BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)

BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)
Pesta


__ADS_3

Malam pesta yang ditunggu-tunggu akhirnya dimulai. Seluruh anggota keluarga Martell diatas 16 tahun diizinkan untuk datang. Hotel Wizard, tempat dimana acara akan diadakan telah dikosongkan dua hari sebelumnya. Hotel yang merupakan milik Martell dan dikelola oleh sepupunya dibawah pimpinan Audric.


Aula besar telah disiapkan untuk menampung ratusan orang yang akan hadir. Karena ini pertemuan besar, kepala keluarga kecil yang tersebar diberbagai wilayah dan negara juga datang.


Audric telah berpakaian rapi, namun saat ini dia masih berada dirumah kediaman karena terkait laporan Ivon dan Harald tadi malam. Sejak pagi mereka kembali memantau pergerakan pihak Luisa dan Isaac, namun tidak ada yang membuat kecurigaan.


"Acara akan dimulai satu jam lagi. Ini adalah daftar nama mereka yang ikut dalam pertemuan, juga mereka yang dicurigai terlibat secara tidak langsung, Tuan." lapor Ivon.


"Bagaimana kakimu? Bisakah kamu bergerak?"


Bergerak disini maksudnya memimpin pasukan pengamanan.


"Saya akan memantau dari dekat, tapi untuk pengamanan Nona, Max dan Jake akan bertanggung jawab." jawab Ivon.


"Tidak, aku tidak mempercayai mereka. Kamu harus mengutamakan keamanan Aera, tempatkan matamu baik-baik."


"Tapi target mereka adalah Anda," sanggah Ivon dengan nada kawatir, "Anda juga butuh pengamanan lebih."


"Tuan bisa melindungi dirinya dengan baik, kali ini Nona adalah target utama mereka. Mereka pasti akan mengincar kelemahan Tuan yang tidak pernah ada selama ini." sela Harald.


Ivon juga tahu hal itu, tapi mengingat lawan mereka bukan hanya Luisa, dia sedikit ragu hanya Aera yang akan jadi target. Jika rencana mereka gagal, sudah pasti Audric yang akan jadi sasaran pembunuhan.


"Aku tahu kekawatiranmu, mereka seperti merencanakan kudeta dengan mengadakan pertemuan dibelakangku. Hal ini bukannya tidak pernah terjadi. Ayahku pernah mengalami hal ini dua kali ketika dia baru saja duduk di kursi ini. Sejak dulu, selalu ada pihak yang ingin memecah keluarga ini dan membagi aset keluarga. Tampa mereka tahu tujuan sayap-sayap Martell dilebarkan kemana-mana oleh kepala keluarga terdahulu. Tujuan yang hanya dikatakan kepasa penerus, bahkan pasangan mereka tidak penah diberitahu."


Harald dan Ivon terdiam, dalam kepala mereka pertanyaan demi pertanyaan muncul. Tujuan sayap-sayap Martell, entah kenapa kalimat itu membuat mereka merinding sekaligus menaruh curiga.


"Tujuan... Apa itu terkait dengan dokumen rahasia yang hilang?" tanya Harald.


"Apa itu?" tanya Ivon yang baru saja mendengar tentang hal itu.


"Entahlah, bagaimana menurutmu, Harald? Bukankah kamu sekretaris dan asistenku yang paling hebat? Apakah kepintaran yang selalu kamu banggakan itu benar adanya? Tebaklah." ejek Audric yang sukses membuat Harald kesal.


"Bagaimana saya berani menebak hal seperti itu, Tuan..." jawab Harald menahan jengkel dengan senyum terpaksanya.


"Tentang Dimitri dan dua saksi itu, apa mereka perlu disiapkan?" tanya Ivon.


"Ah, penghianat itu. Dia tidak akan mau membuka suara." keluh Harald.


