BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)

BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)
Luisa vs Aera


__ADS_3

Kehebohan di istana begitu terasa. Meski berita tidak sampai keluar, Semua orang merasakan ketegangan yang ada. Hal itu terjadi ketika hasil pemeriksaan belum keluar.


Ketika dokter selesai memeriksa dan memastikan hasilnya, barulah ketegangan mereda. Hal yang dianggap tindak penyerangan pada Ratu berubah menjadi hal yang membahagiakan.


"Katakan sekali lagi." suruh Audric, wajahnya luar biasa terkejut.


Dokter itu tersenyum, begitu juga tenaga medis lain yang berada disana.


"Yang mulia, Yang mulia ratu sedang mengandung penerus Anda. Umur kandungannya masih tiga minggu. Anda harus sangat berhati-hati karena ini kehamilan pertama. Saya menyarankan agar Yang mulia dibawa kerumah sakit untuk pemeriksaan lanjutan untuk memastikan kondisinya."


Tampa sadar Audric tersenyum lebar. Dia menatap Aera dengan penuh cinta.


"Ivon, kabari Harald untuk membatalkan semua jadwalku hari ini dan besok. Kalian semua bisa keluar sekarang."


Audric naik ke atas kasur. Menggenggam tangan Aera dan mengelus wajahnya yang masih pucat.


"Apa kamu sangat kesusahan? Apa yang bisa aku lakukan?"


Aera bersandar di dada suaminya. Meski lemas dan sebelah tangannya dipasangi impus. Aera merasa tenang ketika mendengar detak jantung Audric.


"Kita akan memiliki anak. Aku... Akan jadi seorang ibu. Ric, aku tidak tahu akan secepat ini. Apa dia akan baik-baik saja memiliki ibu sepertiku?"


"Apa yang kamu cemaskan? Kamu akan jadi ibu terbaik." jawab Audric.


Aera tersenyum, dia memainkan jari-jari Audric yang ada dipangkuannya. Entah karena lelah atau pengaruh obat, dia merasakan kantuk yang luar biasa.


"Ric, jaga anak kita. Aku takut musuh-musuh kita mengambilnya."


Audric terdiam, ketika mendegar suara dengkur halus istrinya, dia segera membaringkan Aera dengan benar. Mencium kening istrinya dan ikut berbaring disampingnya.


"Aku pasti akan menjaga kalian." janjinya.


Situasi mereka saat ini memang belum kondusif untuk memiliki anak. Tapi Audric tidak mempermasalahkan hal itu. Dia dengan sangat yakin bisa mengatasi musuh-musuhnya yang ingin menghancurkannya.


Sadar Aera akan menjadi kelemahan terbesarnya, dia langsung menyusun rencana pengamanan sampai Aera dalan kondisi yang lebih baik.


.


Meski kabar kehamilan Aera belum diberitahukan ke publik. Namun kebocoran informasi tidak bisa dielakkan.


Luisa yang mengetahui kabar itu, langsung tersenyum senang. Setelah pemisahan yang dilakukan Audric dalam keluarga Martell, Luisa juga kehilangan pengaruhnya. Bahkan semua keluarga menarik diri karena Luisa mendapatkan kehormatan khusus sebagai adik Raja dan memiliki darah Raja terdahulu. Aturan keluarga Martell yang dulu membatasinya tidak berlaku lagi.


"Aku juga perlu menyusun rencana, kan? Sudah cukup duduk tenangnya." gumamnya.


.


Aera tidak bisa melakukan apapun seminggu ini, dia terus muntah dan merasa mual. Suasana hatinya selalu buruk dan dia menjadi banyak diam.


Audric yang selalu sibuk, hanya ada saat malam hari. Ini membuat keadaannya semakin buruk. Aera tidak memiliki siapa-siapa kecuali Olivia sebagai pelayannya.


Aera melirik pintu kamarnya. Terdengar pembicaraan kecil disana. Dia masih dipasangi selang infus. Duduk dikasur dengan keadaan lemah.


"Oliv."


"Ya Yang mulia."


"Kenapa disana sangat berisik?"


