Aera.


"Seseorang membuat keributan di ruang tamu ketika saya kembali."


Ivon tidak memberitahu siapa yang datang. Tapi ekspresi wajahnya yang buruk memberitahu Aera bahwa dia tidak menyukai tamu itu.


Sesampainya mereka diruang tamu, Aera bingung melihat seorang wanita paruh baya yang kini sedang memohon-mohon pada Friedrick agar dipertemukan dengannya.


"Anda masih ingat? Dia pernah kesini beberapa hari setelah Nona kembali," ujar Ivon.

__ADS_1


'Wanita ini... Bibi Audric yang datang kemarin. Wanita yang membunuh anaknya sendiri demi menutupi perselingkuhannya.'


Aera langsung mundur beberapa langkah ketika Ivana menyadari kedatangannya dan langsung berlari kearahnya. Ivon langsung berdiri dihadapannya, begitu juga dengan Yohanes yang langsung menarik Aera lebih dekat padanya.


"Aku Ivana. Kamu ingat aku kan? Aku pernah kesini menyapamu sebelumnya. Izinkan aku bicara berdua denganmu. Kumohon, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan. Kumohon!"


Dia berusaha mencapai Aera namun Ivon menghalanginya. Membuat Ivana frustasi dan menatap Aera dengan air mata dan wajah memohon.


"Kumohon... Aku tidak akan menganggumu setelah ini. Hanya sekali saja."


"Nona, apakah Anda bersedia?" tanya Ivon.


"Tidak apa-apa," sahut Aera.


"Baiklah, tapi Anda akan bersama saya demi keselamatan Anda."


"Tidak! Aku hanya ingin berdua dengan Aera! Ini sangat rahasia!" bentak Ivana.


"Kalau begitu tidak ada pembicaraan, silahkan kembali..."


"Kamu hanya pengawal tapi mulutmu sangat lancang! Tidak Friedrick tidak kamu, kalian terlalu kurang ajar." keluhnya, ekspresinya menjadi berubah, lebih angkuh. Seolah ingin menunjukkan bahwa dia adalah Martell yang harus dipatuhi.


"Maaf atas ketidak sopanan saya, tapi ini adalah perintah Tuan untuk selalu melindungi Nona."


"Apa aku terlihat membawa senjata! Aku tidak akan menyakiti calon istri keponakanku sendiri!" bentak Ivana.


"Tak apa Ivon. Aku akan bicara berdua dengannya. Kamu cukup melihat dari jauh. Kami akan berbicara di taman, tempat terbuka yang bisa dilihat semua orang." sela Aera.


Aera tidak tahu apa yang coba wanita ini lakukan. Tapi dia yakin Ivana datang karena masalah rahasianya yang telah diketahui.


"Sekarang Anda bisa bicara, Nyonya." kata Aera setelah mereka duduk.


"Terima kasih sebelumnya kamu mau bicara denganku. Aku hanya ingin bicara denganmu tentang hal ini dan tidak ingin bawahan Audric mendengarnya. Kamu tahu mereka adalah telinga Audric."


'Kenapa dia berbelit-belit, aku bosa mengikuti cara bicara orang-orang disini.' keluh Aera.


"Silahkan katakan apa yang ingin Anda katakan."


"Sebelumnya, apa kamu tahu kalau pelayanku kemungkinan ditangkap Audric? Bisakah kamu menyelamatkannya? Aku sangat menyayangi pelayan itu, aku sangat kawatir padanya. Aku dengar Audric sangat peduli dan menyayangimu, kamu pasti bisa membujuknya."


"Pelayan Anda? Tapi kenapa Anda yakin Audric yang menangkapnya?"


"Itu karena pelayanku menyimpan rahasia pembunuhan yang Audric lakukan. Dia ingin menghilangkan saksi yang mengetahui dia adalah pembunuh. Aku sudah kehilangan anakku, bagaimana bisa aku kehilangan pelayan setiaku juga ditangannya?"


'Apa ini? Kenapa ceritanya sangat berbeda. Apa wanita ini berpikir aku tidak tahu apa-apa? Atau Audric yang berbohong padaku?'


Wajah Ivana sangat memelas, dia juga tampak sangat sedih dan menderita. Sangat berbeda dengan kesan saat ia pertama kali datang bersama suaminya.


"Tenanglah Nyonya, bolehkah saya tahu apa yang sebenarnya terjadi? Apa maksud Anda Audric membunuh. Dia selalu baik dan manis."


"Tidak! Jangan tertipu topengnya. Apa kamu yakin dia orang yang baik? Seorang pemimpin Martell? Nak... Apa kamu tahu sejarah keluarga ini? Penuh dengan darah dimana-mana."


"Saya pernah dengar tentang anak Anda, tapi saya mendapatkan cerita yang berbeda."


"Tidak! Audric pasti berbohong padamu untuk menutupi kejahatannya. Dia mencintaimu, siapapun tahu itu sekarang, jadi dia tidak ingin terlihat buruk didepanmu yang baik hati. Sejak pertemuan pertama kita, aku tahu kamu wanita yang baik. Dia sama seperti suamiku, dia satu darah dengannya, jadi dia juga bisa menghianatimu setelah kamu jatuh ketangannya! Seperti aku dulu! Setelah dibuat jatuh cinta, setelah menikah dan punya anak, suamiku main perempuan! Dia punya banyak selingkuhan dimana-mana. Apa kamu pikir Audric akan berbeda?"


'Aku tidak mengerti, dia ingin aku membantunya, tapi dia juga terdengar ingin aku meninggalkan Audric.'

__ADS_1


Aera sedang menimbang-nimbang sebenarnya apa tujuan Ivana kesini.


__ADS_2