"Dia terlihat pasrah tapi penuh dendam. Mungkin... Mungkin Nona bisa membujuknya untuk bersaksi tentang percobaan pembunuhan adik Anda." ujar Ivon dengan ragu-ragu.


"Kamu serius? Salah satu penyebab Tuan bermasalah dengan Nona adalah mulut sialannya." kesal Harald.


"Diamlah, lupakan bajingan itu. Aku tidak membunuhnya karena dia bisa masih berguna. Tentang dua saksi itu, rekaman pengakuan mereka sudah cukup. Untuk saat ini tetap kurung mereka." perintah Audric.


.


Aera cemas, entah kenapa perasaannya tidak enak sama sekali. Seolah dia akan pergi ke medan perang. Walau faktanya memang begitu, namun ada sesuatu yang terasa berbeda.


"Nona, sebaiknya Anda turun sekarang." ujar Olivia.


"Dimana Audric?"


"Beliau masih berbicara dengan tuan Ivon dan Harald diruang sebelah."


"Nona, bisakah kita bicara sebentar?"


Ivon berdiri di depan pintu. Olivia segera keluar setelah Aera mengangguk.


"Tuan sedang memeriksa persiapan para pengawal. Saya ingin menyerahkan sesuatu pada Anda."


"Dia... Memeriksanya langsung? Bukankah kamu sudah mengatur dan memeriksanya dengan baik?" tanya Aera.


"Tuan ingin memeriksa sendiri siapa saja yang akan mengawal Anda, baik di dekat maupun dari jauh. Beliau ingin memerintah secara langsung, hal itu berguna untuk memberikan mereka peringatan langsung untuk benar-benar mempertaruhkan apapun demi keamanan Anda." Ivon berjalan mendekat, lalu menyerahkan sebuah pena. "Ini adalah senjata darurat, Anda bisa menggunakannya saat terdesak."


"Pena?"


"Bukan, ini seperti pensil dengan isi ulang. Jika anda membuka kait ini dan menekan tombol atas, sebuah jarum akan keluar. Jarum itu telah diberi racun."


Aera langsung menatap Ivon dengan terkejut dan sorot wajah penuh penolakan.

__ADS_1


"Kamu menyuruhku membunuh orang?"


"Mana mungkin, saya tahu Anda tidak akan mau melakukan hal itu. Karena itu saya tidak memberikan Anda pistol. Itu hanya racun yang akan melumpuhkan saraf. Akan sembuh setelah beberapa hari, jadi jangan kawatir."


"Benarkah? Wah... Dimana kamu mendapatkan benda ini?"


"Saya membuatnya sendiri."


"Huh? Kamu membuat senjata juga? Apa kamu terlibat dalam pembuatan senjata Martell?"


Ivon terdiam sejenak, dia mengalihkan pandangannya dan menggosok lehernya dengan canggung.


"Itu... Saya memang pernah belajar membuat senjata, tapi saya tidak bekerja di perusahaan. Saya tidak membuat senjata, itu saya buat khusus untuk Anda karena Anda tidak suka melukai orang lain."


Tentu saja Aera terkejut. Orang yang selama ini menunjukkan keengganan padanya melajukan sesuatu yang tulus seperti ini, membuatnya sedikit terharu.


"Sebaiknya kita turun sekarang, Tuan juga pasti sudah selesai." ujar Ivon dan berbalik dengan cepat.


"Terima kasih, aku akan menjaga dan menggunakannya dengan baik."


Ivon tidak menjawab, dia hanya tersenyum dan melanjutkan langkahnya.


Setibanya di halaman depan, tepat dibawah tangga menuju pintu utama, Audric telah menunggunya. Olivia membantu Aera turun karena gaunnya yang sedikit berbahaya untuk menuruni tangga.


Aera melihat mobil yang berjejer di depan dan belakang mobil yang akan mereka gunakan. Tidak menyangka Audric menyiapkan sebanyak ini.


"Ric, mereka... "


"Hanya beberapa yang akan mengikuti kita, yang lain akan berada di dekat lokasi untuk bersiaga."