Olivia yang sedang memijit kakinya segera bangun. Berjalan kearah pintu dan membukanya.


"Ada apa? Yang mulia mendengar kebisingan kalian."


Seorang pengawal wanita, dan dua pengawal yang memang berjaga disana. Mereka terlibat perdebatan kecil perihal izin untuk menemui ratu mereka.


"Saya ingin menyampaikan pesan, tapi dua pengawal ini mencegah saya."


"Pesan?"

__ADS_1


Olivia menoleh kedalam. Menatap Aera yang kini membuang pandangannya kearah jendela yang tirainya dibuka.


"Pesan apa?"


"Beliau memiliki tamu yang ingin bertemu."


"Sangat tiba-tiba, siapa memangnya?"


"Nyonya Ackerman, adik dari Raja dan Nyonya Ivana Martell, bibi Raja."


'Apa yang dilakukan sekretaris istana? Bukankah harusnya dia menangani hal ini? Kepala keamanan Ratu juga kemana?'


"Dimana kepala keamanan?" tanya Oliv.


"Sedang menghadapi mereka."


"Jadi begitu."


Olivia mengerti, mereka terdesak oleh pengaruh oligarki. Olivia menutup pintu kembali dan menghadap pada Aera.


"Hah... Aku tidak ingin menemui mereka, tapi aku harus, kan? Karena bisa memicu gosip keretakan hubungan keluarga." kata Aera dengan wajah malas.


"Suruh mereka kesini."


"Ya? Tapi berbahaya..."


"Aku tidak ingin bergerak."


"Baik, Yang mulia."


Mereka tidak datang sendiri. Kepala keamanan yang sebenarnya adalah bawahan Ivon di pasukan Martell terdahulu, telah melapor padanya.


Sehingga Ivon langsung bergerak dan memerintahkan pengamanan ketat disekitar Aera. Ivon juga tidak membiarkan Aera berbicara sendirian dengan mereka meskipun Ratu sendiri yang meminta.


Seperti saat ini, baru saja mereka masuk, Luisa sudah meminta privasi. Tentu saja langsung sitolak oleh kepala keamanan.


"Yang mulia, apakah Anda berpikir saya juga berbahaya? Kami hanya datang berdua dan telah menjalani pemeriksaan ketat. Saya perlu berbicara secara pribadi dengan Anda." kata Luisa.


"Adikku, tentu saja aku percaya padamu. Begitu juga pada Bibi. Tapi ini perintah mentri, bagaimana aku bisa mengganggu pekerjaannya? Anggap saja mereka tidak ada. Atau kamu bisa menulisnya."


Luisa tampak geram, berbeda dengan Ivana yang duduk dengan sangat diam. Entah apa yang dia pikirkan saat ini.


"Sudahlah, aku bisa menyampaikannya lain kali. Kami kesini hanya ingin menyampaikan selamat atas kehamilan Anda. Kami ikut berbahagia dengan hadirnya penerus kerajaan."


Aera masih tersenyum. Setelah pertemuan terakhir ketika pesta yang berakhir kacau, ini adalah pertemuan mereka yang pertama setelah Aera menjadi Ratu.


"Ya ampun, jika itu benar-benar penting. Aku bisa memberikan nomor pribadiku. Kita bisa mengobrol, berbicara dengan adik ipar pasti menyenangkan."


Aera tahu Luisa benci sikap seperti ini. Karena itu Aera menunjukkannya. Sikap baik seolah-olah mereka tidak memiliki dendam apapun. Hubungan antar keluarga yang harmonis. Dulu, Luisa sering melakukannya. Sampai dia memaksa Aera menjadi dirinya dan melakukan drama yang membawanya ketempatnya saat ini.


"Tentu saja, pasti menyenangkan. Saya juga sudah membawakan vitamin terbaik untuk calon keponakan saya. Saya harap, Anda menyukainya Yang mulia." jawab Luisa.


Senyumnya terlihat alami meski Aera tahu itu hanya pura-pura.


Obrolan itu berakhir lebih cepat. Luisa bahkan mengucapkan maaf dan mengungkapkan penyesalan akan apa yang telah Aera alami karena dirinya.


