
Aera menatap kepergian mobil Audric yang menjauh dengan datar. Di dalam sela-sela hati yang terombang ambing, perasaan itu menetap disana. Menampar-nampar untuk menggoyahkan dirinya, menyesatkan hingga dia selalu tidak sadar bahwa kembali terbawa arus.
Wajah yang sempurna, postur yang diimpikan setiap wanita dan kekayaan yang melimpah. Audric adalah sosok sempurna dari luar. Tapi Aera tahu, sosok itu tidak sesempurna itu. Audric mungkin menggoyahkannya, tapi Aera masih bisa berdiri tegak. Dia tidak ingin dipengaruhi lagi. Kali ini, dia ingin menang.
"Dia Ivon, kepala kemanan Martell saat ini. Jika terjadi sesuatu, atau kamu perlu mengerahkan seseorang, kamu bisa mengatakan padanya. Dia akan mematuhi apapun yang kamu perintahkan."
Ivon berdiri tegap dihadapannya. Tepat disamping Harald dan Friedrick. Mereka ada diruang makan namun belum duduk. Setelah semua dipanggil, Audric mengenalkan mereka kembali secara resmi.
"Apa maksudmu? Bukankah hanya kamu yang bisa memerintahnya?"
"Kamu akan menjadi nyonya rumah ini dan istri dari kepala keluarga. Artinya, kamu akan menjadi wakilku."
"Apa? Kenapa kamu melibatkanku?"
Audric mengangkat sebelah alisnya. Menunjukkan sedikit kebingungan namun tidak mengatakan apapun. Otak cerdasnya sedang mencerna apakah perkiraannya salah atau tidak.
"Harald adalah tangan kananku. Dia menangani segala urusan dibawah otoritasku. Kamu bisa bertanya padanya jika aku tidak ada." lanjut Audric.
"Friedrick mungkin terlihat hanya kepala pelayan biasa yang mengurus rumah. Tapi dia adalah orang yang akan menjaga kehormatan Martell, dia mengetahui Martell luar dan dalam."
"Singkatnya, mereka orang yang paling kamu percaya?" sela Aera.
"Ya, aku pikir kamu ingin mulai terlibat. Jadi aku memperkenalkan kalian secara resmi, juga sebagai titah langsung untuk mereka agar mematuhimu."
'Ah... Karena tadi aku ingin mereka ikut? Jadi dia kira aku ingin dilibatkan dalam pembicaraannya?' tebak Aera. 'Tidak buruk juga, aku jadi bisa memikirkan langkahku selanjutnya.'
"Kenapa kamu membuat mereka melakukan itu?"
Audric menarik pinggang Aera dan menangkup sebelah pipi Aera dengan tangan besarnya. Membuat Aera mendongak mempertemukan mata mereka.
"Bukankah aku sudah bilang, kita akan menikah. Kamu pasti ingin menemukan pembunuh nenekmu dan menyeret Luisa untuk bertanggung jawab bukan? Aku akan memberimu kekuasaan untuk melakukannya."
'Bagaimana bisa dia_ Menebak keinginanku?'
Jantung Aera terasa akan melompat. Bukan hanya karena jarak mereka yang begitu intim di depan orang lain, tapi tatapan penuh Audric membuat ia terperangkap disana. Aera gelisah tapi juga gugup dan malu.
'Pria ini selalu menggoyahkanku, mulutnya sangat berbahaya.' ujarnya dalam hati.
"Le-lepaskan aku." pinta Aera.
Audric tersenyum, lalu menarik kembali kedua tangannya, dia berjalan menuju meja makan dan duduk disana. Senyum tipis menghiasi wajahnya seolah menikmati reaksi yang Aera tunjukkan. Wajah gadis itu memerah dan dia berjalan dengan wajah terganggu ketika duduk di sampingnya.
Harald mengutuk Audric dalam hati. Sementara Ivon membuang pandangannya dan Friedrick tersenyum penuh kehangatan melihat wajah tuannya yang terlihat senang.
"Kalian akan berdiri terus disana?" tanya Audric.
Semuanya akhirnya duduk, namun ada jarak antara mereka. Harald yang peka membuatnya begitu dan diikuti yang lainnya.
Makan malam segera dihidangkan. Setelah itu semua pelayan meninggalkan tempat dan hanya tersisa mereka berempat. Pintu juga ditutup rapat agar tidak ada yang mencuri dengar.
"Friedrick," panggil Audric.
"Ya, Tuan?"
