
Bau besi berkarat, suasana lembab dan minim cahaya, adalah suasana penjara dimana pelaku penembakan ditahan.
Petugas penjara menyeretnya keluar menuju sebuah ruangan. Ivon sudah duduk disana, bersama dengan seorang yang amat dikenal olehnya.
"Dimitri, kamu!"
"Ya, Ini aku."
Flasback
Kembali pada waktu Dimitri diselamatkan oleh Aera. Dimitri memang dibawa oleh kakek itu kerumah sakit. Tapi yang mengurus selanjutnya adalah bawahan Ivon.
Setelah keluar dari rumah sakit, Dimitri hampir dibunuh lagi kalau Ivon tidak datang. Ivon membawanya ke markas pasukan Martell.
"Kamu tahu kenapa aku tidak ikut membunuhmu seperti orang-orang Luisa?"
Dimitri di borgol ke kursi dalam suatu ruangan. Di depannya, Ivon berdiri dengan sorot mata ingin membunuh.
"Karena Nona Aera yang menolongmu. Dia mendengar kisahmu dan alasanmu balas dendam. Aku tidak mengerti kenapa dia memiliki simpati pada bajingan sepertimu." Ivon melirik kearah pintu. "Bawa itu masuk!" katanya, lalu menatap Dimitri lagi. "Aku harap setelah ini otak kosongmu itu memahami alasan keluargamu harus dimusnahkan."
Seseorang yang sejak tadi berdiri di depan pintu masuk ke dalam. Dia membawa sebuah rekaman dan menunjukkannya kepada Dimitri.
"Itu hanya beberapa bukti yang menunjukkan penghianatan keluargamu. Jika kamu berubah pikiran, aku bisa memberi bukti lebih lengkap. Jadi, pilihan ada ditanganmu. Menyusul keluargamu atau patuh pada simpati terakhir yang diberikan kepala keluarga."
Dimitri menatap lantai dengan mata yang bergetar. Melihat kenyataan yang ditunjukkan padanya, membuat pundaknya terasa semakin berat. Tapi entah kenapa, hatinya merasakan kelegaan. Bahwa Aera memiliki simpati padanya, membuat dia merasa lega. Dia menjadi punya alasan untuk melepaskan dendam dihatinya. Kemarahan akan kematian seluruh keluarganya yang berhianat.
"Bahkan tampa bukti itu, saya sudah mengurungkan niat saya untuk menargetkannya. Saya sadar Nona tidak salah apapun dan dia telah menyelamatkan saya. Saat ini, saya benar-benar merasa lega." ujarnya dengan jujur.
"Lalu bagaimana perasaanmu setelah tahu alasan seluruh keluargamu dihabisi?"
"Saya... Saya tidak tahu. Mereka mungkin bersalah. Tapi kenapa keponakan saya yang masih kecil juga..."
"Keponakan? Kami tidak membunuh anak-anak. Kamu sendiri tahu hal ini, bukan?"
Dimitri mengangkat kepalanya, terkejut karena mendengar fakta yang baru saja ia sadari.
"Tapi didaftar korban..."
"Data dicatat oleh pemenang. Kamu mantan pasukan Martell tapi kamu tidak tahu hal dasar ini. Keponakanmu, dikirim ke panti asuhan sebelum diadopsi oleh orang Rusia. Saat ini dia ada di Rusia."
'Dia mungkin hebat dalam bertarung, tapi sangat buruk dalam pengetahuan dan strategi. Pantas saja wanita itu berhasil memanipulasinya.'
"Tolong berikan alamatnya."
'Satu-satunya keluargaku yang masih hidup...'
"Aku akan memberikan alamatnya, tapi kamu harus membuktikan dirimu dulu pada tuan Audric. Yakinkan dia agar aku tidak harus memenggal kepalamu."
Flasback end.
