
Hari pernikahan yang sudah dijadwalkan akan segera tiba. Acara akan diadakan dikediaman keluarga Martell. Semua orang sudah mulai sibuk empat hari sebelumnya. Aera juga berhenti dari semua aktifitas belajarnya.
Pada malam terakhir, Aera berbicara dengan Adolf tentang sebuah permintaan yang telah Audric sampaikan ketika pertemuan keluarga. Mereka menemukan kesepakatan yang terpaksa Adolf setujui.
Kini, mereka sedang berdiri di depan pendeta. Mengucapkan janji suci untuk menyelesaikan prosesi ini.
Aera masih memegang tangan Audric yang berperan sebagai walinya, berdiri di depan Adolf yang mengulurkan tangannya. Audric menatap Adolf dengan datar.
"Jangan kecewakan adikku, dia adalah hal yang paling berharga dalam hidupku."
Seluruh tamu undangan tampak terharu, berbeda dengan keluarga utama dan beberapa orang yang tahu seperti apa hubungan mereka, alih-alih terharu, mereka malah merasa merinding dengan senyum lebar diwajah Audric.
"Tentu saja, kakak ipar."
Adolf meraih tangan Aera dan menggenggamnya dengan erat. Ketika Audric mundur, Aera langsung menunduk dengan wajah muram.
Flasback_
Aera sedang dirias, Gustav telah kembali mendampinginya. Pria tua itu juga terlihat sedih untuk Aera. Setelah semua selesai dan tinggal mereka berdua, Aera meneteskan air matanya.
"Nona, ini akan baik-baik saja. Anda tahu bahwa tuan Adolf orang baik."
Mendengar hal itu Aera hanya tertawa hambar, dia mengambil tisu yang disodorkan Gustav dan tidak merespon sama sekali. Pintu terbuka dan Gustav segera keluar ketika melihat siapa yang masuk.
Sebuah tangan memeluknya dari belakang, Aera berdiri dan langsung memeluk Audric. Dia merasa sangat frustasi. Meski Audric berkali-kali minta maaf karena tidak berhasil menemukan adiknya, Aera masih belum bisa menerima sepenuhnya. Aera merasa sangat marah karena terpaksa memerankan Luisa sampai tahap ini.
"Maafkan aku Aera, aku mohon maafkan kelemahanku kali ini. Tolong jangan menangis, aku berjanji ini tidak akan lama."
Aera tidak tahu apakah janji Audric kali ini akan ia tepati. Karena pria yang memeluknya ini, pria yang membuat hatinya bergetar ini, sudah mengingkari janji yang ia buat dulu.
"Aku hanya... Aku hanya ingat nenek, aku berbohong padanya."
Meski itu juga salah satu alasan, tangisan Aera lebih kepada betapa sesaknya dadanya saat ini. Meski pernikahan itu hanya pernikahan bisnis, dia tetap akan menjadi seorang istri dan merubah statusnya. Dia masih sangat muda, dia merasa sesuatu direnggut darinya begitu saja.
Aera memimpikan pernikahan yang bahagia ketika dia lebih dewasa, tapi dia terjebak dalam keadaan ini. Bahkan, Audric yang seharusnya ia benci, tidak bisa ia lakukan. Hatinya selalu berlari pada pria yang saat ini dipeluknya. Yang tidak bisa ia gapai dan suatu saat harus ia tinggalkan.
Tidak ada yang bisa dikatakan Audric lagi. Dia juga diliputi kegelisahan saat ini. Pikiran-pikiran gila menghinggapinya sejak pagi. Bagaimana kalau dia membatalkan pernikahan ini. Membawa pergi Aera dan menyeret adiknya sendiri. Tapi, begitu dia mengingat bagaimana sifat Luisa yang keras, dia tahu dia hanya akan menghancurkan segalanya. Luisa tidak akan mau menutup mulutnya.
"Aera..."
Audric melepaskan pelukannya. Dia menatap Aera yang sudah berhenti menangis. Mengusap lembut sisa air mata itu dan meraih kedua pipinya agar mendongak keatas. Mempertemukan pandangan mereka.
Perasaan itu muncul lagi, dorongan besar itu memenuhi pikirannya. Sesuatu yang selama ini ia tahan. Dia hindari dan dia tekan dengan alasan klise.
"Aku tidak mengerti, tapi aku tidak ingin ini disentuh oleh pria lain."
Lalu, tampa peringatan apapun, Audric mencium bibirnya. Mata Aera membulat, jantungnya perlahan berdetak dengan kencang. Keterkejutan itu tidak selesai ketika Audric melanjutkan ciumannya. ******* bibirnya dengan lembut hingga ia nyaris tidak bisa bernapas.
