
Aera tersengal-sengal ketika mereka tiba diluar. Dia berusaha mengatur napas dan menenangkan dirinya. Setelah napasnya membaik, Aera menatap Gustav dengan tajam. Dia teringat perkataan Adolf, bahwa Guatav tidak bisa ia percayai. Ternyata Adolf benar, tidak ada satupun orang dirumah ini yang bisa ia percaya.
Tampa berkata apapun, Aera berlari kembali. Dia berlari kedalam rumah, naik ke lantai dua dan masuk ke dalam kamarnya. Gustav mengejarnya, namun langkahnya dihentikan oleh Friedrick. Pria tua itu menahan lengannya dengan kuat.
"Kalian dari mana?"
Pertanyaan itu penuh intimidasi. Gustav menarik lengannya dan menatap Friedrick dengan tenang.
"Dia mengikuti Tuan jadi aku mencoba mencegahnya. Tapi aku terlambat beberapa saat, dia sepertinya mendengar sesuatu karena begitu aku disana, dia sudah menangis dan segera pergi." bohong Gustav.
Aera kembali turun dengan ponsel ditangannya. Dia melewati Gustav dan Friedrick begitu saja dengan wajah dingin.
"Nyonya, Tuan akan segera kembali jadi..."
"Aku ingin mencari kucingku. Aku tadi meninggalkannya ditaman." ujar Aera memberi alasan sambil lalu.
Friedrick terlihat tidak curiga, karena dia belum tahu ceritanya, tapi Gustav sudah menduga kemana dia akan pergi. Satu-satunya tempat yang mungkin bisa ia tuju saat ini.
Aera berlari dengan cepat ke arah taman. Dia memang mencari kucingnya, tapi bukan untuk kembali masuk ke dalam rumah. Melainkan pergi dari sana.
Begitu dia menemukan Coco yang sedang bermain sendiri di bawah rumpun bunga, Aera segera memeluknya dan pergi dari sana menuju gerbang utama.
Perlu berjalan cukup jauh untuk mencapainya, namun Aera sudah memesan taksi dan dipastikan taksi sampai ketika dia mencapai pintu gerbang. Sebelum Audric menyadari kepergiannya, dia harus sudah masuk kedalam taksi agar bisa kabur.
Aera dihadang oleh petugas keamanan yang menjaga gerbang, menanyakan kemana ia akan pergi begitu melihat taksi berhenti di depan gerbang.
"Apa aku perlu melapor pada kalian aku ingin pergi kemana?"
Aera berusaha seangkuh mungkin, dia tahu dua petugas ini mencurigainya. Bagaimana tidak, dia tidak dikawal Gustav atau siapapun. Apalagi setahu mereka Luisa pernah menghilang selama setahun. Mereka kawatir Luisa akan kabur lagi setelah pernikahannya.
"Tapi Nyonya, saya akan menyiapkan mobil dan memanggil Gustav untuk Anda jika Anda ingin jalan-jalan."
"Menyingkir!"
"Maaf Nyonya...Ugh!"
Aera terpaksa melayangkan tendangan keperutnya. Lalu dia berlari masuk kedalam taksi menghindari satu petugas lagi.
"Jalan!" suruhnya pada supir.
Aera menoleh kebelakang, melihat dua petugas itu tampak menghubungi seseorang dari ponsel mereka setelah tidak berhasil mengejar taksinya.
"Ke-kemana Anda ingin pergi?"
Supir itu tampak gugup. Mengingat nama keluarga Martell dinegara ini, Aera mengerti mengapa dia terlihat begitu cemas.
"Aku akan memberitahumu nanti. Terus saja menuju ketengah kota." jawabnya.
Aera tidak tahu harus kemana, semua barangnya ia tinggalkan dirumah Audric. Dia hanya membawa dompet dan pasport. Dia juga tidak punya uang selain kartu hitam punya Audric yang sampai saat ini belum ia kembalikan.
"Tidak bisa, itu bukan uangku. Uang di rekeningku juga tidak banyak. Adolf... Apa dia bisa dipercaya? Tapi... Audric bisa saja mencariku kesana."
Aera mematikan ponselnya dan memasukkannya ke dalam kantung jaketnya. Dia mengelus Coco dengan pelan. Aera tidak tahu negara ini dengan baik. Berbahaya baginya pergi sendirian.
