BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)

BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)
Kesalahpahaman


__ADS_3

Aera meringkuk diatas jasad neneknya. Tubuhnya bergetar hebat. Tangisnya yang kecil terdengar lebih menyedihkan bagi siapapun yang melihat. Bahkan Audric tidak bergerak dari tempatnya hingga Aera berakhir pingsan diatas mayat neneknya.


Audric bahkan bergetar ditempatnya. Perasaan bersalah memenuhinya untuk Aera. Perasaan yang tidak pernah ia rasakan pada siapapun bahkan setelah membasmi penghianat, atau saat Leonor sepupunya mati dihadapannya. Perasaan sesak yang ia rasakan ketika melihat penderitaan wanitanya tanpa bisa ia cegah.


Dia merasa telah melakukan kejahatan paling besar ketika membiarkan Aera merasakan kehilangan yang begitu dalam. Dengan rasa bersalah dan kemarahan yang sama besarnya, dia memerintahkan Harald untuk membawa langsung pria yang berhasil menyelinap itu kehadapannya.


.


Aera terbangun di dalam sebuah kamar yang tidak ia kenali. Ketika kesadaran dan ingatan akan neneknya datang, ia langsung berlari kearah pintu. Membukanya dan berlari tampa arah.


Bruk!


Aera hampir saja terhempas ke lantai yang keras kalau saja Audric tidak menangkapnya dengan baik. Ketika mata mereka bertemu, Aera langsung mengamuk dan mendorongnya dengan kuat. Mentapnya penuh kebencian dan amarah yang luar biasa.


"Pembunuh! Kenapa kamu membunuh nenekku! Kenapa?" desis Aera.


Mata gadis itu memerah dan tubuhnya bergetar karena amarah. Seorang wanita paruh baya muncul dari arah berlawanan, dia datang bersama dua pelayan dan seorang dokter.


"Ric?"


Aera langsung memutar tubuhnya, dia menoleh pada wanita yang terlihat sangat anggun itu. Wanita yang terlihat kebingungan dan juga cemas.


Aera baru menyadari, bahwa dia tidak tahu dimana dia berada. Dia tidak di Villa, tidak juga dirumah Audric, tidak dimanapun tempat yang pernah ia tinggali.


Bajunya juga telah diganti, mata bengkak dan merah, rambut yang sangat berantakan serta tampa alas kaki. Dia terlihat sangat berantakan.


"Aera, ayo kembali ke kamarmu terlebih dahulu." ajak Audric dengan lembut.


Secepat kilat Aera kembali menoleh padanya, menatapnya tajam dan penuh kebencian.


"Dimana nenekku!"


"Kita akan bicarakan ini nanti setelah sampai di..."


"DIMANA NENEKKU, PEMBUNUH!" teriak Aera.


Dengan cepat dia berjalan dan meraih kerah kemeja hitam Audric dan mencengkramnya dengan kuat.


"Kenapa? Kenapa kamu membunuh orang paling berharga bagiku! KENAPA!"


Aera kembali menangis. Dia memukul Audric dengan sisa tenaga yang ia miliki. Lalu tersungkur jatuh ke lantai dengan sangat menyedihkan.


Audric berusaha meraih dan memeluknya, tapi Aera menepisnya dengan kasar. "Jangan menyentuhku!" katanya dengan dingin.


"Ric, pergilah. Biar aku yang menjaganya."


Audric mendongak, menatap wanita paruh baya yang merupakan istri dari presiden wilayah yang bernama Alberto fernandes itu. Nyonya Fernandes mendekati Aera dan merengkuhnya untuk bangun. Untungnya, Aera tidak menolaknya, dia hanya diam dan menurut saat wanita tua itu membawanya kembali menuju kamar yang tadi ia tempati.


Pelayan yang tadi bersamanya segera membantu mengelap badan Aera. Memakaikan baju pada tubuh lemah itu dan merapikan rambutnya. Setelah semua selesai, dokter yang tadi menunggu diluar pintu segera masuk dan memeriksanya.


"Bagaimana?" tanya Nyonya Fernandes setelah mereka berada di luar kamar.

__ADS_1


"Dia demam, keadaanya tidak cukup baik, terutama untuk mentalnya. Sebaiknya Anda memanggil psikolog. Keadaan mentalnya bisa memperburuk kesehatannya."


"Aku mengerti, Anda bisa kembali. Terimakasih dokter."