"Oh, baiklah."


Ragu-ragu, Aera menoleh pada Ivon dan Harald yang berada di mobil lain. Jake dan Max yang akan satu mobil dengan mereka.


"Bukankah Aera terlihat sedikit aneh?" ujar Harald.


Dia satu mobil dengan Ivon yang sedang memantau setiap pergerakan bawahannya. Karena begitu mereka keluar dari area kediaman Martell, mereka langsung menyebar. Ada yang menjaga jarak, duluan, dan sebagian lain mengejar beberapa penguntit yang terdeteksi.


"Wah, mereka gigih ya." respon Harald dengan nada malas.


"Dua motor dibelakang kita."


"Ck, baru juga keluar."


Harald mengeluarkan dua pistol, Ivon menatap mobil di depan mereka dengan kawatir.


"Sam, buat mereka kesulitan mendahului kita." perintah Ivon pada pria yang mengemudikan mobil.


"Hubungi polisi." suruh Harald.


"Polisi? Tidak! Mereka hanya akan mengganggu." tolak Ivon.


"Ck, itu lebih baik dari pada membunuh dijalanan. Kamu mau membuat Tuan marah?"


"Sejak kapan Tuan akan marah..." ketika Ivon mengingat Aera, dia langsung menutup mulutnya.


"Kalau sudah mengerti lakukan itu." kekeh Harald, dia terlihat puas melihat Ivon yang harus menahan diri.


"Haruskah aku mengajari Nona membunuh musuh?" gumamnya.


"Lakukan saja kalau kamu punya sembilan nyawa." ejek Harald.


"Tapi sepertinya mereka juga menahan diri. Mereka hanya mengikuti kita sejak tadi tampa melakukan penyerangan."


"Benar, bukankah sedikit aneh?"


"Haruskah kita menyingkirkan mereka saja?"


"Aku akan menghubungi Tuan dulu." kata Harald.

__ADS_1


Sementara itu, Audric yang mendapat telepon langsung memberikan perintah.


"Jatuhkan motornya. Ada dua juga di sebelah kanan apa kalian tidak lihat. Jangan membuatku berkeringat sebelum selesai acara, aku ingin menjernihkan pikiranku." katanya datar.


Berkeringat yang dimaksudkan Audric adalah, jangan sampai dia harus ikut turun tangan menghadapi mereka. Dia tidak ingin gangguan kecil seperti itu mengusiknya.


"Apa sesuatu terjadi?" tanya Aera.


"Ya, beberapa orang mengikuti kita. Jangan kawatir, tampaknya mereka menunggu kesempatan. Mereka akan mengatasinya."


Audric menggenggam tangan Aera, namun satu tangan lain sibuk memeriksa ponselnya.


"Apa mereka dikirim oleh Luisa?"


"Hmm, mungkin."


"Ric... Jangan menembak mati..."


"Tidak, mereka hanya akan dibuat jatuh." jawab Audric cepat. 'Meskipun aku lebih senang jika mereka mati. Tapi membuat kekacauan dijalan bukan cara Martell.' lanjutnya dalam hati. Kemudian dia fokus pada ponselnya.


Melihat Audric yang sibuk dengan ponselnya, Aera sedikit kesal. Dia cemas, tapi Audric terlihat sangat santai.


"Ya, aku sudah memeriksa data yang kamu kirim. Tahan dulu, gerakan mereka mencurigakan. Ini bisa saja rencana untuk membuatku keluar dan menunjukkan identitasku."


Audric sedang berbicara ditelepon dengan Rupert.


"Selidiki keadaan wayah itu diam-diam. Sepertinya ada yang tidak beres terjadi disana sehingga dia ingin menyerahkan wilayah itu padaku sebagai pertukaran uang yang mereka minta." lanjutnya.


Audric menoleh pada Aera yang kini menarik tangannya. Menyadari wajah Aera yang terlihat tidak baik, dia segera menutup teleponnya.