Aera membiarkan Luisa memeluknya walau dia menduga semua kesedihan diwajahnya saat ini hanya sebuah sandiwara.


Setelah kepergian mereka, Aera merasa lebih lemah dari sebelumnya. Tenaganya terasa terkuras habis ketika menghadapi adik tirinya itu.


.


Audric yang menerima laporan ketika dia sedang di luar negri, memutuskan mempercepat jadwalnya. Dia pulang dimalam hari dan sampai di istana setelah tengah malam.


Audric membuka kamar tidur mereka. Menghampiri Aera yang sedang tertidur. Mencium keningnya sebelum masuk ke dalam kamar mandi. Dia melarang pelayan menyiapkan air mandi karena tidak ingin mengganggu Aera. Sehingga dia harus melayani dirinya sendiri.


Usai mandi, Audric terkejut karena Aera telah duduk di kasur. Lampu kamar juga sudah menyala.

__ADS_1


"Apa aku membangunkanmu?"


"Aku belum tidur terlalu pulas. Aku sudah bangun saat kamu menciumku."


Audric tersenyum, lalu ikut duduk di sebelah Aera. Padahal dia masih mengenakan baju handuk.


"Kamu pulang lebih cepat, karena kedatangan Luisa?"


"Hmm, Aku kawatir padamu."


"Dia bilang dia menyesal tentang semua yang dia lakukan padaku. Dia juga minta maaf dengan wajah sedih."


Audric merangkul bahunya dan menarik Aera dalam pelukannya.


"Jadi bagaimana menurutmu?"


"Entahlah, haruskah aku maafkan?"


"Kamu bilang balas dendam yang paling baik adalah membuat mereka menyesal."


Aera tersenyum tipis. Jarinya memainkan dagu Audric dan dia mendongak.


"Tapi aku tidak melihat ketulusannya. Jadi belum bisa dikatakan sukses balas dendam."


Aurdric meraih jemari itu dan menciumnya. Kemudian mereka mencurahkan kasih sayang dengan ciuman-ciuman yang lembut.


"Bagaimana dengan mualnya?"


"Terasa lebih baik saat aku memelukmu."


Audric terkekeh, dia sangat mengerti apa maksud dibalik kalimat manis itu.


"Aku akan menemanimu seharian besok. Aku akan menyuruh perwakilan untuk acara yang harus dihadiri. Tapi untuk dua rapat, aku tidak bisa meninggalkannya. Ini terkait perusahaan dan Martell."


"Bolehkah aku ikut rapatnya?"


"Apa tidak memberatkanmu?"


"Aku ingin ikut."


"Tentu saja, kamu bisa ikut kapanpun itu."


Aera tidak mengerti kenapa rasanya dia sangat ingin menempel terus pada suaminya. Seminggu ini dia juga merasakan hal itu, tapi karena jadwal Audric yang tidak bisa ia ikuti karena fisiknya, dia menjadi dalam suasana hati yang buruk sepanjang hari.


.


Paginya, setelah sarapan. Mereka menerima undangan. Itu adalah undangan pesta dari pamannya Abert.


"Ulang tahun pernikahan. Aku lupa tentang pelayan dan pembunuh bayaran itu. Dimana mereka?" tanya Audric.


"Dipenjara kediaman Martell."


"Mereka tidak di dakwa di persidangan saja?" tanya Aera.


"Nanti saja, mereka lebih aman disana. Bibiku pasti masih mencari pelayannya. Saksi atas perselingkuhannya."


Aera mengingat Ivana yang banyak diam saat menemuinya kemarin.


"Sepertinya dia masih dibawah bayang-bayang Luisa."


"Bibiku?"


"Ya, Luisa tahu cara memperalat orang lain."


"Itu artinya dia bisa saja merencanakan sesuatu. Undangan itu, sebaiknya Anda abaikan." kata Harald.


Aera dan Audric bertukar pandang.

__ADS_1


"Bagaimana kalau begini?"


Aera mengatakan rencana yang tiba-tiba muncul begitu saja dikepalanya setelah menyuruh semua pelayan dan pengawal berdiri jauh diluar jarak dengar.


__ADS_2