Audric baru melepaskannya ketika pintu diketuk. Dia menyatukan kening mereka sambil berbisik pelan.
"Jangan biarkan dia menciummu."
Pintu terbuka, Gustav muncul namun kenurunkan pandangannya ketika melihat posisi mereka berdua.
"Tuan, acaranya hampir dimulai." katanya singkat, lalu menutup pintu kembali.
Flasback end_
Aera masih tidak mengerti kenapa Audric melakukan itu jika pria itu tidak menyukainya. Terlebih, Aera mulai berharap lebih pada tahap ini. Tapi ketika dia menatap pendeta dihadapannya, harapan itu musnah begitu saja. Dia seperti ditampar dan diseret kembali pada kenyataan.
"Saya berjanji."
Ujarnya ketika pertanyaan pendeta itu ditujukan padanya. Dengan diucapkannya janji itu, menyudahi prosesi ini. Adolf memegang kedua pipinya, lalu mendekatkan diri.
"Jangan." bisiknya.
Adolf berhenti sesaat, dia menggertakkan giginya. Adolf tetap melanjutkan tindakannya, membuat Aera menutup matanya. Namun dia kembali membukanya ketika merasakan jari Adolf menutupi bibirnya. Adolf hanya mencium jari itu.
Ketika Adolf menarik diri, Aera menatapnya dengan tatapan terima kasih. Lalu tersenyum dengan tulus.
Audric yang berdiri tidak jauh dari mereka, mengepalkan tangannya. Dari jaraknya, memang tidak akan ada yang melihat apa yang dilakukan Adolf. Mereka terlihat berciuman seperti pasangan menikah biasanya. Hal itu juga yang diduga Audric, sehingga dia nyaris kehilangan akal kalau saja Harald tidak memegang pundaknya.
"Kendalikan ekspresi Anda, Sir." katanya.
Audric menarin napas dan menutup matanya sesaat. Dia melepaskan kepalan tangannya dan kembali menampilkan ekspresi pura-pura bahagia.
.
__ADS_1
Setelah acara resepsi yang begitu melelahkan bagi Aera dan begitu membuat frustasi bagi Audric, semua diakhiri dengan makan malam seluruh keluarga besar Martell dan Ackerman.
"Terima kasih telah hadir dan tetap berdiri pada garis lurus bersamaku."
Audric menatap mereka satu persatu dengan matanya yang penuh misteri, ekspresinya mampu membuat sebuah dorongan untuk semua orang yang hadir disana menutup mulut mereka. Sebuah eksistensi yang selalu diwaspadai oleh anggota yang lain.
"Ini adalah titik awal rencana kita kedepan. Dimana dua keluarga bergabung, partai kita telah semakin kuat dan kita akan menguasai segalanya. Dibawah kepemimpinanku, kita akan melangkah bersama. Saling berpegangan tangan dan membuat dunia menjadi lebih damai."
"Aku percaya pada keponakanku. Kamu sudah membuktikannya sejauh ini. Tapi Audric, bagaimana dengan pernikahanmu sendiri?"
Pamannya, adik dari ayahnya yang bernama Abert martell yang mengajukan pertanyaan itu.
"Ada apa dengan pernikahanku, Paman?"
"Kamu juga butuh pendamping nak, aku lihat kedekatanmu dengan Rubelia terjalin dengan sangat baik. Kenapa tidak direalisasikan?"
Bibinya, Adriane martell ikut bersuara. Dalam keluarga besar mereka, dua orang ini termasuk pasangan mereka, adalah sosok yang suaranya cukup berpengaruh.
"Terima kasih atas perhatian Paman dan Bibi. Seperti yang kalian tahu, pernikahan belum ada dalam rencanaku."
"Bukankah kamu butuh pene..."
"Bibi, jangan terlalu cemas. Bukankah kita sedang berada dalam kebahagiaan akan pernikahan adikku? Pembahasan ini sedikit tidak sopan didepan Tuan dan Nyonya Ackerman. Apalagi, adikku sudah menjadi bagian dari mereka."
Keheningan yang canggung memenuhi ruangan itu. Audric melirik Aera yang hanya menatap meja di depannya. Dari tempatnya duduk, dia bisa melihat gerakan tangan Adolf yang tampaknya menggenggam tangan Aera.
"Partai AMF memiliki dua puluh calon anggota parlemen saat ini. Aku dengar, beberapa dari kalian mengajukan kandidat untuk posisi yang masih kosong. Periode ini, AMF harus menguasai posisi strategis demi mulusnya langkah kita. Karena hal itu, pada pertemuan kali ini, aku ingin mengumumkan pada kalian. Masing-masing perwakilan dari keluarga kalian, aku yang akan menentukan."