"Kirim beberapa foto itu untuk mengguncangkan bibiku. Minta mata-mata kita disana untuk terus mengawasinya. Dia pasti akan membuat gerakan pertahanan. Dapatkan bukti apapun itu, kita harus mendapatkan pelakunya."
"Baik, Tuan."
"Bagaimana dengan Luisa?"
"Sepertinya dia mencoba membuat aliansi sebagai bentuk pertahanan. Dia bersama CEO Villar baru saja mengadakan pertemuan dua jam yang lalu." lapor Ivon.
"Tidakkah Anda ingin memanfaatkan Nona Rubelia, Sir?" tanya Harald dengan santai.
Mereka semua bicara sambil makan. Aera yang mendengar nama itu langsung tersedak. Audric langsung berdiri dan memeriksa keadaanya. Dia bahkan mengelap dagu dan area yang terkena percikan air minum Aera dengan lembut.
"Harald... Rasanya aku ingin menguburmu saat ini. Lihat apa yang kamu lakukan pada calon istriku."
"Maaf, Sir. Saya tidak berniat apapun. Maafkan saya Nona Aera."
Harald memang minta maaf, tapi senyum cerah diwajahnya membuat Aera kesal.
__ADS_1
'Apa-apaan dia?' kesal Aera dalam hati.
"Tapi apa maksudmu memanfaatkan Rubel?" Audric sudah kembali ketempat duduknya.
"Nona Rubelia adalah wanita yang selalu dikaitkan dengan Anda. Dengan kemunculan Nona Aera nanti, orang-orang pasti akan menduga dia dihianati. Nona Rubelia pasti tidak keberatan bergabung dengan mereka dan menggagalkan rencana mereka dari dalam."
"Kenapa dia tidak akan keberatan? Bagaimana kalian bisa melakukan hal itu?" tanya Aera, bagaimanapun dia merasa tidak adil jika Rubelia dimanfaatkan seperti itu.
"Nona, Nona Rubelia dan Tuan hanya berteman selama ini."
"Sejak kapan dia jadi temanku? Dia hanya rekan kerja." protes Audric atas penjelasan Friedrick.
'Apakah wanita itu bertepuk sebelah tangan? Apa mereka sungguh tidak sedekat yang aku bayangkan?'
Aera mengingat lagi pertemuan pertama mereka. Saat itu mereka terlihat seperti pasangan normal lainnya. Aera pikir saat itu Audric dan Rubelia menjalani perjodohan dengan baik.
"Apa yang sedang kaku pikirkan dengan kepala cantikmu itu?"
Aera melirik Audric sekilas lalu menggeleng pelan. Pria itu sudah selesai dan kini bertopang dagu dengan santai, menatap Aera dengan intens. Perubahan Audric membuat Aera cukup bingung, dahulu Audric hanya akan bersikap lembut padanya jika hanya berdua saja. Kini dia melakukannya terang-terangan.
"Besok ayo tunjukkan pada dunia. Aku ingin lihat reaksi para tua bangka itu." ujarnya.
"Tuan, Kalau mau pamer tidak sekarang. Anda hanya akan membahayakan Nona." sahut Harald.
"Siapa yang berani menyentuhnya saat dia bersamaku?"
"Benar juga, kota ini berada dalam kekuasaan Anda. Tapi, Sir! Apa ini benar-benar Anda? Anda sedang kerasukan dewa cinta atau apa? Lihat binar penuh pemujaan itu, anda akan melubangi wajah Nona!" Harald menunjukkan wajah pura-pura terkejut.
Ivon yang baru saja melihat sisi lain tuannya dan Harald seperti sedang melihat hantu. Dia bahkan lupa mengangkat sendoknya. Hanya terpaku pada mereka berdua dengan ekspresi syok. Sementara itu, Friedrick menghela napas. Dia juga terkejut tapi tampaknya dia tahu tujuan kedua orang ini. Melihat wajah Aera yang memerah parah, sudah jelas mereka berhasil.
"Tuan, apa anda serius dengan menunjukkan Nona besok?" tanya Friedrick.
Aera mengangkat kepalanya, menoleh pada Audric. Dia juga ingin tahu jawabannya.
"Ya, penting untuk mengubah opini orang-orang."
"Tapi bukankah nanti mereka akan mempertanyakan kemiripan Nona dan adik Anda."
Semua orang kini menatapnya dengan wajah serius. Tidak terkecuali Aera yang terlihat takut dan kawatir. Dia tidak suka jadi pusat perhatian.