Nyonya Fernandes menatap Aera yang kini menatapnya juga. Wanita tua itu duduk dikursi yang disediakan untuknya disamping ranjang. Dia tersenyum dengan lembut pada Aera sebelum menggenggam tangannya.


Terasa hangat dan menenangkan, itulah yang dirasakan Aera. Dia jadi merindukan neneknya. Genggaman tangan wanita dihadapannya itu mengingatkan ia pada kehangatan neneknya.


"Nenek saya, Anda tahu diamana nenek saya?"


"Maafkan aku, tapi aku juga tidak tahu. Aku akan mencari tahunya nanti dan segera mengabarkan padamu. Sekarang... Maukah kamu mengatakan siapa namamu? Kita belum berkenalan."


"Aera."


"Aera... Namamu sangat cantik, aku Attine fernandes. Kamu bisa memanggilku sesukamu. Saat ini, kamu sedang berada di rumah kami."


"Kenapa aku bisa disini? Apa hubungan Anda dengan pembunuh itu?"


Nyonya Fernandes tampaknya ingin menjelaskan bahwa Audric bukan pembunuh, namun memikirkan keadaan mental Aera, dia mengurungkan niatnya. Perdebatan sekecil apapun mengenai Audric mungkin akan memberatkan pikirannya.


"Tidak ada hal khusus, aku menolongmu karena kamu adalah pendatang. Disini kamu akan aman. Wilayah ini dipimpin oleh suamiku, kamu tidak perlu kawatir tentang orang jahat yang akan menyakitimu."


'Aku masih cukup waras untuk tidak mempercayai kalian.' kata Aera dalam hati.


Tampaknya Nyonya Fernandes bisa membacanya, dia tersenyum dan mengangguk pada pelayannya.


"Aku tahu kamu pasti masih bingung, makanlah dulu dan istirahatlah lagi. Kamu juga harus minum obat setelah ini. Aku akan kembali nanti. Beberapa orang akan berada disekitar sini untuk menjagamu, jika kamu memerlukan sesuatu panggillah mereka."


'Apa yang akan terjadi padaku selanjutnya? Apa yang harus aku lakukan untuk membalasnya?'


.


Sebagai presiden wilayah otonom, Alberto tentu saja sangat sibuk. Pagi ini, setelah sarapan bersama Audric dan istrinya, dia langsung pergi untuk menjalankan tugasnya. Sehingga Audric tidak memiliki kesempatan untuk berbicara lebih banyak.


Saat ini, dia sedang menunggu di lorong menuju area yang ditempati Aera saat ini. Begitu dia melihat kedatangan Nyonya Fernandes, dia langsung menyambutnya.


"Dia cukup tenang, tapi dia masih belum mempercayaiku. Ini akan sulit karena dia pasti mencurigai semua orang dikediaman ini."


"Saya minta maaf."


"Jangan sungkan, kamu sudah seperti anakku, Ric. Tapi gadis itu salah paham padamu. Menjelaskannya juga akan sulit, seperti ceritamu, dia menyaksikan penembakan itu dan orangmu yang melakukannya. Kamu sudah menemukan pelakunya?"


"Dia menghilang, sudah jelas dia dilindungi oleh seseorang."


"Adikmu?"


"Anda sepertinya juga tahu permusuhan kami akhir-akhir ini."


Wanita tua itu terkekeh pelan.


"Pergaulan ibu-ibu tua tidak boleh kamu remehkan. Bagaimanapun banyak gosip yang beredar dari mulut kemulut tentang hubungan kalian yang sejak dulu sangat dingin. Meski kalian menutupinya di depan media dan orang-orang."

__ADS_1


"Bibi, bolehkan saya tahu sesuatu?"


"Tanyakan saja, aku selalu berpihak padamu."


"Terima kasih, ini tentang Luisa."


Senyum wanita itu sedikit memudar. Dia mengangguk dan meminta Audric mengikutinya. Mereka duduk berdua di ruang kerja suaminya.


"Nah, sampai mana kamu mengetahuinya?"


"Sepertinya Anda sudah tahu saya akan menanyakan hal ini."


"Aku dan Alberto sudah mempersiapkan jawabannya sejak dulu. Kedua orang tuamu meminta kami menjaga rahasia sampai kamu sendiri yang bertanya."