"Laporkan padaku segera hasil penyelidikanmu."


Audric menyimpan ponselnya. Baru saja dia akan bertanya sebuah benda menghantam mobil mereka sehingga menimbulkan getaran hebat.


"Maaf, Tuan. Sebuah motor yang dilumpuhkan kehilangan kendali dan mengarah pada kita. Anda dan Nona baik-baik saja?" tanya Max, dia yang menyetir mobil.


Tabrakan motor itu berasal dari samping sebelah Audric duduk. Bersyukur mobil yang mereka gunakan telah dirancang untuk mengatasi benturan dan menahan tembakan dari luar.


Audric menyeringai, Aera sendiri sudah sangat cemas. Namun gadis itu tetap diam dan berusaha menenangkan diri. Kenangan neneknya yang ditembak saat mereka diserang, kembali menghantuinya. Dia tidak ingin melihat orang mati di depannya lagi.


Setelah gangguan itu berhasil diatasi, mereka akhirnya sampai di hotel walau sedikit terlambat.


Memasuki aula pertemuan, semua orang yang tadi berbicara langsung diam. Semua mata mengarah pada mereka. Keheningan yang tercipta membuat suara sepatu keduanya menggema. Menciptakan suasana tegang pada semua orang.


Ketika sampai di tempat duduk khusus pemimpin keluarga Martell, Audric mengangkat tangannya sekali untuk memberi isyarat agar Harald, orang yang akan memimpin acara ini memulai acaranya.


Aera duduk di kursi yang telah disiapkan untuknya, hanya beberapa langkah dari kursi Audric yang berada ditempat yang lebih tinggi. Aera bisa merasakan punggungnya terasa dipukul oleh ratusan mata yang mengarah padanya.


Meski Max dan Jake berdiri di sisi kiri dan kanannya, itu tidak membuatnya tenang sedikitpun. Disebelahnya, Aera melihat meja panjang yang berisi orang yang lebih tua dari yang lain. Mereka terlihat sangat berwibawa. Sama sekali tidak melirik Aera, mereka tampak serius mendengarkan Audric yang kini berdiri dan bicara.


"Nah, mari kita mulai perang ini."


Sebuah suara yang cukup jelas bisa di sengar dari posisinya duduk. Hanya berjarak tiga langkah, Aera menoleh ke kirinya, dimana seorang pria seumuran Audric juga menatapnya. Tersenyum namun sorot matanya sangat berbahaya.


"Dia..."


"Dia adalah Isaac, sepupu tuan, Nona." bisik Max.


Aera mengalihkan pandangannya dengan cepat. Nama yang pernah ia dengar sebelumnya. Orang yang kemungkinan disiapkan Luisa.


Aera menatap Audric yang ternyata sejak tadi hanya memperhatikannya. Dia tersenyum kecil ketika Audric selesai mengucapkan kalimat sambutan. Semua cukup tenang karena Audric tidak membahas penyerangan dijalan tadi.


"Sekarang, saatnya aku memperkenalkan calon pendampingku pada kalian semua." ujar Audric.


Audric mengangkat tangannya, seolah menyuruh Aera menyambutnya segera. Aera berdiri, tangannya langsung berkeringat karena gugup. Tapi dia berusaha setenang mungkin.


"Terima kasih atas kesempatan ini, perkenalkan... Saya Aera. Senang bertemu dengan semua anggota keluarga Martell."


Aera melakukan salam selayaknya bangsawan eropa yang pernah ia pelajari ketika berpura-pura menjadi Luisa. Terlihat sangat anggun dan cantik.

__ADS_1


"Sebagai perwakilan tetua dan anggota tertua keluarga ini, aku pribadi menyambutmu. Tapi banyaknya seruan yang disampaikan padaku, tampa mengurangi hormat pada Anda, pemimpin keluarga, saya ingin Nona menjelaskan asal usulnya."


__ADS_2