"Saatnya memukul mundur adikku tersayang, kan? Dia harus tahu posisinya. Dia bukan lagi putri tersayang Martell. Ketika citranya menurun, maka akan mudah mengungkap kejahatannya."
Kini kedua mata itu menatap Aera, mata itu menerobos dinding ketakutan Aera dan menariknya keluar. Sampai-sampai Aera menurunkan pandangannya.
"Bukankah kamu sangat menjaga nama baik keluargamu?" tanyanya pelan.
"Aku sedang melakukannya, menyingkirkan yang busuk agar tidak menginfeksi yang lain juga bagian menjaga. Aku akan mendapatkan kemenanganku nanti."
Mendapatkan kemenangan nanti, Harald hanya menyeringai mendengar perkataan tuannya yang itu. Dia yang sudah melayani Audric sejak lama sangat paham apa yang dimaksud olehnya. Berbeda dengan Ivon dan Friedrick yang bingung seperti Aera, Harald memiliki cara berpikir yang nyaris sama dengan Audric, karena itu dia bisa mengambil keputusan dalam perusahaan dengan membawa nama Audric dibelakangnya. Sejauh ini, untuk urusan perusahaan, belum ada keputusannya yang membuat Audric kecewa.
'Nona, Anda sudah terjerat terlalu dalam.' ujar Harald dalam hati.
.
Keesokan paginya, Audric benar-benar menunjukkan Aera pada semua orang. Dia membawa Aera kedalam perusahaan saat bekerja, membawanya saat mengadakan pertemuan penting dan sorenya mereka menghadiri pernikahan salah satu CEO perusahaan dimana Martell menjadi pemilik saham terbesar. Puncak diperkenalkannya Aera pada publik.
Tentu saja mereka langsung menjadi pusat perhatian. Rubelia juga ternyata datang kesana. Pertemuan mereka langsung menjadi buah bibir.
"Ya ampun, aku merasa kepalaku nyaris bolong dengan tatapan mereka semua. Kenapa kamu tidak memberitahuku duluan? Setidaknya aku menyiapkan hati." ujar Rubelia.
Mereka sedang menepi diluar balkon gedung, Harald dan satu pengawal lain mengikuti dibelakang. Mereka berusaha menghalangi beberapa tamu untuk mengambil gambar, namun sayangnya mereka tidak benar-benar bisa menahan semua orang yang penasaran.
"Kenapa kamu malah kesini?" kesal Audric, dia menggenggam tangan Aera dengan erat.
"Aku hanya ingin menyapa, bagaimanapun aku ini mantan wanitamu."
"Ck, tutup mulutmu!"
"Hahahahaha! Kamu lucu sekali. Aera, tolong jangan marah. Aku hanya bercanda." kata Rubelia.
Aera memang bingung pada awalnya, tapi melihat interaksi mereka. Aera jadi yakin apa yang dikatakan Audric saat itu memang benar. Sepertinya mereka hanya rekan bisnis sekaligus teman.
__ADS_1
"Aku langsung dihubungi oleh ibuku saat media mulai ribut siang tadi. Aku langsung kelabakan tahu! Kamu benar-benar sialan! Harusnya beritahu aku agar aku bisa menjelaskan terlebih dahulu pada orang tuaku!" katanya lagi. Meski dia mengumpat namun Aera tidak melihat kemarahan disana.
"Kenapa aku harus memberitahumu, kita memang tidak punya ikatan apapun sejak awal."
"Ckckck! Pria ini benar-benar! Kamu pikir karena siapa kamu bisa terhindar dari antrian wanita-wanita gila itu?"
Audric mengangkat bahunya acuh. "Omong kosong, mereka memang tidak punya nyali mendekatiku karena masih sayang dengan nyawa mereka."
Setelah mengatakan hal itu, Audric mengutuk dirinya sendiri ketika menyadari ekspresi Aera yang berubah.
'Sialan, aku kelepasan.' umpatnya dalam hati.
"Aera, kenalkan aku Rubelia. Kamu bisa memanggilku Rubel. Kita pernah bertemu sebelumnya tapi tidak berkenalan secara resmi." Audric bersyukur Rubelia wanita yang peka.
Aera menatap tangan Rubelia dan segera melepaskan genggaman tangan Audric untuk membalas jabatan tangan itu. Membuat Audric mengerutkan keningnya sedikit.
"Nah, mari berteman." ajak rubelia dengan semangat.
"Dia ternyata ramah dan baik." gumam Aera setelah Rubelia pergi.