Akhirnya, mau tidak mau, dia menyalakan kembali ponselnya. Mengirim pesan pada Adolf dan segera mematikan ponselnya kembali.
Aera minta diberhentikan di depan supermarket 24 jam. Dia duduk di depan sambil memeluk Coco yang sejak tadi sudah tidak tenang.
Aera menutup kepalanya dengan tudung jaketnya, dia menunggu dengan perasaan cemas. Menghitung menit demi menit dan berdoa Audric dan orang-orangnya tidak menemukannya.
"Aera!"
Aera mendongak, Adolf berdiri di hadapannya dengan wajah bingung dan cemas. Orang-orang yang mengenalinya langsung mencuri pandang. Karena terlalu bayak orang, Adolf menuntun Aera untuk masuk ke dalam mobil.
Dia mengendarai mobilnya sendiri. Masih memakai sendal rumah dan juga baju rumah. Tampaknya dia langsung berlari keluar begitu mendapatkan pesan dan nomor Aera langsung tidak aktif setelahnya.
__ADS_1
"Jangan kerumahmu, aku tidak ingin ditemukan Audric. Aku tidak ingin bertemu lagi dengannya. Aku ingin pulang."
Aera akhirnya menangis. Dia terisak, Coco bahkan sampai melompat kebelakang karena Aera yang tidak bisa mengendalikan dirinya lagi.
Adolf menepikan mobilnya, dia melepas safety belt miliknya dan mencondongkan diri untuk membawa Aera dalam pelukannya.
Setelah keadaan kembali tenang, Adolf menatap Aera yang masih terdiam. Adolf ingin menunggunya bicara dan menjelaskan situasinya namun Aera sepertinya belum siap. Jadi dia memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan.
Adolf membawa Aera kesebuah kawasan perumahan ditengah kota. Rumah itu tidak terlalu besar tapi juga tidak kecil. Memiliki luas tanah sekitar dua ratus meter persegi, halamannya sedikit berantakan dan tidak terurus.
Adolf membawa Aera masuk dan langsung mengambilkannya air putih di dalam kulkas. Setelah minum, barulah Aera mengedarkan pandangannya keseliling ruangan. Dia tidak melihat banyak perabotan dirumah itu dan terkesan jarang ditinggali.
"Ini rumah siapa?"
"Rumah Harry, dia masih berada diluar. Dia jarang dirumah karena pekerjaan. Tapi saat ini aku memintanya membelikanmu beberapa pakaian dan segala sesuatu untuk kenyamananmu malam ini. Karena kamu bilang tidak ingin kerumahku, jadi aku meminta bantuannya."
"Audric tidak akan bisa menemukanku disini kan?"
"Entahlah... Tapi... Bisakah kamu menceritakannya sekarang? Aku harus tahu masalahnya agar bisa menentukan sikap."
Aera lagi-lagi menunduk. Dia takut Adolf juga hanya ingin memanfaatkannya. Dia hanya ingin pergi secepatnya, dia tidak ingin terlibat lagi dengan rencana kakak beradik itu. Aera benar-benar merasa sangat kecewa dan marah saat ini.
Dia berpikir kontrak itu Audric lakukan karena benar-benar butuh bantuan, tapi ternyata itu rencana mereka sejak awal. Hanya ingin memanfaatkan kemiripan wajahnya dengan Luisa untuk kepentingan mereka.
"Kamu tidak mempercayaiku, itukah alasanmu tidak bisa memberitahuku?"
Aera menatap Adolf yang menatapnya penuh harap. Kekawatiran juga terlihat diwajahnya. Tapi Aera tidak tahu apakah itu tulus atau tidak. Dia takut Adolf seperti Audric juga.
"Aera... Bagaimanapun aku suamimu sekarang. Aku akan berada dipihakmu. Apapun perjanjianmu dengannya, juga tentang nenekmu, aku yang akan bertanggung jawab sekarang."
'Tidak! Aku tidak mau kamu bertanggung jawab!' jawab Aera dalam hati.
Yang Aera inginkan hanya kembali kenegaranya. Dia hanya ingin lepas dari orang-orang ini. Mengingat Audric saja, dia sudah merasa sesak. Dia tidak ingin menaruh harapan pada siapapun lagi.
"Kamu sudah makan malam?" Tampaknya Adolf berusaha membuat Aera nyaman. Dia berhenti mendesaknya.