Audric menatap gelas teh yang ada dihadapannya untuk beberapa detik. Wanita yang ia panggil bibi ini selalu sangat tenang. Saking tenangnya, Audric terkadang tidak nyaman membicarakan masalah pribadi dengannya. Dia lebih suka berbicara dengan Alberto.


"Saya tahu dia bukan anak ibu, dia juga memiliki hubungan darah dengan Aera ketika saya menyelidiki asal usulnya. Saya tidak tahu apa yang terjadi di masa lalu, semua jejak dihapus oleh Luisa. Saya hanya tahu kalau ibu kandungnya dan Aera telah meninggal."


"Gadis itu? Dengan adik tirimu bersaudara?" Sepertinya dia juga baru tahu fakta ini, nyonya Fernandes menunjukkan keterkejutan yang alami.


"Aku pernah bertemu wanita itu sekali. Dia mirip dengan adikmu. Tapi memiliki bola mata yang berbeda. Lalu gadis itu, apa kamu sudah tahu siapa ayah kandungnya?" tanyanya.


"Saya tahu nama dan identitasnya, tapi saat ini keberadaannya entah dimana. Karena Luisa mengirim Aera kedaerah sini, kemungkinan besar dia berada disini." jawab Audric.


"Bagaimana kamu yakin hal itu?"


"Hanya naluri, dia pasti membujuk Aera dengan asal usulnya. Meski saya tidak terlalu yakin. Saya mendengar ada seorang pria yang terus datang ke restoran tempatnya bekerja, mereka juga tampaknya pernah bicara satu sama lain. Saya sedang menunggu informasi lanjutannya, jika dia benar ayah kandung Aera, saya pasti akan menemuinya sebelum kembali."


"Entahlah, saat aku melihat bola mata gadis itu, aku langsung teringat seseorang."


"Anda mengenalnya? Ayah kandung Aera?"


"Tidak mungkin, ini hanya hal tidak masuk akal yang tiba-tiba datang."


Audric mengerutkan keningnya sesaat. Meski begitu dia tidak mempertanyakannya lagi. Dia yakin akan tahu suatu saat nanti jika informasi itu benar.


"Jadi, bagaimana cara orang tua saya membohongi semua orang saat itu tentang Luisa? Saya ingat ibu benar-benar hamil, Bibi."


"Ah, soal itu." Nyonya Fernandes meminum tehnya, lalu tersenyum kemudian. "Ibumu hanya pura-pura hamil. Dia sangat pintar bersandiwara, saat itu aku selalu mengejeknya." lalu dia tertawa pelan.


"Pura-pura?"


"Ric, ayahmu menginginkan anak lagi. Hanya memiliki satu keturunan sedikit beresiko bagi ayahmu sebagai kepala keluarga. Tapi, ibumu mengalami masalah pada rahimnya setelah melahirkanmu. Dia telah berusaha bertahun-tahun, tapi tidak membuahkan hasil. Hingga akhirnya mereka meminjam rahim seorang wanita yang mau dibayar. Sayangnya, saat itu tidak mudah karena sel telur ibumu sangat tidak baik. Mereka akhirnya terpaksa melakukan proses bayi tabung menggunakan sel telur wanita itu. Kami baru tahu kalau dia memiliki seorang bayi saat membuat kontrak dengan orang tuamu, dan dia meninggalkannya dengan pria yang saat itu hidup bersamanya. Aku tidak tahu apakah dia ayah kandung gadis itu atau tidak. Tapi mereka menghilang tidak lama setelah kelahiran Luisa."


Cerita panjang itu membuat Audric terdiam. Dia tidak berkata-kata untuk saat ini. Tidak ada hal apapun yang terlintas dalam pikirannya. Dia hanya merasa marah akan apa yang terjadi pada Aera yang diabaikan demi uang.


.


Pemakaman nenek Aera dilakukan keesokan harinya. Aera sudah tidak menangis lagi, tapi sorot matanya yang kosong memberi kesan bahwa dia hidup tampa jiwa. Aera menyesali kedatangannya ke Jerman saat itu. Dia menyalahkan dirinya yang begitu tamak sehingga menyebabkan dirinya terlibat masalah yang tak pernah ia bayangkan.


Audric memperhatikannya dari jauh. Begitu Nyonya Fernandes, para pelayan dan pengawalnya kembali ke kediaman mereka, Audric juga pergi menuju tempat dimana pria yang ia curigai sebagai ayah Aera berada.

__ADS_1


__ADS_2