"Entahlah, Nona. Rubelia itu sedikit sulit ditebak. Tapi sejauh ini dia tidak merugikan Tuan. Dia sedang memperluas bisnis kosmetiknya, hati-hatilah. Dia suka wanita cantik dan wajah yang polos." lanjut Harald.
"Huh? Apa maksudmu?"
"Apa kakimu sakit? Tadi kamu terlihat sulit berjalan." tanya Audric mengalihkan pembicaraan.
"Tidak apa-apa. Aku hanya tertekan karena pandangan orang-orang. Aku juga tidak kenal siapapun."
Audric tersenyum dan mengusap kepalanya. "Kamu tidak perlu mengenal mereka. Bukan sesuatu yang penting untuk dilakukan." katanya dengan angkuh. Sesaat Aera lupa kalau pria dihadapannya ini memang seperti ini.
Setelah membalas sapaan beberapa orang yang menghampirinya, Audric segera mengajak Aera pulang. Namun saat hampir mencapai pintu keluar aula, mereka bertemu dengan orang yang mereka bicarakan kemarin. CEO Villar, bukan perusahaan yang bisa bersaing dengan Martell atau perusahaan pribadi milik Audric, namun dia membuat langkah kecil untuk menghalangi Audric demi sebuah perhatian khusus.
"Selamat malam, Tuan Martell. Saya terlambat datang, tapi apakah Anda sudah akan pergi? Bisakah kita bicara sebentar? Saya ingin membicarakan betapa tersinggungnya saya atas perilaku bawahan Anda."
Audric menatapnya dingin. Wanita ini bahkan tidak menatap Aera sedikitpun. Seolah dia tidak melihatnya disana sebagai pendamping Audric. Sungguh lancang dan membuat Audric mendidih. Namun dia harus tetap menjaga sopan santunnya. Bagaimanapun dia masih berada ditengah pesta orang lain. Sementara itu, Harald hanya memasang wajah datar dan tak peduli.s
"Apa Harald membuat Anda marah kemarin? Kalau begitu sekarang kita impas." jawab Audric.
Dia langsung berlalu dari sana dengan merangkul Aera dengan erat. Harald hanya memberi anggukan singkat dengan wajah tak peduli. Seolah mengatakan kamu bukan apa-apa untuk mengganggu kami. Membuat gadis itu mengepalkan tangannya dengan kuat, namun masih mempertahankan ekspresinya dengan tenang.
"Dia mengira Luisa bisa dijadikan pegangan, Harald lakukan dengan benar!" geram Audric ketika mereka sudah ada di dalam mobil.
"Maafkan saya, saya akan lebih berusaha." jawab Harald cepat.
Aera ingin bertanya siapa wanita tadi, kenapa Audric begitu kesal. Namun melihat wajah Audric dia sendiri menghawatirkan dirinya. Takut kalau dia yang akan terkena imbasnya.
"Sir, saya tahu Anda tidak menyukai kelancangan seperti itu. Tapi... Tolong tenangkan diri Anda." pinta Harald dengan berani, dia yang duduk di depan menoleh kearah Aera untuk memberikan kode.
"Aera, maaf membuatmu tidak nyaman." katanya setelah sadar.
"Huh? Ti-tidak apa-apa. Aku baik-baik saja."
"Kamu boleh marah padaku seperti kemarin, kamu juga boleh menegurku jika aku berlebihan. Aku tidak akan pernah marah padamu."
Mendengar hal itu, Aera menoleh. Menatap mata Audric yang terlihat bersungguh-sungguh. Dia jadi ingat ketika dia salah menuduh Audric atas kematian neneknya. Dia banyak berteriak dan marah. Tapi Audric tidak marah dan masih bersikap lembut saat itu. Mendengarnya mengatakan tidak akan pernah marah, entah kenapa membuatnya lega dan senang.
"Aku boleh marah padamu dimana saja?"
"Hmm."
"Walau menegurmu di depan banyak orang?"
"Ya, kamu boleh."
"Kamu tidak akan malu atau merasa harga dirimu terinjak?"
"Tidak kalau itu kamu."
Aera menunduk, dia bingung. Sungguh Audric terlihat banyak berubah sejak kembali dari Valencia. Meski begitu Aera tetap ingin waspada. Dia tidak ingin seperti dulu yang jatuh dalam kebohongan dan permainan pria ini. Walau Audric telah mengakui dan meminta maaf, tetap saja Aera harus berhati-hati.
"Baiklah," katanya, lalu dia membuang pandangannya kearah luar. Mengabaikan tatapan Audric padanya.
__ADS_1