Semua tampa terkejut dan sebagian besar tidak menerima keputusan itu. Audric tentu saja sudah menduganya.
"Aku menunggu di kantorku besok jika ada yang keberatan. Saat ini, kita hanya akan makan malam sebelum menyelesaikan hari ini."
Tidak ada yang berani membantah. Bahkan ayah Adolf, Alberto ackerman yang kini menjabat sebagai kanselir saat ini. Sikapnya terlihat sangat netral. Seolah berupaya membuat dirinya dalam posisi aman.
.
Adolf dan Audric sedang berdiri menghadap keluar. Mereka sedang berada diruang kerja Audric. Aera sendiri kembali ke kamarnya bersama Olivia dan Gustav untuk membersihkan diri dan beristirahat.
"Kamu pasti tahu kenapa aku memanggilmu kesini." mulai Audric.
"Mengenai permintaan Aera, maksudmu?"
Adolf memikirkan Aera, meski dia sangat ingin mengatakan apa yang ia tahu, tapi dia memutuskan belum saatnya mengumumkan perang terbuka.
"Aku hanya mencari seorang teman lama yang menghilang. Jangan kawatir, tidak ada hubungannya dengan kalian."
"Begitu? Aku lega jika bukan hal yang akan merusak hubungan yang tipis ini. Jangan merusak nama adikku seperti apa yang dilakukan ayahmu pada ibumu."
Adolf meninggalkan Audric dengan menahan emosinya. Friedrick masuk dan menutup pintu dengan rapat. Menghampiri Audric dan berdiri di hadapannya untuk menunggu perintah.
"Kamu mendapatkan informasinya?"
"Orang-orangnya bekerja dengan tenang. Sampai saat ini yang saya tahu dia memeriksa setiap penerbangan, tiket kereta dan memeriksa beberapa cctv di jalan-jalan yang menuju keluar kota."
Audric sangat tahu jika Adolf cukup berbahaya untuk rencananya. Yang dia takutkan saat ini adalah rahasia Aera yang telah terbongkar. Adolf adalah pria yang pintar menyembunyikan banyak hal.
"Aku harus memastikan sesuatu."
Friedrick yang tidak mengerti tentu saja langsung bertanya.
"Apa yang Anda maksud, Tuan?"
"Lakukan sesuatu besok pagi."
Friedrick mengangguk dengan cepat ketika dia mengerti apa yang sedang dicurigai oleh Audric. Dia langsung pergi dan memanggil Olivia untuk memintanya melakukan beberapa hal.
.
Pagi-pagi sekali, dimana matahari baru mulai terbit, Aera dibangunkan oleh Gustav. Olivia sudah berdiri disebelahnya dengan senyum kelewat cerah seperti biasa.
"Silahkan cuci wajah Nyonya, saya sudah menyiapkan pakaian Anda hari ini."
"Nyonya?" ulang Aera.
"Anda sudah menjadi istri mentri jadi panggilan Anda adalah Nyonya Ackerman sekarang." Gustav memberi penjelasan.
Aera tidak menjawab, dia baru ingat bahwa dia telah menikah. Fakta itu membuat paginya langsung terasa buruk. Dia hanya turun dan berjalan masuk ke kamar mandi dengan wajah muram.
__ADS_1
"Tuan Gustav, bolehkan saya minta tolong panggilkan Tuan Adolf. Beliau memberi pesan agar memberitahunya kalau Nyonya telah bangun. Katanya dia ingin menemuinya pagi ini sebelum pergi kerja."
"Bukankah mereka akan bertemu di meja makan?"
"Kata Tuan Lampard, Tuan Audric dan Tuan Adolf akan berangkat pagi-pagi sekali untuk pertemuan anggota partai. Mereka tidak akan sarapan dirumah."
Setelah Gustav keluar, Olivia mendekati meja rias. Membuka laci dan mengambil kontak lensa Aera yang ia simpan disana. Diaemasukkannya kedalam saku seragam bagian dalam lalu duduk dengan sopan untuk menyambut Aera.
Aera keluar setelah membersihkan diri. Dia mengambil pakaian yang disiapkan Olivia dan mengganti bajunya. Setelah itu dia duduk di depan meja rias.
"Anda selalu cantik." puji Olivia.
"Terima kasih, Oliv." sahut Aera seadanya sambil membuka laci. Hendak memakai kontak lensa. "Dimana itu?"
"Apa yang Anda cari, Nyonya?"
