BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)

BROTHER LOVE ME(Aku Bukan Adikmu!)
Eksekusi


__ADS_3

Aera sedang bermain bersama anaknya ketika Dimitri menghampirinya dan memberikan sebuah kabar bahwa Luisa telah ditangkap.


"Dimana Baginda saat ini?"


"Beliau langsung menuju penjara bawah tanah." jawab Dimitri.


"Ayo kesana."


Aera berjalan secepat yang dia bisa menuju mobil. Cukup memakan waktu antara istana utama dan kediamannya meski masih berada dalam satu area yang sama.


Sesampainya disana, Aera melihat Audric sedang mencekik leher adiknya. Entah apa yang mereka bicarakan sebelumnya, tapi Aera yakin hal itu memancing amarah Audric.


"Ric, hentikan! Dia akan dihukum besok, tidak perlu mengotori tanganmu lagi." ujar Aera dengan cukup tegas setelah dia berada dibelakangnya.


"Jangan mengasihaninya, Aera. Dia hanyalah penjahat yang ingin membunuh putra kita."


"Ric, kumohon." suara Aera menjadi lembut dan dia menyentuh bahu Audric saat mengatakannya.


Audric akhirnya melepaskan Luisa, lalu segera berbalik dan membawa Aera keluar dari penjara. Pintu penjara kembali dikunci. Disana, Aera bisa melihat dengan jelas, Luisa, Abert dan istrinya Ivana, kaki dan tangan mereka terikat dengan rantai yang tersambung kedalam dinding beton yang dingin.


Disamping mereka, ada penjara lain tempat pelayan, prajurit, pria pembunuh bayaran dan orang-orang yang berada dipihak Luisa untuk membantunya kabur. Terikat dengan rantai yang saling menyambung satu sama lain.


"Aku harap kamu merenungi kesalahanmu dan bertaubat sebelum mati." kata Aera, menatap Luisa dengan datar. Sebelah tangannya masih digenggam erat oleh Audric yang berdiri disampingnya.


"Hihihihihi! Bahkan setelah semua yang aku lakukan padamu, kamu masih punya belas kasihan. Kakakku yang seperti malaikat." kata Luisa sambil tertawa cekikikan.


"Jangan salah paham, aku melakukannya sebagai manusia sosial lainnya."


"Tidak, Kamu melakukannya karena kasih sayang saudara, bukan? Karena itu kamu menghentikan Kakakku saat dia ingin menyiksaku. Bagaimanapun kita adalah saudara dari ibu yang sama. Kamu pasti punya penyesalan kan? Menghukum saudaramu sendiri? Kalau nenek yang kamu sayangi itu masih hidup, apa yang akan dia katakan padamu? Hmm? Aku penasaran saudaraku."

__ADS_1


Cukup lama Aera terdiam, membiarkan Luisa bicara dan mengejek seakan hatinya sangat lemah akan kasih sayang dan rasa kesepian akan keluarga.


"Tidak, aku menghentikan Ric bukan karena kasihan padamu. Aku melakukannya karena Ric ayah dari anakku." jawab Aera dengan tenang.


Luisa terdiam sesaat. Lalu ketika dia memahami maksud kalimat itu, dia tertawa dengan keras.


"Hahahahaha! Naif seperti biasanya. Menutup mata akan darah yang tertumpah sejak dulu dan berpura-pura menjadi raja yang baik demi cerita kecil untuk anak-anak, sangat munafik! Audric telah berlumuran darah sejak dia menjadi penerus." ejek Luisa.


"Munafik? Tapi Luisa, bukankah kita terkadang memang begitu? Tidak apa-apa menutup mata akan masa lalu dan meninggalkannya disana. Karena yang kita punya adalah saat ini dan masa depan. Kita tidak bisa terus menyesali masa lalu, karena waktu tidak akan pernah berulang."


Aera mendongak, lalu tersenyum pada Audric. Mereka memutuskan pergi dari sana ketika melihat Luisa tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun lagi. Sepertinya jawaban Aera membuatnya menyadari bahwa saat ini dia telah kalah.


Kini, Luisa menatap lantai dingin disana dengan air mata yang dingin. Setelah langkah kaki tidak terdengar lagi, Luisa akhirnya sadar bahwa sejak awal dia sebenarnya tidak sendiri. Tapi dialah yang membuat akhir menyedihkan untuk dirinya sendiri.


Rasa sesak menghantamnya begitu kuat. Sampai-sampai sejak tadi dia tidak menyadari entah seberapa banyak air mata telah tertumpah.


"Menyesal? Tidak! Aku tidak menyesal. Aku tidak MENYESAL!" teriak Luisa.


Tapi penyesalan itu tidak berguna saat ini. Baik Audric dan Aera tidak akan memberikan mereka kemurahan hati karena berani bermain dengan nyawa pangeran yang begitu disanyangi oleh mereka.


.


Paginya, suasana suram menyelimuti tempat yang dijadikan eksekusi para tahanan hukuman mati. Seluruh pejabat tinggi negara, para bangsawan yang memimpin wilayah dibawah kekuasaan kerajaan, berdiri menghadap kesatu arah.