Sejak saat itu, Ivon berada dalam pengawasan. Dia harus bersembunyi dan sesekali menunjukkan keberadaannya pada Luisa. Membuktikan diri bahwa dia tidak buka mulut sehingga Luisa kembali menjadikan Dimitri orangnya.
__ADS_1
Luisa yang menyusun rencananya dengan matang, berhasil disabotase oleh rencana Aera yang memanfaatkan Dimitri. Sehingga pengawal yang sejak awal adalah orang Luisa, diarahkan oleh dimitri untuk mengincar dada dan perut Aera yang telah memakai pelindung anti peluru didalam gaunnya.
"Kamu penghianat!"
Dimitri tidak menjawab, dia hanya menatap pengawal yang masih memakai seragam itu dengan datar.
"Nyalakan rekaman."
Ivon memberi perintah, lalu seorang pengawal menyalakan kamera.
"Nah, mari kita mulai introgasinya."
.
Aera masih belum muncul kepublik. Tapi gerakan pasukan Martell telah mengumpulkan bukti-bukti perbuatan Luisa yang bekerja sama dengan paman dan bibinya.
'Aku sudah meletakkan dendamku, tapi kamu akhirnya benar-benar menunjukkan niatmu yang keras itu, Luisa.'
Aera menatap layar televisi yang menayangkan berita penangkapan Luisa, paman, bibinya serta bawahan mereka yang terlibat.
Sekali lagi dunia dibuat heboh. Adik dari Raja melakukan percobaan pembunuhan terhadap kakak iparnya yang sedang hamil. Ketika berita ini disiarkan, Luisa telah berada didalam penjara.
Audric langsung mengintrogasinya, bahkan informasi itu juga disebutkan disana. Tepat setelah tiga minggu, waktu yang cukup bagi penyembuhan seseorang yang tertembak di dada dan perutnya.
Ketika pintu kamarnya diketuk, Aera sudah tahu siapa yang datang. Harald berdiri disana bersama dua orang dokter dan satu perawat. Orang-orang yang sama saat dirumah sakit.
"Yang mulia, saatnya Anda muncul."
Aera mengikuti intruksi mereka. Dia duduk di atas kursi roda. Dua pengawal mengiringi dibelakang Harald yang mendorong kursi roda.
Aera tersenyum kecil mendengar perkataan Harald. Ditengah perjalanan, mereka bertemu beberapa pasukan lain yang ikut mengawal. Mereka menuju area pertemuan dimana para pejabat dan wartawan menunggu.
Aera tidak banyak bicara. Setelah menyapa mereka dengan singkat, dokter dan Audric yang banyak menjawab pertanyaan. Audric juga mempersingkat pertemuan itu dengan alasan kesehatan Aera. Dia menunjukkan pada seluruh dunia bahwa Aera adalah ratu yang amat dicintainya. Dia mendorong kursi roda Aera dengan tangannya sendiri.
.
Aera menonton ulang pertemuan tadi melalui siaran televisi. Dia sedang bersantai dikediaman raja sambil memakan buah kesukaannya.
"Wah... Dia terlihat semakin tampan disana. Apa mereka memakai filter agar wajahnya tampak indah?" komentar Aera saat melihat keindahan wajah suaminya di layar.
"Yang mulia, Anda tidak boleh tidak mengakui ketampanan Baginda. Beliau memang tampan, sangat serasi dengan Anda yang cantik." kata Olivia.
"Ough! Aku tidak punya sayap untuk terbang Oliv!"
Candaan itu membuat mereka tertawa bersama. "Senang tidak melihat raut cemas anda lagi Yang mulia, saya harap Anda akan bahagia bersama Baginda."
Aera tersenyum dengan lembut. Dia juga mengharapka hal itu. Setelah semua yang dia alami, perasaan cinta, benci dan penyesalan yang dulu menghimpit perasaannya, terasa telah terurai.
"Yang mulia, maaf mengganggu waktu Anda. Seorang bernama Dimitri meminta bertemu dengan Anda, dia memiliki lencana izin untuk masuk istana."