"Tentu saja, aku terkadang menginap disini kala mabuk. Kamu bisa memakai kamar tamu. Aku akan tidur di kamar Harry."
"Lalu dia?"
"Huh? Dia tinggal menyewa hotel." jawab Adolf santai.
"Dia benar-benar kejam kan, Aera."
Harry muncul dari pintu depan dengan beberapa tentengan dikedua tangannya. Duduk di samping Adolf dan meletakkan semua bawaannya di lantai.
"Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Diluar sana, tampaknya Audric menyebarkan orang-orangnya diam-diam untuk mencarimu. Aku baru saja bertemu mereka ketika keluar dari pusat perbelanjaan. Mereka menyusuri jalan seperti polisi yang sedang mengejar penjahat yang kabur."
"Me-mereka ada diluar?"
Adolf dan Harry bertukar pandang sesaat. Adolf beranjak dan duduk disebelah Aera. Memegang kedua pundaknya dan mempertemukan pandangan keduanya. Aera terlihat cemas.
"Aku akan melindungimu, aku suamimu sekarang. Lupakan perjanjian sialan itu dan katakan apa yang telah Audric lakukan padamu."
"Itu... Itu... Aku... "
"Tidak apa-apa Aera, bicaralah."
Aera melirik Harry yang beranjak pergi. Sepertinya dia memberi ruang bagi mereja untuk bicara berdua agar Aera lebih leluasa bercerita.
"Audric... Juga Luisa telah berbohong selama ini."
Adolf menarik tangannya dan berganti menggenggam kedua tangan Aera.
"Apa kamu masih mencari Luisa?" tanya Aera dan Adolf mengangguk dengan cepat.
__ADS_1
"Ya, tapi seperti yang aku katakan, dia sangat pintar bersembunyi. Aku tidak tahu kenegara mana dia pergi."
"Aku tidak yakin dia pergi."
"Apa maksudmu?"
"Dia pasti mengawasiku selama ini. Aku tidak tahu, tapi mereka berdua telah merencanakan ini sejak awal. Aku tidak tahu Luisa mengenalku dari mana, atau tidak sengaja melihatku dimana, tapi karena wajahku yang mirip dengannya, dia menjadikanku tumbal dalam pernikahan yang tak diinginkannya."
Adolf juga terkejut, tapi dia masih bisa tenang seperti biasa.
"Siapa yang mengatakannya padamu?"
"Aku dengar sendiri! Aku mendengar Audric berbicara dengan Luisa ditelepon! Seseorang menyerangku dan dia membawanya ke ruang bawah tanah. Lalu... Lalu seseorang menelepon dan Audric menyebut namanya. Dia memanggil Luisa dan berbicara!"
"Tenanglah, tenangkan dirimu." bujuk Adolf.
Aera yang tadi menggebu-gebu karena amarahnya yang bangkit kini berusaha mengatur napasnya. Dia menunduk sesaat lalu kembali menatap Adolf.
"Mereka merencanakan ini sejak awal. Kontrak itu hanya untuk membodohiku. Audric membujukku dengan mencari tahu rahasia nenek yang menyembunyikan penyakitnya. Karena aku tidak punya apa-apa... Aku ingin nenekku sembuh. Tapi ternyata... Ternyata sejak awal mereka menyusun rencana itu. Audric membohongiku sejak awal. Semua kebaikannya, semua kasih sayangnya palsu. Dia hanya ingin menjadikanku bonekanya."
Aera terisak di dalam pelukan Adolf. Pria yang kini menjadi suaminya itu memeluk dan mengusap kepalanya dengan lembut. Harry berdiri di depan pintu kamar, bersandar pada dinding sejak tadi, kini saling bertukar pandang dengan Adolf.
Sorot mata Adolf saat ini sulit dibaca. Dia tidak menunjukkan emosi apapun. Tapi terlihat sedang memikirkan sesuatu di dalam kepalanya.
"Tenanglah, Aera. Aku akan membantumu. Jangan lari dan hadapi mereka. Kamu punya aku, Aera. Suamimu ini akan membalas mereka untukmu."
Aera menarik dirinya, menghentikan tangisnya dan menatap Adolf dengan wajah yang berantakan. Adolf mengusap air matanya dan menggenggam kedua sisi wajahnya.