"Itu..."
Pintu diketuk dua kali dan Gustav muncul bersama Adolf yang tersenyum cerah. Dia langsung menghampiri Aera dan mencium punggung tangannya setelah berlutut. Menunjukkan sedikit kemesraan di depan para pelayan.
Aera sudah panik, namun dia berusaha menyembunyikannya. Berharap Olivia dan Gustav tidak menyadari ekspresi biasa Adolf begitu menatap wajahnya.
"Aku belum selesai, kenapa kamu tidak menunggu dimeja makan?"
"Aku harus segera pergi, meski mendapatkan cuti sampai besok, tapi kakakmu membuat pertemuan hari ini. Ah... Aku sangat ingin jalan-jalan denganmu."
Adolf berlutut di depannya sambil menggenggam kedua tangannya. Dia menatap mata biru Aera dengan perasaan kagum yang luar biasa. Sampai dalam detik yang berlalu, dia menyadari ada yang salah dari ekspresi Aera.
"Lui? Kamu pakai kontak lensa?" katanya pura-pura bertanya.
"Ah, itu..."
"Sangat cantik." puji Adolf.
"Tuan, kita harus berangkat sekarang."
Harry muncul di depan pintu. Tampaknya dia menunggu diluar sejak tadi dan mereka memang diburu waktu."
"Aku akan segera pulang begitu selesai. Kita harus jalan-jalan pagi ini." ujar Adolf, lalu dia melepaskan tangan Aera sembari bangkit.
"Untung saja dia tidak curiga," kata Olivia.
"Jangan senang dulu, Tuan Adolf pria yang pintar, dia bisa saja curiga tapi menutupinya."
"Bagaimana ini, apa Nyonya tidak ingat meletakkan benda itu dimana tadi malam?" tanya Olivia pura-pura panik.
"Rasanya ditempat biasa. Entahlah."
"Tak apa, Anda sarapan di kamar saja, saya akan membeli yang baru. Olivia, segera bawakan sarapan Nyonya kesini."
Olivia dan Gustav keluar bersama. Meski Gustav tidak dilibatkan dalam rencana, dia sepertinya menduga apa yang sedang dilakukan Audric melalui Friedrick dan Olivia. Karena itu, ketika Friedrick berdiri di ujung tangga, dia tahu apa yang dia tunggu.
"Bagaimana?"
"Saya tidak yakin... Tapi Tuan Adolf malah mengira Nyonya memakai kontak lensa."
"Tidak," sela Gustav. "Mereka berdua bekerja sama. Tuan Adolf tidak terlihat kawatir seperti Nyonya Aera, tapi... Aku yakin dia akan berkilah saat Tuan menghadapinya secara langsung."
"Olivia, pergilah ke dapur." suruh Friedrick.
"Bagaimana menurutmu?"
"Jika dia melindungi identitas Nyonya Aera selama ini. Itu artinya dia ada dipihak Nyonya. Itu artinya... Orang yang sedang dicarinya adalah Nona Luisa yang asli." kata Friedrick.
"Tuan akan marah besar pada Nyonya Aera. Ini akan sulit bagi mereka."
"Bagi mereka? Kenapa menjadi sulit? Tuan mungkin akan memberikan ancaman dan menekan Nyonya Aera. Dia dikhianati, dia akan bertindak seperti biasa."
"Dikhianati?" ulang Gustav yang tahu kenyataan dan fakta sebenarnya, tentu saja yang menghianati disini adalah dua orang itu. Entah mengapa Gustav merasa iba dan terus menerus merasa ingin melepaskan Aera dari dua sosok egois ini.
Semenjak Aera masuk kedalam rumah Luisa, ada warna baru yang hadir disana. Gustav yang mulai menyayangi Aera tampa sadar, terus menerus merasa terganggu karena kesetiaannya telah ia berikan pada Luisa.
"Ada apa denganmu?"
"Entahlah, aku merasa... Hubungan mereka akan lebih rumit."
Gustav meninggalkan Friedrick yang tidak memahami maksud perkataannya. Friedrick memang belum memahami hubungan Audric dan Aera tidaklah sesederhana apa yang terlihat.
__ADS_1
Tidak mau ambil pusing, dia segera menghubungi Audric melalui pesan chat dan memberitahukan dugaan Gustav yang melihat mereka secara langsung.
Audric yang saat itu berada dalam mobil menuju gedung AMF, langsung menutup matanya dengan rahang mengeras. Harald yang duduk disebelahnya langsung menatapnya dengan penuh tanda tanya. Dia yakin, ada kabar yang tidak menyenangkan yang Audric baru saja terima.