Berbagai ekspresi ditunjukkan masing-masing wajah. Tapi kebanyakan dari mereka, menunjukkan rasa takut dan kawatir. Bagaimanapun, narapidananya adalah orang yang memiliki ikatan darah dengan raja mereka. Ini menunjukkan bahwa Audric adalah raja yang tidak mengecualikan siapapun. Kekuasaan, pengaruh bahkan ikatan darah, tidak berguna sama sekali.


Luisa, Abert, Ivana dan sejumlah tahanan lain dibawa dengan tangan dan kaki terborgol rantai. Mereka dikumpulkan berjejer ditengah. Regu penembak masuk dan berdiri dibelakang kepala masing-masing narapidana. Berdiri dengan senjata siap ditangan mereka.


Audric datang bersana Ivon sebagai pemimpin tertinggi pasukan. Dia duduk dengan wajah dingin disinggasana yang telah disiapkan. Melihat tiga wajah yang kini menunduk dihadapannya itu dengan penuh kebencian.

__ADS_1


"Sayang sekali kan? Padahal kalian bisa hidup nyaman jika tetap tenang. Kalian tahu aku tidak punya belas kasihan, tapi beraninya kalian merencanakan pembunuhan pada anak yang susah payah dilahirkan istriku, penerusku yang berharga." kata Audric.


Setelah perkataan itu, tangis mereka pecah dan suara-suara penuh permohonan untuk diampuni bergema. Semuanya minta ampun dan minta dikasihani, kecuali Luisa. Wanita itu malah tertawa terbahak-bahak seperti orang gila.


Ketika Audric mengangkat tangannya, serentak pistol diarahkan pada kepala mereka dan ketika tangan Audric turun, tembakan dilepaskan. Semuanya mati ditempat dengan darah menggenangi kepala mereka yang roboh ketanah.


Audric berdiri dari duduknya, lalu menatap kerumunan pejabat tinggi dan bangsawan yang langsung menunduk dengan penuh rasa takut.


"Lihatlah, wajah-wajah yang biasanya penuh kesombongan disana, kini mereka seperti tikus yang terkena jerat." kata Audric.


Ivon melihat arah pandang Audric, meski mengarah pada kerumunan, tapi Ivon tahu pada siapa perkataan itu ditujukan. Mereka adalah para tetua yang masuk dalam faksi bangsawan karena keturunan Martell. Tapi pengaruh mereka tidak berguna saat ini karena Audric membuang mereka. Lalu ada beberapa pemimpin wilayah yang sebelumnya menghina dan keragukan Aera, juga terlihat menunduk dengan takut.


Audric langsung menemui Aera yang memang sedang menunggunya. Aera tidak ingin melihat eksekusi dilakukan, karena itu dia berkata akan menunggu Audric di ruang kerjanya.


Ketika langkah kaki terdengar dari kejauhan, Aera berdiri. Matanya sudah berkaca-kaca. Orang yang telah menyebabkan penderitaannya, yang memulai segala hal tentang hidupnya disini, telah mati. Orang yang telah membunuh neneknya, wanita tua yang amat dicintai oleh Aera, kini akhirnya menerima balasannya.


Segala emosi meledak saat ini dalam dirinya. Jauh dalam lubuk hatinya, Aera menyadari bahwa Luisa benar soal hatinya yang lemah. Karena saat ini dia tetap merasakan kesedihan dan penyesalan pada satu-satunya saudara sedarah yang ia miliki.


Ketika pintu terbuka, Aera langsung berlari dan masuk kedalam pelukan Audric. Harald yang berada diluar sejak tadi dan Ivon yang mengikuti Audric, keduanya mundur dan menutup pintu. Membiarkan keduanya menyelesaikan emosi yang tersisa.


"Padahal kami tidak pernah hidup bersama, tidak pernah satu kalipun duduk berdua dan saling menyapa dengan ramah." suara Aera serak, Audric mengelus rambut dan punggungnya dengan lembut.


"Seandainya nenek masih ada, apa dia akan menyetujui kematiannya? Dia membunuh nenek dan hampir membunuh anakku. Ini tidak salah kan, Ric? Katakan padaku aku bukan wanita kejam yang menghukum saudaranya sendiri dengan kematian."


Aera masih menangis tersedu-sedu. Bukan hanya Aera, Audric juga merasakannya. Penyesalan karena keadaan mereka yang memaksa ini. Tapi Audric yang sejak awal tidak memiliki hati yang lembut, tidak merasa tersiksa seperti Aera.


"Akulah yang memutuskan hukuman, jangan menyalahkan dirimu. Dia pantas mendapatkannya atas kejahatan yang ia lakukan. Jika kamu bersikap lembut, dia juga tidak akan berterima kasih. Jadi sekarang kamu tidak perlu menyesali apapun. Sejak awal kamu adalah korbannya."


'Dan juga korban akan keegoisanku dulu.' lanjut Audric dalam hati.

__ADS_1


Aera berhenti menangis. Setelah itu mereka bicara dan melepaskan segala emosi yang tersisa. Aera tertidur dipangkuan Audric. Audric mencium wajahnya yang sembab beberapa kali sebelum dia menggendong Aera. Berjalan keluar menuju mobil dan kembali ke istana yang kini ditempati Aera, tempat yang sama dimana dia juga sering tidur disana.


"Setelah pangeran cukup besar, kamu harus kembali ke istana utama bersamaku, sayang." kata Audric setelah menyelimuti Aera.


__ADS_2