"Kita akan mencari tahu apa tujuan Luisa melakukan ini. Jika Audric menyetujui ide Luisa, artinya dia mendapatkan sesuatu. Audric tidak pernah menolong orang lain dengan cuma-cuma. Luisa... Pasti punya alasan sehingga melakukan ini."
"Aku dengar ini tentang kekasihnya. Seseorang membicarakannya setelah kasino Zinovic hancur. Cerita itu menjadi rumor diantara mereka. Hanya saja buktinya telah diambil Audric sehingga mereka berhati-hati dengan orang luar."
"Luisa memiliki pacar? Jika itu benar, ini bisa menjadi senjata kita."
Aera teringat percakapan mereka di rumah terapung saat itu. Meski dia tidak memahami masalah apa yang Lucas bahas bersama Adolf saat itu, tapi dia bisa menduga bahwa Adolf menyimpan sebuah kemarahan pada Audric. Hubungan masa lalu mereka tampaknya begitu rumit. Disini, Aera juga tidak bisa mempercayai Adolf. Sejak awal, ketertarikan Adolf padanya tampa alasan. Ketertarikan seperti apa yang membuat Adolf selalu siap membantunya seperti saat ini?
"Aera? Apa yang kamu pikirkan? Ada hal lain yang ingin kamu sampaikan?"
Aera kembali dari pikirannya, menggeleng pelan pada Adolf yang menatapnya penasaran.
"Aku hanya ingin tahu, dari mana Luisa mengetahui tentangku dan menyarankanku pada Audric. Apakah alasan Luisa hanya untuk menghindari pernikahan?"
Benar, selain kecurigaannya pada semua orang termasuk Adolf, pikiran ini tiba-tiba saja muncul setelah sekian lama ia abaikan. Bagaimana bisa ia mirip dengan Luisa? Aera pernah melihat foto Luisa yang terpajang di rumah keluarga Martell. Dia mengakuinya, bahwa Luisa dan dia memang terlihat mirip.
"Sejujurnya, hubungan Luisa dan Audric tidak terlalu dekat. Mereka bergerak sendiri-sendiri tampa peduli satu sama lain. Selama tidak saling merugikan, baik Audric dan Luisa lebih seperti dua orang asing. Apalagi sejak kedua orang tuanya meninggal. Itu yang aku tahu."
"Maksudmu, Audric tidak pernah memperhatikan adiknya seperti seorang kakak laki-laki?"
"Ya, tidak banyak informasi yang aku ketahui. Mereka menjaga privasi keluarga dengan sangat baik. Aku hanya mendengarnya beberapa kali saat menguping pembicaraan ibuku. Tapi... Kami pernah bertemu di Hight school yang sama. Aku, Audric dan sepupunya yang merupakan sahabat dekatku."
Aera merasakan genggaman tangan Adolf menguat sesaat. Sebelum dia kembali bersikap biasa dan tersenyum pada Aera.
"Kalian pernah dekat?"
"Tidak juga, sudah aku katakan dia itu tidak baik. Dia melihat orang lain seperti sampah yang tidak layak diberi perhatian."
Meski Aera tidak yakin, tapi dia tidak membantah pernyataan itu. Selama Aera tinggal dengan Audric, dia memang sangat angkuh dengan nama keluarga yang disandangnya. Tapi bukan bearti dia merendahkan semua orang.
'Entahlah, sikap baiknya padaku itu topeng atau asli. Di tetap bajingan yang telah menipuku dalam permainan mereka. Bagaimana bisa ada orang yang bermain-main dengan hidup orang lain seperti itu? Bahkan sampai seperti itu.'
Aera mengingat perlakuan Audric yang berubah lebih intim. Juga ciuman Audric dan perkataannya yang menunjukkan bahwa dia memiliki ketertarikan padanya.
'Apa itu juga hanya sebuah kebohongan?'
Aera menarik tangannya, lalu berdiri dan bertanya dimana kamar yang bisa ia pinjam pada Harry. Dia lelah, dia hanya ingin berbaring dan menutup matanya. Berharap semua ini hanya mimpi.
__ADS_1
Setelah Harry menunjukkannya, Aera membawa Coco masuk dan tidur bersama si kucing yang telah kenyang. Kucing putih itu diberi makan oleh Harry begitu ia beranjak dari sofa tadi. Setelahnya, barulah ia fokus pada pembicaraan dua orang tamu dirumahnya.