"Dimitri ya. Antarkan dia keruang tamu, aku akan segera kesana."
__ADS_1
Setelah kepala pelayan istana raja itu keluar, Olivia segera bertanya.
"Yang mulia, Apa tidak apa-apa Anda menemuinya? Tidakkah sebaiknya menunggu Baginda? Bagaimana kalau dia masih mengincar Anda?"
Sakura berdiri, lalu berjalan ke ruang ganti. Beberapa pelayan membantunya bersiap dan merias wajahnya agar terlihat lebih baik. Make up pucat tadi sudah dihapus dan diganti senatural mungkin.
.
Dimitri langsung berdiri dan menunduk sambil memberikan postur hormat ketika Aera masuk. Aera duduk dan memperhatikan raut wajah Dimitri yang lebih baik dari terakhir mereka bertemu.
"Duduklah, kamu tampak lebih baik sekarang, Dimitri."
"Ini berkat kemurahan hati Anda Yang mulia."
Aera tersenyum kecil. "Kamu bahkan jadi lebih sopan. Rasanya sangat berbeda dengan Dimitri yang aku temui di kamar mandi kampus saat itu."
Dimitri langsung pucat dan berlutut dilantai. Dia menunduk dalam dengan raut penuh rasa bersalah.
"Maafkan saya, karena kebodohan saya Anda hampir mati saat itu. Karena dendam yang seharusnya tidak saya miliki. Anda bisa memberikan hukuman pada saya. Saya akan melakukan apapun untuk menebus dosa saya."
"Hmm, jadi karena itu kamu menemuiku? Kamu ingin minta maaf?"
"Ya, karena saya sangat menyesal. Saya juga akan menerima semua hukuman yang Anda berikan untuk menebus dosa saya."
"Menurut hukum kerajaan, seharusnya kamu saat ini diadili di pengadilan. Tapi aku akan memberikanmu hukuman lain."
Aera tahu Audric mungkin akan marah padanya. Tapi dia tidak bisa menyia-nyiakan bakat bagus pemuda didepannya ini. Ivon bahkan mengakuinya.
"Kalian tunggulah diluar." perintah Aera.
Olivia tampak ragu, namun dia tidak membantah. Ketika dia keluar, dia melihat Ivon yang lewat dari jauh. Karena kawatir, dia langsung berlari mengejarnya.
Sementara itu, didalam ruangan. "Maukah kamu membuat kontrak hidup dan mati denganku?" tanya Aera.
"Kontrak hidup dan mati?"
"Ya, kamu mengabdi padaku dengan taruhan nyawamu."
"Anda mempercayai saya?" tanya Dimitri dengan nada ragu-ragu. Dia kawatir Aera hanya sedang mempermainkannya.
"Tidak, karena itu aku menawarkan kontrak itu. Taruhannya bukan hanya nyawamu. Jika kamu berhianat, aku akan menghukum keluargamu juga."
Dimitri jadi terheran-heran. Keluarga mana lagi yang bisa dijadikan taruhan. Keponakan satu-satunya juga sudah diadopsi. Dengan karakter Aera, Dimitri tidak percaya kalau keponakannya yang dia katakan.
"Anda akan menjadikan keponakan saya..."
"Apa yang kamu bicarakan, tentu saja keluargamu nanti. Memangnya kamu tidak akan menikah?"
"Huh?"
Menyadari raut polos didepannya, Dimitri menjadi malu sendiri karena sejak tadi waspada pada Aera. Dia lupa kalau Aera tidaklah sama dengan Audric.
__ADS_1
"Maafkan saya, tentu saja Yang mulia. Saya akan menerima tawaran Anda."
Dimitri ikut tersenyum ketika Aera tersenyum padanya. Kehangatan yang telah lama tidak ia rasakan, kini terasa menjalar dihatinya. Dia tidak pernah menyangka akan menemukan akhir yang damai seperti ini setelah selama ini terkurung dalam dendam.